Buat yang tidak suka bikin diary seperti saya sungguh jurnal minggu ini cukup melelahkan. Namun saya mencoba menikmatinya dengan merekapnya di hari terakhir. Alhamdulillah saya masih mengingatkan masa-masa menyenangkan seminggu ini karena sungguh saya tidak menyangka progressnya sebaik ini. Sejak awal saya meniatkan proyek ini untuk keluarga namun tidak memikirkan detil bagaimana teknis mengajak keluarga untuk menyukai berkebun juga? Mungkin terinspirasi dari diskusi rumbel berkebun juga bahwa kita tidak bisa mengubah orang lain namun kita bisa mengubah diri kita. Maka jika ingin membuat orang lain berbuat kebaikan caranya dengan terlebih dahulu membuat diri kita baik. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai sekarang juga. Dan itulah yang saya lakukan.
Awalnya tanpa sengaja saya memesan stok bahan masakan dari aplikasi pasar online yang sedang promo. Tanpa meniatkan apapun selain karena harganya murah saya memilih beberapa sayuran yang diantaranya ada sayuran hidroponik. Padahal biasanya di supermarket sayuran itu berkali lipat dari harga di tukang sayur namun di aplikasi ini ternyata sedang promo jadi tidak beda jauh. Bahkan saya juga membeli telur, ikan, dan ayam potong di sana.
Sehari setelah order paket sayuran di antar kerumah, alhamdulillah sebelum zuhur sudah sampai. Saat memeriksa kelengkapan orderan dan melihat kangkung hidroponik yang bersih hingga ke akarnya tiba-tiba saya terbersit, "Kenapa tidak coba bikin akuaponik dari akar kangkung ini?" Segera setelah membereskan bahan masakan ke kulkas saya memotong-motong akar kangkung menyisakan batangnya sekitar 5 cm. Lalu saat memakai tray plastik tempat telur untuk wadah menanam nanti. Saya tidak menambahkan media tanam apapun karena memang serba mendadak jadi hanya melubangi wadah telur untuk menggantung batang kangkung pada tray. Instalasi sederhana ini langsung saya aplikasikan pada akuarium ikan di rumah.
Melihat instalasi ini saya penasaran apa benar kangkung yang ditebar di air begitu saja bisa tumbuh seperti yang saya lihat di empang saat saya kecil dulu? Memang seperti ini konsep sederhana aquaponik. Tanaman bisa tumbuh dari empang yang kaya nutrisi dari kotoran ikan. Mereka membentuk ekosistem yang saling menguntungkan. Ikan mengeluarkan kotoran yang diproses oleh bakteri di kolam menjadi nutrisi untuk tanaman, tanaman menyerap nutrisi dari air kolam ikan itu yang sekaligus menyaring kotoran ikan sehingga air yang sudah melewati tanaman akan kembali ke kolam dengan lebih bersih dan kaya oksigen. Itulah sebabnya tanaman yang dihasilkan sangat organik karena tidak perlu ditambahkan pupuk kimia sama sekali. Kecuali tanaman buah memerlukan tambahan pupuk kandang. Berbeda dengan sayuran dari sistem hidroponik yang menggunakan pupuk kimia sehingga tidak dapat dikatakan sayuran organik.
Setelah memasang instalasi akuaponik saya mulai mencontohkan anak-anak menyiram tanaman dengan menyalami dan mengelus tanaman itu. Anak-anak bersemangat mencoba juga. Keesokan harinya saya kembali mengajak anak-anak menyiram tanaman, kali ini dengan air bekas cucian beras. Hingga akhirnya hari ini saya senang sekali karena suami ikut mengingatkan anak-anak menyiram tanaman sebelum berangkat kerja. Alhamdulillah itu artinya semangat berkebun mulai tumbuh dalam keluarga saya. Semoga kami bisa terus melanjutkan proyek ini bersama. Allohumma aamiin...
#jurnalke6
#tahapkupukupu
#bundacekatan
#buncek1
#institutibuprofesional



No comments:
Post a Comment