Bismillahirrohmaanirrohiim....
Tahap Kupu-kupu ini memang penuh kejutan. Siapa sangka IIP menggunakan sistem mentoring yang sangat akrab sejak saya SMP. Namun itu mentoring ala Rohis. Kali ini kami harus mengecap mentoring ala profesional, berguru pada yang ahli dengan fokus, seperti talaqqi, murid membaca di depan gurunya dan guru fokus menyimak muridnya satu persatu.
Mengingat puasa saya di tahap Kepompong kemarin tentang manajemen marah, saya ragu untuk mentoring dengan tema sama. Selain bosan, saya juga butuh metode lain yang lebih menempa dari dalam diri saya. Sebagaimana hikmah yang saya ambil di akhir tahap kepompong kemarin, kuncinya pada pengendalian diri karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain.
Berhubung mini project saya di komunitas IP adalah "Grown Your Own Food" saya pun mencoba mencari tema mentoring yang ada hubungannya dengan itu sekaligus mendukung mindmap saya, manajemen emosi. Apalagi setelah saya cari tidak ada mentor dengan tema manajemen emosi/marah. Akhirnya saya mantap memilih tema berkebun.
Sudah lama saya memendam passion berkebun hidroponik hingga akhirnya saya juga tertarik aquaponik karena bisa berkebun sekaligus ternak ikan. Kurang dari 5 mentor yang memberi tema berkebun, kebanyakan hidroponik, dan siapa sangka ada satu-satunya mentor yang bersedia mentoring aquaponik. MasyaAllah, pucuk dicinta ulam tiba. Berasa bertemu jodoh yang ditunggu-tunggu saya pun langsung membuka percakapan di messenger. Sungguh harap-harap cemas menantikan jawaban beliau, takut sudah keduluan orang lain sedangkan waktu kami hanya seminggu dan aturan mainnya minimal tunggu balasan 1x24 jam sebelum ganti melamar mentor yang lain.
MasyaAllah tidak sampai 12 jam akhirnya chat saya dibalas, betapa bahagianya beliau berbaik hati langsung menerima pinangan saya. Rizq minnallah...
Mentor saya mba Andi Nelly, biasa dipanggil onely atau nelly saja. Banyak sekali benang merah antara kami berdua. Sama-sama PNS yang lagi WFH sambil membersamai anak SFH, mencintai alam, gunung, dan hutan, suka sayuran dan ikan, hobi tracking dan hiking, dan cita-citanya sama persis: menjadi petani kota. Kaget banget waktu beliau mengungkapkan itu. "Kayanya visi kita sama," pungkasnya.
Benar sekali, sejak awal saya sangat bersemangat berbincang dengan beliau. Setelah mengetahui berbagai kesamaan dan visi kami beliau juga merasa berbinar-binar. Kami pun sepakat melanjutkan ke tahap berikutnya, perkenalan lebih dalam untuk tugas minggu ini. Berasa kayak orang pacaran deh. Kami sepakat mengadakan waktu diskusi antara pukul 13-14 WIB atau 14-15 WITA. Biasanya berakhir saat adzan Ashar di Jakarta karena itu waktunya saya masak untuk berbuka puasa. Ya, kami terpisah lautan, saya di Jakarta, beliau di Makassar. Berasa LDR. Rasanya tak sabar melanjutkan mentoring bersama beliau 8 minggu ke depan. Seperti apa tantangan mentoring berkebun berbeda pulau, waktu, cuaca, dan medan? Semoga Allah mudahkan🤲🏻
Bagaimana dengan mentoring saya sendiri? Saya mendaftarkan diri menjadi mentor persalinan VBAC meski saya lihat ada beberapa mentor dengan tema sama. Soalnya saya belum berani berbagi ilmu yang lain, baru pengalaman VBAC ini yang nyaman saya bagi. Namun hingga hari ini belum ada mentee yang melamar meski saya sudah ikut bursa jodoh di WAG Buncek.
Seperti mba Nelly, saya juga berpikir jarang ada mentee yang mencari tema selain manajemen. Namun mba Nelly berjodoh dengan saya yang menghubungkan berkebun dengan manajemen emosi. Bagi saya berkebun akan mendukung saya menstabilkan emosi karena saya melakukan passion saya. Hal itu juga diamini mba Nelly yang merasa berkebun bisa menurunkan tingkat stress. Alhamdulillah pas sekali dengan misi saya.
Ternyata lagi-lagi kami punya kesamaan. Sama-sama mindmap-nya manajemen emosi dan puasa kemarin manajemen marah. Mba Nelly menceritakan bagaimana beliau sangat terbantu dengan workshop Abah Ihsan dan merekomendasikan saya dan suami mengikutinya.
Tema persalinan VBAC ini sangat spesifik, mungkin hanya bumil/calon bumil yang berniat VBAC yang membutuhkannya. Nothing to lose, yang penting saya sudah mencoba berbagi. Seperti kata bu Septi, yang penting kita sudah mendapatkan mentor, jika tidak dapat mentee tidak apa-apa lakukan saja yang ada. InsyaAllah saya akan fokus mentorship Aquaponik nanti. Bismillah.
 |
Hasil panen Mba Nelly, bikin mupeng kan? Tinggal masak dari kebun sendiri udah ada sayur dan lauknya |
#jurnalke1
#tahapkupukupu
#bundacekatan
#buncek1
#institutibuprofesional