Sunday, October 30, 2016

Ladang Pahala Wanita Menuju Surga





Sebagai wanita kita harus bersyukur, setiap fase hidup kita penuh ladang pahala yang mendekatkan kita dan orang-orang yang kita cintai pada surgaNya.

Pada tulisan sebelumnya saya bercerita tentang sebuah ilmu yang ingin saya dalami dalam waktu dekat ini. Ilmu itu berkenaan dengan kegiatan saya sebagai pelaku ekonomi dalam kehidupan. Sejatinya semua manusia pelaku ekonomi entah sebagai pembeli, penjual, nasabah, produsen, atau mungkin guru. Maka saya merasa penting sekali untuk mempelajari ilmu ekonomi syariah.

Namun sejatinya, banyak sekali ilmu yang ingin saya pelajari terkait peran saya sebagai anak, istri, ibu, masyarakat, dan diri sendiri. Tiap peran itu memiliki hak dan kewajiban masing-masing sehingga saya harus terus belajar dan memperbaiki diri sepanjang hidup saya. Dalam waktu dekat ini, saya memiliki beberapa target:

Sebagai istri, saya ingin meningkatkan ketaatan saya pada suami. Antara lain:
1. Menempatkan suami pada posisi pertama dalam mengambil setiap keputusan (setiap saat)
Misalnya, meminta izin jika lembur kerja atau kegiatan lainnya, meminta pertimbangan saat akan membeli sesuatu, meminta memilihkan model/warna baju yang akan dipakai/dibeli, dll.
2. Menghargai pendapatnya dan menerima nasehatnya (setiap saat)
3. Memperbaiki komunikasi verbal (setiap saat).
Misalnya dengan memperhatikan adab-adab berbicara dan menyampaikan pendapat, perkataan dan bahasa yang baik dan menyenangkan, obrolan yang nyambung dengan suami, dan memahami waktu yang tepat untuk menyampaikan pendapat.
4. Mengelola emosi dengan lebih baik (setiap saat)
Terutama saat-saat kritis dimana banyak hal yang perlu dilakukan dalam waktu bersamaan dan saat menyampaikan pendapat.
 5. Memberikan pandangan dan wajah yang menyenangkan (setiap saat)
Yakni dengan memperbanyak senyum dan ekspresi menyenangkan di depannya, merawat tubuh dan wajah dengan baik serta berpakaian dengan indah agar selalu tampak segar, enak dipandang, dan menyenangkan hati suami.
6. Memahami waktu me time suami (setiap hari)
Yakni saat ia ingin beristirahat/melakukan kesenangannya sendirian di rumah tanpa diganggu permintaan bantuan dari istri atau rengekan anak-anak dan saat ia ada acara bersama teman-teman atau komunitasnya.
7. Melakukan kegiatan berdua suami (minimal seminggu sekali)
Misalnya, makan malam, nonton, mengobrol, mempelajari buku, tilawah dan tahajud benar-benar hanya berdua suami.
8. Peka dan melayani kebutuhannya (setiap saat)
Termasuk siap memijitnya saat ia tampak kelelahan tanpa diminta.
9. Menyediakan keperluan hidupnya (setiap hari)
Mulai dari saat bangun tidur menyiapkan baju dan bekal makannya sebelum berangkat kerja sampai menyiapkan makan malamnya sebelum tidur.
10. Meneladani sifat-sifat baiknya dengan istiqomah (setiap saat)
11. Mengatur dan mengelola keuangan keluarga serta menyajikan laporan keuangannya sebulan sekali.
12. Menyayangi keluarganya seperti keluarga sendiri (minimal sebulan sekali)
Yakni dengan menghubungi keluarganya terutama ibunya max sebulan sekali dan mengunjunginya max 4 bulan sekali.

Kebanyakan target ini sudah saya lakukan namun masih perlu diperbaiki dan lebih ditingkatkan. Indikator keberhasilan target ini bisa dilihat secara tersirat dan tersurat baik dari ekspresi wajah, pendapat, dan juga suasana hati suami ketika di rumah terutama saat bersama saya.

Sebagai ibu, saya ingin menjadi madrasah pertama untuk anak-anak saya. Antara lain:
1. Membacakan buku atau membaca buku bersama anak-anak (setiap hari minimal 1 buah buku). Hal ini penting sekali untuk mengenalkan anak terhadap Allah dan RasulNya, mengenalkan sifat-sifat baik dari cerita di buku, dan memperbanyak interaksi dan komunikasi efektif dua arah bersama anak.
2. Tidak menyentuh gadget sebelum anak-anak tidur sepulang dari kantor kecuali alasan mendesak (setiap hari)
3. Bermain dan bercerita bersama anak (setiap hari)
4. Menemani anak mengerjakan PR dan mengaji (setiap hari bekerja sama dengan suami)
5. Menyiapkan kebutuhan makanan anak dengan menu gizi seimbang (setiap hari)
6. Mengelola emosi dengan lebih baik dan menunjukkan ekspresi menyenangkan (setiap hari)
7. Mengajak anak berwisata ke luar rumah (minimal seminggu sekali)
8. Melibatkan anak dalam membantu saudaranya dan melakukan pekerjaan rumah lainnya (setiap hari)
9. Mengajarkan anak untuk berbagi, bermain bersama, dan menyayangi saudaranya (setiap hari)
10. Membuat makanan spesial bersama anak (minimal sebulan sekali)

Kebanyakan target ini juga telah saya lakukan tapi masih perlu banyak perbaikan dan peningkatan kualitas. Indikator keberhasilan target-target ini dapat dilihat dari tingkah laku anak yang lebih teratur, mudah diatur, sopan, dan menyenangkan baik terhadap orang tua, keluarga, teman-temannya, dan orang lain di sekitarnya.


Sebagai diri sendiri, saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat untuk banyak orang terutama diri sendiri, suami, anak, keluarga, dan umat. Target saya antara lain:

1. Membuat target ibadah yaumiah dan memenuhi targetnya (setiap hari)
2. Memenuhi kewajiban terhadap 2 anak asuh (sebulan sekali)
3. Bersedekah terhadap keluarga dan masyarakat (minimal seminggu sekali)
4. Mempelajari fokus ilmu jangka pendek yakni ekonomi syariah baik dengan membaca jurnal, buku, artikel, atau kuliah (minimal seminggu sekali)
5. Memperbaiki manajemen pengelolaan dan pemasaran produk bisnis online shop (minimal memiliki 3 reseller serius dan 1 admin)
6. Memperbaiki manajemen keuangan online shop dengan mengatur dan mengelola keuangan khusus bisnis dan menyajikannya dalam laporan keuangan (1 bulan sekali)
7. Mencapai profit minimal 3 juta (sebulan sekali)
8. Membuat minimal 1 status bermanfaat di media sosial (setiap hari)
9. Membuat 1 tulisan di blog (seminggu sekali)
10. Membuat target pekerjaan di kantor dan menyelesaikannya sesuai deadline (setiap hari)
11. Mengikuti 1 kajian agama, ekonomi, atau komunitas (sebulan sekali)

Target diatas juga sudah dilakukan namun masih belum terukur dan teratur jadwalnya sehingga masih perlu diperbaiki dan ditingkat. Indikator keberhasilan dapat dilihat dari seberapa teratur hidup saya, kelancaran tiap pekerjaan saya, dan tentuanya suasana hati saya.

InsyaAllah evaluasi akan dilakukan pada akhir tahun 2016 dan diperbaharui kembali untuk waktu selanjutnya.

Sejatinya target-target di atas bukan pencapaian akhir yang bisa dinilai layaknya rapot sekolah. Target-target ini adalah ladang pahala yang akan saya panen di akhirat nanti. Maka yang perlu saya ingat terus saat ingin mencapainya adalah bekal akhirat saya agar saya tetap semangat dan istiqomah meraihnya. Saya sangat bersyukur sekali menjadi wanita yang memiliki banyak ladang pahala ini.

Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 2 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2

Sunday, October 23, 2016

Semangat Menuntut Ilmu

“Al -Ummu madrasah Al-ula (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya) bila engkau persiapkan dengan baik maka engkau telah mempersiapkan bangsa yang baik dan kuat."

Sebenarnya setelah lulus DIII STAN saya berniat melanjutkan sekolah di DIV STAN. Namun sayangnya, saya belum berhasil lulus tes masuknya selama 4 tahun berturut-turut. Entah saya yang terlalu bodoh atau memang belum jodoh, cukup membuat saya sedih dan akhirnya memutuskan untuk tidak mengikuti tes masuk tahunannya lagi.

Kegagalan ini membuat saya mengevaluasi diri, saya akui saya kurang sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi tesnya. Saya selalu belajar mendadak, 1 bulan bulan sebelum tes meski telah mengetahui bahwa tes diadakan tiap tahun. Tidak seperti saat saya mengikuti tes masuk DIII STAN dulu yang persiapan belajarnya sejak kelas III SMA melalui kelas tambahan yang diadakan sekolah juga mengulang sendiri latihan soal-soal dari buku tes USM STAN di rumah. Tiap tahun memang selalu bertambah tips dan trik dari teman-teman yang berhasil lulus tes masuk DIV STAN, tapi nyatanya tetap saja saya tidak berhasil melaluinya.

Lalu saya bertanya kepada diri sendiri, apa memang saya bersungguh-sungguh kuliah DIV STAN padahal saya tidak menyukai akuntansi?

Ya, harus saya akui sejujurnya saya memang tidak ingin belajar akuntansi lagi. Kuliah DIV STAN adalah salah satu jalan agar saya bisa melanjutkan sekolah dengan santai karena akan dapat cuti tugas belajar, tidak perlu kuliah sambil bekerja. Apalagi kondisi saya telah memiliki anak. Hanya DIV STAN lah kesempatan tugas belajar untuk lulusan DIII STAN. 

Namun sebenarnya saya juga bingung jika lulus nanti, karena tempat tinggal saya di Jakarta Timur jauh dari kampus STAN bintaro. Pengalaman saat masih single dulu saya harus ngekos di sana supaya tidak capek bolak-balik rumah-kampus tiap hari dan waktunya lebih efektif untuk berkegiatan sebagai mahasiswa di kampus dan sekitarnya. Saya membayangkan sepertinya tidak mungkin ngekos atau mengontrak rumah di sekitar kampus karena kami telah memiliki rumah kecil di Jaktim dekat rumah orang tua yang bisa menjaga anak-anak saat kami tinggal bekerja. Sedangkan jika bolak-balik rumah kampus pasti akan capek dan habis waktu di jalan.

Saya telah melihat pengalaman teman-teman yang telah berkeluarga dan memiliki anak sambil kuliah DIV memang harus memilih di antara dua itu, ngekos/ngontrak atau PP rumah-kampus yang cukup jauh, mereka berhasil melewatinya dan lulus. Namun saya tidak terlalu yakin pada diri sendiri karena tidak menyukai akuntansi bahkan mendapat nilai terjelek di antara matkul lainnya. Sebenarnya suami saya selalu menyemangati agar saya semangat menuntut ilmu meski tidak menyukainya karena cuma DIV STAN yang bisa memberi fasillitas tugas belajar yang cocok untuk kondisi saya saat ini. Ia pun bersedia menjadi guru privat jika saya menjadi mahasiswa DIV STAN karena menurut saya ia cukup ahli di bidang akuntansi, terbukti dari IP nya saat lulus DIII STAN dan S1 ekstensi UI Akuntansi.

Yah, akhirnya takdir yang menjawab. Sepertinya DIV STAN memang bukan jodoh saya...


Lalu, apakah saya tidak akan melanjutkan sekolah. Sebenarnya saya tidak terlalu muluk ingin mendapatkan gelar lulusan kuliah setinggi apa karena bagi saya menuntut ilmu tidak harus melalui pendidikan formal. Apalagi bidang yang saya minati seperti bisnis, kepenulisan, memasak, fotografi, dll bisa dipelajari secara otodidak. 

Kenyataannya, kesibukan saya bekerja, mengurus anak, suami, dan rumah tangga membuat saya tidak bisa fokus mempelajari dan mendalami suatu ilmu. Sehingga tidak ada ilmu yang benar-benar saya kuasai. Membaca buku saja saya tidak sempat. Sepertinya memang semangat membaca itu semakin menurun sejak berkeluarga. Sayang sekali, saya hanya belajar dari google, membaca artikel dan jurnal pendek. Lama-lama saya makin merasa bodoh saya karena sudah 6 tahun tidak belajar secara formal.

Melihat ketiga anak saya, saya pun tersadar. Mengapa saya tidak semangat menuntut ilmu? Padahal saya adalah madrasah anak-anak saya. Apa saya bisa mendidik mereka dengan secuil ilmu yang saya miliki?

Berbekal penggalaman tidak mudahnya saya fokus menuntut ilmu, saya merasa saya perlu wadah menuntut ilmu yang memiliki target, diktat, ujian, dan waktu belajar terjadwal. Mau tidak mau saya harus mengikuti pendidikan formal atau semi formal. Lalu ilmu apa yang akan saya tekuni?

Beberapa tahun belakangan ini sebenarnya ada satu lagi bidang ilmu yang saya minati, yakni ekonomi syariah. Mungkin karena background saya ekonomi, pekerjaan saya berhubungan dengan ekonomi, dan saya juga bisnis online shop jadi banyak sekali aturan ekonomi yang sesuai syariah yang saya ingin tahu. Apalagi geliat syariah makin terasa beberapa tahun terakhir. Banyak sekali apa-apa berbau syariah dari hijab syar'i sampai perumahan syariah.

Lalu dimana saya dapat kuliah ekonomi syariah dengan leluasa tanpa harus kuliah malam? Akhirnya saya gugling dan mencari nama-nama kampus yang memiliki program ekonomi syariah dan memiliki jadwal kuliah weekend di Jakarta. Ternyata ada yang paling dekat rumah di daerah Jatinegara namun universitas swasta dengan akreditasi B. Itupun tidak bisa ekstensi dari DIII STAN.

MasyaAllah ya ketika kita sudah memiliki niat baik Allah memberikan jalannya. Saya kemudian mendapat informasi kalau Universitas Terbuka memiliki program ekonomi syariah, manajemen dan akuntansi syariah. Berhubung saya tidak suka akuntansi maka saya memilih manajemen syariah. Alhamdulillahnya lagi UT menerima ekstensi DIII STAN sehingga saya tidak perlu terlalu lama menyelesaikan kuliah S1.

Awalnya saya mencoba mendaftarkan diri di semester pertama di awal tahun ini. Namun ada saja kendalanya sampai saya akhirnya telat daftar mata kuliah sehingga baru bisa mulai Desember nanti. Tapi lagi-lagi Allah memberi jalan. Suami saya menawarkan saya ikut kuliah intensive di UI. Hanya 7 pertemuan tatap muka setiap Sabtu selama 3 bulan berakhir tepat dengan dimulainya perkuliahan saya di UT bulan Desember nanti. 

Tentu saja saya antusias karena kuliah ini bisa menjadi pemanasan atau martikulasi otak saya yang sudah lama tidak belajar formal sehingga akan memudahkan saat kuliah sesungguhnya nanti. Dan masyaAllah ketika kita menuntut ilmu yang benar-benar kita minati rasanya menyenangkan mempelajarinya. Berbeda saat saya kuliah DIII STAN dulu.

Kuliah Intensive Ekonomi Islam FSB UI ini akan segera berakhir. Namun karena intensive materinya tidak dapat dibahas terlalu detil sehingga menyisakan rasa haus untuk saya mempelajari lebih jauh. Kelak saat saya kuliah UT nanti saya akan menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, membaca lebih banyak buku referensi ekonomi syariah di luar diktat, tidak mudah mempercayai artikel di google sebelum mempelajari referensi artikel tersebut, dan tentu saja membagi dan mengamalkan ilmu yang saya miliki dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga saya bisa terus semangat menuntut ilmu agar bisa menciptakan generasi unggulan Islam di masa yang akan datang.




Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 1 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2



Ringkasan materi :
1. Ilmu yang akan ditekuni : Ekonomi Islam/syariah
2. Alasan : Berhubungan dengan background ekonomi dari kuliah DIII STAN, pekerjaan di kantor, dan bisnis online shop
3. Strategi : Mengikuti Kuliah Intensive Ekonomi Islam FSB UI selama 7 pertemuan dalam 3 bulan, mengikuti kuliah Manajemen Perbankan Syariah Universitas Terbuka, dan membaca buku-buku terkait ekonomi Islam/syariah
4. Adab menuntut ilmu : Bersungguh-sungguh menuntut ilmu, membaca banyak buku, tidak mudah percaya pada artikel di google sebelum membaca referensinya, membagikan dan mengamalkan ilmu yang dimiliki