Lets have ApresiAksi
Bismillahirrohmaanirrohiim....
Memasuki bulan keempat, sepertinya memang saat yang tepat untuk mengambil jeda sejenak. Kesibukan akhir tahun begitu menyita waktu hingga saya terpaksa mengendurkan porsi dalam tim. Rasanya pikiran ini tidak bisa dibagi karena terlalu banyak pekerjaan di kantor. Namun alhamdulillah saya berhasil membuat 3 reels bertajuk "mother voice" untuk mengisi konten pada platform instagram mendidik.dirumah sesuai SMART GOALS tim, yakni edukasi masalah home education dalam bentuk challenge atau kegiatan tematik bulanan.
Dalam masa mengambil jeda ini, Ibu Septi menarik kita untuk menata kembali struktur berpikir kita untuk mencapai smart goals proyek kita. Pertama, kita pikirkan bagaimana pentingnya menganalisa dampak dari proyek ini.
Setelah berdiskusi kami meyakini pentingnya menganalisa dampak untuk mengetahui kebutuhan target market dan sampai sejauh mana dampaknya untuk mereka.
Bagaimana dampak yang terlihat sejauh ini?
Untuk diri pribadi saya merasakan bagaimana keluarga kami mulai fokus merencanakan dan membuat program untuk mendidik anak di rumah. Sedangkan untuk pengguna kami melihat bertambahnya followers dan likers postingan sosial media kami menunjukkan potensi orangtua yang peduli dengan pendidikan anaknya di rumah.
Namun, seiring berjalannya waktu kami mulai membutuhkan room improvement berupa reorganisasi dikarenakan kesibukan beberapa anggota tim di ranah publik. Kami berganti ketua dan penyesuaian role and task sesuai kenyamanan dan kemampuan anggota tim.
Pada awalnya untuk membuat postingan kami membagi tim ke dalam 2 kelompok kerja untuk memudahkan brainstorming dan membagi tugas dalam mencari bahan, menulis caption, dan desain postingan. Namun karena proses ini terlalu panjang, maka kami buat jalan praktis yakni brainstorming langsung di grup besar, lalu masing-masing anggota bergantian membuat 1 postingan dalam 1 minggu.
The Theory of Change
Untuk memudahkan melihat bagaimana dampak proyek kami, kami menggunakan kronologi cara berpikir theory of change. Dengan menguraikannya secara jelas dan detil kami dapat mengukur kinerja dan merencanakan langkah selanjutnya agar dapat mencapai impact yang kami harapkan.
Sebagai awalan, kami perlu mengukur dengan modal yang kami miliki (input) apa saja output dan activities yang bisa dilakukan. Selanjutnya dapat kami rancang sejauh mana kebermanfaatan dengan potensi outcome bahkan impact proyek kami di masa depan. Inilah yang disebut theory of change. Sejauh mana input yang kami miliki dapat menghasilkan impact yang lebih luas di masa yang akan datang. Harapannya semoga proyek kami dapat turut mewujudkan prioritas nasional dalam meningkatkan SDM melalui anak-anak yang dididik oleh orang tuanya sendiri.
The Logic Model
Lalu bagaimana agar theory of change kami berjalan?
Tentu kami harus senantiasa monitoring jalannya proyek dan mengevaluasinya agar tetap on track. Salah satu caranya melalui alat the logic model. Input dan Activites sebagai alat monitoring sedangkan Output, Outcome, dan Impact sebagai alat evaluasi.
Berikut analisis asumsi kami menggunakan The Logic Model
Untuk resiko yang bernilai "rendah" kami menerimanya karena masih bisa di-handle baik dengan anggota tim yang sudah mahir desain maupun sistem learn by practice. Sebisa mungkin terlaksana minimal 1 konten sosial media tiap minggu.
Sedangkan untuk resiko yang bernilai "sedang", kami coba mitigasi untuk meminimalisir resiko terjadi. Kami berharap dapat fokus menjalankan proyek setelah kelas Bunsal berakhir.
Allohumma aamiin
#ibupembaharu









