Monday, December 5, 2016

Menemukan Diri Saya

The Right Man in The Right Place
 
Saat ini saya bekerja di Humas suatu instansi, pekerjaan yang saya dapatkan dari hasil magang saya dengan latar belakang organisasi pers kampus. Satu tahun pertama saya sangat menikmati pekerjaan saya yang sangat akrab saya lakukan saat di kampus dulu, mulai dari mencari informasi, mewawancara sumber informasi, menganalisis informasi, menyusun informasi ke dalam tulisan hingga mengedit tulisan sampai siap publish ke sebuah media. Namun, pekerjaan ini hanya bertahan satu tahun karena saya dipindahkan ke bagian lain yang membutuhkan administrator. Sebenarnya saya kurang menikmati pekerjaan ini karena saya tidak bisa mengembangkan bakat dan minat saya, namun saya hanyalah seorang pelaksana, tidak berani mengajukan diri kembali ke pekerjaan lama saya karena dua alasan, instansi membutuhkan administrator dan instansi tidak membutuhkan saya di bagian media. Mutasi saya ke bagian lain adalah bukti instansi kurang puas terhadap kinerja saya atau ada orang lain yang lebih baik untuk mengerjakan pekerjaan saya. Dalam keterpurukan itu akhirnya saya menjalani pekerjaan saya terus selama 5 tahun hingga akhirnya saya benar-benar sudah muak dengan pekerjaan saya.

Sebenarnya pekerjaan saya termasuk ringan dan fleksibel. Untuk seorang ibu bekerja yang seringkali harus mengutamakan anak dibanding pekerjaan kantor hal ini memang memudahkan saya. Mungkin itu salah satu sebab saya masih mau mempertahankan diri dalam pekerjaan ini. Namun ternyata kesabaran saya sudah sampai pada puncaknya. Terus menerus merasa saya bukan apa-apa, tidak bisa menjadi apa-apa, sangat menyayat batin saya. Apalagi saya tidak berhasil berbaur dengan teman-teman kerja baru yang sifatnya banyak membuat saya kurang nyaman. Sudah cukup rasanya hanya dihargai sekecil itu oleh instansi ditambah perasaan sendirian di lingkungan kerja selama 5 tahun ini. Akhirnya sebelum cuti melahirkan anak ketiga saya menyampaikan keinginan saya untuk dimutasi ke bagian Perpustakaan. Tempat idaman kedua di instansi setelah bagian media.

Sebelum cuti melahirkan saya habis saya beberapa kali menghubungi teman kantor saya menanyakan perihal kemungkinan saya untuk dimutasi. Alhamdulillah impian saya menjadi kenyataan. Permintaan saya mutasi ke bagian Perpustakaan dikabulkan. Biasanya saya merasa takut berada di tempat yang baru, tidak suka menghadapi suasana lingkungan dan teman baru namun kali ini berbeda. Saya sangat excited menuju ke tempat yang baru, tempat impian saya.

Alhamdulillah, benar saja. Semua seperti yang telah saya bayangkan sebelumnya. Saya merasa lebih berenergi di tempat yang baru yang sesuai passion saya. Apalagi teman-teman baru saya sefrekuensi dengan saya sehingga memudahkan saya untuk berbaur dengan mereka. Saya juga lebih bersemangat untuk memberikan ide-ide baru, membantu pekerjaan teman yang lain, mengeluarkan segenap kemampuan terbaik saya untuk pekerjaan baru saya. Meskipun tidak mendapat reward apapun dari instansi saya merasa lebih berguna bekerja di bagian ini. Sebegitu dahsyatnya efek perasaan merasa berguna membuat saya sadar mengapa Rasulullah mewasiatkan kaumnya agar menjadi manusia yang paling banyak manfaatnya.



Perasaan berguna ini membuat saya terus mengembangkan diri untuk menjadi orang berguna di bidang lainnya. Saya mulai rajin menulis, membaca, sharing berbagai hal yang bisa diambil manfaatnya untuk orang lain, dan pelan-pelan mulai memperbaiki kekurangan-kekurangan saya. Saya benar-benar bersyukur pada Allah akan kesempatan menikmati diri menjadi the right man in the right place. Dan saya juga sadar ternyata menempatkan seseorang di tempat yang tepat memang sangat berpengaruh terhadap kinerja orang tersebut.




Menemukan Bakat dan Minat Saya



Sejak kecil jika ditanya hobi maka saya akan menjawab membaca, menulis, menggambar. Seiring berjalannya waktu ternyata saya makin sulit menyediakan waktu untuk membaca. Sedikitnya ide yang masuk ke kepala saya membuat saya tidak percaya diri membuat tulisan. Akhirnya dua hobi saya berangsur-angsur hilang hingga rasanya tidak pantas menyebut mereka sebagai hobi saya. Satu-satunya hobi yang masih bisa saya lakukan sekarang adalah menggamar, khususnya menggambar desain busana yang akan saya produksi dalam brand fashion muslim saya. Namun hobi ini pun harus berhenti sejenak karena saya tidak punya cukup waktu dan rekan untuk mengurus produksi. Ditambah fokus saya yang bercabang ke bidang lain yang cukup menarik hati saya sejak beberapa tahun terakhir, ekonomi syariah.

Saya merasa Indonesia sedang berada dalam kondisi darurat ilmu ekonomi syariah dan saya merasa terpanggil untuk mempelajari dan menyebarkannya. Saya sangat menyayangkan pandangan sesama muslim di Indonesia yang kurang baik terhadap instansi syariah seperti perbankan syariah. Saya juga ingin mengetahui lebih dalam sebenarnya apa yang sedang terjadi di Indonesia sehingga muncul stigma negatif terhadap instansi syariah. Sampai saya mempunyai visi ingin menjadikan Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia sebagai negara pelaku ekonomi syariah terbaik di dunia. Mulai dari kehidupan sehari-hari di sektor perdagangan riil hingga instansi syariah skala nasional. Sebuah mimpi yang tinggi sekali namun entah kenapa saya yakin Indonesia bisa mencapainya.

Melihat pengalaman hidup saya, saya jadi bertanya-tanya sebenarnya apa bakat dan minat saya. Saya cukup penasaran dengan tes dari temubakat.com. Menurut hasil tes saya adalah orang yang berani menghadapi orang secara empat mata,keras kepala, berani mengambil alih tanggung jawab, senang mengkomunikasikan sesuatu yang sederhana menjadi menarik, banyak ideanya baik yang belum pernah ada maupun dari pikiran lateralnya, analitis dan senang berkomunikasi, senang mengkomunikasi ideanya, suka mengumpulkan berbagai informasi atau teratur, suka melayani orang lain dan mendahulukan orang lain, senang menggabung-gabung kan beberapa teori atau temuan menjadi suatu temuan baru.

Saya sempat merasa tidak dapat mempergunakan ilmu saya dengan baik karena pekerjaan saya saat ini tidak mendayagunakan ilmu yang telah saya dapatkan saat kuliah. Saya kuliah di sekolah keuangan pun bisa dibilang karena terpaksa untuk menyenangkan dan meringankan beban orangtua. Kuliah dan ilmu di kampus itu sama sekali bukan passion saya. Ditambah pekerjaan saya justru banyak mempergunakan ilmu yang saya dapatkan dari organisasi pers kampus. Lalu mengapa saya harus mengalami ini semua?

Hingga di titik ini akhirnya saya sadar. Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya. Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.

Dengan berkuliah di sekolah keuangan gratis saya bisa meringankan beban keuangan orang tua saya. Dengan kuliah di jurusan Kebendaharaan Negara saya mungkin lebih besar kesempatan saya untuk lolos dari drop out kampus yang sangat stright ini. Allah tahu saya butuh jurusan yang memudahkan saya untuk lulus. Di kampus saya mengetahui ternyata saya tidak berbakat di mata kuliah akuntansi, tidak terbayangkan jika saya masuk jurusan akuntansi/perpajakan. Jurusan perbendaharaan termasuk jurusan yang hanya sedikit mempelajari akuntansi. Kebanyakan mata kuliah juga termasuk ringan dan mudah dipelajari tidak seperti jurusan pajak yang kaya dengan teori dan UU perpajakan. Jurusan Kebendaharaan Negara ini lah yang saya butuhkan untuk lulus, yang sesuai dengan kemampuan otak saya.

Kuliah yang relatif ringan ini lah yang membuat saya sempat serius berkecimpung di organisasi pers kampus. Saya punya cukup banyak waktu untuk berorganisasi sesuai passion saya. Di sinilah sesungguhnya tempat yang Allah pilihkan untuk saya menuntut ilmu sesuai passion, ilmu kepenulisan dan jurnalistik. Organisasi pers kampus cukup mengasah kemampuan saya di bidang komunikasi. Meskipun saya kurang pandai berkomunikasi verbal, namun kemampuan komunikasi non verbal saya semakin meningkat. Saya mulai bisa membuat tulisan yang layak dibaca orang banyak dan tulisan-tulisan yang bisa menggerakkan hati orang lain. Tulisan seorang wartawan.


Di dalam sebuah organisasi kecil ini saya jadi lebih percaya diri untuk menjadi pemimpin junior saya, mengungkapkan ide-ide baru untuk organisasi, menjadi orang berpengaruh di organisasi.  













Dan semua itu mengantarkan saya kepada jodoh pekerjaan saya di bidang humas suatu instansi pemerintah.
Apa yang saya lakukan saat ini selain bekerja di bidang humas, saya juga sedang merintis cita-cita saya menjadi enterpreneur. Saya yang memiliki ide berbeda dengan fashion muslimah saat ini sedang merintis untuk memproduksi fashion muslim sesuai selera saya. Saya yang mendesainnya dan membuat konsep pemasarannya. Sejak SMP saya senang membaca buku-buku bisnis dan ternyata baru bisa mempraktekkannya di usia 20-an. Itupun masih tahap basic sekali dan masih harus meramu berbagai formula.


Allah Memberi Yang Kita Butuhkan

Luar biasa sekali ternyata Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Perjalanan hidup saya meramu semua itu. Saya semakin sadar minat dan bakat saya dibidang kepenulisan, jurnalistik, ekonomi, dan bisnis.

Allah juga yang mempertemukan saya dengan suami yang sama-sama berminat di bidang ilmu ekonomi syariah. Padahal sebelumnya ia sangat menyukai akuntansi.

Di sini saya dapat menyadari kekuatan dan kelemahan saya:

Kuadran 1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA
Saya menyukai ilmu ekonomi syariah dan saya bisa mempelajarinya
Seya menyukai menulis dan bisa menulis hal-hal yang saya ketahui tentang parenting, pendidikan dan kesehatan anak, ekonomi syariah, VBAC, rumah tangga, dan kemuslimahan
Saya menyukai membaca dan bisa membaca sedikit demi sedikit tema-tema seperti yang bisa saya tulis di atas

Kuadran 2 : Aktivitas yang anda SUKA tetapi anda TIDAK BISA
Saya suka mengeluarkan ide atau pemikiran tapi tidak bisa menyampaikannya secara lisan
Saya suka mendesain dan memproduksi fashion muslim sesuai selera saya tapi tidak bisa mengorganisirnya sendirian
Saya suka mendidik anak-anak saya tapi tidak bisa melakukannya di jam kerja kantor saya

Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda BISA
Saya tidak suka melakukan pekerjaan administrasi seperti persuratan tapi bisa melakukannya
Saya tidak terlalu suka melakukan pekerjaan rumah tangga tapi saya bisa melakukannya
Saya tidak bisa melakukan pekerjaan dengan jam kerja yang terlalu ketat tapi bisa menyelesaikannya di waktu deadline

Kuadran 4: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA
Saya tidak bisa dan tidak suka melakukan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian seperti bagian akuntansi atau bendahara
Saya tidak suka membangun bisnis saya sendirian dan tidak bisa melakukannya tanpa dukungan suami

It's Me

Tanpa saya sadari perjalanan hidup saya telah mengantarkan saya kepada apa yang saya butuhkan. Untuk menemukan itu rupanya Allah memberikan saya jalan yang berliku agar saya bisa menemukan kekuatan dan kelemahan saya. Agar saya menyadari siapa diri saya. Agar saya mensyukuri diri dan hidup saya.

Dan nikmat Allah yang manakah yang bisa saya dustakan?









Monday, November 28, 2016

Ibu Profesional Peran Ganda


Peran Ganda

Terkadang saya masih bertanya-tanya, mana yang lebih prioritas, rumah atau kantor? Nurani saya tentu berteriak tegas : RUMAH! Sayangnya, realita kadang tidak bersinergi dengan nurani.

Ketika saya ke kantor saya patuhi semua aturan kantor. Mulai dari memakai pakaian, absen datang dan pulang, menyelesaikan deadline pekerjaan, sampai izin tidak masuk/cuti semuanya sesuai aturan kantor. Bagaimana dengan di rumah? Saya memakai pakaian, bangun dan mulai tidur, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, sampai istirahat, dan berlibur semuanya sesuka saya. Tidak ada aturan resmi. Saya bebas menentukan aturannya sesuai kesepakatan dengan suami dan tergantung dengan situasi dan kondisi. Rasanya santai dan nyaman.

Lalu, apakah dengan begitu berarti saya tidak profesional menjalani peran saya di ranah domestik?

Belajar Profesional

Saat ini saya sadar bahwa saya sedang menjalani dua peran sebagai ibu: Ibu Domestik dan Ibu Publik. Sebagai Ibu domestik saya menjalani peran saya sebagai istri dan ibu anak-anak saya. Sedangkan sebagai Ibu Publik saya menjalani peran saya sebagai PNS. Saya mencoba menyeimbangkan keduanya namun saya akui sebagai manusia biasa saya tidak bisa seadil Rasulullah. Saya berusaha menempatkan peran Ibu Domestik sebagai prioritas pertama, namun kadang ternyata saya lebih mengutamakan peran Ibu Publik. Nyatanya manusia sebenarnya tidak bisa benar-benar multitasking dengan sempurna. Pastilah ada yang lebih diutamakan sehingga yang lain dikorbankan. Semua tergantung situasi dan kondisi. Setidaknya itulah yang saya alami.

Semenjak mengikuti program martikulasi Ibu Profesional saya makin sadar, sepertinya saya memang kurang profesional menjalani kedua peran saya. Namun saya berusaha memperbaiki apa yang masih kurang profesional. Setidaknya ada dua hal yang harus saya perbaiki dalam waktu dekat, manajemen prioritas dan waktu.

Manajemen Prioritas
Dalam manajemen prioritas saya mencoba membuat kesepakatan dengan suami untuk menentukan prioritas untuk saya antara diri sendiri, anak, suami atau pekerjaan rumah tangga. Ternyata suami saya menjawab semua tergantung situasi dan kondisi. Jadi tidak ada urutan yang pasti antara keempatnya. Kalau diingat-ingat lagi memang kami berdua sama-sama tipe yang berusaha menyesuaikan diri sesuai situasi dan kondisi secara alamiah. Alhamdulillah saya dan suami sama-sama berperan di ranah publik jadi kebanyakan peran domestik kami dilakukan dengan kerja sama. Suatu saat saya bisa saja mengutamakan diri sendiri saat suami saya bisa membantu mengurus anak atau mengutamakan anak saat suami bisa mengurus rumah, dan sebagainya. Maka saya menempatkan keempat elemen ini sebagai satu prioritas, yakni ranah domestik.

Dengan demikian 3 urutan prioritas saya sebagai berikut:
1. Ranah Ibadah
    Berkaitan tentang semua ibadah baik yang wajib maupun sunnah yang telah melekat pada diri saya sebagai seorang muslim. Prioritas ditentukan sesuai aturan Islam yakni mendahulukan yang wajib terlebih dahulu daripada yang sunnah.

2. Ranah Domestik
    Berkaitan dengan peran saya sebagai istri, ibu, dan anak, yakni pekerjaan yang harus saya lakukan sebagai kebutuhan untuk diri sendiri, suami, anak, rumah tangga, dan keluarga (diluar keluarga inti). Prioritas ditentukan sesuai situasi dan kondisi yang sedang berlangsung.

3. Ranah Publik
   Berkaitan dengan peran saya sebagai PNS yakni pekerjaan yang harus saya lakukan sebagai amanah dari rakyat. Prioritas ditentukan sesuai deadline masing-masing pekerjaan.

Ketiga prioritas inilah yang harus saya utamakan saya lakukan dalam hidup ini karena ketiganya menempati status PALING PENTING dalam hidup saya.

Saya telah menemukan 3 hal yang PALING PENTING dalam hidup saya, lalu apakah ada 3 hal yang PALING TIDAK PENTING dalam hidup saya?

Saya sadari diantara ketiga prioritas di atas kadang ada kegiatan yang saya lakukan terlalu santai. Saya memang bukan tipe disiplin terhadap jadwal jadi tidak memiliki jadwal harian secara detail. Namun secara alami saya telah menempatkan range untuk tiap pekerjaan.

Pekerjaan yang PALING TIDAK PENTING dalam hidup saya:
1. Browsing internet terlalu lama dan merambah kemana-mana di luar tujuan awal
2. Mengobrol hal-hal yang tidak terlalu penting dengan waktu yang terlalu lama
3. Nonton TV/Film/membaca komik terlalu lama

Sebenarnya ketiga hal diatas adalah me time yang cukup membuat relax di antara pekerjaan yang susul menyusul setiap hari. Namun kadang saya kebablasan sehingga terlalu lama. Untuk menyiasatinya biasanya saya multitasking misalnya menonton TV/film/membaca komik saat memompa ASI.



Manajemen Waktu

Saya pernah mencoba membuat jadwal secara detail namun ternyata memang sulit memenuhi semuanya tepat waktu. Jadi biasanya saya memberi deadline untuk pekerjaan-pekerjaan yang mendesak. Sementara pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya hanya diberi range waktu yang flexibel dipenuhi sesuai range waktu itu. Deadline tiap range waktu sebenarnya fleksibel namun jika saya mempunyai sisa waktu saya bisa mengerjakan pekerjaan lain dengan lebih santai atau menambah pekerjaan lain di luar range waktu yang sedang berjalan.

22.00 - 04.00 Istirahat malam (diselingi dengan shalat malam di antara range waktu ini)
04.00 - 05.00 Ranah ibadah
05.00 - 06.45 Ranah domestik
06.45 - 08.00 Perjalanan ke kantor
08.00 - 17.30 Ranah publik
17.30 - 19.30 Perjalanan pulang kantor
19.30 - 22.00 Ranah domestik

Catatan : 
Di dalam range ranah domestik dan publik saya masih dapat mengerjakan ranah ibadah saya sesuai waktunya

Konsistensi

Saya telah menjalani peran ganda selama 6 tahunan, telah mengecap beberapa pengalaman dalam rangka mensinergikan kedua peran saya. Pada akhirnya yang paling nyaman memang metode range waktu di atas. Saya merasa tidak terbebani dengan jadwal yang terlalu detil dan bisa mendapat reward sisa waktu untuk melakukan pekerjaan lain di luar range atau untuk sekedar leyeh-leyeh.
Sekitar 3 minggu terakhir saya mencoba konsisten terhadap range waktu di atas. Rewardnya adalah saya dan suami tidak telat sama sekali ke kantor selama 2 minggu penuh. Namun minggu berikutnya kami telat 2 hari karena telah melanggar range perjalanan ke kantor. Itu lah konsekuensi sebuah pelanggaran. Saya berharap kami dapat konsisten memenuhi range waktu yang kami buat ini agar kedua peran kami bisa berjalan dengan harmonis.


Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 6 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2

Sunday, November 20, 2016

Caraku Belajar


Hidup adalah madrasah kehidupan. Setiap saat akan ada ujian yang akan meningkatkan level diri kita.

Tanpa sadar setiap fase dan kejadian dalam hidup kita akan membuat kita mengambil pelajaran. Namun mungkin cara kita belajar berbeda-beda.

Sampai titik ini cukup membuat saya berpikir, bagaimana ya cara saya mengambil pelajaran?

Secara teori ada 3  jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses informasi (perceptual modality).

Pengertian Gaya Belajar dan Macam-macam Gaya Belajar

 1.   VISUAL (Visual Learners)

Gaya Belajar Visual (Visual Learners) menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Ada beberapa karakteristik yang khas bagai orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini.Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya, keduamemiliki kepekaan yang kuat terhadap warna,ketiga memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik, keempat memilikikesulitan dalam berdialog secara langsung,kelima terlalu reaktif terhadap suara, keenamsulit mengikuti anjuran secara lisan, ketujuhseringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.
  1. Cenderung melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar
  2. Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi
  3. Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak
  4. Tak suka bicara didepan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.
  5. Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan
  6. Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan
  7. Dapat duduk tenang ditengah situasi yang rebut dan ramai tanpa terganggu
  8.  2.     AUDITORI (Auditory Learners )
Gaya belajar Auditori (Auditory Learners) mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitanmenulis ataupun membaca.
Ciri-ciri gaya belajar Auditori yaitu :
  1. Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang didiskusikan dalam kelompok/ kelas
  2. Pendengar ulung: anak mudah menguasai materi iklan/ lagu di televise/ radio
  3. Cenderung banyak omong
  4. Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
  5. Kurang cakap dalm mengerjakan tugas mengarang/ menulis
  6. Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
  7. Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru dilingkungan sekitarnya, seperti hadirnya  anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll
  8.  
 3.  KINESTETIK (Kinesthetic Learners)
Gaya belajar Kinestetik (Kinesthetic Learners) mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya  ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
Ciri-ciri gaya belajar Kinestetik yaitu :
  1. Menyentuh segala sesuatu yang dijumapinya, termasuk saat belajar
  2. Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak
  3. Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh: saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asyik menggambar
  4. Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar
  5. Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, symbol dan lambing
  6. Menyukai praktek/ percobaan
  7. Menyukai permainan dan aktivitas fisik
Diambil dari
belajarpsikologi.com/macam-macam-gaya-belajar

Membaca teori ini saya baru menyadari bahwa saya tipe pembelajar visual-kinestetik.

  1. Cenderung melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar √
  2. Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi— sebenarnya saya termasuk pendengar yang baik karena tidak pandai bicara jadi lebih senang mendengarkan. Namun memang apa yang saya dengar tidak mudah membuat saya mengingatnya. Saat berkenalan saya lebih mudah mengingat wajah orang daripada namanya.
  3. Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak —ini belum bisa saya defenisikan
  4. Tak suka bicara didepan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.√
  5. Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan— terjawab di no. 2. Namun, kadang saya bisa menghapal lagu jika didengarkan berulang-ulang. Tapi perlu panduan tertulis untuk menghapal teksnya dengan benar
  6. Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan — tepatnya lebih suka praktek seperti dalam lab biologi, fisika atau kimia
  7. Dapat duduk tenang ditengah situasi yang rebut dan ramai tanpa terganggu — yah, orang bilang saya apatis. Bisa cuek dengan keadaan sekitar dan sibuk dengan dunia saya sendiri. Seramai apapun saya bisa fokus dengan kegiatan saya sendiri
  8. Menyentuh segala sesuatu yang dijumapinya, termasuk saat belajar — ya, saya suka sekali praktik daripada teori
  9. Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak — saya tidak suka duduk lama di dalam kelas
  10. Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh: saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asyik menggambar — saya suka menyimak sambil menggambar
  11. Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar — salah satu bagian dari praktek
  12. Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, symbol dan lambing — sebenarnya saya cukup pandai membaca peta
  13. Menyukai praktek/ percobaan√
  14. Menyukai permainan dan aktivitas fisik √

Setelah mengetahui tipe gaya belajar saya, saya bisa membuat grand desain cara belajar saya.

1. Untuk pelajaran bahasa dan hapalan saya bisa menggunakan cara visual. Saya lebih mudah belajar bahasa inggris dari menonton film dengan subtitle english  dan mengubah semua aplikasi dengan bahasa inggris. Untuk hapalan Qur'an saya lebih bisa dengan membacanya daripada mendengarkan murrotalnya.

2. Untuk pelajaran bisnis, berkebun, memasak, dan seni saya lebih mudah paham dan menjadi ahli dengan cara mempraktekkannya.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengambil pelajaran dalam hidup ini. Setiap orang juga memiliki ujian yang berbeda dalam tiap pelajaran. Satu hal yang sama setiap orang perlu melakukan evaluasi tiap selesai ujian agar bisa lulus dan naik ke level berikutnya.



              Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 5 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2

Sunday, November 13, 2016

Final Destination


Untuk Apa Saya Dilahirkan?


Setiap hari dari bangun tidur sampai waktunya tidur kembali kita menjalani rutinitas yang hampir sama. Tanpa sadar semua kita jalani begitu saja karena sudah terbiasa sehingga tanpa rasa. Di sela-sela rutinitas itu kadang saya terdiam, tiba-tiba terbersit pertanyaan, bagaimana kah kehidupan di akherat itu? Lalu saya membayangkan jika saya meninggal saya tidak bisa seperti di dunia ini lagi, tidak bisa bertemu dengan suami dan anak-anak, juga orangtua dan teman-teman. Tidak bisa.... uhh..saya bergidik ngeri. Rasanya tidak sanggup membayangkannya. Nalar saya tidak mampu mencapainya. Menangkap bagaimana rasanya kehidupan setelah mati nanti.

Kesibukan dunia seringkali membuat kita terlupa menyadari untuk apa kita diciptakan? Untuk apa manusia diturunkan ke dunia? Untuk apa ada kehidupan dunia ini?


Membaca kembali firmanNya, kita harus sadar kembali tujuan adanya kita di dunia. Sebagai khalifah dan hamba Allah. Maka apapun yang kita lakukan di dunia ini hendaknya tidak keluar dari kedua tujuan itu.

Kemudian saya merenungkan kembali, untuk apa saya dilahirkan dari seorang wanita seperti ibu saya? Mengapa saya memiliki ayah seperti bapak saya? Mengapa kemudian saya menikah dengan suami saya? Mengapa saya diamanahi ketiga buah hati saya?

Tentulah semua ini bukan kebetulan semata. Ada hikmah dibaliknya. Ada tujuan Allah dibalik takdirNya. Dan tentu saja, ada 2 kewajiban yang harus selalu saya pegang dalam menjalani kehidupan bersama orang-orang yang saya cintai, menjadi khalifah dan menjadi hamba Allah. Maka apapun keputusan dalam hidup ini harus sesuai dengan dua kewajiban itu.


Setiap Peran Dalam Hidup Saya


Pada tulisan saya sebelumnya saya memutuskan untuk menjadi seorang ahli ekonomi syariah. Apakah peran ini dapat membantu saya menunaikan kedua kewajiban saya? Apakah peran ini tidak akan mengganggu peran-peran saya yang lain sebagai anak, istri, ibu, dan masyarakat?

Butuh perenungan mendalam untuk memahami semua ini. Alhamdulillah saya memutuskan untuk tetap menjadi seorang ahli ekonomi syariah. Saya memutuskan untuk tetap fokus mempelajari ilmu ini. Karena sesuai tulisan saya sebelumnya, setiap manusia sejatinya adalah pelaku ekonomi. Maka setiap manusia memerlukan panduan untuk melakukan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan syariah, aturan Islam. Saya ingin membantu tidak hanya orang-orang yang saya cintai namun juga lebih banyak orang lagi, umat islam pada khususnya dan seluruh manusia pada umumnya untuk menerapkan syariah islam dalam setiap kegiatan ekonominya di dunia ini. Cita-cita ini lah yang akan membantu saya menjadi khalifah di muka bumi ini dan tentu menjadi ladang ibadah saya sebagai hambaNya.

Saya yakin, Allah membuat saya sampai di kampus STAN saat rasanya tidak ada harapan untuk melanjutkan kuliah dan Allah membuat saya bekerja sebagai PNS bersamaan dengan peran saya sebagai seorang istri dan ibu pun ada tujuannya. Tugas saya menjadikan cita-cita menjadi ahli ekonomi syariah itu berjalan harmonis dengan cita-cita saya yang lain, menjadi anak, istri, dan ibu shalihah.

Pada tulisan sebelumnya saya telah menuliskan target-target dalam hidup saya dalam menjalani peran saya sebagai seorang istri, ibu, dan diri sendiri. Ternyata belum semua berhasil saya lakukan. InsyaAllah saya akan membuat semacam form mutabaah target agar lebih mudah mengevaluasi.

Dari semua perenungan ini saya merangkum peran hidup saya.
Visi hidup : Masuk surga bersama suami, anak2, orang-tua, dan orang-orang yang saya cintai
Misi hidup : Menjadi khalifah fil 'ard dan hamba Allah
Bidang : Ekonomi Syariah
Peran : Ahli ekonomi syariah


Membeli Surga


Surga itu mahal. Maka tidak sembarang orang bisa membelinya. Saya ingin membeli surga dengan peran saya sebagai ahli ekonomi syariah. Bagaimana caranya?

Jika saya serius ingin membeli surga dengan peran ahli ekonomi syariah, maka saya harus serius mencapai cita-cita hingga saya bisa menjadi ahli ekonomi syariah wanita terbaik di dunia. Saya harus mencapai goal itu. Pertama-tama saya harus membayangkan bagaimana jika saya menjadi ahli ekonomi syariah wanita terbaik di dunia. Saat goal itu terlihat jelas maka saya mulai menetapkan milestone, jalan menuju goal itu.

Apa saja yang harus saya pelajari saat saya ingin menjadi ahli ekonomi syariah bersama peran saya sebagai seorang istri dan ibu?

Bunda Sayang : Mengenalkan anak prinsip ilmu ekonomi syariah sejak dini. Misalnya mengenalkan hukum kepemilikan mana barang milik sendiri dan orang lain dan bagaimana cara memperlakukannya, bagaimana cara meminjam dan mengembalikan barang orang lain, dll

Bunda Cekatan : Mempelajari ilmu makroekonomi syariah yakni prinsip kebijakan pengelolaan keuangan syariah dan mempraktekkannya dalam mengelola keuangan keluarga.

Bunda Produktif : Mempelajari ilmu mikroekonomi, perbankan dan non perbankan syariah yakni seputar investasi, tabungan, jual-beli, perdagangan l, dll lalu menerapkan dalam bisnis jual beli online yang saya lakukan

Bunda Shaleha : Mempelajari ilmu ekonomi syariah, mempraktekkan, dan mengajarkannya kepada orang lain, misal dengan membuat tulisan dan disebarkan di media sosial/blog dan membuat pelatihan-pelatihan.

Lalu, bagaimana milestone saya dalam mencapai goal ahli ekonomi syariah terbaik di dunia?


KM 0 - KM 1 (2016) : Menguasai dasar ekonomi syariah dalam Kuliah Intensive Ekonomi UI d

KM 1 - KM 2 (2017) : Menguasai Pengantar pengantar dan teori makroekonomi dan mikroekonomi syariah dalam Kuliah Manajemen Perbankan Syariah Universitas Terbuka

KM 2 - KM 3 (2018) : Menguasai Akuntansi dan Perbankan Syariah dalam Kuliah Manajemen Perbankan Syariah Universitas Terbuka

KM 3 - KM 4 (2019) : Menguasai Kewirausahaan dan Bisnis Syariah dalam Kuliah Manajemen Perbankan Syariah Universitas Terbuka

KM 4 - KM 5 (2020) : Menyelesaikan Tesis dalam Kuliah Manajemen Perbankan Syariah Universitas Terbuka dan mengadakan pelatihan/seminar ekonomi syariah


Tujuan Akhir


Banyak sekali target-target yang telah saya susun baik untuk menjadi ahli ekonomi syariah terbaik di dunia maupun menjadi anak, istri, ibu, dan diri sholihah. Saya juga telah menyusun target-target itu pada tulisan saya sebelumnya. Namun saya harus selalu sadar bahwa di atas misi-misi hidup sata masih ada visi, goal akhir, yang harus saya capai : masuk surga bersama suami, anak2, orang-tua, dan orang-orang yang saya cintai.


Maka yang harus saya lakukan adalah berusaha mencapai semua misi dan target yang telah saya  susun. Mengatur waktu lebih cermat lagi agar saya bisa melakukan semuanya di sisa jatah umur saya. Inilah hal yang paling sulit, mengatur waktu dan prioritas. Sering sekali saya keteteran karena tidak kekurangan saya mengatur 2 hal itu. Sepertinya saya harus menerapkan prinsip #1hari1kebaikan dan #1hari1perbaikan. Agar setiap hari saya bisa memenuhi lembar mutabaah saya lebih baik lagi. Semoga semua ikhtiar saya bisa memudahkan saya mencapai tujuan akhir : Surga Allah.



Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 4 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2


Sunday, November 6, 2016

Cinta Tanpa Kata


Itulah Cintanya

Ia hadir atas pilihanku, keputusanku, dari hatiku tanpa intervensi sesiapa. Sebelum rasa itu ada entah kenapa aku begitu mempercayainya, begitu mengharapkannya. Tak pernah ada rasa ragu dan pikiran negatif dalam memikirkannya. Meski ia belum mengungkapkan apa kekurangannya, apa kesalahannya, apa yang tidak disukainya. Karena kuyakin semua orang punya kekurangan, kesalahan, dan ketidaksukaan. Namun kita baru benar-benar bisa memahaminya setelah hidup bersamanya. Maka kuputuskan diriku menerimanya dengan berbekal segenggam asa.

Hampir 7 tahun bersamanya, hampir kuketahui semua tentangnya. Kekurangan, kesalahan, dan ketidaksukaannya. Jarang ia menunjukkan rasanya dalam kata. Meski wanita suka dipuja dengan kata. Tapi apa makna kata tanpa laku bijaksana?

Maka aku cukup memahaminya tak membalas kata yang kuucap dengan kata yang sama. Aku memahaminya bukan berarti ia tak memiliki rasa yang sama. Karena ia selalu membalas dengan laku bijaksananya. Karena ia ingin membuktikan bahwa rasa tak cukup hanya dengan kata yang menyenangkan hati saja.

Tak perlu banyak kata. Aku tahu ia mencintaiku tanpa kata.


Generasi Kami Berdua

Hampir 7 tahun bersamanya, seorang putri dan dua pangeran telah menghiasi hidup kami berdua. Pangeran pertama yang begitu banyak energinya, pangeran kedua yang bersahaja, dan putri yang cantik sholihah.

Pangeran pertama banyak menghabiskan waktu bersama eyangnya. Jadilah ia seorang yang pandai bicara dan bersosialita. Namun ia tak bisa berdiam lama mengerjakan satu hal saja. Ia perlu pergi keluar melakukan banyak hal untuk menyalurkan energi dan imajinasinya.

Tak sedikit orang yang mengatakan pangeran pertama anak yang cerdas nan istimewa. Mungkin karena melihat dari pancaran mata dan energinya yang penuh semangat luar biasa. Maka kami mencoba menyalurkannya dengan kegiatan positif yang menghabiskan energinya.

Usia 5 tahun kami kenalkan taekwondo untuk menjaga dirinya dan adik-adiknya. Kami juga melatih fokusnya dengan membaca iqra dan menghapalkan juz amma. Membaca buku cerita dan mengerjakan buku aktivitas juga cukup bisa membuatnya duduk lama. Itulah pangeran pertama kami yang penuh semangat luar biasa.

Pangeran kedua cenderung berbeda dengan kakaknya. Ia terliha lebih diam bersahaja. Namun kami yakin potensinya luar biasa. Hanya saja ia belum mampu mengungkapkan dengan banyak kata.

Pangeran kedua juga senang membaca. Ia betah berlama-lama dengan buku yang menarik hatinya. Sama dengan pangeran pertama ia akan menyimak penuh minat tiap kali kubacakan buku untuknya. Kamipun mulai mengenalkan huruf hijaiyah meski ia belum jelas melafalkannya.

Pangeran kecil dibesarkan bersama pengasuh yang tidak seaktif eyangnya. Pun mungkin karena kami yang kurang menstimulasinya sehingga ia lambat berbicara. Ia baru memulai fase meniru kata menjelang 3 tahun usianya. Tapi kecerdasannya dalam menghapal sering membuat kami takjub kepadanya.

Kami rasa ia banyak merekam yang dilihat dan didengarnya meski belum bisa diwujudkan dalam banyak kata. Ia memahami yang kami ucapkan dan perintahkan serta bisa menjawab meski terbata. Jika kesulitan ia akan menggunakan gerakan dan ekspresi untuk menunjukkan kemauannya.

Membaca buku menjadi momen yang berharga untuk keluarga. Tidak hanya pangeran pertama dan kedua, putri jelita juga suka mendengarkannya. Meski usianya baru 8 bulan ia senang mendengarkan cerita. Sama dengan pangeran pertama ia senang menebar senyum manisnya. Mudah sekali tersenyum saat kita berbicara dengannya. Ia mengulum senyumnya hanya saat sakit saja.

Tak ingin mengulangi kesalahan seperti yang dialami pangeran kedua, kami ingin memberikan cukup stimulasi kepada putri jelita. Lebih banyak berbicara dan membacakan buku bersama kakak-kakaknya. Semoga kelak ia menjadi putri sholihah nan cerdas seperti nama yang kami sematkan kepadanya, Aisha, putri Rasulullah.


Mereka Madrasah Kehidupan

Hampir 7 tahun hidup bersamanya, hampir kuketahui semua tentangnya. Namun masih saja aku belum sempurna melayani dan menyenangkan hatinya. Pun terhadap buah hati kami berdua. Masih banyak yang perlu kupelajari dan kuperbaiki.

Karena sejatinya hidup itu adalah madrasah. Ada banyak materi yang perlu dipelajari dan akan ada ujian di setiap levelnya. Kadang kita perlu izin sejenak di tengah pelajaran. Tapi kita tidak bisa absen meski sakit menyerang. Kadang kita hanya perlu mengisi energi kembali di jam istirahat, namun kita juga perlu pergi jalan-jalan di waktu libur untuk mengembalikan semangat.

Kadang aku bertanya-tanya, pantaskah aku menjadi belahan jiwanya? Pantaskah aku menjadi ibu buah hati kami berdua?

Aku yang begitu banyak kekurangan dan kesalahan, pantaskah bersama dirinya dan anak-anaknya?

Ah, ternyata tidak ada kata pantas atau tidak pantas dalam madrasah kehidupan. Karena semua yang hidup di dunia otomatis telah menjadi siswanya.

Belahan jiwa dan buah hati adalah salah dua materi yang harus kupelajari dalam madrasah kehidupan. Materi-materi ini lah tempatku memaksimalkan potensi dan memperbaiki diri dengan berbagai PR dan ujian. Bukan sekedar materi tapi mereka juga amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka juga ladang pahalaku untuk membayar khilaf dan dosa yang kulakukan.


Tempat Kami Berada

Hampir 7 tahun bersamanya, telah 3 jenis tempat kami kecap bersama. Kos-kosan, kontrakan, dan rumah sementara. Berbagai jenis lingkungan dan tetangga juga telah kami rasa. Namun rasanya sulit sekali dekat dengan tetangga karena waktu kami sedikit untuk bersua. Apalagi untuk tetangga sekarang yang karakternya tidak kami suka.

Tetangga merupakan salah satu materi madrasah kehidupan. Maka ujiannya adalah bagaimana memperlakukan mereka dengan baik meski kami tidak mendapat perlakuan yang sama. Cukuplah kekurangan mereka menjadi pelajaran agar kami tidak mengikutinya. Karena kami juga tidak bisa mengubahnya cukuplah kami berbuat baik untuk menjaga diri, jiwa, dan harta kami saat berada di dekat mereka.

Namun, saat ini kami sedang ikhtiar agar bisa berhijrah ke lingkungan yang lebih terjaga. Karena kami kuatir karakter buruk tetangga menyerap ke alam bawah sadar kami dan anak-anak tercinta.

Cinta Tanpa Kata

Hampir 7 tahun bersamanya, aku tersadar tidak ada yang terjadi karena kebetulan semata. Sejak awal yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia telah digariskan olehNya. Lauhul mahfudz tempat takdir dituliskanNya. Namun Ia memberikan kesempatan pada manusia untuk memilih jalan hidupnya.

"Seandainya calon imamku ada di antara anak STAN semoga itu dia," kataku dalam hati sambil memperhatikan foto wajah salah seorang ikhwan di antara teman-temannya. Aku jarang bertemu dengannya selain berinteraksi di social media. Kegiatan kami pun berbeda bahkan bertolak belakang. Aku yang merupakan anggota pers kampus seringkali mengkritisi ketidakseimbangan dakwah organisasi islam tempatnya berada. Namun saat itu aku tidak tahu bahwa ia adalah orang yang paling benci dengan penulis artikel pengkritis dakwah di media mahasiswa.

Dan proposal itu datang, bertuliskan nama seorang ikhwan. Ternyata namanya telah lebih dulu kusebutkan dalam hati berbulan-bulan sebelumnya. Dialah, Yuga Nugraha.



Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 3 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2

Sunday, October 30, 2016

Ladang Pahala Wanita Menuju Surga





Sebagai wanita kita harus bersyukur, setiap fase hidup kita penuh ladang pahala yang mendekatkan kita dan orang-orang yang kita cintai pada surgaNya.

Pada tulisan sebelumnya saya bercerita tentang sebuah ilmu yang ingin saya dalami dalam waktu dekat ini. Ilmu itu berkenaan dengan kegiatan saya sebagai pelaku ekonomi dalam kehidupan. Sejatinya semua manusia pelaku ekonomi entah sebagai pembeli, penjual, nasabah, produsen, atau mungkin guru. Maka saya merasa penting sekali untuk mempelajari ilmu ekonomi syariah.

Namun sejatinya, banyak sekali ilmu yang ingin saya pelajari terkait peran saya sebagai anak, istri, ibu, masyarakat, dan diri sendiri. Tiap peran itu memiliki hak dan kewajiban masing-masing sehingga saya harus terus belajar dan memperbaiki diri sepanjang hidup saya. Dalam waktu dekat ini, saya memiliki beberapa target:

Sebagai istri, saya ingin meningkatkan ketaatan saya pada suami. Antara lain:
1. Menempatkan suami pada posisi pertama dalam mengambil setiap keputusan (setiap saat)
Misalnya, meminta izin jika lembur kerja atau kegiatan lainnya, meminta pertimbangan saat akan membeli sesuatu, meminta memilihkan model/warna baju yang akan dipakai/dibeli, dll.
2. Menghargai pendapatnya dan menerima nasehatnya (setiap saat)
3. Memperbaiki komunikasi verbal (setiap saat).
Misalnya dengan memperhatikan adab-adab berbicara dan menyampaikan pendapat, perkataan dan bahasa yang baik dan menyenangkan, obrolan yang nyambung dengan suami, dan memahami waktu yang tepat untuk menyampaikan pendapat.
4. Mengelola emosi dengan lebih baik (setiap saat)
Terutama saat-saat kritis dimana banyak hal yang perlu dilakukan dalam waktu bersamaan dan saat menyampaikan pendapat.
 5. Memberikan pandangan dan wajah yang menyenangkan (setiap saat)
Yakni dengan memperbanyak senyum dan ekspresi menyenangkan di depannya, merawat tubuh dan wajah dengan baik serta berpakaian dengan indah agar selalu tampak segar, enak dipandang, dan menyenangkan hati suami.
6. Memahami waktu me time suami (setiap hari)
Yakni saat ia ingin beristirahat/melakukan kesenangannya sendirian di rumah tanpa diganggu permintaan bantuan dari istri atau rengekan anak-anak dan saat ia ada acara bersama teman-teman atau komunitasnya.
7. Melakukan kegiatan berdua suami (minimal seminggu sekali)
Misalnya, makan malam, nonton, mengobrol, mempelajari buku, tilawah dan tahajud benar-benar hanya berdua suami.
8. Peka dan melayani kebutuhannya (setiap saat)
Termasuk siap memijitnya saat ia tampak kelelahan tanpa diminta.
9. Menyediakan keperluan hidupnya (setiap hari)
Mulai dari saat bangun tidur menyiapkan baju dan bekal makannya sebelum berangkat kerja sampai menyiapkan makan malamnya sebelum tidur.
10. Meneladani sifat-sifat baiknya dengan istiqomah (setiap saat)
11. Mengatur dan mengelola keuangan keluarga serta menyajikan laporan keuangannya sebulan sekali.
12. Menyayangi keluarganya seperti keluarga sendiri (minimal sebulan sekali)
Yakni dengan menghubungi keluarganya terutama ibunya max sebulan sekali dan mengunjunginya max 4 bulan sekali.

Kebanyakan target ini sudah saya lakukan namun masih perlu diperbaiki dan lebih ditingkatkan. Indikator keberhasilan target ini bisa dilihat secara tersirat dan tersurat baik dari ekspresi wajah, pendapat, dan juga suasana hati suami ketika di rumah terutama saat bersama saya.

Sebagai ibu, saya ingin menjadi madrasah pertama untuk anak-anak saya. Antara lain:
1. Membacakan buku atau membaca buku bersama anak-anak (setiap hari minimal 1 buah buku). Hal ini penting sekali untuk mengenalkan anak terhadap Allah dan RasulNya, mengenalkan sifat-sifat baik dari cerita di buku, dan memperbanyak interaksi dan komunikasi efektif dua arah bersama anak.
2. Tidak menyentuh gadget sebelum anak-anak tidur sepulang dari kantor kecuali alasan mendesak (setiap hari)
3. Bermain dan bercerita bersama anak (setiap hari)
4. Menemani anak mengerjakan PR dan mengaji (setiap hari bekerja sama dengan suami)
5. Menyiapkan kebutuhan makanan anak dengan menu gizi seimbang (setiap hari)
6. Mengelola emosi dengan lebih baik dan menunjukkan ekspresi menyenangkan (setiap hari)
7. Mengajak anak berwisata ke luar rumah (minimal seminggu sekali)
8. Melibatkan anak dalam membantu saudaranya dan melakukan pekerjaan rumah lainnya (setiap hari)
9. Mengajarkan anak untuk berbagi, bermain bersama, dan menyayangi saudaranya (setiap hari)
10. Membuat makanan spesial bersama anak (minimal sebulan sekali)

Kebanyakan target ini juga telah saya lakukan tapi masih perlu banyak perbaikan dan peningkatan kualitas. Indikator keberhasilan target-target ini dapat dilihat dari tingkah laku anak yang lebih teratur, mudah diatur, sopan, dan menyenangkan baik terhadap orang tua, keluarga, teman-temannya, dan orang lain di sekitarnya.


Sebagai diri sendiri, saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat untuk banyak orang terutama diri sendiri, suami, anak, keluarga, dan umat. Target saya antara lain:

1. Membuat target ibadah yaumiah dan memenuhi targetnya (setiap hari)
2. Memenuhi kewajiban terhadap 2 anak asuh (sebulan sekali)
3. Bersedekah terhadap keluarga dan masyarakat (minimal seminggu sekali)
4. Mempelajari fokus ilmu jangka pendek yakni ekonomi syariah baik dengan membaca jurnal, buku, artikel, atau kuliah (minimal seminggu sekali)
5. Memperbaiki manajemen pengelolaan dan pemasaran produk bisnis online shop (minimal memiliki 3 reseller serius dan 1 admin)
6. Memperbaiki manajemen keuangan online shop dengan mengatur dan mengelola keuangan khusus bisnis dan menyajikannya dalam laporan keuangan (1 bulan sekali)
7. Mencapai profit minimal 3 juta (sebulan sekali)
8. Membuat minimal 1 status bermanfaat di media sosial (setiap hari)
9. Membuat 1 tulisan di blog (seminggu sekali)
10. Membuat target pekerjaan di kantor dan menyelesaikannya sesuai deadline (setiap hari)
11. Mengikuti 1 kajian agama, ekonomi, atau komunitas (sebulan sekali)

Target diatas juga sudah dilakukan namun masih belum terukur dan teratur jadwalnya sehingga masih perlu diperbaiki dan ditingkat. Indikator keberhasilan dapat dilihat dari seberapa teratur hidup saya, kelancaran tiap pekerjaan saya, dan tentuanya suasana hati saya.

InsyaAllah evaluasi akan dilakukan pada akhir tahun 2016 dan diperbaharui kembali untuk waktu selanjutnya.

Sejatinya target-target di atas bukan pencapaian akhir yang bisa dinilai layaknya rapot sekolah. Target-target ini adalah ladang pahala yang akan saya panen di akhirat nanti. Maka yang perlu saya ingat terus saat ingin mencapainya adalah bekal akhirat saya agar saya tetap semangat dan istiqomah meraihnya. Saya sangat bersyukur sekali menjadi wanita yang memiliki banyak ladang pahala ini.

Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 2 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2

Sunday, October 23, 2016

Semangat Menuntut Ilmu

“Al -Ummu madrasah Al-ula (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya) bila engkau persiapkan dengan baik maka engkau telah mempersiapkan bangsa yang baik dan kuat."

Sebenarnya setelah lulus DIII STAN saya berniat melanjutkan sekolah di DIV STAN. Namun sayangnya, saya belum berhasil lulus tes masuknya selama 4 tahun berturut-turut. Entah saya yang terlalu bodoh atau memang belum jodoh, cukup membuat saya sedih dan akhirnya memutuskan untuk tidak mengikuti tes masuk tahunannya lagi.

Kegagalan ini membuat saya mengevaluasi diri, saya akui saya kurang sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi tesnya. Saya selalu belajar mendadak, 1 bulan bulan sebelum tes meski telah mengetahui bahwa tes diadakan tiap tahun. Tidak seperti saat saya mengikuti tes masuk DIII STAN dulu yang persiapan belajarnya sejak kelas III SMA melalui kelas tambahan yang diadakan sekolah juga mengulang sendiri latihan soal-soal dari buku tes USM STAN di rumah. Tiap tahun memang selalu bertambah tips dan trik dari teman-teman yang berhasil lulus tes masuk DIV STAN, tapi nyatanya tetap saja saya tidak berhasil melaluinya.

Lalu saya bertanya kepada diri sendiri, apa memang saya bersungguh-sungguh kuliah DIV STAN padahal saya tidak menyukai akuntansi?

Ya, harus saya akui sejujurnya saya memang tidak ingin belajar akuntansi lagi. Kuliah DIV STAN adalah salah satu jalan agar saya bisa melanjutkan sekolah dengan santai karena akan dapat cuti tugas belajar, tidak perlu kuliah sambil bekerja. Apalagi kondisi saya telah memiliki anak. Hanya DIV STAN lah kesempatan tugas belajar untuk lulusan DIII STAN. 

Namun sebenarnya saya juga bingung jika lulus nanti, karena tempat tinggal saya di Jakarta Timur jauh dari kampus STAN bintaro. Pengalaman saat masih single dulu saya harus ngekos di sana supaya tidak capek bolak-balik rumah-kampus tiap hari dan waktunya lebih efektif untuk berkegiatan sebagai mahasiswa di kampus dan sekitarnya. Saya membayangkan sepertinya tidak mungkin ngekos atau mengontrak rumah di sekitar kampus karena kami telah memiliki rumah kecil di Jaktim dekat rumah orang tua yang bisa menjaga anak-anak saat kami tinggal bekerja. Sedangkan jika bolak-balik rumah kampus pasti akan capek dan habis waktu di jalan.

Saya telah melihat pengalaman teman-teman yang telah berkeluarga dan memiliki anak sambil kuliah DIV memang harus memilih di antara dua itu, ngekos/ngontrak atau PP rumah-kampus yang cukup jauh, mereka berhasil melewatinya dan lulus. Namun saya tidak terlalu yakin pada diri sendiri karena tidak menyukai akuntansi bahkan mendapat nilai terjelek di antara matkul lainnya. Sebenarnya suami saya selalu menyemangati agar saya semangat menuntut ilmu meski tidak menyukainya karena cuma DIV STAN yang bisa memberi fasillitas tugas belajar yang cocok untuk kondisi saya saat ini. Ia pun bersedia menjadi guru privat jika saya menjadi mahasiswa DIV STAN karena menurut saya ia cukup ahli di bidang akuntansi, terbukti dari IP nya saat lulus DIII STAN dan S1 ekstensi UI Akuntansi.

Yah, akhirnya takdir yang menjawab. Sepertinya DIV STAN memang bukan jodoh saya...


Lalu, apakah saya tidak akan melanjutkan sekolah. Sebenarnya saya tidak terlalu muluk ingin mendapatkan gelar lulusan kuliah setinggi apa karena bagi saya menuntut ilmu tidak harus melalui pendidikan formal. Apalagi bidang yang saya minati seperti bisnis, kepenulisan, memasak, fotografi, dll bisa dipelajari secara otodidak. 

Kenyataannya, kesibukan saya bekerja, mengurus anak, suami, dan rumah tangga membuat saya tidak bisa fokus mempelajari dan mendalami suatu ilmu. Sehingga tidak ada ilmu yang benar-benar saya kuasai. Membaca buku saja saya tidak sempat. Sepertinya memang semangat membaca itu semakin menurun sejak berkeluarga. Sayang sekali, saya hanya belajar dari google, membaca artikel dan jurnal pendek. Lama-lama saya makin merasa bodoh saya karena sudah 6 tahun tidak belajar secara formal.

Melihat ketiga anak saya, saya pun tersadar. Mengapa saya tidak semangat menuntut ilmu? Padahal saya adalah madrasah anak-anak saya. Apa saya bisa mendidik mereka dengan secuil ilmu yang saya miliki?

Berbekal penggalaman tidak mudahnya saya fokus menuntut ilmu, saya merasa saya perlu wadah menuntut ilmu yang memiliki target, diktat, ujian, dan waktu belajar terjadwal. Mau tidak mau saya harus mengikuti pendidikan formal atau semi formal. Lalu ilmu apa yang akan saya tekuni?

Beberapa tahun belakangan ini sebenarnya ada satu lagi bidang ilmu yang saya minati, yakni ekonomi syariah. Mungkin karena background saya ekonomi, pekerjaan saya berhubungan dengan ekonomi, dan saya juga bisnis online shop jadi banyak sekali aturan ekonomi yang sesuai syariah yang saya ingin tahu. Apalagi geliat syariah makin terasa beberapa tahun terakhir. Banyak sekali apa-apa berbau syariah dari hijab syar'i sampai perumahan syariah.

Lalu dimana saya dapat kuliah ekonomi syariah dengan leluasa tanpa harus kuliah malam? Akhirnya saya gugling dan mencari nama-nama kampus yang memiliki program ekonomi syariah dan memiliki jadwal kuliah weekend di Jakarta. Ternyata ada yang paling dekat rumah di daerah Jatinegara namun universitas swasta dengan akreditasi B. Itupun tidak bisa ekstensi dari DIII STAN.

MasyaAllah ya ketika kita sudah memiliki niat baik Allah memberikan jalannya. Saya kemudian mendapat informasi kalau Universitas Terbuka memiliki program ekonomi syariah, manajemen dan akuntansi syariah. Berhubung saya tidak suka akuntansi maka saya memilih manajemen syariah. Alhamdulillahnya lagi UT menerima ekstensi DIII STAN sehingga saya tidak perlu terlalu lama menyelesaikan kuliah S1.

Awalnya saya mencoba mendaftarkan diri di semester pertama di awal tahun ini. Namun ada saja kendalanya sampai saya akhirnya telat daftar mata kuliah sehingga baru bisa mulai Desember nanti. Tapi lagi-lagi Allah memberi jalan. Suami saya menawarkan saya ikut kuliah intensive di UI. Hanya 7 pertemuan tatap muka setiap Sabtu selama 3 bulan berakhir tepat dengan dimulainya perkuliahan saya di UT bulan Desember nanti. 

Tentu saja saya antusias karena kuliah ini bisa menjadi pemanasan atau martikulasi otak saya yang sudah lama tidak belajar formal sehingga akan memudahkan saat kuliah sesungguhnya nanti. Dan masyaAllah ketika kita menuntut ilmu yang benar-benar kita minati rasanya menyenangkan mempelajarinya. Berbeda saat saya kuliah DIII STAN dulu.

Kuliah Intensive Ekonomi Islam FSB UI ini akan segera berakhir. Namun karena intensive materinya tidak dapat dibahas terlalu detil sehingga menyisakan rasa haus untuk saya mempelajari lebih jauh. Kelak saat saya kuliah UT nanti saya akan menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, membaca lebih banyak buku referensi ekonomi syariah di luar diktat, tidak mudah mempercayai artikel di google sebelum mempelajari referensi artikel tersebut, dan tentu saja membagi dan mengamalkan ilmu yang saya miliki dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga saya bisa terus semangat menuntut ilmu agar bisa menciptakan generasi unggulan Islam di masa yang akan datang.




Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 1 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2



Ringkasan materi :
1. Ilmu yang akan ditekuni : Ekonomi Islam/syariah
2. Alasan : Berhubungan dengan background ekonomi dari kuliah DIII STAN, pekerjaan di kantor, dan bisnis online shop
3. Strategi : Mengikuti Kuliah Intensive Ekonomi Islam FSB UI selama 7 pertemuan dalam 3 bulan, mengikuti kuliah Manajemen Perbankan Syariah Universitas Terbuka, dan membaca buku-buku terkait ekonomi Islam/syariah
4. Adab menuntut ilmu : Bersungguh-sungguh menuntut ilmu, membaca banyak buku, tidak mudah percaya pada artikel di google sebelum membaca referensinya, membagikan dan mengamalkan ilmu yang dimiliki