Tuesday, December 15, 2020

Jurnal Hexagonia #8

  Bismillahirrohmaanirrohiimm...

Do more than is required. What is the distance between someone who achieves their goals consistently and those who spend their lives and careers merely following? The extra mile.
Gary Ryan Blair

Mewujudkan 4 event dalam waktu 6 bulan dengan formasi 10 orang mungkin akan mudah buat anak muda. Namun bagaimana jika anggota formasi itu seluruhnya adalah ibu-ibu yang memiliki bayi dan balita bahkan mereka semua bekerja baik di ranah domestik maupun publik? That's challenging!

Di ranah publik salah satu pekerjaan saya adalah membuat event baik offline maupun online. Tim kami hanya 5 orang namun seluruhnya adalah generasi millenial dan Z yang setengahnya masih single. Meskipun jumlah tim kantor saya hanya setengah tim cohousing, namun kekuatan kami bisa 2 kali lipatnya. Itu karena kami sudah berpengalaman, memiliki ilmu desain, public speaking, administrasi, keuangan, digitalisasi, dan teknologi dalam mengelola event. Tentu saja sensasinya kali ini sungguh berbeda saat saya bersama tim yang kekuatannya tidak sebesar itu.  That's really challenging!

Namun, apakah dengan tantangan ini saya tidak bersemangat mewujudkan proyek passion (PP) cohousing? No, I really don't. Justru ini menguji habit yang sedang saya bangun: kesabaran. Saya ingin tim cohousing saya bisa melesat bersama menjadi tim yang lebih berdaya. Namun saya harus sabar memancing mereka berbinar. Tidak menggurui dan tidak bossy

I've tried it, and you know what? It's work! 

Biasanya saya yang memberikan ide duluan, namun kali ini saya berusaha mengerem hingga banyak anggota tim yang memberikan ide lebih dulu. Beberapa anggota bahkan berusaha memberi kontribusi lebih, inisiatif membuatkan bahan untuk jurnal cohousing, inisiatif memulai diskusi, menggantikan anggota lain yang belum sempat membuka gembok grup saat piket, dan juga mencetuskan ide menggabungkan 2 milestone agar berjalan seperti festival yang sebenarnya sudah saya simpan di belakang layar. Buat saya ini adalah kemajuan pesat. Saya semakin yakin kami bisa menyelesaikan proyek ini dan lulus bersama, biidznillah insyaAllah. 

Dan masyaAllah, ide menggabungkan 2 milestone ini muncul sebelum Founding Mother memberikan materi Zona X, X-tra miles. 

Go to the X-tra Miles

Mengerjakan Sesuatu Dengan Usaha Lebih
Artinya mengerjakan sesuatu dengan cara biasa maka akan mendapatkan hasil yang biasa-biasa saja. Namun jika kita mengerjakannya "extra miles", maka kita juga akan mendapatkan hasil yang berlipat (luar biasa).
          Septi Peni Wulandani 

Ya, tanpa sadar kami sudah mencetuskan x-tra miles project passion kami. Terbayang bagaimana banyaknya pekerjaan yang harus kami lakukan dengan menggabungkan 2 milestone. Namun kami sepakat untuk melakukannya. Bahkan membuka untuk seluruh hexagonia dan GRATIS. Plus bonus hadiah/doorprize.

Sebenarnya sejak awal saya sudah memberikan ide yang lebih extramiles lagi yakni tidak hanya membuat event ini untuk seluruh hexagonia tetapi juga umum dan berbayar bahkan mengundang pakarnya. Namun sayang ide ini belum bisa diterima tim RnD. Alhamdulillah menggabungkan 2 milestone sudah cukup membahagiakan, apalagi semua anggota bersemangat untuk mewujudkannya.

Dan inilah jurnal cohousing kami di Zona X-tra Miles



Tidak hanya Project Passion, saya pribadi pun melakukan beberapa X-tra Miles dengan mengikuti beberapa pelatihan baik yang mendukung maupun tidak mendukung PP. Meski pekerjaan saya di ranah publik dan domestik cukup menyita waktu, saya berusaha menyempatkan diri diskusi dan melakukan hal-hal yang membantu PP ataupun jurnal cohousing. Harapan saya cuma satu, semoga semua x-tra miles ini berkah untuk banyak orang. Yang tidak bisa menjadi bisa, yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak ingin menjadi ingin, semuanya menuju kebaikan. Yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa, insyaAllah Allohumma aamiin...




#HexagonCity
#Hexagonia
#extramiles
#KuliahBundaProduktif
#InstitutIbuProfesional

Monday, November 30, 2020

Jurnal Hexagonia #7

 Bismillahirrohmaanirrohiimm...

It's Huddle time!






🌱Passionate People🌱

Seperti bibit yang baru tumbuh, saya mulai menanam benih kecintaan saya terhadap berkebun Agustus-September 2020. Flirting itu sebenarnya sudah lama, namun terus saya pendam karena sikon yang tidak memungkinkan untuk praktek. Bahkan sekitar 2017 saya sudah masuk rumbel berkebun namun SR karena belum praktek jadi belum bisa gabung dalam obrolan. Hingga 2018 memutuskan leave grup dan 2020 kembali masuk karena alhamdulillah sudah pindah ke rumah yang ada tanahnya. 

Bibit itu terus tumbuh sampai di kelas Buncek dapat kesempatan membuat proyek berkebun keluarga meski fokus saya sebenarnya manajemen emosi. Hingga akhirnya memasuki kelas Bunprod saya tak punya alasan lagi selain terus merawat benih yang mulai menampakkan tunasnya. Maka saya mantap memilih passion yang ada berkebunnya, sustainable living.πŸ₯°

☘️Character Cultivator☘️

Bagi saya berkebun adalah terapi emosi dan jiwa yang saya harap melatih saya memiliki kesabaran yang luas dalam hal apapun. Seperti karakter yang ingin saya rawat di zona ini. Itulah mengapa saya membuat proyek berkebun keluarga meski mengambil fokus manajemen emosi saat kelas Buncek. Sampai saya kaget saat mengetahui teman-teman di rumbel berkebun (kini berganti nama menjadi Green and Organic) tidak semuanya berhasil berkebun sayuran salah satunya karena kurang sabar dalam berkebun. MasyaAllah ternyata tidak salah karakter yang saya pilih, berkebun memang butuh kesabaran. Dengan berkebun saya bisa melatih kesabaran sayaπŸ˜‡

πŸ€Habit PoweredπŸ€

Hikmah yang saya dapat di zona ini ketika sudah memilih suatu karakter, saya harus mengaplikasikannya dalam semua kegiatan saya, diulang setiap hari agar terbiasa. Dalam proyek cohousing masih banyak kekurangsabaran saya, salah satunya saya kurang sabar mendukung teman-teman untuk bersinar😒 Di sini saya belajar untuk terus mengasah kesabaran apapun peran/kegiatan yang saya lakukan agar menjadi habit yang kemudian menjadi karakter. Tidak mudah memang, namun insyaAllah bisa. Karena habit ini sangat penting untuk mendukung proyek cohousing yang membutuhkan kerja sama yang solid dengan tim.

🌷Sharing 4E🌷

Saya semakin mengenal tetangga-tetangga saya di zona ini dan berharap bisa semakin dekat. Di zona ini juga saya makin paham apa saja peran/kegiatan yang harus saya naikkan levelnya dari enjoy-easy-excellent-earn. Saya pun mengevaluasi diri karena sempat merasa tidak enak dengan perasaan "terlalu dominan" di grup. Sebenarnya saya sudah mencoba mengerem diri saat proyek M1, ternyata malah kelepasan sampai di tim materi banyak yang missπŸ˜‚

Semoga saya bisa mencapai titik keseimbangan dengan karakter sabar yang sedang saya tumbuhkan. Semoga saya bersama tetangga-tetangga bisa meningkat dan lulus bersama. Dan semoga proyek cohousing ini tuntas dan berkahnya dapat kami rasakan bersama.πŸ’–πŸ’–πŸ’–


#HexagonCity

#Hexagonia

#ContributiontoNation

#KuliahBundaProduktif

#InstitutIbuProfesional

Saturday, November 21, 2020

Jurnal Hexagonia #6

Bismillahirrohmaanirrohiim...

Welcome to Zona 4E!

Semakin banyak berdiskusi dengan cohousing saya semakin paham mengapa canvas jurnalnya seperti itu dan apa goal zona 4E ini... penasaran? Yuk kita kulik dari jurnal Zona 4E!

APA ITU ZONA 4E

Zona 4E adalah zona hexagonia untuk mengevaluasi apakah pekerjaan yang dilakukan di dalam Hexagon City baik sebagai warga maupun anggota cohousing masuk dalam kriteria Enjoy, Easy, Excellent atau Earn?

Enjoy adalah perasaan minimal yang kita rasakan karena kita sudah berada di Hexagon City (HC) atas kemauan pribadi dan memilih cohousing sesuai passion.

Easy adalah satu tingkat di atas enjoy, dimana kita tidak hanya asik-asik aja tapi juga merasa ringan mengerjakan aktivitas di HC. Ringan bukan berarti mudah loh, melainkan kita ikhlas menjalani apapun tantangannya, easy going lah.

Excellent adalah output dari perasaan enjoy dan easy. Ternyata apa yang kita kerjakan dengan enjoy dan easy tadi hasilnya juga excellent. Bukan berarti sempurna melainkan baik untuk semua. baik untuk perkembangan diri maupun proyek cohousing/HC.

Earn adalah puncak outcome dari aktivitas kita yang dikerjakan dengan enjoy, easy, dan excellent. Dimana hasil pekerjaan kita tidak hanya baik untuk kita melainkan juga berkah, menghasilkan value lebih, baik tangible ataupun intangible. 

Pada canvas pertama zona 4E, kita diminta mengidentifikasi semua aktivitas kita di HC masuk dalam kriteria yang mana, selanjutnya pilih yang ingin ditingkatkan. Tidak lupa kita pilih aktivitas yang kita prioritaskan untuk tim/proyek cohousing.



4E to Nation

Setelah kita mengevaluasi diri dan memilih aktivitas prioritas untuk tim, saatnya kita bekerja sama dengan teman-teman cohousing untuk mensukseskan proyek cohousing. Ternyata oh ternyata tanpa kami sadari, kami sudah membuat kesepakatan itu di awal sebelum zona H dimulai. Dimana saat kami membuat milestone cohousing dan berbagi peran tiap milestone. Saat itu kami sepakat apapun peran yang diambil jika belum bisa jadikan sebagai tantangan untuk belajar. MasyaAllah betapa visioner kesepakatan kami waktu itu. Jadi sebenarnya canvas grup kali ini kami tinggal memasukkan aktivitas peran yang sudah disepakati untuk milestone 2. Aktivitas ini lah yang menjadi persembahan kami untuk nation.




Pada Milestone 2 ini kami mencoba men-challenge tim untuk mengubah target market dari internal cohousing menjadi untuk semua Hexagonia. Tentu saja tantangannya akan lebih banyak. Semoga kami bisa lebih baik lagi dalam mempersiapkannya. Penasaran sama event milestone 2 kami? Tunggu launching e-flyernya yaa


#HexagonCity
#Hexagonia
#4EtoNation
#KuliahBundaProduktif
#InstitutIbuProfesional



Tuesday, November 10, 2020

Jurnal Hexagonia #5


 Bismillahirrohmaanirrohiim...

Mengerjakan proyek habit 2 pekan ini membuat saya tersadar, IIP sedang mengajarkan kita bekerja sama dengan tim. Jika kami tidak bekerja sama, tidak mungkin kami bisa menyelesaikan proyek cohousing. Apalagi jika kami masih digelayuti karakter-karakter negatif seperti rasa malas, suka menunda-nunda, tidak bisa manajemen waktu... maka kami akan menjadi delayer proyek atau bahkan stopper. Tidak, saya pribadi tidak ingin proyek ini terhambat atau gagal. Karena saya juga senang kegiatan membuat event jadi saya berusaha menjadi booster, meski aral menghadang.

Sesungguhnya, saya ingin terus berpegangan tangan dengan tetangga-tetangga kesayangan sampai goals proyek cohousing tercapai. Makanya jika ada tetangga yang tertinggal saya berusaha membantu, menyemangati dan mendukung yang terbaik untuknya. Sebenarnya ada perasaan tidak enak yang menelusup hati saat saya terasa terlalu dominan di grup. Saya yang paling banyak bicara bahkan kadang saya yang membuka percakapan di grup duluan. Saya berusaha mengajak yang lain untuk diskusi tetapi saya tidak ingin memaksakan. Setiap orang punya kesibukan dan kesulitan yang kita tidak tahu. Saya hanya bisa berdoa semoga tetangga-tetangga yang masih tertinggal segera diberikan jalan yang terbaik dan dimudahkan Allah menjalaninya.

Mengapa periode jurnal kali ini 2 minggu lamanya? Selain untuk melatih habit ternyata merancang proyek cohousing cukup membutuhkan banyak waktu. Namun saya senang, biasanya saya membuat event online hanya 3-5 orang, kini ada 10 orang. Pekerjaan jadi lebih ringan karena masing-masing mendapatkan peran sesuai kebutuhan proyek. Apalagi setiap orang diminta berkontribusi dengan menjadikannya habit. Saya optimis dengan izin Allah proyek ini akan mencapai goalsnya, membumikan berkebun dan zero waste life style.

Saya bersyukur diberi hidayah Allah untuk memiliki passion berkebun. Setelah melihat postingan @agriquran saya semakin sadar banyak hikman dari berkebun. Salah satunya saya ingin melatih karakter sabar pada diri saya. Sabar dalam berkebun mulai dari menyemai, merawat, memanen dan mengatasi hama yang datang. Sabar dalam menghadapi anak-anak seperti saat sedang berkebun. Sabar juga dalam berdiskusi di grup agar tidak mendominasi percakapan. Juga sabar menjadi sahabat untuk tetangga-tetangga cohousing kesayangan.


Pada tiap Milestone, saya memilih peran yang berbeda-beda untuk memperkaya pengalaman. Saya memilih menjadi tim materi, notulen, humas, dan grafis. Keempatnya sebenarnya sudah pernah saya lakukan namun pengalamannya menjadi sangat berbeda dengan tim yang lebih banyak. Dalam menentukan milestone pun kami harus bersabar karena semakin banyak kepala semakin banyak pandangan yang berbeda. Beberapa kali kami harus voting agar bisa mendapatkan keputusan segera. Kalau musyawarah bisa 7 hari 7 malamπŸ˜‚

Alhamdulillah kami memilih 4 milestone sesuai hasil voting, sbb:
1. Praktek Membuat Mol
2. Serba-serbi Komposting
3. Playdate Berkebun untuk pemula
4. Hidroponik Sistem Wick

Dan inilah roadmap proyek kami : Festival Berkebun Keluarga


Masing-masing milestone sudah kami rincinkan hambatan dan solusinya. Berikut rincian yang lebih jelas:





Saya senang sekali saat mengisi canvas cohousing ini banyak teman yang berkontribusi seperti canvas pekan sebelumnya. Saya jadi tahu teman-teman saya memiliki bakat terpendam apaπŸ˜€πŸ˜€

Dan inilah evaluasi habit saya

#HexagonCity
#Hexagonia
#CharactertoNation
#KuliahBundaProduktif
#InstitutIbuProfesional

Tuesday, October 27, 2020

Jurnal Hexagonia #4

Bismillahirrohmaanirrohiim...

Dalam membuat proyek tim hal yang paling mendasar tentu adalah kerja sama tim.  Setelah minggu lalu kami memutuskan proyek cohousing Sustainable Living 2 adalah Festival Berkebun Keluarga, minggu ini kami diminta menganalisa karakter yang diperlukan serta segala hal yang berpotensi memajukan, memperlambat bahkan menghentikan proyek. Tentu saja karena ini proyek tim maka perlu diskusi bersama seluruh anggota untuk menganalisa itu semua. 

Di minggu ini kami tersadar bahwa kandang waktu kami berbeda sehingga sulit untuk menemukan waktu yang benar-benar bisa mengumpulkan secara lengkap seluruh anggota untuk berdiskusi. Kebanyakan dari kami juga lebih nyaman berdiskusi via chat WA sehingga sementara ini tidak terbatas waktu, fleksibel dalam memberikan pendapat. Akhirnya setelah progress lambat hingga hari Sabtu, kami memutuskan untuk mulai berdiskusi serius sesempatnya menjawab di WA. Alhamdulillah setelah rembugan ide dan pendapat kami mencapai kesepakatan di hari Senin. Selain masalah pertemuan diskusi sebagian dari kami juga kesulitan dalam menyematkan twibbon pada canvas karakter. Sehingga salah seorang teman yang berhasil membantu beberapa teman yang kesulitan. Salah satu teman yang bisa dan memiliki waktu juga menyumbangkan karyanya membuat canvas project passion cohousing dan canvas character to nation.


Dalam membuat tema kami ingin mengangkat dua hal yakni berkebun dan zero waste life style. Kedua hal ini yang merupakat faktor penting dalam sustainable living. Sebenarnya berkebun sendiri banyak yang ingin kami bahas mulai dari mengedukasi anak dan keluarga, hingga ilmu mengolah sampah organik menjadi kompos, eco encyme, dan MOL. Zero waste life style sendiri sebenarnya hampir 1/2 anggota tim mengenalnya dari pelatihan DK Wardhani. Namun tidak semua telah benar-benar mempraktekkannya sehingga kami berharap bisa mulai dari awal dengan mencari ilmunya hingga semangat mempraktekkannya.

Untuk mendukung proyek ini tiap anggota perlu mengasah karakter yang menjadi PR masing-masing. Saya sendiri memilih karakter sabar karena sedang belajar manajemen emosi terutama terhadap anak. Berkebun sendiri sebenarnya sebuah latihan kesabaran, mulai dari menyemai hingga panen membutuhkan waktu, tenaga, biaya, dan kesabaran.





Selanjutnya bagaimana nanti proyek ini berjalan? Tunggu cerita berikutnya yaa


#HexagonCity
#Hexagonia
#CharactertoNation
#KuliahBundaProduktif
#InstitutIbuProfesional



Tuesday, October 20, 2020

Jurnal Hexagonia #3

 Bismillahirrohmaanirrohiim...

Minggu ini saya disadarkan sedang berada di tahap apa dalam passion yang saya tekuni. Sejak memutuskan menekuni proyek aquaponik keluarga saya tersadar bahwa saya masih dalam tahap passion for knowledge. Ciri-cirinya adalah saya begitu haus ilmu yang terkait aquaponik. Begitu mengetikkan kata kunci aquaponik pada mesin pencarian, mata saya begitu berbinar-binar tiap ada materi baru yang belum saya tahu. Apalagi saat menemukan gambar dan infografis yang menarik, langsung auto-download. Meskipun ke depan proyek ini akan kami kembangkan jadi bisnis keluarga namun karena baru memulai jadi kami masih dalam tahap dasar itu.

Saat membangun kolam dan instalasi aquaponik banyak trial and error yang kami alami. Meskipun sudah berbekal ilmu dari mentor dan ebook "Aquaponik Praktis"nya Trubus, tetap saja banyak hal baru yang kami sadari saat praktek. Alhamdulillah saya juga berkesempatan menjadi narasumber pada sesi sharing Rumah Belajar berkebun tentang Aquaponik yang saya rintis. Sehingga saya bisa menuliskan apa saja ilmu yang saya dapat dan error yang kami alami agar setidaknya catatan itu bisa menjadi panduan awal bagi teman-teman yang ingin memulai aquaponik. 

Dari sini saya sadar di luar passion for knowledge saya juga memiliki passion for service akan ilmu aquaponik. Rasanya senang bisa berbagi dan berharap kesalahan saya tidak terulang pada orang lain. Maka sejak dulu juga saya terlintas ingin sekali menginisiasi sebuah workshop aquaponik buat para amatir seperti saya sehingga kami bisa belajar langsung dari ahlinya, mentor atau praktisi berpengalaman. Ketika menuliskannya dalam canvas passion, saya kembali mendapatkan ide bahwa workshop-nya tidak sekali jalan namun berkelanjutan. Peserta yang sudah masuk grup akan menjadi komunitas sharing mengenai aquaponik. Kalau perlu bisa membuat gimmick seperti tantangan menanam tomat aquaponik. Sehingga diharapkan komunitas ini akan terus berkelanjutan, belajar-praktek-berbagi-melayani.

InsyaAllah di level akhir barulah saya mulai merintis passion for business dimana dengan kecukupan ilmu dan pengalaman, saya akan mengembangkan proyek aquaponik keluarga menjadi skala bisnis sesuai timeline proyek saya: tahap uji coba bisnis dengan membangun instalasi di rumah orang tua Jakarta (deadline Desember 2021) dan tahap bisnis lanjutan membangun instalasi di tanah suami di Tasikmalaya (deadline Desember 2022). Namun demikian, insyaAllah tujuan utama kami bukan mencari keuntungan namun membuka lapangan pekerjaan yang sangat diperlukan banyak keluarga kami di luar sana, kalau bisa juga masyarakat sekitar. Mudah-mudahan Allah memudahkan niat baik kami. Allohumma aamiin...

Setelah sharing sama teman-teman cohousing alhamdulillah ide saya membuat workshop sejalan dengan ide teman-teman. InsyaAllah kami akan membuat Festival Berkebun Keluarga sebagai project passion. Semoga Allah mudahkan juga, aamiinn...





#HexagonCity


#Hexagonia

#KuliahBundaProduktif

#InstitutIbuProfesional



Tuesday, October 6, 2020

Jurnal Hexagonia #2

 


Minggu kedua ini Hexagonia riuh dengan kampanye calon walikota Hexagon City. Luar biasa antusias Timses dan semangat para kandidat menyerukan visi misi mereka. Tentu saja saya ingin ikut serta dengan memilih kandidat yang menurut saya visi misinya sesuai dengan kebutuhan Hexagonia. Sebenarnya visi misi para cawalkot ini mirip-mirip tapi masing-masing punya fokus berbeda. Maka agar tidak lupa saya merangkum titik berat visi misi masing-masing calon berikut.

1. Elva Citra Sari : Sinergi dan kolaborasi

2. Setiorini : Karya/produk sesuai passion

3. Endang Prasdianti : Tampil/mengambil peran

4. Ernie Arie Susanti : Keberagaman/kebersamaan

5. R. Ngt. Siwi Aryani : Green/Sustainable living

6. Nani Nurhasanah : Berkembang


Salah satu kekhasan masa Pemilu adalah acara debat calon. Dalam acara ini tidak hanya sekedar sosialisasi visi misi, tetapi juga ajang adu argumen. Biasanya pertanyaan bersifat rahasia sehingga dapat menguji para calon dengan jawaban spontan. Kecepatan, kejernihan, ketepatan, dan kebijaksanaan berpikir dapat terlihat dalam ajang ini. Juga bagaimana kemampuan komunikasi publik jelas terlihat. Sayangnya pada acara debat pemilu hexagon city yang bertajuk "Argumen" ini terlihat jelas bahwa para calon sudah menyiapkan catatan jawaban. Itu artinya kita tidak lagi bisa melihat spontanitas cara berpikir mereka. Jadi saya pribadi tidak mengerti apa sebenarnya tujuan acara ini selain hanya sosialisasi jawaban. Karena bagi saya tidak bisa dikatakan adu debat jika tidak spontan. Saran saya untuk batch berikutnya acara ini dikuatkan lagi maknanya.

Kedua, memang ini kotanya para perempuan dengan segala dinamika ala perempuan termasuk multitasking. Namun dalam acara debat seperti ini rasanya tidak profesional jika mengikuti acara sebagai narasumber sambil menyusui anak dalam kondisi anak rewel karena suaranya sangat mengganggu (sebenarnya bisa diatasi dengan mute namun agak tricky karena harus siap unmute jika waktunya bicara). Dari sana dapat terlihat bagaimana manajemen keluarga dan bagaimana multitasking calon tersebut. Hingga saya menyimpulkan, sebaiknya seorang walikota ini adalah orang yang sudah selesai dengan diri dan keluarganya. Tidak mengemban amanah di tempat lain/minimal tidak menjadi pejabat utamanya/ketua di tempat lain, tidak memiliki anak dibawah 10 tahun, dan memiliki konsep diri yang bagus. Sebenarnya saya sudah dalam tahap 80% memilih calon dengan kriteria tersebut namun saat membuka laman pemilihan dan membaca visi misi kembali ternyata tergoda dengan calon yang memiliki passion sama dengan saya.

Anyway, saya sangat mengapreasiasi ke-6 calon walikota karena mereka sudah berani mencalonkan diri bagaimanapun kondisi mereka. MasyaAllah... barakallahufiikunna.

Saya harap, meski hanya satu yang terpilih sebagai walikota, lima orang lainnya tetap ikut dalam struktur pemerintahan sehingga visi misi mereka bisa bersinergi, saling melengkapi, dan menguatkan. Demi Hexagon City yang produkktif, kreatif, dan solutif. Aamiin

#HexagonCity

#Hexagonia

#KuliahBundaProduktif

#InstitutIbuProfesional

Tuesday, September 29, 2020

Jurnal Hexagonia #1

 Bismillahirrohmaanirrohimm...

Kaget sekaligus excited waktu kami mendapat info kelanjutan Kuliah IIP ternyata dimulai September ini. Rasanya baru saja kemarin lulus Kelas Bunda Cekatan (Buncek). Memang istirahat itu tidak boleh terlalu lama, supaya misi yang dibuat saat Kelas Buncek bisa terus berjalan.

Sudah menjadi karakteristik Ibu Septi menjadikan perkuliahan ini menyenangkan seperti bermain game. Kali ini game-nya sungguh out of box, sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya bahwa kami akan bermain mini craft, lebih tepatnya city craft. Kami benar-benar akan membangun kota virtual yang belum pernah ada sebelumnya. Kotanya para perempuan, dari dan untuk perempuan. Kota impian ini bernama Hexagon City, kota yang sangat produktif dengan warga yang kreatif dan penuh solutif. Ibu Septi berperan sebagai founding mothers didampingi tim Formula yang membuat konsep dan playbook, sedangkan kami sebagai warga kota yang disebut Hexagonia. Seru, kan?

Kami benar-benar akan membangun kota impian yang dipimpin seorang walikota dibantu gubernur bank kota untuk mengatur keuangan kota. Untuk itu kami diberikan modal sepetak tanah berbentuk hexagon yang bebas didesain untuk tempat tinggal kami. Dan inilah tugas pertama minggu ini, membuat Hexa House.

Saya senang sekali dengan tugas pertama ini karena dulu sempat bercita-cita jadi arsitek dan desainer interior. Dulu saya juga senang bermain game The Sims yang bisa bikin dan desain rumah sendiri. Saya juga pernah mencoba aplikasi desain gratisan 3D tapi karena masih bingung baru sekedar mengamati fitur-fiturnya. Kami juga mendapat info bahwa tim formula membuat contoh Hexa House menggunakan aplikasi Home-by-me. Teman-teman di grup Bunda Produktif ada yang menggunakan Canva, Desain 5d, Power Point, dll. Akhirnya saya mencoba menggunakan aplikasi Home-by-me karena pilihan furniturnya lebih beragam dan up-to-date seperti IK*A. Namun karena baru belajar instan ternyata cukup sulit membuat bentuk Hexa yang presisi, setelah mencicil 3 hari akhirnya jadi seperti gambar di bawah ini.


Karena keburu deadline saya tidak sempat rendering bentuk 3D nya, ini pun hanya screen shoot bentuk 2D jadinya sungguh tidak rapi padahal 3Dnya cukup cantik. Akhirnya setelah setor jurnal saya buat lagi di canva seperti di bawah ini.


Lebih rapi bentuk hexa-nya dan terlihat jelas bagaimana desain rumah impian saya. Berikut saya jelaskan pembagian ruangnya.



Selamat datang di Hexa "Zhafira" House!
Memasuki rumah ini, kita akan disambut dengan pintu gerbang hitam dengan alas batu alam dan kanopi dengan tanaman merambat yang menyegarkan mata.


Sebelum masuk rumah, yuk kita tengok taman minimalis di sebelah kanan. Sederhana saja, ada cemara, bonsai, dan rerumputan.


Jangan buru-buru masuk, tengok dulu zhaquaponik di sebelah kiri, instalasi wall aquaponik dengan kolam semi alami. Kalau siang panas, adem banget mandangin zhaquaponik. Saat sayurannya sudah siap panen, kamu boleh bawa pulang buat oleh-oleh.



Sebelum masuk, yuk istirahat di teras dulu sambil mandangin kolam ikan di luar. Ada tanaman gantung dan pot bunga-bungaan di sini. Teras ini juga berfungsi untuk tamu yang mampir sebentar atau tamu yang lebih suka ngobrol di ruang terbuka.



Assalamu'alaykuumm silakan masuk. Yuk kita ngobrol cantik di sofa tosca yang empuk ini. Desain scandinavia dengan warna natural dan elemen kayu akan mendominasi rumah ini. Semoga nyaman ya!


Di sebelah kiri ruang tamu dengan jendela menghadap zhaquaponik ada ruang keluarga yang multifungsi dengan sofa bed, TV, dan meja kerja. Saat santai kita bisa nonton TV bersama keluarga di sini, bisa juga disambi WFH, dan saat tamu ingin menginap bisa dijadikan kamar tidur tamu.


Azan Zuhur sudah terdengar, yuk siap-siap sholat Zuhur di Mushola multifungsi ini. Mushola  yang cukup luas dilengkapi rak buku dinding yang bisa dijadikan tempat mengaji dan ruang baca keluarga.


Sebelum solat kita bisa wudhu di kamar mandi tepat di sebelah Mushola. Konsep minimalis dengan dominan warna putih dan coklat dengan elemen kayu. Karena letaknya di luar kamar tidur, kamar mandi ini bisa dijangkau tamu dari ruang tamu dan ruang keluarga, dipakai anak-anak dari kamarnya di seberang dapur, dan dipakai pengguna dari kolam renang di halaman belakang rumah.


Di sebelah kamar mandi luar, ada ruang cuci yang menghadap raise bed garden di halaman belakang. Jemur pakaiannya bisa sambil ngawasin tanaman di kebun siapa tau sudah ada yang bisa dipanen.


Sudah waktunya makan siang! Yuk berkumpul di ruang makan di tengah rumah. Furnitur desain scandinavian dengan ciri khas kaki kayu dengan ujung menyempit. Warna putih dan coklat natural mendominasi ditambah anggrek putih yang membuat meja makan tampak manis meski minimalis.


Tunggu sebentar ya, kami akan siapkan makanan di dapur tepat di belakang ruang makan menghadap kolam renang di halaman belakang. Biar yang renang kalau kelaparan bisa langsung ambil makanan di dapur juga memudahkan mengambil bahan makanan saat ingin pesta BBQ di pinggir kolam.


Dan inilah, kamar tidur utama dengan jendela besar menghadap taman minimalis. So quite and peacefull dengan dominan warna abu, putih, dan biru muda. 


Di dalam kamar tidur utama ada kamar mandi dengan standing bath tub dan taman indoor. Seger banget mandi di sini.


Semua pakaian, tas, dan sepatu tersimpan rapi di walking closet ini. Banyak lemari gantung memudahkan menyimpan pakaian agar tidak kusut.



Di belakang kamar tidur utama ada kamar anak perempuan dan laki-laki dengan connecting door. Karena masih kecil-kecil jadi bisa pakai tempat tidur tingkat. Jendela kamar ini menghadap taman bermain di halaman belakang yang menyambut anak-anak begitu bangun tidur setiap pagi.


Ini dia taman bermain multifungsi di halaman belakang dengan perosotan, ayunan, dan peralatan outdoor fitness. Di sini pusat aktivitas outdoor yang akan menguras energi dan menyehatkan keluarga.


Di antara taman bermain dan raise bed garden ada kolam renang dilengkapi kanopi dan tempat BBQ. Konsep alami dengan taman dan bentuk kolam semi natural. 


Dan inilah raise bed garden tempat kami menanam dan memanen makanan kami sendiri. Sayuran organik segar tersedia dari aquaponik dan kebun ini. Dua kebun ini menandakan bahwa kami concern dalam ketahanan pangan keluarga atau sustainable living yang menjadi kelas passion pilihan saya di Kelas Bunda Produktif.

MasyaAllah tabarakallah, demikian home tour rumah impian Hexa "Zhafira" House. Alhamdulillah biidznillah rumah impian sedang on progress saat ini dalam konsep yang lebih minimalis. Hampir semua elemen sudah ada, hanya saja rumah kami tidak memiliki pintu gerbang sendiri karena hanya ada satu pintu gerbang cluster, kolam renangnya tidak di halaman belakang melainkan di dalam cluster kami, dan kami belum memiliki peralatan taman bermain/fitness outdoor. Mohon doanya agar kami bisa menjaga amanah dan membuatnya berkah. Allohumma aamiin...


*Seperti konsep aquaponik pada postingan sebelumnya, detil rumah impian saya tuliskan di blog untuk menjadi panduan dalam proyek mendesain rumah kami

Tuesday, July 7, 2020

JURNAL KUPU-KUPU #7

Bismillahirrohmaaniirrohiim...

Seumur-umur saya belum pernah bikin surat cinta untuk siapapun. Untuk calon suami atau bahkan setelah jadi suamipun tidak. Baru di IIP saya mengenal bagaimana mengalirkan rasa bahkan mendapat tugas membuat surat cinta. Pada kuliah Buncek kali ini surat cinta khusus untuk mentor. MasyaAllah... saya pikir tugas ke-7 ini sungguh menantang sekali. Selain saya belajar mengungkapkan isi hati sejujurnya to the point melalui tulisan saya juga merefleksikan perasaan saya sampai jurnal ke-7 ini dengan mewarnai sebuah gambar kupu-kupu. Dan tidak lupa setelah merayakan kegagalan kemarin kini saya bersama mentor merayakan kemajuan kami, sekecil apapun itu.

Ahad pagi, mentor saya sudah mengirimkan surat cintanya. Hati saya berbunga-bunga dan terharu. Begini ya rasanya dapat surat cinta. 





Tentu saja rasanya ingin segera mengungkapkan dan membalasnya. Namun sayang niat itu kembali menyentuh deadline juga. Minggu ini tiba-tiba keluarga saya terserang flu semua, dimulai dari suami yang mulai WFO tiap hari memasuki minggu kedua. Dan puncaknya saat anak ke-4 tidak hanya meler tapi juga demam dan tentu saja rewel. Saya jadi tak bisa konsentrasi baik garap kerjaan kantor di rumah maupun menuliskan draft surat cinta yang rasanya sudah meluap-luap. Sampai deadline ini pun saya mencuri waktu dia yang terus mencari saya. Alhamdulillah akhirnya saya bisa membalas surat cintanya.


Dari surat cinta kami, kami sama-sama merayakan kemajuan kami. Semoga menjadi perbaikan kedepannya dan tambah semangat meraih mimpi kami menjadi petani kota.


Hingga akhirnya saya bisa mengekspresikan perasaan dan suasana hati sekaligus kerinduan akan seni dalam gambar ini.




Layaknya kupu-kupu di atas, saya warnai dengan warna kesukaan, ungu. Saat ini saya sedang melakukan apa yang saya sukai, merajut mimpi menjadi petani kota agar bisa memakan makanan dari kebun sendiri sekaligus membuka lapangan pekerjaan kelak. Juga menjalani sebuah proyek keluarga yang saya harapkan bisa membantu self healing dan manajemen emosi serta waktu saya. Harapan saya kini semoga Allah memudahkan setiap langkah, mendukung niat baik, dan memberkahi mimpi kami. Allohumma aamiin

#jurnalke7
#tahapkupukupu
#bundacekatan
#buncek1
#institutibuprofesional
#terimakasihmentor
#terimakasihmentee

Tuesday, June 30, 2020

JURNAL KUPU-KUPU #6

Bismillahirrohmaaniirrohiim...


Buat yang tidak suka bikin diary seperti saya sungguh jurnal minggu ini cukup melelahkan. Namun saya mencoba menikmatinya dengan merekapnya di hari terakhir. Alhamdulillah saya masih mengingatkan masa-masa menyenangkan seminggu ini karena sungguh saya tidak menyangka progressnya sebaik ini. Sejak awal saya meniatkan proyek ini untuk keluarga namun tidak memikirkan detil bagaimana teknis mengajak keluarga untuk menyukai berkebun juga? Mungkin terinspirasi dari diskusi rumbel berkebun juga bahwa kita tidak bisa mengubah orang lain namun kita bisa mengubah diri kita. Maka jika ingin membuat orang lain berbuat kebaikan caranya dengan terlebih dahulu membuat diri kita baik. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai sekarang juga. Dan itulah yang saya lakukan.

Awalnya tanpa sengaja saya memesan stok bahan masakan dari aplikasi pasar online yang sedang promo. Tanpa meniatkan apapun selain karena harganya murah saya memilih beberapa sayuran yang diantaranya ada sayuran hidroponik. Padahal biasanya di supermarket sayuran itu berkali lipat dari harga di tukang sayur namun di aplikasi ini ternyata sedang promo jadi tidak beda jauh. Bahkan saya juga membeli telur, ikan, dan ayam potong di sana.


Sehari setelah order paket sayuran di antar kerumah, alhamdulillah sebelum zuhur sudah sampai. Saat memeriksa kelengkapan orderan dan melihat kangkung hidroponik yang bersih hingga ke akarnya tiba-tiba saya terbersit, "Kenapa tidak coba bikin akuaponik dari akar kangkung ini?" Segera setelah membereskan bahan masakan ke kulkas saya memotong-motong akar kangkung menyisakan batangnya sekitar 5 cm. Lalu saat memakai tray plastik tempat telur untuk wadah menanam nanti. Saya tidak menambahkan media tanam apapun karena memang serba mendadak jadi hanya melubangi wadah telur untuk menggantung batang kangkung pada tray. Instalasi sederhana ini langsung saya aplikasikan pada akuarium ikan di rumah.




Melihat instalasi ini saya penasaran apa benar kangkung yang ditebar di air begitu saja bisa tumbuh seperti yang saya lihat di empang saat saya kecil dulu? Memang seperti ini konsep sederhana aquaponik. Tanaman bisa tumbuh dari empang yang kaya nutrisi dari kotoran ikan. Mereka membentuk ekosistem yang saling menguntungkan. Ikan mengeluarkan kotoran yang diproses oleh bakteri di kolam menjadi nutrisi untuk tanaman, tanaman menyerap nutrisi dari air kolam ikan itu yang sekaligus menyaring kotoran ikan sehingga air yang sudah melewati tanaman akan kembali ke kolam dengan lebih bersih dan kaya oksigen. Itulah sebabnya tanaman yang dihasilkan sangat organik karena tidak perlu ditambahkan pupuk kimia sama sekali. Kecuali tanaman buah memerlukan tambahan pupuk kandang. Berbeda dengan sayuran dari sistem hidroponik yang menggunakan pupuk kimia sehingga tidak dapat dikatakan sayuran organik.

Setelah memasang instalasi akuaponik saya mulai mencontohkan anak-anak menyiram tanaman dengan menyalami dan mengelus tanaman itu. Anak-anak bersemangat mencoba juga. Keesokan harinya saya kembali mengajak anak-anak menyiram tanaman, kali ini dengan air bekas cucian beras. Hingga akhirnya hari ini saya senang sekali karena suami ikut mengingatkan anak-anak menyiram tanaman sebelum berangkat kerja. Alhamdulillah itu artinya semangat berkebun mulai tumbuh dalam keluarga saya. Semoga kami bisa terus melanjutkan proyek ini bersama. Allohumma aamiin...





#jurnalke6
#tahapkupukupu
#bundacekatan
#buncek1
#institutibuprofesional

Tuesday, June 23, 2020

JURNAL KUPU-KUPU #5

Bismillahirrohmaaniirrohiim...
.
Saat bu Septi menyebutkan false celebration saya bertanya-tanya, apa yang bisa saya rayakan, kegagalan apa yang bisa diselebrasikan? Tak ayal saat mentor menawarkan untuk false selebration personal atau bersama mentee nya yang lain saya mantap memilih bersama-sama saja. Sebenarnya saya sama sekali tidak mengenal atau tahu perencanaan mentee tsb. Satu-satunya info yang diberi mentor saat awal pertemuan dulu bahwa mentee tsb sudah membeli paralon. Apalah saya yang konsep aja baru ada di kepala.
.
Tak ingin membuang waktu, sebelum pembahasan false celebration saya memulai progress report saya bahwa target menuntaskan ebook minggu lalu belum selesai. Namun malam sebelumnya saya sudah me-list daftar pertanyaan yang saya dapat dari Rumbel berkebun dan ebook. Satu yang menarik adalah pertanyaan saya soal ratooning berulang yang akan meningkatkan kadar purin di tanaman berikutnya. Saya mendapatkan info itu dari mentor Rumbel berkebun yang bertahan konvensional dengan tanah. Ternyata mentor saya tidak mengetahui hal itu dan mendapat insight jika itu benar ia mungkin tidak akan ratooning.

Sementara itu progress report mentee satunya soal targetnya bulan Juni untuk menyelesaikan instalasi. Takjub melihat fotonya ternyata sudah hampir jadi tinggal pemasangan terpal dan paralon. Sepertinya beliau memang sudah mempersiapkan (minimal dananya) sebelum proses mentoring ini sehingga pas mulai mentoring bisa langsung learning by doing. Namun saya tidak berkecil hari karena insyaAllah kedepan saya akan mengalami masa itu.
.
Tibalah saatnya false celebration. Saya sampaikan kegundahan soal kegagalan karena saya merasa baru saja mulai, baru membuat perencanaan jadi belum bisa dikatakan gagal. Mentor saya pun mengamininya. Namun jika di luar tema mentoring kegagalan saya adalah soal manajemen waktu sehingga target menuntaskan ebook tidak tercapai. Sementara mentee satunya sedang mengalami fase exhausted meski yang membuat instalasi suaminya. Saya mungkin juga akan mengalami fase itu apalagi perjalanan saya masih panjang sesuai target yang saya buat pada tabel. Mudah-mudah2an kami semua bisa tetap semangat dan mencapai target masing-masing.

Untuk pandangan 360 saya mendapatkan tantangan dari suami yang mengatakan saya kebanyakan teori. Namun beliau juga yang mengatakan kalau saya tidak perlu terburu-buru sambil menabung untuk pembangunan instalasi kami yang sepertinya membutuhkan biaya lumayan. Saya sampaikan saja kalau target pembangunannya masih Desember nanti. Bismillah semoga Allah meridhoi.

#jurnalke5
#tahapkupukupu
#bundacekatan
#buncek1
#institutibuprofesional




Tuesday, June 16, 2020

JURNAL KUPU-KUPU #4


Bismillahirrohmaaniirrohiim...

Setelah mendengarkan dongeng Ibu Peni saya lagi-lagi bersyukur. Alhamdulillah dapat mentor yang perhatian, aktif, dan sevisi. Kalau saya belum sempat menyapa, beliau yang menyapa duluan. Begitu juga sebaliknya. Berasa punya kakak mentor. Pernah saya merasa tidak pede apakah keputusan saya memilih tema berkebun ini akan masuk dengan mindmap. Belum sempat menyampaikan uneg-uneg ini, beliau malah menguatkan duluan. Memotivasi kalau insyaAllah saya masih sesuai jalur. Padahal saya sempat loh menimbang kalau harus ganti mentor agar masuk tema utama mindmap. Alhamdulillah urung. Mungkin karena sevisi dan sefrekuensi ini kadang pikiran kami nyambung, sering yang kami ceritakan juga nyambung. Kalau sudah sehati, kenapa harus pindah ke lain hati?

Minggu ini sebenarnya saya punya target pribadi menyelesaikan ebook Trubus Akuaponik, namun ternyata terlalu banyak kegiatan sehingga belum selesai juga. 
Padahal rencananya saya kan menyapa mentor untuk mendiskusikan isi bukunya. Saat lagi hectic begitu pagi-pagi mentor sudah menyapa. Pas banget lagi buka ebook di hape jadi sekalian ngobrol. Seperti biasa beliau menanyakan progress saya. Jujur saja saya baru menggali info tempat menjual bibit, pupuk, peralatan berkebun, juga bibit ikan. Saya coba menanyakan di grup rumbel berkebun Jakarta yang saya ikuti, namun teman yang rumahnya dekat saya tidak menyimpan nama dan kontak toko langganannya karena biasanya beli offline. Jadi saya diminta menunggu infonya jika ia sudah berkunjung lagi ke toko itu. Untuk pupuk, saya dapat info bapak saya untuk beli di trubus cimanggis jika dalam jumlah besar, jika eceran di toko yang jual bibit tanaman saja. Namun sayangnya saya belum sempet beli offline. Peralatan berkebun saya baru pesan online berupa sekop pacul lipat untuk militer agar bisa dibawa hiking juga. Sedangkan bibit ikan sampai saat ini belum ketemu kontak atau info apa pun.

Saya juga menyampaikan PR dari suami untuk membuat desain kebun, taman, dan kolam yang akan kami bangun. Sebab kami sudah bertemu dengan Mandor tukang bangunan yang merenov rumah ibu saya dengan hasil yang memuaskan. Mandor itu saya beri lihat konsep yang saya inginkan dan beliau menyanggupi. InsyaAllah selesai merenov rumah ibu saya beliau akan berkunjung ke rumah kami untuk survey, mengukur-ukur, dan memperkirakan biayanya. Kami harap biayanya sesuai budget, bila lebih kami harus nabung dulu. Semoga akhir tahun ini proyek pembangunan dan perintisan sudah bisa kami kerjakan.


Yang lebih membahagiakan lagi, tampaknya suami sudah satu frekuensi sampai-sampai beliau nyari-nyari desain akuaponik untuk tanah warisan di kampungnya. Saya bisa melihat binar dari wajahnya, bukan -Jadi target saya minggu ini adalah menyelesaikan ebook, memilih metode akuaponik, membuat desain kebun, taman, dan kolam, merencanakan biaya, dan mencari kontak yang diperlukan. Wah masih banyak PR saya, semoga jurnal minggu depan sudah ada progress yang lebih baik. Tetap semangat!



E-book yang sedang saya baca


#jurnalke4
#tahapkupukupu
#bundacekatan
#buncek1
#institutibuprofesional

Tuesday, June 9, 2020

JURNAL KUPU-KUPU #3

Bismillahirrohmaaniirrohiim...

MasyaAllah... alhamdulillah...
dipertemukan dengan mentor yang sevisi itu rezeki jadi diskusinya nyambung. Bahkan mindmap kami mirip, family project juga mirip!
 
Akhirnya setelah status PSBB Jakarta menjadi PSBB Transisi 6 Juni kemarin, kami mengagendakan silaturahim ke orang tua saya setelah 3 bulan lamanya tidak bertemu padahal masih satu kecamatan. Kenapa kami segitunya #dirumahaja? Karena kelurahan kami sempet masuk zona merah, jalan utama menuju komplek kami ditutup portalnya sehingga harus muter dan melewati prosedur protokol kesehatan, bahkan ada patroli keliling memastikan tidak ada kerumunan. Anak-anak sampai lari masuk rumah saat main di halaman depan karena ada polisi yang patroli karena aturannya anak-anak yang berkeliaran akan dijaring ke GOR kelurahan. Jadilah weekend ini yang kami rencanakan diskusi tabel jurnal bersama mentor tidak bisa terlaksana karena kami harus pergi ke rumah orang tua. 


Alhamdulillah Senin kemarin kami bisa diskusi dan saya langsung membuka obrolan penuh semangat. Pasalnya saya baru menyelesaikan tabel perencanaan dan menemukan benang merah bahwa berkebun ini bisa menjadi Family Project yang akan merangkul semua mindmap saya, masyaAllah. Bukan cuma bisa menjadi sarana self healing dan latihan menej emosi saat mengelolanya tapi juga bisa melatih saya berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, mengatur waktu dan prioritas sampai pada mindmap selling business project. Dan ternyata manajemen emosi, komunikasi, dan waktu sama dengan mindmap mentor saya.


Banyak banget pengennya :D
Dalam proyek ini saya membuat timeline untuk 5 tahun ke depan yang terdiri dari tahap perintisan, uji bisnis, dan pengembangan. Detilnya saya tulis dalam tabel.



Apa yang sudah saya lakukan selama libur kemarin? Saya mengkomunikasikan blueprint rencana saya ini kepada suami di saat suami membicarakan soal memberi kail untuk keluarga yang membutuhkan bantuan ekonomi. Alhamdulillah Allah yang memberi momentum itu sehingga langsung saya sounding garis besar rencana saya. Berkebun akuaponik ini akan kami proyeksikan sebagai family business project yang sejak dahulu saya cita-citakan yakni membuka lapangan usaha untuk perbaikan ekonomi keluarga kami yang butuh bantuan.

Meskipun saya belum pernah samasekali memulai berkebun namun sebenarnya sejak kecil saya sangat familiar dengan berkebun sama familiarnya dengan memasak. Namun sayangnya berbeda dengan memasak yang langsung bisa saya praktekkan dengan lihai begitu saya ngekos saat kuliah karena sering latihan membantu mama memasak, berkebun tidak pernah saya latih sebelumnya. Jadi mungkin akan berbeda hasilnya. Meski demikian kemungkinan terburuk itu tidak menyurutkan semangat saya untuk mulai dari 0. Berbekal usaha dan doa semoga Allah meridhoi niat baik kami.

Alhamdulillah sounding ke suami membuahkan hasil. Suami tampaknya meridhoi dilihat dari semangatnya mencari desain kebun aquaponik yang artistik impian kami. Iya, suami mensyaratkan desain kebun akuaponik nanti tidak pakai paralon karena kurang cantik apalagi posisi lahan nanti menghadap ruang tamu.  Saya menambahkan konsep vertikal garden untuk menutupi tembok pagar yang panjang dan kosong. Jadi lah kami berburu desain-desain taman, kolam, dan kebun akuaponik/hidroponik yang artistik. Setelah saya diskusikan syarat ini ke mentor, ia pun memberi beberapa referensi desain yang ciamik.




Konsep dasar vertikal hidroponik garden
Untuk paralon bisa diganti talang air berwarna hitam agar lebih artistik seperti gambar di bawah ini:
Sumber : Ebook Trubus Potential Business
Kemudian konsep kolamnya kecil memanjang seperti ini:

Imut-imut ya
Coba bayangkan kolam kecil di atas temboknya nanti dipasang talang air berwarna hitam. Lumayan tergambar kan? Keliatannya sederhana, menurut mentor saya juga begitu, kita tidak perlu memberi nutrisi pada tanaman karena akan terjadi simbiosis mutualisme antara ikan dan tanaman. Tanaman mendapat nutrisi dari air kolam, sedangkan ikan mendapatkan nutrisi dari akar tanaman. Jadi kita hanya perlu memberi makan ikannya saja dengan pelet.

Namun saat mentor memberi referensi kebun gantung seperti di bawah ini saya dan suami juga tertarik. Sayangnya kemungkinan tidak bisa diterapkan di lahan kami yang tidak terlalu luas.

Kesannya artistik, rapi, dan cantik
Lalu saya juga menambahkan referensi kolam impian saya yang entah bisa diterapkan atau tidak, hehe

Cantik banget kan...kesannya alami gitu.
Lihat di belakangnya ada vertikal hidroponik garden

Akhir dari semuanya, mudah-mudahan Allah meridhoi kami belajar dan menabung dana untuk membangun kebun akuaponik impian kami.

#jurnalke3
#tahapkupukupu
#bundacekatan
#buncek1
#institutibuprofesional