Thursday, December 14, 2017

Portofolio Grab Your Imagination #10






KISAH MISTER GIGI

"Bi, kenapa si gigi Hamzah ga numbuh-numbuh?" tanya a Hamzah saat tengah asik bermain bersama adik-adiknya. Saya yang baru hendak beres-beres dan istirahat jadi dapat ide mendongeng.

"Nanti ummi ceritain ya, dongeng tentang gigi. Siapa yang mau dongeng?"

Semua menyambut antusias.

Setelah ganti baju saya menghampiri anak-anak yang sedang bermain di ruang tengah.

"Bukunya mana ya?" tanya saya sambil mencari-cari buku untuk bahan cerita.

"Buku apa mi?" tanya a Hamzah.

"Buku My first why yang warna biru itu..." jawab saya sambil mencari-cari di rak buku.

"Nah, ini dia bukunya! ayo kita cerita..."

Saya mencari halaman tentang gigi di buku itu, lalu mengambil bantal leher dekat kami.

"Haloo saya mister Gigi!" seru saya membuka cerita sambil menggerak-gerakkan bantal leher yang saya ibaratkan Mister Gigi.

"Ada yang mau tentang saya ga?"

Anak-anak mulai penasaran.

"Aku tumbuhnya di gusi. Tadinya aku ga ada... kaya Aisha a, tadinya kan Aisha ga punya gigi.. tapi Aisha minum ASI mulu, jadinya tumbuh giginya.."

"Aku punya akar di dalam gusi.. lihat nih akar aku di bawah. Aku bisa numbuh karena makan kalsium.. tadinya aku gak ada di atas gusi tapi lama-lama aku muncul..."

"Tuh a, Aisha kan suka minum susu, di susu itu banyak kalsiumnya jadi tumbuh giginya. Selain susu kalsium juga ada di sayur-sayuran hijau.." jelas saya.

"Nah, setelah tumbuh keatas gusi, aku keliatan warna putih. Soalnya ada email, lapisan paling luar. Di dalam gusi ada akar dan syaraf. Makanya kalau giginya rusak dan bolong jadi terasa sakit..."

"Akarnya buat apa a?"



A Hamzah menggeleng.

"Biar ga jatuh ya mi?" tanya a Hamzah. Saya pun terbahak.

"Akarnya biar giginya ga kemana-mana tetap di sana..." jelas saya.

"Kalau anak kecil giginya masih gigi sementara, gigi susu namanya. Gigi susu lama-lama tanggal. Kaya aa nih udah ga ada gigi susunya yang di atas. Nanti tumbuh lagi gigi dewasa, kaya ummi sama abi. Giginya permanen udah ga numbuh lagi kalau copot..."

"Nah, biar gigi dewasanya cepet tumbuh harus apa a?" tanya saya.

"Harus banyak minum susu sama makan sayuur.."

Anak-anak menyimak sambil cengar-cengir.



"Harus rajin sikat gigi juga ya a..." sahut abi tiba-tiba.


"Hamzah sikat gigi mi, Afnan tuh yang enggak..." lapor a Hamzah,

"Afnan sikat gigi juga ya..." kata ummi menanggapi.

"Nah, sekarang dongengnya udah selesai. Waktunya tidur. Sebelum tidur sikat gigi dulu yaa..."

Anak-anak pun beringsut ke kamar mandi.


Portofolio Grab Your Imagination #9

PALESTINA, KISAH NEGERI YANG TERJAJAH

Hari itu kami mengikuti aksi Bela Palestina di Monas. Tiba-tiba a Hamzah bertanya, "Ummi itu bendera apa?" tanyanya sambil menunjuk bendera yang dibawa peserta lain. Qaddarulullah kami tidak membawa atribut apapun, hanya ikut hadir sebagai bukti posisi kami ada di mana.

"Itu bendera negara Palestina," jawab ummi.

A Hamzah kelihatan bingung. Sambil jalan menembus kerumunan menuju lokasi terdekat Kedubes AS, saya mencoba menceritakan padanya, kisah negeri yang terjajah.

"Palestina itu negaranya dijajah a, orang-orang dibunuh, anak-anak ditembakin. Ada juga yang pakai tank dan bom. Mereka ga bisa sekolah kaya aa. Banyak yang meninggal. Kasian ya a.."

A Hamzah terlihat serius menyimak, meski sambil jalan di tengah keramaian.

"Mereka itu sodara a Hamzah juga...soalnya mereka orang Islam... jadi kita disini untuk membela mereka. Biar ga dijajah lagi. Ga ditembakin. Aa kasian ga sama mereka?"

"Iya mi, Hamzah mau bela Palestina. Kalau udah gede Hamzah mau kesana. Hamzah mau lawan penjahatnya," katanya semangat sambil memperagakan pukulan taekwondo, hehe

"Iya kalau udah gede Hamzah boleh kesana. Nah sekarang kita di sini dulu, kita ikut aksi biar Pemerintah belain mereka juga..."

"Iya mi, mi Hamzah mau bendera itu!" tunjuknya.

"Abi!" panggil ummi sebelum abi makin jauh di depan kami. "A Hamzah mau beli bendera."

"Mau bendera apa a?" tanya abi menghampiri kami.

"Bendera Palestina bi! Hamzah mau membela Palestina," ungkapnya.

Akhirnya kami membeli 1 paket bendera kecil isi 2 seharga lima belas ribu rupiah. Tentu saja a Afnan ga mau ketinggalan, ikut pilih-pilih benderanya.



Setelah anak-anak membawa bendera kami lanjutkan perjalanan menuju Kedubes AS. Setelah sampai di sana kami mencari tempat istirahat untuk mengisi tenaga. Tadi ummi hanya sempat makan sedikit karena buru-buru supaya ga kesiangan, jadi tepar apalagi panasnya cukup terik.

Kami sudah menghabiskan tiga potong roti sobek dan beberapa minuman saat aksi selesai. Sambil menunggu jalanan agak sepi, saya meminta a Hamzah untuk bercerita tentang kegiatannya hari ini dan akan saya rekam pakai video kamera. Awalnya a Hamzah malu tapi setelah disemangatin abi akhirnya ia mau juga direkam.

Alhamdulillah, minimal hari itu a Hamzah mulai mengerti tentang kegiatan aksi Palestina yang beberapa kali kami ikuti. Bahwa jauh di sana, ada sodara-sodara kami yang mesti dibela, karena negerinya masih terjajah orang jahat. Semoga Allah menurunkan bala bantuannya untuk sodara-sodara kami di Palestina. Aamiin...




Monday, December 11, 2017

Portofolio Grab Your Imagination #8

 KISAH POHON MANGGA

A Hamzah sudah tidur duluan jadi ummi membacakan dongeng untuk a Afnan dan Aisha. Kali ini diambil dari buku seri Tumbuhan dari Ensiklopedia Bocah Muslim (EBM). Sambil membuka-buka bukunya ummi ceritakan tentang kisah pohon mangga.

"Halo...aku pohon mangga.."
kata ummi membuka cerita. Ummi memperlihatkan ilustrasi pohon sempuran di buku EBM.

"Aku juga minum seperti manusia loh. Aku punya akar yang akan mencari-cari air ke dalam tanah sampai akarnya panjaangg.. setelah dapat air dibawa ke seluruh tubuh aku, ke batang, sampai ke daun."

"Aku juga makan seperti manusia. Makanannya aku masak di daun. Aku masaknya ga pake api kaya manusia tapi pake sinar matahari. Bahan-bahannya aku cari lagi pake akar, aku dapat nutrisi dari tanah terus disalurkan sampai ke daun. Terus aku masak pakai air, sinar matahari dan karbondioksida.
"

"Kalau aku makan banyak lama-lama aku tumbuh besar. Aku makin tinggi, tadinya cuma tunas. Terus tumbuh dua daun. Terus nambah lagi dua daun. Terus sampai besar. Akhirnya batangku jadi besar, daunku banyak. Terus aku juga berbuah. Sebelumnya aku berbunga dulu..."
Saat bercerita a Afnan menyela dengan menanyakan gambar-gambar yang ada di buku. Karena buku ini tidak khusus membahas pohon mangga tapi berbagai jenis tumbuhan jadi ada banyak gambar di sana. Ummi pun bercerita sambil menjelaskan gambar-gambar yang ia tanya.

Yang agak tricky adalah membuat Aisha tenang. Karena baru 20 bulan Aisha belum tahan duduk memperhatikan cerita lama-lama. Ia lebih tertarik menarik bukunya. Karena ini ensiklopedia ummi jadi menjaga supaya awet. Aisha pun ummi ajarkan duduk dipangkuan ummi untuk mendengarkan cerita. Namun itu hanya bertahan beberapa detik. Akhirnya ummi meminta a Afnan memberikan Aisha board book. Namun ternyata ia kurang tertarik dan kembali hendak menarik buku EBM. Akhirnya ummi mendongeng sambil kucing-kucingan sama Aisha. Begitulah mendongeng bersama bayi :D

Portofolio Grab Your Imagination #7

KISAH IBNU MAJID

Kali ini saya mendongeng dengan panduan salah satu buku ilmuwan muslim dari seri Ensiklopedia Bocah Muslim, yakni Ibnu Majid. Beliau adah ahli navigasi dan pelaut.

A Hamzah memberikan ummi properti tutup gelas buat perahu.

"Ini Ibnu Majid, seorang pelaut. Bapaknya pelaut, kakeknya juga pelaut," ujar ummi membuka dongengnya.

"Ibnu Majid suka dibawa ayahnya kelaut. Bahkan ia dibiarkan mengemudikan kapal. Dia pinter navigasi, melihat arah," ummi memperagakan kemudi kapal yang diputar kekiri dan kekanan.

"Aa inget ga kemudi yang di dalam kapal selam yang kita naikin waktu itu? " tanya ummi di tengah cerita.

"Iya mi.." jawab a Hamzah. Lalu ia memperagakan mengemudikan kapalnya.

Ummi pun ikut pura-pura mengemudi kapalnya, jalan ke kanan dan ke kiri.

"Ibnu majid ini hebat, masih kecil tapi ahli navigasi..."

A Hamzah dan a Afnan asyik melanjutkan main kemudi-kemudian.. ummi sudah menguap.

"Ummii...ayo lanjutin kan belum selesaiii.." protes a Hamzah melihat umminya sudah merem-melek.

"Besok lagi ya a..ummi ngantuk banget..."

"Ummi mah..."

Anak-anak kelihatan kecewa tapi mereka lanjut mainan dan akhirnya menyusul saya tidur.

Akhir-akhir ini ummi pulang kemaleman, mainnya kemaleman, jadi ga bisa cerita lama-lama.. kalau udah jam 10 udah ngantuk T_T

Portofolio Grab Your Imagination #6

Asik merakit robot


PERANG BINTANG

Pulang kerja kami lihat a Hamzah sedang sibuk memainkan sesuatu sampai-sampai tidak langsung menghampiri kami. Sepertinya ada mainan baru..

"Abi, dikasih mainan dari om ogi buat Hamzah dan Afnan!" lapor a Hamzah setelah saya sapa untuk salim.

"Iya bagus ya.." komentar abi.

Rupanya mainan merakit robot. Bagian-bagiannya kecil-kecil sekali tapi sudah hampir jadi.

"Bapak biarin aja biar bikin sendiri," jelas eyang kakung.

"Wah..Hamzah pinter ya bisa ngerakit sendiri..."

"Iya Hamzah pengen jadi insinyur!" sahutnya sambil sibuk menyempurnakan rakitannya.

Tak berapa lama robotnya selesai. Keren memang. Lalu saya tawarkan ia untuk mendongeng sebelum tidur yang temanya sesuai robotnya: Perang Bintang.

hasil rakitan a Hamzah

A Hamzah senang sekali kalau tokoh utama cerita dongengnya ia dan adiknya. Jadilah tokoh kali ini petulangan a Hamzah dan a Afnan.

"Pesawat roket akan meluncuurr kita akan pergi ke luar angkasa!" ujar ummi membuka dongengnya.

3..2...1......apinya menyala dan roketpun melaju lurus ke langit. Sampai di luar angkasa roketnya melayang-layang dan akhirnya mendarat di planet Mars.

"Lihat a, ini planet Mars. Warnanya apa a?" tanya ummi.

"Apa ya...gak tau.." jawab a Hamzah bingung.

"Warnanya merah a...planet mars ini mirip sama bumi.. ada jalur air yang mirip sama sungai di bumi.." jelas ummi. "Nah, sekarang a Afnan yang jalanin robotnya ya..."

A Afnan segera mengambil robot yang sudah selesai dirakit a Hamzah.

"Robotnya naik-turun bukit nan.." ujar saya mengarahkan robot Afnan melewati bantal-bantal yang diibaratkan gunung dan bukit.
lewatin gunung

Saat asik menjalankan robotnya di antara gunung dan bukit, tiba-tiba robot kedatangan tamu.

"Critanya ada polisi lamborghini mi," ujar a Hamzah membawa mobilnya melayang di atas robot. "Terus mobilnya mau nyerang!" serunya.

Ummi mengambil alih robot dan membawanya menjauhi serangan mobil polisi. Sudah kaya anak-anak ini sih, ummi jadi ikut mainan :D

"Trus ditembakin dari atas.. kena mii!" seru a Hamzah menabrakkan mobilnya ke robot.

"Ya..robotnya kena. Tapi masih bisa jalan.." ujar ummi.


A Hamzah mengambil mobil-mobilan yang lain dan berusaha menyerang lagi. Begitu terus seperti perang bintang.

Setelah cukup lama akhirnya kami menyudahi permainan, eh mendongeng. Waktunya tidur. Perang bintang pun berakhir.



Wednesday, December 6, 2017

Portofolio Grab Your Imagination #5

JERAPAH PUTRI AISHA

Malam ini Aisha susah bobo..padahal udah mau jam 10. Ia malah mengajak ummi main mobil-mobilan, naik mobil listrik aa. Ummi memutar otak bagaimana cara membujuknya untuk tidur.

"Aisha, liat nih ada jerapah," ujar ummi mendekatkan boneka jerapah dari playmat rainforest ke wajahnya.

Aisha yang sedang sibuk naik-turun mobil hanya melirik sedikit.

"Putri Aisha..kita bobo yuukk..." ummi mulai mendongeng menirukan suara jerapah.

"Putri Aisha lagi main apa? jerapah ikutan ya...jerapahnya yang nyetir.."
jerapah menarik Aisha masuk ke dalam cerita.

"Ngeng..ngeng..ngeng..."
Sepertinya Aisha tidak nyaman. Ia mulai rewel.

"Putri Aisha main ke sana aja yuuk..." jerapah membujuk Aisha mendekati kasur. Aisha mulai tertarik dan mengikuti.

Sampai kasur Aisha masih main-main belum mau berbaring.

"Putri Aisha...jerapahnya mau bobo nih.. kita bobo yukk..." ummi memberikan jerapahnya ke perut Aisha untuk dipeluk. Aisha malah ketawa-tawa geli.

Ummi kehabisan ide bercerita apa lagi jadi langsung ke dapur menyiapkan susu Aisha. Saat merebus air hangat, Aisha malah menyusul ke dapur. Melihat botol ia malah merengek.

Nah, kalau begini udah ngantuk namanya. Ummi menyiapkan botol susu Aisha diiringin rengekan Aisha. Setelah memberikan botolnya pada Aisha, ummi langsung memboyongnya ke kasur di kamar. Aisha pun mulai berbaring nyaman dan lama-lama tertidur. Tentu saja ummi nyusul di sebelahnya. Akhirnya bisa bobo juga...


Portofolio Grab Your Imagination #4


PETUALANGAN KE LUAR ANGKASA

"Mi, bacain dongeng lagi dong.." pinta a Hamzah saat saya sudah merem-melek saking ngantuknya. Sebelumnya sudah bermain sama anak-anak jadi terlalu malam kalau mesti mendongeng lagi.

"Ummi udah ngantuk a..besok aja ya..." tawar ummi.

"Ga mau ah..maunya sekarang..." rajuk a Hamzah.

"Yasudah cari bukunya ya..." saya meminta buku panduan untuk bahan mendongeng. Ternyata a Hamzah mengambil buku Wow Amazing Universe, salah satu buku dari seri Wow Amazing Series.

Ummi mengambil mobil-mobilan untuk properti mendongeng.

"Aa kita ke luar angkasa yuuk..." ummi membuka dongengnya. Mobil-mobilan diibaratkan pesawat roket. Ummi memperagakan roketnya bersiap lepas landas meluncur ke luar angkasa.

"Siap..siap.. satu...dua... tiga...wuzzz..." roket meluncur ke angkasa. Sampai di atas melayang-layang tiba-tiba ada "benda langit".

"Ceritanya ada lamborghini mi," a Hamzah memasukkan mobil lamborghini ke dalam cerita.

"Wah..ada lamborghini nan, hati-hati!" roket berbelok menghindari lamborghini.


"Awas a ada meteor..."



A Hamzah memperagakan tangannya menyerupai meteor yang berjatuhan. "Ceritanya meteornya banyak mi, wuss wuss..." katanya.

Roket mencoba berkelit menghindari hujan meteor. Akhirnya sampai di tempat lain.

"Aa liat ada planet-planet!"


"Planet apa aja a?" tanya ummi.

Merkurius, venus, bumi, mars, saturnus, neptunus, uranus... kami menyanyikan lagu nama-nama planet bersama-sama.

"Hamzah, udah ya..ummi ngantuk..." bujuk saya karena sudah ga kuat. Saya mulai rebahan lagi.

"Belum mi...ini ada kereta.." a Hamzah memasukkan tokoh baru lagi.

"Roketnya mendarat dulu ya..." ujar ummi menyerah, mata ummi mulai merem-melek lagi.


"Ummi mah..." a Hamzah ngambek dan pergi ke ujung ranjang. Ia memunggungi ummi sambil manyun.

"Yaudah Hamzah bobo aja ya..kan besok sekolah..sekarang udah mau jam 10..." ujar ummi.

Hamzah tidak mau menjawab. Saya diamkan saja, paling juga lama-lama tidur. Saya pun sudah tidak kuat menahan mata yang lama-lama mengatup rapat. Maafin ummi ya a...

Saturday, December 2, 2017

Portofolio Grab Your Imagination #3


Petualangan Keliling Bumi

Malam ini gantian a Afnan yang susah bobo. Aisha sudah tidur dan a Hamzah sudah mulai merem tapi belum pulas.

"Yasudah nan, ummi dongengin tapi abis itu bobo ya..." ummi mencoba bernegosiasi.

"Iya!" jawab a Afnan semangat.

"Coba ambil bukunya satu," pinta ummi. Ummi ingin dongengnya mengadaptasi dari cerita di buku.

A Afnan ternyata mengambil "Wow, amazing earth" salah satu dari seri "Wow Amazing Stories". Ummi langsung putar otak mencari ide untuk mendongeng.

Baiklah...sepertinya akan menggunakan properti kemarin.

"Ini cerita a Hamzah sama a Afnan naik balon udara," kata ummi mengambil tutup teko untuk membuka cerita.

"Aa, ayo kita naik balon udara!" kata a Afnan. 
"Ayo, kita keliling bumi yuk" ajak a Hamzah.

Ummi memperagakan balon udaranya mulai naik dan melayang di udara.

"Aa, liat dari atas keliatan kecil semuanya. Itu sawah cuma kotak-kotak, kerbau keliatan kecil sekali. Mobil-mobil juga..."

"Liat nan, ada gunung! Wah kita udah tinggi sekali sampai bisa megang awan."

"Ayo, mau bikin apa dari awan?" tanya ummi.

"Mobil eh kereta aja deh!" sahut a Hamzah.

"Nan, mobil juga," timpal a Afnan.

Setelah berimajinasi bersama awan, ummi melanjutkan cerita.

"Nan, liat di bawah ada air terjun!"

"Mana a?"

"Itu! Ayo kita dekati!"

Balon udara pun turun mendekati air terjun.

"Ini ceritanya air terjun," ujar a Hamzah sambil tangannya ke atas ke bawah memperagakan aliran air terjun. "Ceritanya nyiprat-nyiprat," lanjutnya.

"Awas a, kita kebasahan!" teriak a Afnan.

"Ayo kita pergi dari sini!" ajak a Hamzah.

Balon udara pun menjauhi air terjun.

"Ceritanya ada ular python," kata a Hamzah memasukkan tokoh baru ke dalam cerita. Sepertinya ia teringat film yang baru saja kami tonton.

Ummi segera menyambung plot cerita.

"Aa...ada ular python!" seru a Afnan.

"Ayo kita pergi ke hutan!" ajak a Hamzah.

Balon udara perlahan turun hingga menyentuh tanah. A Hamzah dan a Afnan bersembunyi di hutan.

"Ularnya ngejar," kata a Hamzah.

"Waduh..kita keujanan a.." ujar a Afnan.

"Ayo kita bersembunyi di gua," ajak a Hamzah.

Lalu mereka bersembunyi di gua.

"Liat a, ada stalaktit stalagmit!"

"Iya awas tajam-tajam!"

"Ceritanya stalaktitnya jatuh-jatuhan," kata a Hamzah. Siuu..siuu..tangannya memperagakan stalaktit yang berjatuhan.

"Ayo cepat larii!!" teriak a Hamzah.

"Ayo kita pulang a, naik bis aja," ujar a Afnan.

Akhirnya mereka berdua selamat keluar dari gua.

"Ini bisnya," kata a Hamzah menyodorkan mainan bis.

Kedua tokoh memasuki bis. A Hamzah mempergakan bisnya berjalan mutar-mutat. Ceritanya rumahnya jauh. Akhirnya mereka sampai di rumah.




Friday, December 1, 2017

Portofolio Grab Your Imagination #2


PETUALANGAN PUTERI AISHA

Awalnya ingin mengisahkan perahu nabi Nuh pada anak-anak tapi a Hamzah udah tidur duluan dan ummi gak sempet mencari buku referensi karena Aisha udah rewel, ngantuk, tapi belum bisa tidur. Akhirnya memanfaatkan sekeliling aja, properti yang ada dijadikan tokoh story telling kami semalam..

Ummi sedang rebahan di kasur, istirahat sekaligus memancing Aisha untuk tidur.  Biasanya kalau umminya rebahan dia akan ikutan dan lama-lama ketiduran. Tapi kali ini tidak. Sepertinya karena demam ringannya ia kesulitan merasa nyaman sehingga tidak kunjung pulas.

Saat ummi rebahan Aisha malah naik ke perut ummi, ngajak main kuda-kudaan. Yasudahlah mumpung Aisha lagi di atas perut ummi, saatnya berimajinasi dengan tema dongeng malam ini: Perahu.


"Wah...ini ada putri Aisha lagi naik perahu," ummi mengawali cerita sambil memeluk Aisha yang masih duduk di perut ummi lalu menggerakkan "perahu" meliuk-liuk seolah sedang bergerak mengikuti arus sungai.


"Hyuung...hyuungg..."

Aisha ketawa-tawa senang.

"Putri Aisha mau kemana ini? Ayo..jalan terus..." kali ini ummi bangkit dari rebahan dan masih memeluk Aisha dari belakang memandu badannya seolah sedang mengemudi perahu.

Tiba-tiba ada a Afnan mengganggu. Ia sedang ngambek tidak diberi susu dan melampiaskannya ke Aisha.

"Waduh, awaass ada ikan jahat putri Aisha..."

Saya memandu Aisha mengemudi "perahu" menjauhi a Afnan. A Afnan makin marah, ia mulai menendang-nendang sambil tiduran. Posisi kami masih di kasur saat itu.

"Ikannya jahat putri..ayo kita lawaan..."

Saya mengarahkan Aisha untuk menangkis dan "menyerang" balik. A Afnan makin brutal tendangannya, saya takut menyakiti Aisha dan mulai menjauhkannya dari kami.

"Perahunya rusak putri, ayo kita beneriinn.."

Saya mengambil palu mainan Aisha dan memukul-mukulnya ke sekeliling Aisha seolah sedang memperbaiki perahu. Aisha ketawa-tawa dan mencoba mengambil palu dari tangan saya. Saya berikan palunya dan memandunya memukul-mukul sekeliling seperti tadi.

Tiba-tiba a Afnan datang mengganggu lagi.

"Awas...ada ikan jahat lagii...ayo kabuur..."

Saya memandu Aisha menjauhi a Afnan tapi Afnan malah mulai memukul dengan tangannya. Ummi pun pasang wajah datar, "Ummi ga mau bicara sama Afnan kalau Afnan begini."

"Ayo puteri Aisha sebentar lagi kita mendarat...kita udah mau sampai..."

Saya melanjutkan kembali dongeng putri Aisha. Tapi tampaknya ia mulai bosan, jadi saya mencari-cari properti untuk dijadikan tokoh baru dalam cerita. Saya melihat ada mobil-mobilan di lantai.

"Lihat, putri Aisha kita sudah mau sampai parkiran. Ada mobil di sana," ujar saya. Gak nyambung si..tapi sambung-sambungin aja. Ceritanya abis mendarat putri Aisha mau pergi naik mobil.

"Akhirnya kita mendaraatt...alhamdulillah...." petualangan pun berakhir. Tapi putri Aisha belum mau tidur juga.





Thursday, November 30, 2017

Portofolio Grab Your Imagination #1

Inilah tokoh-tokoh dongeng semalam

DONGENG NENEK MOYANG PELAUT DAN LUMBA-LUMBA

"Mi, tau ga lagu yang nenek moyangku pelaut?" tanya a Hamzah saat kami sedang main bareng sepulang saya kerja.

"Tau dong..." jawab saya sambil menyuap makan malam saya.

"Gimana mi? Nenek moyang ku seorang pelaut... terus gimana mi?"

Ummi mikir. Perasaan hapal tapi kok pas dinyanyikan ada satu lirik yang hilang...

"Apa ya..nenek moyangku seorang pelaut.... nanana ummi lupa..menerjang ombak, tiada takut..menembus badai, sudah biasa..."

Saya masih sibuk mengingat-ingat satu bait yang hilang, a Hamzah mengambil alih.

"Ini aja mi, nenek moyangku seorang pelaut.. naik perahu di samudra.. menerjang padang, tiada takut..membelah badai, sudah biasa..."

Hehe seenaknya a Hamzah aja...ia terus menyanyikan lagunya berulang-ulang sambil main perang-perangan sama a Afnan.

Saya masih mengingat-ingat lirik yang hilang sambil makan. Sesekali mengoreksi a Hamzah, "Menerjang badai a..bukan padang.."

"Padang aja..padang kan itu bisa diterjang.." entah apa dalam imajinasinya soal Padang itu.

"Kalau padang ga ada artinya..padang itu nama kota..." jelas saya.

Akhirnya a Hamzah mau meralat liriknya. Di tengah putaran lagu a Hamzah yang berulang-ulang akhirnya saya ingat.

"Ahh..ummi inget a. Nenek moyangku, seorang pelaut.. gemar mengarung, luas samudera..menerjang ombak.."

"Hamzah aja mi..hamzah aja!" sela a Hamzah. "Nenek moyangku, seorang pelaut.. gemar berlayar ke samudera..menerjang ombak, tiada takut..menembus badai, sudah biasa..."

A Hamzah terus mengulang-ulang lagunya sambil bermain perang-perangan yang akhirnya jadi perang beneran. Untuk menetralisir keadaan tiba-tiba muncul ide saya untuk bermain peran. Saya mengambil sebungkus kerupuk lalu memainkannya seolah-olah itu perahu.

"Lihat nih, ceritanya ini perahu. Nenek moyangnya naik perahu.. Naik turun ada ombak, wuus...wuus..." saya bercerita sambil memainkan perahunya.

Tiba-tiba a Hamzah mengambil lembaran kardus bekas dan masuk ke dalam cerita.

"Ceritanya ini ombaknya mi," katanya sambil menggerakkan lembaran kardus naik turun seumpama ombak di lautan.

"Wah.. ada ombak..nenek moyang muter kemudi. Yang kaya di kapal selam itu a," ummi berpura-pura sedang memutar kemudi kapal.

"Terus kapalnya muter, tapi akhirnya berhasil nembus ombaknya. Terus ada badai..wah, ada badaii ayo selamatkan diri ke dalam kapal. Basah semuaa..." kata saya sambil masih menaikturunkan perahunya.

"Tiba-tiba ada ikan mi," a Hamzah mengambil power bank putih.

"Ikan apa a?"

"Ikan lumba-lumba aja," kata a Hamzah sambil menggerakkan ikannya naik turun mendekati kapal. "Ikannya nolongin mi," lanjutnya.

"Oh iya..ikan lumba-lumba kan cerdas ya.. dia suka menolong.."

"Iya mi, tapi dia pemalu.. terus dia pergi..." kata a Hamzah sambil membawa ikannya menjauhi kapal.

"Akhirnya kapalnya bisa sampai ke pantai. Kapalnya selamat! Kenapa bisa selamat a? Soalnya pemberani, berani menembus badai. Terus karena ditolong sama Allah..." ujar ummi menutup cerita.

Rupanya a Hamzah masih belum mau mengakhiri cerita. Afnan ingin berpartisipasi dan mengambil lembaran kardusnya. Tapi a Hamzah tidak setuju jadi rebutan deh.

"Gapapa a...biarin Afnan jadi ombaknya..." lerai ummi.

Akhirnya a Hamzah melepaskan lembaran kardus. Ia pun mencari calon tokoh lain.

"Ceritanya ada kura-kura mi, " katanya saat menemukan tutup teko.


"Terus itu ada beruang laut a," ujar ummi sambil menunjukkan boneka beruang kecil. Emang ada beruang laut ya? Niatnya anjing laut tapi ga ada boneka anjing, hehe

A Hamzah pun memasukkan tokoh beruang laut ke dalam cerita.

"Beruang lautnya naik kura-kura.." katanya sambil menaruh boneka beruang di atas tutup teko. "Terus akhirnya bisa mendarat mi.." tutupnya.

Entah ada hubungannya atau tidak, sejak saya rajin membacakan buku untuk anak, kedua anak saya cenderung suka ngomong sendiri alias ngewayang kalau lagi main sama mobil-mobilan atau mainannya yang lain. Mirip saat saya kecil dulu. Pada dasarnya anak-anak memang imajinatif ya... ^_^









Saturday, November 18, 2017

Portofolio Think Creative Day #10


ANAK KREATIF, ANAK SOLUTIF

"Teman, kamu dimana?"
"Aku di sini!"
"Iya aku kesana! Ngeengg..."

Terdengar a Afnan ngomong sendiri mendalangi mobil-mobilannya. A Hamzah sudah tidur duluan jadilah ia bermain sendiri, berimajinasi sendiri...

Sementara ga jauh dari sana Aisha lagi asyik buka-buka mini soft book honeybee bagian dari paket buku Wow Amazing Series. Sepertinya ia tertarik memperhatikan gambarnya.

Tiba-tiba ummi ada ide. Kemarin kakung bilang Aisha sudah bisa menumpuk puzzle kotak kayu sampai 3 kotak. Jadi ummi ingin mengujinya.

Ummi berikan sepaket puzzle kotak kayu yang masih tersusun rapi di dalam kotaknya. Aisha langsung tertarik. Berhubung masih rapi dan rapat di dalam kotak Aisha mesti berusaha agak keras mengeluarkannya.

Tapi ia tidak menyerah. Akhirnya ia berhasil mengeluarkan 1 kotak lalu ia kembalikan ke tempatnya. Ia keluarkan lagi kotak yang lain lalu dikembalikan lagi. Ummi tidak ingin mengintervensi imajinasinya. Jadi ummi biarkan ia berkreasi apapun dengan puzzle kotak kayu itu.

Apa yang bisa kita ambil dari portofolio Think Creative selama 10 hari ini?
Pada dasarnya fitrah anak-anak memiliki imajinasi yang sangat luas tak terbatas. Setiap manusia memiliki bakat itu pada awalnya. Namun seiring bertambah usia makin banyak aturan-aturan yang membatasi imajinasi itu dan akhirnya kreativitas manusia dewasa menjadi lebih terbatas dibandingkan anak-anak.

Apa yang harus kita lakukan dengan anak-anak yang kreatif ini?
Mendukung dan mengawasinya. Selama kreasi mereka masih sesuai dengan norma dan aturan agama biarkan ia mengembangkannya, jangan matikan imajinasinya.

Anak-anak yang kreatif kelak akan menjadi orang dewasa yang kreatif dan solutif.
Anak-anak yang kreatif lahir dari pengasuhan orangtua yang bijaksana dan solutif.

Jika kita sudah terlanjur menjadi orang dewasa yang kurang kreatif, jadilah bijaksana dan solutif dalam mendukung kreativitas anak-anak kita ^_^

Wednesday, November 15, 2017

Portofolio Think Creative Day #9

Gudang ajaib ala a Hamzah
 INSINYUR

"Ummi-ummi, Hamzah bisa bikin gudang yang ada parkirannya terus ada gerbangnya bisa kebuka," lapor a Hamzah panjang-lebar saat ummi baru saja sampai rumah. Qaddarallah abi lembur, jadi ummi yang nerima laporan. Biasanya kalau pulang berdua pasti abi yang langsung dikerubutin 3 anak, umminya gak laku :D

"Mana?" tanya ummi penasaran.

A Hamzah langsung membawa ummi ke depan rak buku. Rupanya ia menyusun buku-buku jadi sebuah bangunan menurut imajinasi yang ia laporkan tadi.

"Bagus kan mi?" tanyanya.

"Iya, aa pinter.." jawab ummi.

"Aa kan mau jadi insinyur mi," katanya lagi.

"Oiya ya..kaya yang dibilangin abi kemarin ya?" ummi mengingat percakapan abi bersama a Hamzah saat melihat pembangunan di jalan, abi bilang a Hamzah bisa bikin kaya gitu kalau jadi insinyur.

"Iya mi, trus aku bikin mobil-mobilan kereen. Liat nih mi, ada lampunya. Yang di atas lampu deket di kanan dan kiri. Trus yang di bawah lampu jauh. Terus ini ada senjatanya mi di depan.." cerocosnya bersemangat.

Ummi mengangguk-angguk mencoba memahami imajinasinya. Ummi senang ternyata a Hamzah sudah kreatif membuat bangunan sesuai imajinasinya.

mobil perang ala a Hamzah
"Iya aa hebat ya.. udah bisa bikin sendiri. Sini ummi foto!" seru ummi. Tanpa ba bi bu a Hamzah langsung berpose di belakang hasil karyanya. Ia tampak senang sekali.

Sementara itu Aisha terlihat rewel karena mau ditinggal eyang pulang. Ummi pun mencoba mengalihkan perhatiannya dengan membuat video bersama a Hamzah.

"A, coba ceritain ini apa nanti ummi rekam," ujar ummi. "Ummi bilang 1, 2, 3 baru Hamzah mulai cerita ya... 1.. 2... 3..."

Kami pun mulai merekam satu persatu cerita a Hamzah tentang karyanya hari itu. Ini bisa menjadi kenang-kenangan saat ia besar nanti. Tentu saja Aisha bersemangat merecoki, ia ingin mengambil HP yang ummi gunakan untuk merekam dan melihat hasil rekamannya.

Tak lama kemudian, a Afnan datang setelah dijemput eyang kakung dari rumah pengasuhnya. Berhubung Aisha mulai rewel lagi jadi ummi mengajak membuat video a Afnan.

"A Afnan, ceritain dong hari ini Anan ngapain? Nanti ummi rekam," ujar ummi,

"Tadi anan ikut abang!" seru a Afnan.

"Tunggu, ummi hitung 1 2 3 baru Afnan mulai ya.. 1...2...3.."

Alhamdulillah malam ini banyak portofolio yang kami kumpulkan. Ummi dan Abi jadi tahu a Hamzah sudah bisa membuat bangunan sendiri, juga a Hamzah dan a Afnan bisa bercerita dengan alur yang teratur.

Barakallah anak-anak ummi-abi :*

Yang lagi seneng dan bangga bisa berkarya

Portofolio Think Creative Day #8

A Afnan ngambek catterpilar rambutannya diacak-acak Aisha :D

CATTERPILLAR RAMBUTAN

Eyang membawa panen rambutan dari rumahnya. Kata eyang anak-anak suka sekali. Saat kami pulang kerja anak-anak menunjukkan rambutannya ke ummi-abi. Saat itu kami sedang berkumpul di kamar sambil beristirahat jadi a Afnan mendorong-dorong kardus hampir penuh rambutan ke kamar.

Yah namanya juga batita ya..tentu saja Aisha melihat ada mainan baru. Berhubung di usianya sedang tahap senang memasukkan dan mengeluarkan sesuatu tentu saja Aisha asyik mengeluarkan rambutannya dari dalam kardus. A Afnan tidak mau kalah, tetapi lebih rusuh. Ia lemparkan rambutan itu kemana-mana.

Ummi dan a Hamzah sudah mengingatkan a Afnan kalau itu bisa membuat rambutannya busuk/rusak. Tapi ia tidak peduli. A Afnan malah makin semangat lempar-lempar. Okelah berarti ummi harus kreatif.

"A Afnan, coba rambutannya dibikin ulat bulu. Kaya kemarin loh.." saran ummi. Ummi pun memberi contoh menyusun beberapa rambutan.

Spontan a Afnan tertarik dan berhenti melempar rambutan. Ia melanjutkan pola membuat ulat bulu. Tentu saja Aisha tidak mau kalah. Ia tidak mengerti aa-nya sedang membuat pola ulat bulu. Ia hanya tertarik dan mengambilnya. A Afnan pun teriak-teriak kesal pengen nangis. Ummi segera memangku Aisha, memberi pengertian kalau a Afnan sedang membuat ulat bulu. Setelah selesai mereka main lempar-lemparan lagi, hehe



Karena sudah waktunya tidur ummi meminta tolong a Afnan membereskan rambutan yang berserakan kemana-mana. Bahkan sampai keluar kamar, di ruang tengah. Abi juga sudah meminta tolong tapi a Afnan malah makin menjadi-jadi. Oke ummi keluarkan jurus kreatif lagi.

"A Afnan, coba nih bisa ga lempar rambutannya ke dalam kardus dari sana? Ayo siapa yang bisaa?" ummi menantang semuanya, utamanya a Afnan.

"Ayo nan, lempar kaya gini nih!" seru abi sambil melempar sebuah rambutan ke dalam kardus.

Yeiy! rambutannya masuk ke kardus. A Hamzah tidak mau kalah.

"Aa juga bisa nih!" katanya sambil melempar buah rambutan ke kardus.

"Yah.. ga masuk.." ujar ummi.

Afnan jadi tertarik, ia pun mencoba melemparnya dan tidak masuk. Karena penasaran ia terus mencoba bersama a Hamzah.

"Aa lemparnya dari sini a.." kata abi menunjukkan tempat sekitar 2 meter dari kardus.

Akhirnya semua rambutan yang berserakan berhasil masuk ke dalam kardus kembali dengan cara menyenangkan. Tanpa sadar semua membantu. Tidak perlu tegang dan marah-marah kalau orang tua bisa kreatif mengarahkan sesuatu dengan menyenangkan ^_^


Portofolio Think Creative Day #7

Butterfly life cycle

PLAYDATE BUTTERFLY LIFE CYCLE

Kemarin ummi seharian kuliah ninggalin tiga anak sama abi. Alhamdulillah hari ini bisa jalan-jalan formasi lengkap ke acara playdate pengurus IIP. Playdate-nya seruu.. pas banget dengan tema kelas Bunda Sayang bulan ini.

Sementara ummi rapat sama pengurus, anak-anak berkreasi sama kaka lisa, dkk di Kids Corner. Oia, tim KC ini baru launching di acara ini loh.. namanya Kunang-Kunang Kuning. Imut ya namanya..

Tim KC ini profesional banget.. meski cuma acara internal tetapi mereka persiapkan dengan serius. Saat acara dimulai anak-anak diberikan topi bentuk kepala lebah, terbuat dari kain felt. Lucu deh. Awalnya anak-anak main di luar tapi karena kami datang terlambat hanya sempat mengikuti sesi membuat butterfly life cycle.

Aisha juga ikutan dipangku uni Annisa. Ummi nulis ini sambil mengingat-ingat nama teman-teman baru di tim pengurus IIP Jakarta. Maklumlah ummi pelupa kalau soal nama.

Seperti gambar di atas, anak-anak membuat butterfly life cycle. Pertama-tama anak-anak dibagiakan piring plastik yang sudah digaris dengan spidol menjadi 4 bagian. Lalu anak-anak membuat komponen life cycle satu persatu. Telurnya dari kain felt yang digulung kecil warna putih lalu ditempel di 1/4 bagian pertama. Lalu di 1/4 bagian kedua anak-anak membuat ulat bulu dari pompom warna-warni kemudian ditempel.
pompom warna-warni

Kain felt
Selanjutnya, anak-anak membuat kepompong dari kain felt coklat tua yang digulung menyerupai kepompong. Lalu kepompong ditempelkan ke batang kayu kecil yang sudah disediakan dan ditempel ke 1/4 bagian ketiga. Terakhir, mereka membuat kupu-kupu dari kertas origami dan ditempel di 1/4 bagian terakhir. Jadi deh. Sayangnya ga sempet difoto sepertinya ga sengaja terbawa orang pas beres-beres mau pulang :'(



Kupu-kupu kertas

Alhamdulillah anak-anak anteng berkreasi sama teman-teman baru di playdate pengurus IIP. Kapan-kapan ketemuan lagi dan main bareng lagi yaa.. Terima kasih tim KC Kunang-kunang Kuning :)

Monday, November 13, 2017

Portofolio Think Creative Day #6


ANAK KREATIF, CERDAS MENCARI SOLUSI
Sabtu, 11 November adalah jadwal saya mengikuti short course Kuliah Intensive Ekonomi Islam Universitas Indonesia. Saya harus meninggalkan suami dan anak-anak pukul 8 pagi hingga sore hari. Seminggu sebelumnya saya sudah mengingatkan suami agar beliau mempersiapkan diri mencari kegiatan untuk anak-anak. Saya pun tidak kuatir karena sudah beberapa kali meninggalkan 3 anak bersama abi-nya saja dan mereka baik-baik saja.

Saat saya pulang sekitar pukul 5 sore pun tetangga yang saya lewati bilang kalau Aisha tenang banget, ga rewel di rumah. Alhamdulillah kalau begitu. Saya sudah terbiasa meninggalkan anak-anak saat kerja jadi tidak membawa kekuatiran saat berkegiatan di luar. Pengalaman saya ketenangan dan keyakinan ini membuat anak-anak lebih tenang daripada saya kuatir dan bonding saya dengan anak-anak membuat mereka juga tidak tenang di rumah.

Setelah mengucapkan salam dan mengetuk pintu, a Hamzah yang membukakan pintu. Rupanya abi sedang tidur. Sepertinya mereka belum selesai sesi tidur siang. Entah a Hamzah bangun duluan atau memang tidak bisa tidur sehingga membukakan pintu untuk saya. Tidak jauh dari a Hamzah, Aisha baru menggeliat dari kasur lipat sepertinya juga terbangun. Ia langsung merangkak menghampiri saya minta dipeluk. Saya jadi gemes dan langsung memeluknya erat-erat dan menciuminya.

Saya tidak tahu apa yang terjadi sampai abi mempostingnya di FB. Rupanya tadi pagi saat saya berangkat anak-anak bermain sendirian karena abi masih tidur (setelah solat subuh). Dan saat abi bangun, anak-anak dalam kondisi seperti di foto.

Semoga ini adalah bentuk kreativitas anak saya. Saat terjadi suatu kondisi/masalah mereka mencari solusinya sendiri. Dan solusinya alhamdulillah baik untuk mereka. Barakallah anak-anak sholih/ah :)


Portofolio Think Creative Day #5







ANAK KREATIF, BERPIKIRAN LUAS

Saya yakin anak yang kreatif tidak mudah menyerah saat masalah datang. Pun ketika ia tidak memiliki pengetahuan atasnya, pikirannya akan terus berjalan mencari cara untuk keluar dari masalah itu. Bagaimana pikiran dan ide-ide mereka bisa terbuka, tentu saja harus dilatih sejak dini. Anak yang terbiasa dibatasi imajinasinya sejak dini cenderung akan tumbuh menjadi anak yang berpikiran sempit, kuper, serba takut, bingung dalam mengambil keputusan. Saya mengalaminya sendiri.

Di satu sisi pengasuhan orang tua membuat saya berpikiran sempit karena semua serba diatur termasuk dalam memilih baju yang akan dipakai. Semua serba disiapkan, saya tinggal menjalaninya saja. Pikiran saya pun jadi terbiasa enak dan nyaman, serba mudah, tidak perlu berpikir sendiri, tinggal jalani sesuai aturan, hidup pun lancar. Sesimple itu. Tentu saja bahkan sejak kecil saya menyadari kesalahan pengasuhan orang tua saya ini. Tapi sayangnya saya tidak tahu cara memperbaikinya toh saya cuma anak kecil, anak SD mana yang masukannya didengar orang tua? apalagi orang tua sendiri yang sudah makan asam garam dan "menguasai" anaknya. Orang tua akan selalu merasa benar, tidak mau dianggap salah. Itulah paradigma yang terbentuk di lingkungan saya saat itu.

Saat itu saya hanya bisa bersumpah, saya tidak ingin menjadi orang tua seperti orang tua saya. Yang serba mengatur saya. Namun di sisi lain mereka juga mendukung saya mengembangkan hobi saya menggambar. Sayangnya saya baru menyadari sekarang, justru prestasi saya Juara 1 mewarnai gambar menjerumuskan saya menjadi pribadi yang berpikiran sempit. Mengapa demikian?

Karena sejak kecil saya diajari untuk mewarnai tidak boleh melewati garis.


Imajinasi saya hanya seluas bidang yang ada di dalam garis. Saya tidak boleh melewatinya, bila melewatinya maka karya saya dianggap kurang bagus. Saya baru bisa jadi juara 1 saat bisa mewarnai tanpa melewati garis, bidang yang diwarnai tidak ada putih-putih (bagian yang tidak diwarnai) sedikitpun, dan ada teknik gradasi yang membuat juri menganggap karya saya bagus.

Dan begitulah, setiap saya lomba saya mempunya misi melakukan itu semua. Mungkin saya tidak terlalu mengerti apa kenikmatan menjadi juara 1 selain saya yakin orangtua saya mengharapkan saya juara 1 dan mereka pasti senang karenanya. Maka motivasi saya adalah mewarnai dengan bagus sesuai aturan tadi dan menjadi juara.

Benarlah, saat saya mendapat juara 1 orang tua saya sangat senang. Mereka bahkan memajang piala-piala saya di ruang tamu. Mereka akan menceritakan prestasi-prestasi saya ke teman-temannya yang berkunjung ke rumah/bertemu di jalan. Meski saya sedikitpun tidak bangga. Entahlah, mungkin karena saya menang bukan hasil imajinasi/aktualitas diri saya, tapi karena saya mengikuti aturan. Itu saja. Saya memang senang seni tapi imajinasi saya tidak benar-benar tersalurkan saat lomba.

Dan masih banyak hal yang saya alami selama pengasuhan saya baik oleh orang tua maupun guru yang membuat pikiran saya ter-blok oleh batasan-batasan hingga akhirnya saya menjadi pribadi yang nurut sama aturan, mencari aman, yang penting semuanya lancar. Sampai-sampai calon (suami) saya dulu berpikiran bahwa saya orang yang polos, pikiran saya terlalu sempit. Dalam beberapa hal saya tidak bisa langsung berpikir jauh ke depan, dan saya mudah percaya apa yang dikatakan orang.

Sebenarnya saya menyadari kekurangan saya ini, hingga akhirnya saat SMA saya berdoa supaya bisa mandiri saat kuliah nanti. Alhamdulillah Allah mengabulkan. Allah mengizinkan saya masuk STAN dan karena jaraknya dari rumah lumayan jauh kalau PP ke rumah saya di Jakarta Timur saya pun mengajukan proposan untuk mengekos kepada orang tua saya. Alhamdulillah orang tua setuju. Mungkin karena pengalaman saat saya PP berdesakan dan pulang kemalaman akhirnya kasian juga.

Saat itulah saya mulai belajar "mewarnai di luar garis". Saya mulai belajar mandiri, mengatasi masalah saya sendiri saat tidak ada orang tua di dekat saya yang bisa membantu saya. Saya pun banyak mencari kegiatan yang membuat saya pikiran saya semakin terbuka luas. Saya tidak mau lagi jadi katak dalam tempurung. Meski karakter saya yang sudah terbentuk sejak kecil ini masih sulit dihilangkan, setidaknya saya sudah lebih baik daripada sebelumnya. Sayapun terus mengunjungi banyak saluran ilmu dan komunitas untuk memperluas wawasan.

Maka saat saya mendapat laporan a Hamzah menggambar di kulkas. Saya hanya tersenyum. Saya berjanji tidak akan memarahinya karena itu adalah bentuk aktualitas imajinasinya. Itu adalah emotional freedom seorang anak kecil.

Hanya saja karena pakai spidol permanen saya mesti mencari cara menghapusnya. Sebelum saya berhasil menemukan cara menghapusnya, saya melaporkan kepada suami dan respon suami saya cukup mengejutkan, "Biarkan saja, buat kenang-kenangan."

Persis, saya pernah mendengar kalimat yang sama dari Bapak saya saat saya menggambar di dinding rumah. Orang tua saya memang kurang sempurna dalam mengasuh anak. Mungkin karena mereka hanya mengadaptasi pengasuhan yang didapat dari orang yang mengasuhnya atau saran dari teman-temanya. Tidak seperti saat ini dimana ilmu parenting sangat mudah diakses di internet ataupuan kulwap. Namun orang tua saya juga sudah berusaha memberi kesempatan saya mengaktualisasikan diri dan menghargai karya saya. Setiap orang tua memang akan terus belajar parenting, dan tidak ada pengasuhan yang sempurna. Maka saya memaafkan orang tua saya dengan memperbaiki kesalahan pengasuhan yang saya terima agar tidak diturunkan ke anak-anak kami.

Terima kasih mama dan bapak, pengasuhan kalian membuat saya belajar pengasuhan yang lebih baik untuk anak-anak kami. Semoga Allah membalasnya dengan memberatkan timbangan amal mama dan bapak. Allohumma aamiin :)





Sunday, November 12, 2017

Portofolio Think Creative Day #4



MULUT JAHAT ORANG TUA

"Masa tadi Hamzah dibilangin salah nulis nama Aisha trus marah," lapor mama saat saya sampai di rumah. "Hamzah nulis huruf S kebalik tadi...." lanjutnya.

"Iya a?" tanya saya pada a Hamzah.

"Abis eyang bilang aku salah," sahut a Hamzah sewot.

Seperti a Hamzah kesal karena diberi komentar kurang baik saat ia sedang berkarya. Saya pikir ia akan membatalkan kreasinya. Tapi ternyata saya salah.

"Mana a, tulisannya? Coba ummi lihat," tanya saya penasaran.

A Hamzah menunjukkan hasil karyanya dan saya pun terbahak.

"Ya Ampun, kirain aa nulis di buku..." kata saya.

Rupanya a Hamzah menuliskan namanya dan adik-adiknya di lemari pakaiannya masing-masing dengan spidol permanen. Betapa kreatifnya dia berinisiatif menamakan barangnya dan adik-adiknya.

Memang ada sedikit kesalahan penulisan dan tidak bisa dihapus karena pakai spidol permanen tapi saya tidak peduli. Inisiatif dan usahanya saja sudah membuat saya senang.

Apa yang saya ambil dari kejadian ini adalah soal komentar atau kata-kata orang tua saat menghadapi kreativitas anak. Jika kita memberi komentar kurang  baik saat anak berkarya maka ini akan menghasilkan reaksi negatif juga dari anak. Anak bisa saja marah atau ngambek tidak jadi meneruskan kreasinya. Alhamdulillahnya dalam kasus ini a Hamzah "hanya" marah tetapi tetap berkarya.

Maka saat anak-anak tidak mau berkreasi maka jangan salahkan anak. Coba evaluasi apakah kita pernah memberikan komentar negatif saat ia berkarya. Bisa jadi karena kritik kita pada waktu yang salah justru membuat anak tidak percaya diri atau trauma takut salah lagi dalam berkarya.

Maka jika kita ingin memiliki anak kreatif dan cerdas, tahan mulutmu wahai orang tua!


Friday, November 10, 2017

Portofolio Think Creative Day #3



MATA MACAN

"Di mata mata anan?" tanya ummi
"Ini!" jawab a Afnan sambil menyentuh matanya.

"Kalo kuping mana?"
"Hidung?"
"Mulut?"

Ayahbunda pernah gak menanyakan pertanyaan di atas kepada anaknya. Saya yakin hampir semua orangtua pernah ya...

Memangnya apa tujuan ayahbunda menanyakan itu?
Mengetes?
Iseng aja?
Atau melatih anak mengetahui nama dan letak anggota tubuhnya?

Kalau saya tentu saja yang terakhir. Tapi setelah anak paham maka selanjutnya saya uji dengan menanyakannya berulang kali. Yah..lama-lama juga jadi iseng aja si karena anaknya sudah benar-benar hapal...

Nah, kalau memang tujuannya demikian apa yang ayahbunda lakukan saat melihat anak menempel stiker mata hewan seperti gambar di atas?

Apakah langsung mengkritik/menyalahkan?
Apakah bingung/merasa bersalah?
Apakah na
Atau malah ketawa ngakak?

Kalau saya yang terakhir. Ya karena saya menganggap "accident" itu malah lucu karena a Afnan memasangkan jenis mata yang berbeda pada bagian mata macan tutulnya.

Rasanya saya ingin mengkritiknya. Tapi usaha a Afnan menempelkan stiker mata bagian mata dengan tepat mampu menahan mulut saya. Bukankah memang demikian tujuan saya melatihnya?

Sebenarnya stiker mata itu seharusnya ditempel pada hasil origami membuat aneka bentuk binatang. Sebenarnya stiker mata macan bukan yang itu. Tapi sebenarnya ummi bangga a Afnan berkreasi sendiri dengan imajinasinya. Sebenarnya ummi senang a Afnan berhasil menempelka  stiker mata tepat di bagian mata gambar macan tutul.

Sebenarnya anak-anak itu cerdas dan kreatif kan?

Wednesday, November 8, 2017

Portofolio Think Creative Day #2


MOBIL-MOBILAN TROLLEY

Dulu, supermarket langganan kami menyediakan mobil-mobilan trolley yang tentu saja menarik untuk anak-anak. Namun, mungkin karena rusak pada akhirnya satu per satu digudangkan hingga tidak ada sama sekali. Tentu saja kami balik ke default memasukkan anak-anak ke trolley saat berbelanja. Hal ini membantu agar anak-anak tidak banyak nyangkut dan mengambil ini-itu sehingga belanja jadi efisien baik waktu maupun budget, hehe

Karena a Hamzah sudah hampir 6,5 tahun ia mulai sering bosan duduk di keranjang. Ia pun lebih sering jalan kaki bersama kami.

Suatu saat a Hamzah melihat trolley kosong yang menganggur. Namanya anak-anak, melihat itu lampu imajinasinya langsung menyala. A Hamzah mengambil trolley itu lalu mendorong-dorongnya sendiri seperti main mobil-mobilan.

Bagaimana reaksi kita jika melihat anak melakukan itu?

Saat diburu waktu biasanya spontan saya akan berkata jangan. Sayang sekali, padahal itu kesempatannya berkreasi. Saat imajinasi anak menyala justru akan lebih baik jika kita mendukung dan mengawasinya. Namun lagi-lagi orang dewasa kadang malas menerima resikonya. Resiko anak akan menabrak susunan barang-barang di supermarket atau bahkan orang lain. Resiko pulangnya jadi kemalaman karena sambil mengawasi anak bermain "mobil-mobilan trolley".

Namun jika waktunya lebih longgar biasanya saya membiarkan a Hamzah membantu, mendorong trolley atau membawa keranjang. Ini baik sekali untuk mengasah sense of helping anak juga memberi kesempatannya berkreasi terhadap benda-benda di sekitarnya.

Terlalu banyak berkata "jangan" atau melarang anak ini-itu memang banyak resikonya. Mulai dari membatasi imajinasi dan kreativitas anak sampai membuat anak tidak percaya diri karena tidak mendapat kesempatan untuk mengaktualisasikan diri. Hal ini merupakan pengalaman saya pribadi yang saya rasakan dari pengasuhan orang tua saya. Saya cenderung orang yang tidak percaya diri tampil di depan orang lain karena merasa banyak kekurangan, takut orang lain tidak suka, malu, takut salah, dan lain sebagainya.

Saya tidak ingin hal ini terulang kembali ke anak-anak saya. Maka seharusnya saya bisa lebih sabar lagi menghadapi anak yang tengah berkreasi.

#ntms

Portofolio Think Creative Day #1

BELAJAR CREATIVE DARI ANAK

Siapa bilang kita, para orang tua, harus mengajari anak kita menjadi anak yang kreatif? Bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya?

***

"Mi, Hamzah bisa bikin bunga dari kertas diajarin Bu Guru," lapor a Hamzah saat saya beristirahat sepulang dari kantor sambil menemani anak-anak main. Sampai anak-anak tidur agenda saya memang istirahat, makan malam, dan menemani anak membaca buku, bercerita, mengerjakan PR, atau main bersama.

A Hamzah bergegas mencari kertas origami warna-warna dan sibuk mengerjakan sesuatu dengan kertas itu. A Afnan ikut-ikutan kakaknya mengambil kertas dan mengerjakan sesuatu dengan kertas itu.

Tidak lama kemudian a Hamzah menghampiri saya sambil menunjukkan hasil karyanya.

"Ini mi, Hamzah bisa bikin bunga," katanya sambil menunjukkan kertas origami merah yang sudah dilipat-lipat seperti kertas dan bagian tengahnya ditekuk hingga saling bertemu. Sebenarnya saya tidak takjub karena itu sering saya buat untuk hiasan bungkus kado. Default sekali hiasan paling mudah dan cepat ya seperti itu jadi seperti pita kipas dilipit-lipit.

hiasan default bungkus kado


Yang membuat saya takjub justru kemampuan a Hamzah membuat pita lipit itu sendiri dengan rapi. Soalnya saya belum pernah mengajari, tiba-tiba saja dia sudah bisa.

"Aa pinter..tadi siapa yang ngajarin a?" tanya saya.

"Eyang," jawabnya.

"Loh tadi katanya Bu Guru.."

"Hehe..eyang sama Bu Guru..."

Entahlah siapa yang mengajari sebenarnya, yang jelas saya tertinggal. Biasanya kalau ada temannya ulang tahun saya yang membungkus kadonya jadi belum sempat mengajarinya membuat hiasan lipit-lipit itu.

"Tengahnya dikasih lem aja a..biar aa ga usah pegangin terus kaya gitu.." saran saya.

"Enggak ah, gini aja. Nih nanti aa bikin satu lagi jadi kupu-kupu," jawabnya sambil berlalu.

Saya tidak memikirkan kata-katanya, tetapi fokus makan malam (sebenarnya nyemilin jatah makan malam suami si :D) sambil menunggu a Hamzah datang.


Tidak lama kemudian a Hamzah kembali membawa hasil karya yang sama dengan warna kertas kuning.

"Mi, lihat mi. Ini kalo digabungin jadi kupu-kupu!" serunya dengan senyum lebar. Ia tampak bahagia sekali berhasil membuat karya sendiri.



Saya terus memperhatikannya menggabungkan dua pita lipit itu sehingga tercipta paduan warna merah dan kuning untuk sayap kupu-kupu.

"Tapi Hamzah belum bisa bikin kepalanya mi," katanya.


"Iya gapapa...aa hebat bisa bikin kupu-kupu. Coba ditempel di kertas biar kelihatan itu kupu-kupu.." saran saya.

Namun, a Hamzah tidak menempelnya. Ia malah sibuk memainkannya.

"Hamzah pengen bikin lagi mi!" serunya. Tampaknya ia makin semangat dan percaya diri membuat kerajinan tangan.



"Tapi sekarang udah malam a.. waktunya tidur. Besok lagi ya.. sekarang diberesin dulu.." ujar saya.

Awalnya a Hamzah mau langsung tidur, setelah diingatkan soal tanggung jawab ia pun merapikan kertas origaminya yang berserakan.

Alhamdulillah saya bersyukur ternyata a Hamzah bisa membuat kerajinan tangan dengan rapi. Itu artinya ia mempunyai keterampilan tangan dan imajinasi yang bagus. Bahkan saya sendiri tidak kepikiran menjadikan pita lipit itu kupu-kupu dan menggabungkan warna yang berbeda. Ini karena settingan default sejak saya kecil kalau hiasan itu biasanya hanya dipakai untuk hiasan bungkus kado jadi imajinasi saya tidak berkembang.

Ya, terkadang justru orang dewasa yang harus belajar dari anak-anak soal kreativitas. Karena fitrahnya imajinasi anak masih luas tak terbatas sedangkan orang dewasa tersekat oleh pengalaman hidup dan aturan-aturan di sekitarnya. Meski demikian tentu saja orang tua mesti mendampingi dan mengawasi imajinasi anak agar tetap sesuai dalam koridor syariat.









Monday, November 6, 2017

Pre Portofolio Think Creative #2


KOTOR-KOTORAN ITU BAIK

Seandainya semua orang tua tidak membatasi kreativitas anak, mungkin tidak akan ada orang dewasa yang dianggap tidak kreatif atau tidak solutif. Karena anak-anak yang terbiasa mengekspresikan semua imajinasinya dengan aman dan nyaman mampu berpikir lebih baik daripada yang dibatasi ekspresi kreativitasnya. Karena kreativitas sangat berhubungan dengan kecerdasan.

Saya masih belajar menjadi orang tua yang mendukung kreativitas anak. Meski kadang kondisi saya membuat saya tidak sabaran tapi setelah anak sulung saya berusia 6 tahun saya sudah jauh lebih sabar daripada saat ia baru lahir. Apalagi sekarang sudah ada tiga anak. Jadi daya toleransi saya semakin meningkat dan sifat perfeksionis saya semakin menurun.

Seperti kemarin pagi saat kami sedang sibuk bersiap-siap berangkat ke kantor. Sesuai pembagian tugas, abi bertugas menyetrika pakaian sementara saya menyiapkan 3 bekal: bekal saya, suami, dan a Hamzah. Tentu saja saya juga membangunkan a Hamzah, mengingatkan ia sholat jika tidak ikut sholat Subuh bersama abi, menyiapkan sarapannya, dan mengingatkannya mandi jika sudah selesai sarapan. Namanya, wanita saat melakukan semua itu saya juga bersiaga terhadap 2 anak lainnya, a Afnan dan Aisha kalau mereka sudah bangun dan meminta sesuatu.

Pagi itu Aisha sepertinya kelaparan. Begitu bangun ia tidak mau meminum susunya tetapi malah merengek menunjuk mangkuk sereal sarapan a Hamzah. Nampaknya ia tertarik. Saya mencoba menyuapkannya dan ia terlihat lahap.

"A, Aisha tolong disuapin ya.. ummi nyiapin bekal dulu.." kata saya pada a Hamzah.

A Hamzah mengangguk. Nyatanya belum 5 menit Aisha sudah menghampiri saya ke dapur. Rupanya ia tidak puas karena aa-nya entah tidak menyuapi atau tidak tanggap saat ia minta disuapi.

"Aisha kasih sendiri aja neng," saran abi yang sedang menyetrika di kamar tidur.

Saya pun menyiapkan sereal untuk Aisha, sedikit saja, kuah susunya pun sedikit supaya tidak diobok-obok.

"Kasih alas kain aja neng," saran abi lagi.

Saya pun segera mencari kain alas ompol untuk alas Aisha makan.

Dengan keterbatasan waktu dan tenaga kami, mau tidak mau kami harus mengajari anak mandiri. Aisha, 20 bulan lapar tapi tidak ada yang bisa menyuapi. Maka kami harus tega membiarkannya makan sendiri. Ia sudah bisa namun belum lancar benar. Jadi ada kemungkinan berantakan dan diacak-acak. Tidak mengapa. Berantakan dan kotor bisa dibereskan. Tapi kesempatan untuk belajar mandiri dan kreatif mencari solusi sendiri tidak bisa terulang lagi kalau kita tidak memberikan kesempatan itu sejak dini.

Saya menghamparkan kain alas ompol di lantai, lalu mendudukkan Aisha di atasnya dan memberikan mangkuk sereal beserta sendok kecil di depannya. Saya mencontohkannya cara menyuapkan sereal kemulutnya lalu langsung meninggalkannya ke dapur untuk menyelesaikan to-do-list saya yang lainnya.

Tak lama setelah saya selesai dengan urusan dapur saya melewati ruang tempat Aisha sarapan untuk mencari tas a Hamzah. Ternyata sereal Aisha sudah habis. Dan tentu saja kain alas ompolnya sudah basah oleh susu kuah sereal. Dan sendoknya entah terbang kemana. Dan Aisha masih lapar, hehe.. Tapi karena sudah kami rencanakan maka saya tidak ada emosi sama sekali. Dan saya pun menjadikan ini sebagai tips untuk mengelola emosi.

Ternyata membiarkan anak kreatif justru membuat orang tua bisa mengendalikan emosi loh. Apalagi kalau sudah kita rencanakan karena kita sudah siap menerima konsekuensi kreativitas anak. Jadi, Ayahbunda jangan ragu membiarkan anak berkreasi yaa ^_^

Thursday, November 2, 2017

Pre Portofolio Think Creative #1



PAYUNG AISHA

Tahukah Anda, pada dasarnya semua manusia memiliki potensi kreatif dalam dirinya sejak ia dalam kandungan? Potensi itu dititipkan Allah dalam bentuk akal yang hanya dimiliki manusia, tidak hewan, tidak tumbuhan. Maka hanya manusia yang bisa terus berkembang seiring dengan zaman dengan berbagai teknologi dan perubahan di sekitar kita yang kita rasakan saat ini, tidak hewan, tidak tumbuhan.

Namun sayangnya, tidak semua manusia mendayagunakan seluruh potensi kreativitasnya. Dan salah satu penyebabnya justru dari orang tuanya sendiri. Menyedihkan, bukan?

Coba ingat kembali,





Saat anak memasukkan air minumnya ke dalam mangkuk nasinya, apa yang Anda lakukan?
Saat anak mencoret-coret tembok, menggunting pakaiannya atau rambutnya sendiri, apa yang Anda lakukan?
Saat anak lama sekali memakai sepatu/kaos kakinya sendiri, apa yang Anda lakukan?

Jika jawaban Anda menghentikan usaha/kegiatan mereka dengan melarang/memarahi/malah membantunya maka tanpa sadar Anda telah mematikan potensi kreativitasnya.

Pada dasarnya Allah mengkaruniai manusia akal untuk melakukan proses kreatif dengan berpikir, mencari solusi, menyelesaikan masalah. Oleh karenanya Allah selalu memberikan tantangan dalam hidup ini, entah dalam bentuk nikmat ataupun ujian, kesenangan ataupun kesusahan. Karena Allah senang mengingatkan kita agar termasuk orang-orang yang berpikir seperti yang termaktub dalam banyak ayat di Al Qur'an.

Aisha telah mengajarkannya kembali pada saya...

Kami baru saja pulang kerja saat Aisha sedang berjalan-jalan di ruang keluarga. Begitu memasuki ruang keluarga saya melihat sebuah payung hijau yang motifnya lucu berukuran kecil.

"Payung siapa ini?" tanya saya.

"Payung Aisha mi," sahut a Hamzah. "Dibeliin Eyang."

Saya mencoba mengajari Aisha memakai payungnya, namun sepertinya ia masih keberatan sehingga belum bisa menegakkan di atas kepalanya. Dengan pikirannya sendiri Aisha yang baru 20 bulan ini tidak menyerah untuk membawa payungnya. Ia tetap memegang gagang payung tapi malah terlihat seperti menyeretnya, hehe

Masalah terjadi saat ia ingin keluar teras sambil membawa payungnya. Pintu teras terhalang motor abi yang terparkir di depannya. Hanya ada celah sedikit yang muat dilewati Aisha. Maka saat Aisha melewati sambil membawa payung, nyangkutlah payungnya :D

Apakah Aisha menyerah? Tidak. Motivasi ia mengejar kakungnya yang mau pulang lebih kuat. Tapi ia juga tidak mau melepaskan payungnya.

Saya berusaha menahan diri untuk membantu atau menginterupsinya. Saya hanya mengawasi, ingin tahu apa yang akan ia lakukan untuk melewati celah itu bersama payungnya.

Awalnya Aisha memaksakan diri menarik payungnya. Pada tahap ini ada kemungkinan ia akan jatuh. Orang tua yang tidak sabar pasti akan buru-buru menolong agar anaknya tidak terjatuh. Saya bukan termasuk yang demikian. Melihat kondisi sekitarnya aman, saya perhitungkan kalaupun jatuh ia tidak akan terluka. Maka saya membiarkannya agar ia bisa memecahkan masalahnya sendiri.

Setelah memaksakan menarik payungnya ternyata ia tidak berhasil dan sempat berhenti. Dengan wajah agak bingung ia berusaha kembali menariknya dan "plup" tanpa sengaja payungnya menutup sendiri. Haha. Ternyata Aisha beruntung. Payung itu bukan payung kualitas bagus sehingga penyangganya mudah turun. Karena tekadnya, Aisha berhasil melewati celah dengan caranya sendiri. Ia sudah berpikir kreatif menyelesaikan masalahnya.

Apa jadinya kalau saya menghentikan usahanya tadi? Tentu saja ia tidak jadi berpikir kreatif. Ia hanya akan berpikir bahwa tidak mungkin melewati celah tadi tanpa bantuan orang lain. Jika ia terus menerus berpikir demikian pada akhirnya ia akan menjadi pribadi yang tidak mandiri.

Alhamdulillah, saya belajar dari Aisha. Untuk menjadi orang tua yang lebih sabar, memberi kesempatan anak untuk berpikir kreatif. Jazakillah Aisha...


Luv Aisha


Monday, September 25, 2017

Portofolio Cerdas Finansial Day #10


 PENGENDALIAN DIRI





Saya bukan termasuk shopaholic. Alhamdulillah Allah yang mendidik saya demikian. Karena kondisi keluarga saya tidak memungkinan untuk belanja di luar kebutuhan sehari-hari yang benar-benar penting saja.

Bahkan untuk urusan jajan, entah kenapa saya tidak terlalu berminat. Saat TK saya selalu membawa bekal ke sekolah. Saat SD saya lebih senang menyimpan uang jajan saya. Saya baru jajan kalau saya benar-benar lapar jadi pasti jajannya makanan. Kalaupun saya ingin jajan di luar kebutuhan primer, otak saya berpikir untuk mengumpulkan uangnya. Saya sadar kemampuan orang tua saya sehingga tidak pernah meminta membelikannya. Jadi kalau saya berhasil mengikut tren anak-anak saat itu seperti memiliki mainan figur dari kertas (bepean), binder dengan kertas lucu-lucu, pensil dengan hapusan lucu-lucu, dan yang lainnya, itu hasil kerja keras saya mengumpulkan uang jajan. Jadi ya saya rela kelaparan demi mengumpulkan uang untuk membeli barang-barang tertier itu.

Kebiasaan ini berlanjut sampai saya dewasa. Orangtua saya tahu saya termasuk pintar mengelola uang. Saat kuliah di STAN saya nyaris hanya dibiayai untuk uang kos saya saja. Logistik seperti beras, buah, sayur, bumbu masak, mie, detergen, dan kebutuhan pokok lainnya kadang saya bawa dari rumah orang tua jika pulang saat weekend. Otomatis saya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan lainnya dengan menjadi pengajar privat. Saya pun sempat membeli sepeda dengan 70% dari uang tabungan saya hasil mengajar demi menghemat ongkos dan tenaga keliling kampus dan mengajar kemana-mana. Mengajar ber-km-km pun saya tempuh dengan sepeda.

Perjuangan dalam mendapatkan uang ini membuat saya sangat berhati-hati mengeluarkan uang. Hingga saya dewasa, saya cenderung jarang sekali membeli sesuatu di luar kebutuhan pokok dan barang yang benar-benar penting. Pun soal pakaian. Kalau belum lusuh saya akan memakainya terus. Sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian tersadar rasanya saya sudah memakai pakaian itu sejak jaman kuliah atau awal menikah. Sampai ditegur ibu mertua kalau saya pakai pakaian yang kurang "sesuai". Maksudnya sudah lusuh/kurang bagus. Bukan bermaksud zuhud tapi Allah membuat saya zuhud secara alami. Bukan pula pelit karena kadang saya akan membahagiakan diri sendiri dengan cara yang lain.

Saya sudah akrab dengan efisiensi dan penghematan. Bahkan menjadi pedagang adalah trik saya untuk tetap mempertahankan karakter saya ini. Kalau saya suka suatu barang, hanya sekedar suka bukan butuh, lebih baik saya jual saja. Biarlah orang lain yang membelinya. Ada kesenangan tersendiri saat orang lain membeli barang yang kita senangi. Tentu saja selain kesenangan karena mendapat pemasukan tambahan, hehe

Dari pengalaman hidup saya, saya pikir kunci dari karakter saya ini adalah pengendalian diri. Pengendalian diri dalam mengeluarkan uang. Satu kebiasaan saya entah sejak kapan tiap kali hendak berbelanja kemanapun saya akan membuat shopping list apa saja yang hendak saya beli. Kadang list itu hanya dipikiran, kadan benar-benar dicatat di kertas atau HP. Saat memasuki tempat belanja saya pun langsung menuju rak atau counter tempat barang-barang yang ingin saya beli tersebut. Apabila ada pilihan untuk barang yang sama, saya akan memilih yang termurah atau yang harganya lebih mahal namun kualitasnya lebih baik. Barang-barang tertentu saya beli sesuai kecocokan dengan diri saya misalnya skincare/kosmetik dan kebutuhan pribadi lainnya. Seringkali suami saya ngomel terutama jika ia sudah lelah atau hari sudah malam saat saya berbelanja lama sekali. Itu karena kebiasaan saya memilih-milih dan membanding-bandingkan. "Neng cari yang murah," begitu alasan saya.

Namun, kami membutuhkan extra effort untuk menanamkan pengendalian diri ini pada anak-anak kami karena mereka alhamdulillah tidak hidup dalam kesulitan yang sama seperti kami dulu. Seringkali ujian itu datang saat kami berbelanja bersama anak-anak. A Hamzah yang cenderung hiperaktif akan banyak sekali meminta ini dan itu, menunjukkan ini dan itu. Setelah kami perkenalkan dengan menabung ia mulai belajar mengendalikan keinginan-keinginannya.

"Ummi...sini mi..liatin..." rayu a Hamzah sambil menarik baju saya ke arah yang ia maksud.

Saya yang sedang fokus memilih-milih susu UHT merasa malas mengikuti kemauannya. "Tunggu a..ummi lagi lihat ini..." ujar saya.

Setelah selesai memilih susu UHT, a Hamzah menarik saya lagi. "Sini mii..Hamzah mau spiderman.." rengeknya.

Saya mencari-cari yang ia maksud. Rupanya susu botolan dengan cover spiderman.

"Yang lain aja a..susu ini mahal. Ini juga cuma satu nanti Afnan mau gimana?" lobi saya.

"Tapi Hamzah mau spiderman.." rengeknya.

"Hamzah boleh beli ini tapi Hamzah besok gak dapat uang jajan ya.." saya mencoba bernegosiasi.

"Iya gapapa Hamzah besok gak jajan," jawabnya mantap.

"Beneran? Besok kalau ada Kakung Hamzah minta jajannya ke Kakung.."

"Enggak.."

"Janji ya?"

"Janji."

Akhirnya saya membiarkan Hamzah membawa susu spiderman-nya sesuai kesepakatan kami.

"Hamzah kalau beli itu nanti gak bisa nabung loh," tiba-tiba abi berkomentar.

A Hamzah kelihatan bingung.

"Iya nanti Hamzah gak bisa nabung buat beli mainan," tambah ummi.

Hamzah tampak memikirkan kembali keputusannya.

"Iya...Hamzah gak jadi beli aja deh.." ujar Hamzah sambil mengembalikan susu ke raknya kembali. Ia tampak ikhlas melepaskan keinginannya, bahkan setelah a Afnan malah membeli susu yang ia inginkan.

"Afnan katanya gak mau nabung a, biarin aja ya Afnan nanti ga bisa nabung," ujar ummi memberi tahu konsekuensi Afnan kepada Hamzah agar Hamzah memahami mengapa Afnan diperbolehkan membeli susu yang ia inginkan.

Hamzah mengangguk. Tampaknya ia sudah mantap dan rela akan keputusannya.

Namun tidak sampai di situ. Melewati rak demi rak ada saja yang ia minta.

"Hamzah mau pizza..." katanya yang saya dengar terakhir kali di depan meja counter pizza saat saya beranjak ke counter buah-buahan.

Saya sudah menemukan buah yang saya cari dan hendak memanggil abi yang mendorong trolley untuk mengikuti saya.

"...Hamzah jangan apa-apa mau. Hamzah harus belajar mengendalikan diri..." ujar abi saat saya mendekatinya. Entah bagaimana awal pembicaraan mereka, saat itu abi sedang menasehati Hamzah.

Sepertinya a Hamzah mendapat banyak pelajaran hari ini terutama soal pengendalian diri. Hal yang mungkin akan cukup berat baginya karena kondisi lingkungan dan kesulitan hidupnya tidak sama seperti kami dulu. Apalagi ada eyang dan kakungnya yang selalu mengabulkan keinginan-keinginannya. Tentu saja ini menjadi perjuangan kami juga. Karena kami orang tuanya. Kami yang bertanggung jawab mendidiknya bagaimanapun kondisinya.

Semoga Allah memampukan kami mendidik anak-anak kami menjadi generasi Qurani. Amiin..


#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Sunday, September 24, 2017

Portofolio Cerdas Finansial Day #9

MENENTUKAN PRIORITAS



Kuadran prioritas

Saat kita melakukan perencanaan keuangan, pastilah kita akan dihadapkan atas pilihan menentukan mana pengeluaran yang termasuk dalam 4 kuadran di gambar. Namun tentu saja kita tidak mungkin mengajari teori ini pada balita dan anak 6 tahun. Jadi saya hanya ingin memberikannya pelajaran atas apa yang telah dipilih mereka.

Setelah menunggui a Hamzah latihan Taekwondo pagi ini, saya berencana mengajaknya membeli makanan di sekitar tempat latihan. Ini sebagai hadiah surprise (bukan iming-iming agar ia semangat latihan) sekaligus kebutuhan karena ia harus menge-charge energinya setelah latihan. Sebenarnya saya sudah membawa bekal bubur kacang hijau dan cemilan. Tapi untuk jaga-jaga saya hanya berbekal uang sepuluh ribu rupiah saja saat menungguinya. Salah satunya jaga-jaga untuk membeli makanan yang sesuai seleranya.

"Mi, Hamzah mau jajan," pintanya seusai latihan sambil menarik lengan saya menuju kumpulan pedagang di sekitar tempat latihan.

"Jajan makanan aja ya a..." ujar saya sambil mengikutinya.

"Hamzah mau itu mi.." katanya menunjuk tukang minuman.

"Makanan aja ya a.." jawab sayasambil mengedarkan pandangan mencari tukang makanan yang lumayan mengenyangkan dan bersih. "Ini ada cilok a, ini aja a," tawar saya.

"Hamzah mau es mi.. " ujarnya di depan tukang es.

Siang ini memang matahari bersinar sangat terik. Saya sudah membekalinya air mineral, namun sepertinya belum memuaskan panas dahaganya.

"Yasudah tapi beli satu aja ya..berdua Afnan," jelas saya.

"Ga au.." Afnan protes mendengarnya. "Nan mau sendiri.."

"Harganya berapa bu?" tanya saya pada penjual es.

"Tiga ribu," jawabnya.

"Uangnya ga cukup nan, ummi cuma punya lima ribu. Beli satu aja berdua sama aa ya..." tawar saya pada Afnan.

Tampaknya Afnan mau bernegoisasi, tidak protes lagi. Sayang si ibu menyela, "Sini gapapa saya bikinin. Tapi pakai plastik aja ya," katanya sambil mengambil uang lima ribuan dari tangan saya.

Arrgh.. gagal deh berhemat.

Akhirnya anak-anak memegang esnya masing-masing. Dan kami melanjutkan perjalanan pulang.

"Mi, kita ga naik ojek?" tanya Hamzah tiba-tiba saat kami sampai di luar gerbang.

"Enggak a, kan uangnya udah aa pakai jajan. Jadi gak ada uang buat ngojek," jawab saya menjelaskan konsekuensi atas pilihannya. Anak-anak pun nurut ikut jalan kaki sampai rumah tanpa rewel kecapekan sama sekali. Jaraknya hanya sekitar 15 menit jalan kaki santai si.. tapi Afnan kadang rewel kalau jalan kaki kejauhan.

Dari peristiwa ini a Hamzah dan a Afnan belajar atas konsekuensi mereka memilih sesuatu yang kurang mendesak dan kurang penting. Sehingga mereka tidak dapat menikmati sesuatu yang lebih mendesak dan lebih penting. Tapi ya namanya anak-anak. Mereka hanya memilih apa yang menurut mereka enak saat itu bukan dalam jangka panjang. Latihan seperti ini perlu diulangi berkali-kali hingga mereka paham konsep prioritas dan berhasil menentukan pilihan dengan bijak.



#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial