Tuesday, July 27, 2021

Jurnal Bunsal #2

 MEMBANGUN TIM


Tantangan minggu ini adalah membangun tim yang anggotanya memiliki permasalahan yang sama sehingga dapat mencari solusi bersama. Sayangnya seminggu setelah materi, saya asyik mencintai masalah saya yg lama-lama justru membuat saya ragu apakah memang masalah ini yang ingin saya selesaikan dan bisa bermanfaat untuk banyak orang, bagaimana jika tidak ada yang minat bergabung, bagaimana nanti proyek ke depannya. Saya sibuk memikirkan semua itu hingga minder dan bingung bagaimana membuat template kampanye saya. Akhirnya saya memutuskan membuat user persona terlebih dulu.



Hingga kemarin akhirnya saya mengintip jurnal teman-teman untuk mencari inspirasi dan muncullah semangat saya untuk membuat video kampanye sesuai story board berikut.


Sayangnya saya baru sempat mempublikasikannya pagi ini dan hingga detik ini tidak ada yang minat bergabung dalam tim. Padahal awalnya saya yakin banyak working mom yang memiliki permasalahan yang sama dengan saya. Tapi mengapa tidak ada yang minat, apakah karena proyek saya terlalu sulit, apa mereka masih bingung maksud proyek ini atau bahkan mungkin mereka ragu karena seakan hanya menyelesaikan masalah saya saja. Saya tidak tahu pasti, karena teman yang cukup dekat pun no komen. Apakah mungkin saya terlalu blak-blakan mengajaknya, entahlah... rasanya sungguh menyedihkan, hehe

Lalu bagaimana kelanjutan proyek ini? Karena ini memang baru sehari dan saya hanya posting di sosmed tanpa mention siapa pun, saya rasa mungkin juga karena kurang pendekatan. Apalagi sosmed saya kurang aktif sehingga mungkin tidak muncul di feed target market saya. Jadi saya akan terus mencoba mencari tim minggu ini sambil bersiap untuk tantangan ketiga.

Apakah saya tidak mengerjakan apa-apa dalam dua minggu ini? Sesungguhnya justru saya sudah mulai membuka jalan untuk memudahkan pengerjaan proyek ini. Saya sudah bertanya ke grup-grup pendidikan anak tentang member working mom yang kira-kira  berminat mengikuti proyek ini. Saya juga meminta tolong admin untuk share video kampanye saya. Saya bahkan meminta rekomendasi narasumber yang kira-kira bisa membantu tim belajar mengenai kurikulum pendidikan anak. 

Sebelum kelas Bunsal ini sebenarnya saya sudah berinisiatif mengadakan proyek serupa sebagai wujud sociopreneur. Sebelumnya saya memang sudah mengerjakan proyek sociopreneur grup home education yang memanggil para ahli parenting untuk kulwap/kulzoom mengenai tema parenting/pendidikan anak yang dibutuhkan banyak orang tua. Di antara para ahli itu, alm Ust Harry Santosa, Kiki Barkiah, Ust Aad, Psikolog Zulaehah Hidayati, dan masih banyak lagi. Beberapa event saya kerjakan sendiri sebagai program sociopreneur yang insyaAllah menjadi amal jariyah narsum sehingga narsum sekelas alm Ust Harry dan teh Kiki tidak perlu dibayar. Beberapa event saya kerjakan bersama tim suatu penerbit buku yang hingga saat ini masih berjalan meski saya sudah keluar dari tim karena kesibukan saya.

Untuk proyek ini saya juga sudah merencanakan akan mengundang ust Harry namun qaddarallah Allah telah memanggil beliau duluan. InsyaAllah proyek terdahulu menjadi amal jariyah beliau, aamiin

Karena itu saya belum mendapatkan pengganti narsum. Namun saya mencoba mengikuti kelas praktisi montessori yang beliau juga membuka kelas membuat kurikulum pendidikan anak. Saya berniat insyaAllah akan mengundang beliau sebagai narsum, namun tergantung keputusan tim saya juga nanti jika saya berhasil membuat tim. 

Ya, semua itu mimpi saya pada proyek kali ini. Mungkin saya tidak mendapatkan badge menyelesaikan tantangan minggu ini, namun saya masih ingin berusaha mencari tim di minggu feedback ini. Saya berencana melakukan kampanye lebih luas lagi dan pendekatan lebih intens dengan teman-teman yang potensial sambil mencari para ahli yang kira-kira bisa membantu proyek ini. 

Di antara peran yang saya butuhkan antara lain:
1. Tim materi kurikulum kegiatan pra sekolah (penyusun TOR dan pencari+LO narsum) 

2. Tim materi pra akil baligh (penyusun TOR dan pencari+LO narsum) 

3. Tim materi manajemen waktu untuk working mom (penyusun TOR dan pencari+LO narsum) 

4. Tim materi strategi a home educator team for working parents (penyusun TOR dan pencari+LO narsum) 
5. Bendahara
6. Content creator iklan

7. Marketing

8. Desain grafis (flyer)


Setidaknya saya membutuhkan 12 atau minimal 8 anggota tim selain saya sebagai leader. Namun jika plan A ini tidak berhasil, saya harus mengubah bentuk proyek menjadi lebih feasible misalnya langsung bekerja sama dengan narsum untuk menyusun panduan keempat materi dan dijadikan modul atau bahkan buku yang akan dipublikasikan (plan B). Banyak sekali ide-ide bermunculan namun jika plan A dan B tidak juga menemukan titik terang mungkin memang saya harus melakukan dalam scope yang lebih kecil yakni keluarga saya dahulu (plan C).

#materi2
#membanguntimyangsolid
#ibupembaharu
#bundasalihah
#darirumahuntukdunia
#hexagoncity
#institutibuprofesional
#semestaberkaryauntukindonesia

Sunday, July 11, 2021

Feedback Bunsal #1

Bismillahirrohmaanirrohim...

Haloo semuanyaa...
Alhamdulillah tugas pertama Bunsal sudah terlewati. Kali ini kami mendapat tantangan untuk memberikan feedback kepada pasangan minggu ini. Saya termasuk seorang kritikus, akan mudah sekali memberikan kritik/penilaian terhadap orang lain. Namun, saya sendiri selalu degdegan menghadapi kritik/penilaian orang, hehe

Satu hal yang menarik di materi #2 ini meski tidak bersama Ibu Septi yang saat itu sedang sakit, penegasan bahwa di Kelas Bunda Salihah kami akan belajar dengan sistem "Problem Based Learning". Sesuai pengalaman saya yang hidupnya seperti roller coaster, permasalahan hidup yang saya hadapi itulah yang justru memberi banyak pelajaran dan hikmah, bahkan sedikit banyak membentuk kepribadian saya menjadi sosok yang tangguh. Saking saya begitu menghargai permasalahan yang sudah mampir dalam hidup saya, saya menguatirkan anak-anak saya yang hidupnya jauh lebih nyaman dari kondisi saya dulu saat seusia mereka. Di usia anak tertua saya, 10 tahun, saya bahkan sudah punya planning mau jadi orang tua seperti apa. Doa-doa saya sudah futuristik ingin mengangkat derajat orang tua saya. Saya jadi sadar bahwa masalah-masalah hidup yang menghampiri sejak kecil membuat saya punya mimpi besar. Hingga saya bisa membuat misi-misi hidup lebih dini, yang perlahan-lahan mengantarkan saya menemukan visi hidup saat saya dewasa. 

Materi kali ini memberi saya inspirasi untuk membuat program pendidikan anak dengan sistem problem based learning, agar anak terbiasa memecahkan masalah yang akan melatih mereka menggunakan seluruh akal dan panca inderanya. Harapannya agar anak-anak menjadi sosok yang tangguh dan cerdas menghadapi permasalahan hidup.

Oke, kita masuk ke feedback system.

Pasangan saya minggu ini adalah mba Aida dari Pekanbaru. Saya langsung menghubunginya tidak lama setelah launching data link pasangan. Sambil melakukan pekerjaan kantor yang saat itu masih bisa disambi, saya berkenalan dan membaca jurnal beliau. Sungguh menarik, karena finansial adalah salah satu tema yang menarik buat saya dan permasalahan yang beliau angkat mirip dengan pengalaman saya.

Saya menangkap bahwa mba Aida memiliki karakter yang mirip dengan saya, yakni berjiwa sosial dan empati tinggi. Bahkan masalah besar yang saya ambil kali berhubungan dengan empati saya terhadap sesama ibu-ibu bekerja. Mungkin sedikit perbedaannya adalah karena permasalahan ekonomi yang sudah menempa saya sejak kecil membuat saya lebih senang membantu orang dengan memberinya kail, apalagi setelah beberapa pengalaman hutang piutang yang berakhir kurang baik.

Membaca akar masalah dan berdiskusi lebih jauh dengan mba Aida, memberi saya gambaran bahwa mba Aida ingin memiliki penghasilan sendiri sebagai istri agar lebih mudah membantu orang yang membutuhkan uang/yang lainnya. Namun lebih cenderung menyedekahkannya agar tidak menjadi masalah utang piutang yang kompleks. Sungguh niat yang mulia, bukan?

Namun permasalahan uang ini memang seperti dua sisi mata pisau, dengan uang kita bisa membantu orang lain namun juga bisa melukainya. Maka saya memberikan saran agar mba Aida memiliki strategi agar bantuan ini menjadi kail bukan umpan yang akan melukai orang yang butuh bantuan itu.

Sesuai pengalaman saya, orang yang sekali berhutang biasanya akan ketagihan untuk berhutang kembali. Permasalahannya bukan kecanduan melainkan mindset. Ia menganggap dirinya miskin dan orang yang ia hutangi kaya. Ia melihat hidup orang lain enak, dan ia hanya meminjam sebagian hartanya. Lalu ia juga enggan berusaha keras memenuhi nafkah hidupnya karena merasa tidak mampu dan beragam alasan lainnya. Sehingga saat ditagih hutang ia cenderung kabur dengan playing victim bahwa orang yang ia hutangi tidak akan kesulitan jika tidak ia bayar. Begitu seterusnya hingga ia menemukan korban berikutnya dan rantai itu tidak pernah putus karena mindset-nya tidak berubah. Ini lah luka yang bisa kita buat jika meminjamkan/memberikan uang pada orang lain tanpa strategi. Secara tidak langsung kita mendukungnya untuk tidak berusaha lebih keras dengan memudahkannya mendapatkan uang. Dilema, bukan?

Alhamdulillah setelah diskusi ternyata mba Aida sudah punya planning, yakni mengoptimalkan potensinya untuk berbisnis. Ia akan mengajak teman untuk memasarkan bisnisnya sehingga turut membantu penghasilan teman tersebut. Persis seperti tujuan saya berbisnis dulu, ingin membuka lapangan pekerjaan. Namun justru saat kita telah memiliki penghasilan, berdatangan orang-orang yang ingin meminjam uang. Dan saat itu lah kita harus memiliki strategi untuk menghadapi mereka.

Saya sangat mendukung planning mba Aida yang luar biasa untuk mengoptimalkan potensi dan membuka lapangan pekerjaan. Semoga ikhtiarnya dimudahkan dan dilancarkan Allah dan mba Aida bisa lebih siap menghadapi orang-orang yang ingin berhutang atau meminta bantuan lainnya.




#umpanbalik1
#Identifikasimasalah
#ibupembaharu
#bundasalihah
#darirumahuntukdunia
#hexagoncity

Tuesday, July 6, 2021

Jurnal Bunsal #1

Madrasatul Ula

Bismillahirrohmaanirrohiim....

Haloo hexagonia...
Setelah sekitar 3 bulan berhibernasi akhirnya si ummi mulai belajar lagii... meski sempet galau antara melanjutkan kelas terakhir Institut Ibu Profesional ini atau tidak, saya memutuskan untuk lanjut karena kesempatan yang Allah berikan. Bagaimana tidak bisa saya bilang kesempatan? Saya terlewat submit survey yang merupakan gerbang masuk kelas Bunda Salihah, hampir menyerah namun Allah menunjukkan jalan dengan adanya pendaftaran gelombang kedua. Saya tidak bisa menutup mata dan akhirnya mendaftarkan diri. Cerita lengkapnya di sini.

Lalu bagaimana kesan saya setelah mengikuti orientasi dan kuliah perdana? Terpana. Wow, kami memiliki kampus hijau, kampus virtual yang digambarkan dikelilingi banyak pohon dan ada danaunya. 
Hm.. mirip UI ga si? hehe

Kampus ini bernama Kampus Ibu Pembaharu dan taglinenya
Dari rumah untuk dunia

Yang lebih menakjubkan lagi saat mulai orientasi kampus ini sudah memiliki website kampus yang sudah lengkap isinya. Cek websitenya di sini. Sepertinya kelas ini lebih rapi daripada sebelumnya. Semua sudah ada draftnya sehingga kami para pembelajar ini tidak bertanya-tanya habis tahap ini selanjutnya apa. Semua sudah terjadwal hingga akhir kelas. Istilahnya kami sudah diberikan kurikulum/silabus dan kalender akademiknya. Lengkapnya silakan cek di sini.

Setelah mengetahui visi misi dilengkapi materi kuliah perdana, saya merasa bersyukur mendapatkan kesempatan mendaftar di gelombang kedua. Karena kurikulum kampus ini sangat menantang dan sesuai dengan visi saya, menjadi orang bermanfaat bagi banyak orang. Ya, seperti kita tahu hampir setiap hari kabar duka menghampiri kita di masa pandemi yang sepertinya sedang puncak-puncaknya gelombang kedua. Dari orang yang kelihatannya jauh, semakin lama yang terkena covid dan yang meninggal adalah orang yang kita kenal dekat. Betapa menjadi pengingat diri akan  bekal saat dipanggil Allah nanti. Sudah cukupkah bekal saya? Salah satu amalan unggulan yang ingin terus saya perbanyak adalah amal jariyah, implementasinya dengan kebermanfaatan. Makanya saya senang membuat event-event bermanfaat terkait parenting dulu. Selain bermanfaat untuk saya juga untuk banyak ibu lainnya.

Melihat tagline dan visi misi ibu pembaharu ini seolah saya di-charge kembali. Tadinya saya mulai mengurangi inisiatif membuat event-event parenting itu tapi ada satu event yang saya janjikan di salah satu WAG namun sayang belum bisa saya realisasikan karena kesibukan terlebih setelah full WFH di masa pandemi ini. Saya seperti mendapat kesempatan kedua untuk menunaikan janji sekaligus membantu diri saya sendiri. 

Inilah yang menginspirasi saya menuliskan tugas perdana yakni, identifikasi masalah.

Awalnya kami diminta brainstorming menuliskan beragam masalah yang saya miliki. Saya pikir hidup saya selama ini mirip roller coaster, banyak masalah yang membuat jantung kami naik turun. Namun karena ini terlalu pribadi jadi saya tidak tuliskan di sini. Hal yang menyenangkan adalah ketika saya bisa menuliskan semua masalah itu, saya merasa lebih lega dan pandangan saya lebih terbuka sehingga banyak harapan dan ide bermunculan.

Setelah brainstorming selanjutnya kami diminta memastikan, bagaimana kami tahu kalau itu benar-benar masalah buat kami? Seperti rasa tidak nyaman, kepikiran, atau dampak bagi diri sendiri dan sekitar kita.

Dari banyaknya masalah itu akhirnya saya memutuskan fokus pada satu masalah yang sangat mengganggu saya dan mengakibatkan dampak bagi diri sendiri dan sekitar, yakni pendidikan anak. Sebenarnya saya sangat concern terhadap pendidikan anak namun lagi-lagi saya kesulitan fokus karena terlalu banyaknya pekerjaan. Saya seorang ibu bekerja dengan 4 anak usia 10, 8, 5, dan 3 tahun. Saya bekerja full WFH di masa pandemi tanpa ART. Bisa dibayangkan bagaimana tekanan kewajiban yang harus saya tanggung. Saya sudah melonggarkan beberapa standar dan mendelegasikan beberapa tugas untuk mengurangi beban. Namun, tetap saja saya merasa exhausted. Terlihat dari betapa emosionalnya saya saat menghadapi anak-anak yang terlalu kreatif dan banyak akal. Rasanya ingin mengibarkan bendera putih namun saya merasa harus kuat menghadapi kenyataan. Karena surga itu mahal... saya harus kuat. 


Namun, bukan berarti saya harus menanggung semuanya sendirian. Karena saya maunya masuk surga sekeluarga. Harusnya saya bisa menyinergikan suami dan anak-anak untuk menunaikan beragam amanah dan tantangan yang kami hadapi. Harusnya meski full WFH saya tetap sempat membacakan buku untuk anak dan fokus mendampingi belajar. Tapi bagaimana caranya? Itulah yang menjadi misi yang harus saya tuntaskan di kelas bunda salihah ini.





Saya yakin tidak hanya saya ibu bekerja yang merasakan kesulitan dalam pendidikan anak karena terbatasnya waktu kami, apalagi setelah lebih sering WFH di masa pandemi. Saya sempat berdiskusi di sebuah WAG ibu-ibu yang mengeluhkan hal itu dan kebingungan menyusun kurikulum untuk pendidikan anak di rumah. Saya rasa inilah kesempatan saya menunaikan janji membuat event yang pernah saya janjikan di WAG tersebut. Selain itu saya bisa membuat ekosistem untuk menyelesaikan misi ini.

It takes a village to raise a child

It takes an ecosystem to raise a changemaker


Bismillah... semoga Allah meridhoi niat baik ini.

#ibupembaharu
#bundasalihah
#darirumahuntukdunia
#hexagoncity
#institutibuprofesional
#semestaberkaryauntukindonesia