Monday, September 25, 2017

Portofolio Cerdas Finansial Day #10


 PENGENDALIAN DIRI





Saya bukan termasuk shopaholic. Alhamdulillah Allah yang mendidik saya demikian. Karena kondisi keluarga saya tidak memungkinan untuk belanja di luar kebutuhan sehari-hari yang benar-benar penting saja.

Bahkan untuk urusan jajan, entah kenapa saya tidak terlalu berminat. Saat TK saya selalu membawa bekal ke sekolah. Saat SD saya lebih senang menyimpan uang jajan saya. Saya baru jajan kalau saya benar-benar lapar jadi pasti jajannya makanan. Kalaupun saya ingin jajan di luar kebutuhan primer, otak saya berpikir untuk mengumpulkan uangnya. Saya sadar kemampuan orang tua saya sehingga tidak pernah meminta membelikannya. Jadi kalau saya berhasil mengikut tren anak-anak saat itu seperti memiliki mainan figur dari kertas (bepean), binder dengan kertas lucu-lucu, pensil dengan hapusan lucu-lucu, dan yang lainnya, itu hasil kerja keras saya mengumpulkan uang jajan. Jadi ya saya rela kelaparan demi mengumpulkan uang untuk membeli barang-barang tertier itu.

Kebiasaan ini berlanjut sampai saya dewasa. Orangtua saya tahu saya termasuk pintar mengelola uang. Saat kuliah di STAN saya nyaris hanya dibiayai untuk uang kos saya saja. Logistik seperti beras, buah, sayur, bumbu masak, mie, detergen, dan kebutuhan pokok lainnya kadang saya bawa dari rumah orang tua jika pulang saat weekend. Otomatis saya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan lainnya dengan menjadi pengajar privat. Saya pun sempat membeli sepeda dengan 70% dari uang tabungan saya hasil mengajar demi menghemat ongkos dan tenaga keliling kampus dan mengajar kemana-mana. Mengajar ber-km-km pun saya tempuh dengan sepeda.

Perjuangan dalam mendapatkan uang ini membuat saya sangat berhati-hati mengeluarkan uang. Hingga saya dewasa, saya cenderung jarang sekali membeli sesuatu di luar kebutuhan pokok dan barang yang benar-benar penting. Pun soal pakaian. Kalau belum lusuh saya akan memakainya terus. Sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian tersadar rasanya saya sudah memakai pakaian itu sejak jaman kuliah atau awal menikah. Sampai ditegur ibu mertua kalau saya pakai pakaian yang kurang "sesuai". Maksudnya sudah lusuh/kurang bagus. Bukan bermaksud zuhud tapi Allah membuat saya zuhud secara alami. Bukan pula pelit karena kadang saya akan membahagiakan diri sendiri dengan cara yang lain.

Saya sudah akrab dengan efisiensi dan penghematan. Bahkan menjadi pedagang adalah trik saya untuk tetap mempertahankan karakter saya ini. Kalau saya suka suatu barang, hanya sekedar suka bukan butuh, lebih baik saya jual saja. Biarlah orang lain yang membelinya. Ada kesenangan tersendiri saat orang lain membeli barang yang kita senangi. Tentu saja selain kesenangan karena mendapat pemasukan tambahan, hehe

Dari pengalaman hidup saya, saya pikir kunci dari karakter saya ini adalah pengendalian diri. Pengendalian diri dalam mengeluarkan uang. Satu kebiasaan saya entah sejak kapan tiap kali hendak berbelanja kemanapun saya akan membuat shopping list apa saja yang hendak saya beli. Kadang list itu hanya dipikiran, kadan benar-benar dicatat di kertas atau HP. Saat memasuki tempat belanja saya pun langsung menuju rak atau counter tempat barang-barang yang ingin saya beli tersebut. Apabila ada pilihan untuk barang yang sama, saya akan memilih yang termurah atau yang harganya lebih mahal namun kualitasnya lebih baik. Barang-barang tertentu saya beli sesuai kecocokan dengan diri saya misalnya skincare/kosmetik dan kebutuhan pribadi lainnya. Seringkali suami saya ngomel terutama jika ia sudah lelah atau hari sudah malam saat saya berbelanja lama sekali. Itu karena kebiasaan saya memilih-milih dan membanding-bandingkan. "Neng cari yang murah," begitu alasan saya.

Namun, kami membutuhkan extra effort untuk menanamkan pengendalian diri ini pada anak-anak kami karena mereka alhamdulillah tidak hidup dalam kesulitan yang sama seperti kami dulu. Seringkali ujian itu datang saat kami berbelanja bersama anak-anak. A Hamzah yang cenderung hiperaktif akan banyak sekali meminta ini dan itu, menunjukkan ini dan itu. Setelah kami perkenalkan dengan menabung ia mulai belajar mengendalikan keinginan-keinginannya.

"Ummi...sini mi..liatin..." rayu a Hamzah sambil menarik baju saya ke arah yang ia maksud.

Saya yang sedang fokus memilih-milih susu UHT merasa malas mengikuti kemauannya. "Tunggu a..ummi lagi lihat ini..." ujar saya.

Setelah selesai memilih susu UHT, a Hamzah menarik saya lagi. "Sini mii..Hamzah mau spiderman.." rengeknya.

Saya mencari-cari yang ia maksud. Rupanya susu botolan dengan cover spiderman.

"Yang lain aja a..susu ini mahal. Ini juga cuma satu nanti Afnan mau gimana?" lobi saya.

"Tapi Hamzah mau spiderman.." rengeknya.

"Hamzah boleh beli ini tapi Hamzah besok gak dapat uang jajan ya.." saya mencoba bernegosiasi.

"Iya gapapa Hamzah besok gak jajan," jawabnya mantap.

"Beneran? Besok kalau ada Kakung Hamzah minta jajannya ke Kakung.."

"Enggak.."

"Janji ya?"

"Janji."

Akhirnya saya membiarkan Hamzah membawa susu spiderman-nya sesuai kesepakatan kami.

"Hamzah kalau beli itu nanti gak bisa nabung loh," tiba-tiba abi berkomentar.

A Hamzah kelihatan bingung.

"Iya nanti Hamzah gak bisa nabung buat beli mainan," tambah ummi.

Hamzah tampak memikirkan kembali keputusannya.

"Iya...Hamzah gak jadi beli aja deh.." ujar Hamzah sambil mengembalikan susu ke raknya kembali. Ia tampak ikhlas melepaskan keinginannya, bahkan setelah a Afnan malah membeli susu yang ia inginkan.

"Afnan katanya gak mau nabung a, biarin aja ya Afnan nanti ga bisa nabung," ujar ummi memberi tahu konsekuensi Afnan kepada Hamzah agar Hamzah memahami mengapa Afnan diperbolehkan membeli susu yang ia inginkan.

Hamzah mengangguk. Tampaknya ia sudah mantap dan rela akan keputusannya.

Namun tidak sampai di situ. Melewati rak demi rak ada saja yang ia minta.

"Hamzah mau pizza..." katanya yang saya dengar terakhir kali di depan meja counter pizza saat saya beranjak ke counter buah-buahan.

Saya sudah menemukan buah yang saya cari dan hendak memanggil abi yang mendorong trolley untuk mengikuti saya.

"...Hamzah jangan apa-apa mau. Hamzah harus belajar mengendalikan diri..." ujar abi saat saya mendekatinya. Entah bagaimana awal pembicaraan mereka, saat itu abi sedang menasehati Hamzah.

Sepertinya a Hamzah mendapat banyak pelajaran hari ini terutama soal pengendalian diri. Hal yang mungkin akan cukup berat baginya karena kondisi lingkungan dan kesulitan hidupnya tidak sama seperti kami dulu. Apalagi ada eyang dan kakungnya yang selalu mengabulkan keinginan-keinginannya. Tentu saja ini menjadi perjuangan kami juga. Karena kami orang tuanya. Kami yang bertanggung jawab mendidiknya bagaimanapun kondisinya.

Semoga Allah memampukan kami mendidik anak-anak kami menjadi generasi Qurani. Amiin..


#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Sunday, September 24, 2017

Portofolio Cerdas Finansial Day #9

MENENTUKAN PRIORITAS



Kuadran prioritas

Saat kita melakukan perencanaan keuangan, pastilah kita akan dihadapkan atas pilihan menentukan mana pengeluaran yang termasuk dalam 4 kuadran di gambar. Namun tentu saja kita tidak mungkin mengajari teori ini pada balita dan anak 6 tahun. Jadi saya hanya ingin memberikannya pelajaran atas apa yang telah dipilih mereka.

Setelah menunggui a Hamzah latihan Taekwondo pagi ini, saya berencana mengajaknya membeli makanan di sekitar tempat latihan. Ini sebagai hadiah surprise (bukan iming-iming agar ia semangat latihan) sekaligus kebutuhan karena ia harus menge-charge energinya setelah latihan. Sebenarnya saya sudah membawa bekal bubur kacang hijau dan cemilan. Tapi untuk jaga-jaga saya hanya berbekal uang sepuluh ribu rupiah saja saat menungguinya. Salah satunya jaga-jaga untuk membeli makanan yang sesuai seleranya.

"Mi, Hamzah mau jajan," pintanya seusai latihan sambil menarik lengan saya menuju kumpulan pedagang di sekitar tempat latihan.

"Jajan makanan aja ya a..." ujar saya sambil mengikutinya.

"Hamzah mau itu mi.." katanya menunjuk tukang minuman.

"Makanan aja ya a.." jawab sayasambil mengedarkan pandangan mencari tukang makanan yang lumayan mengenyangkan dan bersih. "Ini ada cilok a, ini aja a," tawar saya.

"Hamzah mau es mi.. " ujarnya di depan tukang es.

Siang ini memang matahari bersinar sangat terik. Saya sudah membekalinya air mineral, namun sepertinya belum memuaskan panas dahaganya.

"Yasudah tapi beli satu aja ya..berdua Afnan," jelas saya.

"Ga au.." Afnan protes mendengarnya. "Nan mau sendiri.."

"Harganya berapa bu?" tanya saya pada penjual es.

"Tiga ribu," jawabnya.

"Uangnya ga cukup nan, ummi cuma punya lima ribu. Beli satu aja berdua sama aa ya..." tawar saya pada Afnan.

Tampaknya Afnan mau bernegoisasi, tidak protes lagi. Sayang si ibu menyela, "Sini gapapa saya bikinin. Tapi pakai plastik aja ya," katanya sambil mengambil uang lima ribuan dari tangan saya.

Arrgh.. gagal deh berhemat.

Akhirnya anak-anak memegang esnya masing-masing. Dan kami melanjutkan perjalanan pulang.

"Mi, kita ga naik ojek?" tanya Hamzah tiba-tiba saat kami sampai di luar gerbang.

"Enggak a, kan uangnya udah aa pakai jajan. Jadi gak ada uang buat ngojek," jawab saya menjelaskan konsekuensi atas pilihannya. Anak-anak pun nurut ikut jalan kaki sampai rumah tanpa rewel kecapekan sama sekali. Jaraknya hanya sekitar 15 menit jalan kaki santai si.. tapi Afnan kadang rewel kalau jalan kaki kejauhan.

Dari peristiwa ini a Hamzah dan a Afnan belajar atas konsekuensi mereka memilih sesuatu yang kurang mendesak dan kurang penting. Sehingga mereka tidak dapat menikmati sesuatu yang lebih mendesak dan lebih penting. Tapi ya namanya anak-anak. Mereka hanya memilih apa yang menurut mereka enak saat itu bukan dalam jangka panjang. Latihan seperti ini perlu diulangi berkali-kali hingga mereka paham konsep prioritas dan berhasil menentukan pilihan dengan bijak.



#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Saturday, September 23, 2017

Portofolio Cerdas Finansial Day #8


MENABUNG RECEHAN




Ada banyak cara atau trik menabung. Salah satunya menabung recehan. Siapa yang sangka recehan kalau dikumpulkan terus menerus dalam jangka waktu lama nilainya akan lumayan?

Awalnya ini karena kejijikan saya terhadap recehan. Bukannya sombong tapi saya mengidap rasa jijik terhadap benda logam, terutama uang koin dan perhiasan. Jadi bersyukurlah suami saya tidak perlu repot-repot memberikan saya perhiasan karena tidak akan saya pakai. Saking jijiknya sama merasa geli dan enggak menyentuhnya. Agar tidak mengenai kulit saya langsung biasanya saya akan menyentuh menggunakan kain/kertas.

Ibu saya tahu rasa jijiknya saya itu sehingga jarang memberikan saya uang logam. Bila pun terpaksa ia akan membungkusnya dengan plastik atau kertas. Saya tidak tahu rasa jijik berlebihan ini apakah termasuk phobia atau bukan. Tapi saya sadar alasan saya jijik adalah karena saya tidak suka baunya dan merasa mereka sangat kotor. Bayangkan, saya pernah memegang uang logam yang sudah tidak jelas warnanya karena tertutup kotoran dan hampir semua uang logam selalu kotor karena dipegang entah berapa ratus manusia. Saya juga pernah mendapati itu pada perhiasan entah bros atau sejenisnya yang terbuat dari logam ditaruh asal di suatu wadah yang sudah kotor dan berdebu. Perhiasan itu sampai dilapisi entah lumut atau apa yang berwarna hijau. Membayangkannya saja saya sudah jijik sekali. Apalagi saat mencium baunya yang melekat ditangan saya setelah saya menyentuhnya. Saya tidak ingin menyentuhnya lagi!

Sejak saat itulah saya phobia logam. Maka tiap saya melihat uang koin tercecer saya minta orang lain yang mengambilnya. Bahkan kalau bentuknya sudah sangat kotor dengan sebal saya akan membuangnya ke tempat sampah. Maafkan saya benar-benar bukannya saya sombong atau sok kaya.

Demi menyelamatkan uang-uang logam yang tercecer di rumah saya pun berinisiatif meminta a Hamzah untuk memasukkan ke celengan. Sebenarnya uang logam ini juga sangat diperlukan untuk bekal membayar polisi cepek kalau abi membawa mobil si... tapi kami hanya bepergian menggunakan mobil pribadi saat weekend itu jadi sebelum digunakan saya rasa lebih baik dimasukkan ke celengan.

Entah kenapa hari ini saya melihat banyak uang logam berserakan. Melihatnya saja saya jijik. Saya langsung meminta a Hamzah menabungnya.

"A, tolong masukin ke celengan a," pinta saya menunjuk uang logam di atas meja di dapur.

"Aa mau nabung lagi ga? ini ada lagi tabungin ya a..ambil aja di kantong tas ummi nih," ujar saya sambil memperlihatkan kantong tas saya yang berisi 2 koin lima ratusan.

"A, ini ada koin lagi, takut dimakan Aisha. Masukin celengan ya a," seru saya kaget melihat ada koin di pinggiran kusen jendela saat sedang main bersama Aisha di sana.

Saya jadi teringat celengan pertama kami hasil tabungan beberapa bulan tahun ini. Celengannya jadi berat karena banyak uang logam di sana. Dan saat dihitung bersama uang kertasnya hasilnya lumayan. Jadi jangan remehkan menabung recehan karena sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Friday, September 22, 2017

Portofolio Cerdas Finansial Day #7

MEMBELI BUKU





Padahal ini cuma buku biasa, gambarnya pun kurang bagus menurut saya, kurang nyeni. Tapi di mata a Hamzah buku ini menarik sekali. Akhir-akhir ini ia memang sedang tertarik sama dinosaurus.

"Mi, Hamzah mau buku ini ya?" tanyanya saat ummi sedang beres-beres dagangan buku ummi.

Biasanya saya langsung mengiyakan tapi kali ini saya ingin mengajarkan tentang pengorbanan.

"Besok ya a.." jawab ummi.

"Gak mau, maunya sekarang," ujarnya bersikeras.

"Ini kan buku jualan ummi. Kalau aa mau aa harus beli. Besok ummi kasih uang jajan, uangnya aa kasih lagi ke ummi buat beli buku ini.." jelas ummi.

"Tapi Hamzah maunya sekarang," rajuknya.


"Yasudah, kalau aa mau sekarang aa boleh ambil bukunya. Tapi besok pas ummi kasih uang jajan, aa kasih lagi uangnya ke ummi buat beli bukunya ya. Ini namanya hutang.."

"Iya mi!" ujarnya bersemangat.

Baru saja ia menimang-nimang bukunya a Afnan juga ingin lihat. Jadilah mereka rebutan. Afnan sudah mau menangis karena a Hamzah bersikeras tidak mau memberikan bukunya.

"Aa bareng-bareng ya..." ummi mengingatkan.

"Tapi ini Hamzah yang beli mi, jadi Afnan gak boleh.."

"Kalau gitu besok Afnan bayar juga ke ummi pas ummi kasih uang jajan ya.. besok bayar ya Afnan.." ummi mencoba bernegosiasi kepada mereka.

"Iya besok nan, ayar," jawab a Afnan mengulangi perkataan ummi.

Barulah a Hamzah mau membaca bukunya bersama-sama.



#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial




MAHALNYA BEA MASUK BARANG IMPOR


Sumber: Youtube DJBC

Beberapa kali saya membaca berita atau curhatan orang-orang yang mengeluh mahalnya biaya yang harus dibayar saat mereka membeli barang impor. Belum lagi prosesnya yang lama hingga berbulan-bulan. Bahkan hanya untuk impor buku.

Konsekuensi 1

Saya kurang paham detil prosesnya, tapi saya percayakan pada yang ahli saja, para pegawai bea cukai. Saya pribadi belum pernah mengimpor atau membeli barang impor sendiri. Saya pernah membeli barang impor yang diimpor oleh supplier seperti pakaian dan kurma. Saat itu supplier memberi estimasi waktu barang datang tapi realisasinya meleset sampai lebih dari satu bulan dengan alasan proses cargo.

Konsekuensi 2

Saya baru mengalami sendiri saat kami membeli buku impor untuk perpustakaan di kantor. Pantas saja harga buku impor itu sampai jutaan. Vendor pun mengeluhkan biaya dan lamanya proses impor buku tersebut.
Konsekuensi 3

Saat menonton video ini saya tersadar. Saya pernah membaca berita soal kenaikan cukai rokok yakni bertujuan untuk menaikkan harga jual rokok yang diharapkan akan mengurangi konsumsi rokok. Tentu saja saya setuju dengan niat baik ini meski mungkin mimpi berkurangnya konsumen rokok itu butuh waktu lama, setidaknya usaha ini didukung pemerintah.


Konsekuensi 4
Saya juga pernah mendengar berita tentang mahalnya pajak kendaraan mewah yang diimpor dari luar negeri. Yang ini si logikanya pembeli kendaraan mewah tidak perlu mengeluh karena toh untuk membeli kendaraan mewah saja ia mampu, masa tidak mau menyumbangkan sebagian hartanya untuk negara. Kalau benar-benar kaya ia pasti paham konsukuensi membeli kendaraan mewah adalah adanya tambahan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPN BM) selain pajak yang harus ia bayar tahunan kepada Pemerintah Daerah. Apalagi kalau barang itu impor dari luar negeri maka ia harus membayar bea masuk barang impor.

Konsekuensi 5

Nah, sebenarnya apa tujuan mahalnya biaya untuk mengimpor barang ini? Apakah sekedar "sumbangan" untuk negara?

Tidak sesederhana itu kawan. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan yang berwenang mengurus masalah fiskal telah membuat perencanaan keuangan yang efeknya sampai ke semua lini kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia. Kebijakan fiskal ini sederhananya mengurus pendapatan dan pengeluaran negara. Tentu saja tiap rupiah pendapatan dan pengeluaran negara memiliki beragam konsekuensi.

Konsekuensi 6
Mari kita fokuskan terhadap bea masuk. Bea masuk adalah salah satu sumber pendapatan negara dari barang impor. Dengan bea masuk selain memperoleh pendapatan, negara juga dapat meredam serbuan barang impor yang akan masuk ke Indonesia. Kenapa harus diredam?

Mungkin buat kita yang senang barang impor entah karena kualitas, langkanya produk serupa di dalam negeri atau sekedar gaya hidup akan merasa kebijakan ini menyebalkan. Namun ternyata jauh di luar sana, banyak orang yang bersyukur dengan kebijakan ini sebab produsen dalam negeri akan berusaha membuat produk setara kualitas impor, produsen luar negeri akan membuat cabang/pabriknya di Indonesia, dan produsen baru tertantang untuk membuat produk beragam seperti yang ada di luar negeri dengan ciri khas masing-masing.


Dengan demikian, lapangan kerja di Indonesia akan bertambah. Uang jual-beli lebih banyak berputar di dalam negeri. Konsumen di dalam negeri akan mudah mendapatkan sparepart atau produk dengan kualitas impor di dalam negeri dengan biaya lebih murah. Dan tentu saja perekonomian di Indonesia akan tumbuh.

Saya bersyukur diberi kesempatan Allah untuk berada dekat dengan pembuat kebijakan fiskal sehingga saya tahu bagaimana gambaran pendapatan dan pengeluaran uang negara. Sehingga saya tidak mudah mengeluh dan mengecam kebijakan fiskal Pemerintah. Bukan karena saja bekerja dan digaji Pemerintah. Tapi karena saya sadar, setiap kebijakan fiskal pasti ada perhitungannya dan pasti bertujuan untuk menjaga stabilitas keuangan negara.


Dan tentu saja setiap kebijakan pemerintah selalu didasari cita-cita negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur demi mewujudkan tujuan nasional: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.


Salam hangat,


Fita Rahmat
PNS Kementerian Keuangan RI, Sekretariat Jenderal

Thursday, September 21, 2017

Portofolio Cerdas Finansial Day #6



MENABUNG IMPIAN



Sandbox Impian


Tiba-tiba saya kepikiran, saya ingin punya suatu mainan yang bisa bikin anak saya betah di rumah namun tetap membuat otaknya berkembang. Soalnya a Hamzah sangat suka bermain ke rumah temannya sepulang sekolah. Kadang sampai susah dicari karena temannya mengajak bermain ke tempat yang jauh di rumah. Kadang sampai susah dijemput pulang saking asyiknya main di rumah temannya. Saya ingin mainan yang membuatnya betah main di rumah.

Sandbox dari bak


Tiba-tiba saya teringat, teh Kiki Barkiah pernah cerita, saat ia membutuhkan suatu mainan yang membuat anaknya diam di rumah dalam waktu cukup lama sehingga ia bisa menyusui/mengerjakan pekerjaan lainnya. Pak Adit pergi ke toko dan pulang membawa pasir bersih. Ternyata ia membuatkan sebuah bak pasir untuk mainan anak-anaknya. Solusi yang cerdas sekali. Anak mana yang tidak suka main pasir? Mungkin ada, tapi untungnya bukan anak saya.

Sandbox dari container

Tiba-tiba saya tersadar, rumah kami kecil dan sempit tanpa halaman depan/belakang. Benar-benar rumah di pemukiman perkampungan yang padat di Jakarta. Area bermain anak yang cukup luas biasanya di ruang tengah atau di teras. Tentu saja paling mungkin membuat sand box di teras. Setidaknya bisa dibuat 1/4 dari teras. Dipojokan saja, namun harus ada tutupnya supaya tidak dijadikan tempat kucing buang air dan bisa dipergunakan atasnya jika sedang tidak dipakai main.

Sandbox dari ban bekas

Tiba-tiba saya terlintas, mungkinkah ada tutorial DIY sand box? Saya langsung gugling. Dan ternyata banyak sekali. Bahkan saya langsung menemukan desain sand box dengan penutup. Lucu-lucu sekali. A Hamzah yang tidak sengaja lihat saya gugling gambar-gambar menarik langsung ikutan nimbrung. Lama-kelamaan dia yang mengarahkan dan akhirnya merebut HP saya untuk melihat lebih banyak lagi gambar sand box.
Sandbox dari rak bekas

"Ummi memang mau beli ini?" tanyanya.

"Enggak, ummi mau bikin. Nanti ummi beli bahan-bahannya dulu. Tapi aa mesti nabung. Aa mau gak?"

"Mauuu! Hamzah mau yang ini ummi. Yang ini bagus. Eh yang ini juga bagus," a Hamzah malah asik memilih desain sand box-nya.



Sandbox impian #2


"Siapa yang mau nabuung?" tiba-tiba abi bertanya pada kami yang sedang berkumpul.

"Hamzaah!"

"Nan mau!"

Anak-anak berseru dan langsung mengerubungi abi. Abi memberikan anak-anak masing-masing sebuah lembaran merah, termasuk Aisha. Mereka lalu mengambil celengan dan satu-persatu hendak memasukkan tabungannya. Namun karena uang kertas perlu dilipat dahulu, akhirnya a Hamzah yang memasukkan semuanya.




Sanbox yang paling memungkinkan

Menabung impian memang hal yang menyenangkan. Dengan mimpi, kita jadi lebih bersemangat untuk menabung. Dengan mimpi kita jadi lebih giat untuk mencapainya.


#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Wednesday, September 20, 2017

Portofolio Cerdas Finansial Day #5


ANDIL UNTUK NEGERI



Jangan tanya apa yang negeri ini berikan padamu
Tetapi tanya apa yang kamu berikan untuk negeri ini [John F Kennedy]


A Hamzah memang baru 6 tahun, tapi saya ingin ia tahu ia punya andil untuk negeri ini. Meski hanya dengan kesukaan anak-anak seusia dia, jajan.

"Aa, coba liat jalan di depan rumah kita. Jalan raya, jembatan.. semua itu yang bikin siapa?" tanya ummi.

"Orang," sahutnya polos. "Cara bikin jalan gimana mi?" tanyanya sambil menunjuk gambar-gambar di buku Ensiklopedia Anak Muslim Bagian Teknologi.

"Caranya jalan dihancurkan pakai kendaraan ini, lalu diratakan pakai ini..." jawab ummi sambil menunjuk gambar masing-masing kendaraan.

"Terus jalannya dikasih aspal ya mi? trus digiling sampai halus.. jadi deh jalan..." sahutnya antusias.

"Nah, jalan ini, jalan di depan rumah, jalan raya yang bikin siapa a?"

Ia nyengir kebingungan.

"Hamzah! Jalannya yang bikin Hamzah," ujar ummi.

Ia tampak kaget dan memandang mata ummi. Ia pun nyengir malu-malu tampak tidak percaya perkataan ummi.

"Jadi Hamzah kalau jajan, itu ada uang Hamzah yang dipakai untuk bangun jalan a.. sebagian uang Hamzah yang buat beli jajanan itu nanti dikasih ke Pemerintah terus dibangun jalan.." jelas ummi sesederhana mungkin.

Saat ini Hamzah hanya perlu diperkenalkan soal andilnya dalam keuangan negara. Agar kelas ia bisa mengatur keuangannya sehingga seimbang untuk hak dirinya dan hak orang lain. Karena sejatinya uang itu rezeki dari Allah. Setiap rezeki dari Allah itu amanah. Dan tiap manusia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap setiap amanah dari Allah. 







#cerdasapbn
#sadarapbn

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Tuesday, September 19, 2017

Portofolio Cerdas Finansial Day #4



MENABUNGLAH, MESKIPUN SEDIKIT

Untuk apa menabung? Apa pentingnya menabung?

Mungkin sebagian kita pernah berpikir demikian. Meski saat kecil sekolah sudah mengajarkan pentingnya menabung, namun saat menghadapi kawah candradimuka dimana kita telah mempunyai penghasilan sendiri kita akan merasa gamang atau mungkin lupa soal menabung. Hidup berjalan sesuai arah angin saja. Uang dikeluarkan sesuai jalannya kehidupan. Tidak ada detil rencana berapa pendapatan dan berapa pengeluaran. Yang penting semuanya pas. Pas butuh pas ada.

Celakanya bagaimana kalau pas butuh ternyata gak ada. Paling gampang dengan pinjam. Kalau tidak dapat, semoga saja tidak sampai mengambil hak orang lain ya... daripada mengandalkan orang lain sebenarnya kita bisa ikhtiar dengan memiliki dana cadangan. Dana cadangan yang dipisahkan dari pengeluaran ini berupa investasi, tabungan, dan dana darurat. Kali ini saya hanya akan membahas tentang tabungan.

Apabila masih belum punya ilmu tentang investasi, paling mudah kita berusaha memiliki dana cadangan dengan menabung. Menabung itu tidak sulit. Apabila kita punya uang, sejatinya kita bisa menabung. Sehari seribu pun jadi. Untuk latihan tidak perlu memaksakan diri dengan target tertentu, cukup dengan membiasakan diri. Bagaimana caranya?

"Abi, jajan..." ujar Hamzah merengek meminta uang jajan kepada abi.

"Sekarang hari libur a, jadi jajannya libur ya.." jawab abi menenangkan.

"Abi, Hamzah mau nabung. Mana uangnya bi?" tanya Hamzah mengalihkan perhatiannya.

"Hamzah, kalau nabung itu bukan dikasih dari abi. Tapi kalau Hamzah dikasih uang jajan, Hamzah gak jajan, Hamzah tabungin..." jelas abi.

Kali lain a Hamzah menyimpulkannya sendiri. "Ummi, Hamzah nabung kalau Hamzah jajan dua ribu terus ada sisa seribu terus Hamzah tabungin ya?" tanyanya meminta dukungan.

"Hehe iya a..bisa juga Hamzah gak jajan, uangnya ditabung semua. Jadi tabungan cepet penuh.." jelas ummi.

Jadi menabung itu mudah, kan. Hanya dengan mengurangi konsumsi kita atau menyisihkan sebagian dari dana konsumsi kita. Menabunglah, meskipun sedikit. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.






#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial


Monday, September 18, 2017

Portofolio Cerdas Finansial Day #3

ANOTHER TIME
Dalam kesulitan kita diberi dua pilihan : menyerah atau bangkit. Jika kita pilih menyerah maka kita akan memilih dua jalan : memaksakan atau pasrah. Menyerah pada diri kita berarti membiarkan ego mendominasi. Saat ego menguasai maka alam bawah sadar akan menyuruh kita untuk mendapatkan keinginan kita bagaimanapun caranya. Ia akan memaksa kita mencari-cari kesempatan meski dalam kesempitan. Meski harus mengorbankan apapun. Namun ego pun bisa mati jika ia tak cukup kuat menerima kenyataan dan akhirnya terpuruk dalam lembah kepasrahan.

Jika kita pilih bangkit maka kita akan memilih dua jalan juga : bersabar atau ikhtiar. Saat inilah superego mendominasi, membuat pikiran kita lebih jernih memandang kehidupan  hingga kita bisa memutuskan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak Allah. Kehendak Allah membuat superego senantiasa mengingatkan kita untuk hanya menyandarkan diri kepadaNya. Ia akan menyemangati kita untuk melewati berbagai tantangan kehidupan dan bersabar dalam menjalani setiap proses pembelajaran. Ia akan membuat kita bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Semua pelajaran ini akan selalu berulang dalam episode kehidupan manusia. Sampai kita mampu melewati lulus sesuai kriteriaNya.

Hamzah, 6 tahun, sudah saatnya belajar hikmah dalam sebuah kesulitan. Agar paham tidak semua hal dalam hidup ini bisa didapatkan dengan mudah. Awalnya, saat ia ingin membeli mainan, kami ajarkan ia untuk izin terlebih dahulu. Apalagi jika keinginannya muncul saat kami tidak bersamanya. Kami berusaha menumbuhkan rasa tanggung jawab padanya. Tentu saja pelajaran ini tidak selalu berhasil. Kami harus mengulang-ulangnya. Ia pun harus menerima konsekuensi atas keputusannya untuk mengikuti pesan kami atau tidak.

Bersamaan dengan pelajaran ini kami tingkatkan levelnya. Kami ajarkan ia untuk menahan diri. Meski pun ia sudah minta izin, ia tidak selalu bisa mendapatkan keinginannya saat itu juga. Kami jelaskan alasan-alasan mengapa ia tidak bisa mendapatkannya. Kami ulangi berkali-kali meski ia melanggarnya. Kami berikan juga konsekuensi atas keputusan-keputusannya.

Saat ini kami meningkatkan levelnya kembali dengan pelajar ikhtiar. Usaha untuk mendapatkan keinginannya. Yakni dengan menabung. Biasanya kami hanya seru-seruan mengajak anak-anak menabung dengan memasukkan uang ke celengan. Kami sudah berhasil menabung celengan selama beberapa bulan dan membongkarnya saat sudah penuh. Anak-anak excited saat menghitung hasilnya bersama-sama.

Konsep menahan dan ikhtiar ini menjadi ujian saat a Hamzah ikut ummi berbelanja ke swalayan dekat rumah.

"Mi, Hamzah mau ini," katanya memperlihatkan sekotak permen kenyal.

"Hamzah mau ini aja mi," katanya menunjuk sekotak biskuit keju.

"Mi, yang ini aja mi," katanya membaca permen dengan wadah mainan.

Saat ke kasir pun ia masih melihat-lihat, dan akhirnya melihat rak mainan.

"Mi, Hamzah mau ini aja. Mau dua ya mi," katanya membawa dua buah mobil-mobilan miniatur.

"Ini harganya 30.000 a.. ini mahal. Kalau Hamzah nabung sehari seribu, sebulan baru bisa beli ini," jelas ummi.

"Hamzah mau nabung mi," katanya.

"Iya, sekarang taruh lagi ya.."

"Iya mi, tapi Hamzah mau nabung abis itu beli ini ya mi.." tukasnya sembari mengembalikan mainan ke raknya tanpa paksaan.

Alhamdulillah dengan kesadaran diri a Hamzah menahan diri untuk mendapatkan keinginannya. Ia bahkan berinisiatif untuk berusaha mendapatkannya dengan menabung. Ia pun rela untuk bersabar mendapatkan keinginannya lain waktu.


#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial




Saturday, September 16, 2017

Portofolio Cerdas Finansial Day #2

MENABUNG LALU BERDOA



Sejatinya kehidupan itu madrasah manusia. Allah memberikan pelajaran kepada manusia dengan proses kehidupan di dalam skenarioNya. Tiap proses memiliki tingkatan atau level, dan tiap manusia dikelompokkan dalam kelas-kelas keimanan sesuai levelnya. Tentu saja ada ujian yang menentukan level pelajaran tiap manusia, Namun, ujian itu hanya ada dua, kesulitan dan kemudahan. Dalam kesulitan manusia diuji kesabarannya menghadapi kesulitan, sedangkan dalam kemudahan manusia diuji kelalaiannya menghadapi kemudahan. Dalam kesulitan manusia mudah tidak sabar, dalam kemudahan manusia mudah lalai.

Kali ini ummi ingin mengajarkan anak-anak makna kesulitan. Tidak semua yang kita inginkan bahkan kita butuhkan dapat kita peroleh segera. Ada usaha yang harus kita lakukan.

"A Hamzah, tolong ambilkan buku tentang menabung ya..." pinta ummi.

"Yang shali shaliha mi?" tanyanya memastikan.

"Iya," jawab ummi tersenyum sambil menahan kantuk. Jum'at malam adalah puncak dari kelelahan saya setelah menahannya sejak hari Senin. Saya biasanya merencakan tidur lebih awal di hari Jum'at namun tetap harus 'mengajar' anak-anak dahulu. Akhirnya saya mengorbankan makan malam karena ketiduran habis mengajar :D

A Hamzah lalu mencari bukunya di rak buku. Tidak lama ia kembali membawa buku beserta e-pen. Tanpa disuruh ia langsung membacanya dengan e-pen bersama a Afnan. Aisha mulai rewel karena mengantuk. Jadi ummi menyusui sambil mengawasi mereka sambil merem-melek menahan kantuk.

Selesai membaca, ummi agak blank karena sempat ketiduran beberapa menit. Otak ummi harus terus berputar mengingat bahan ajar malam ini. Oh iya, lanjutan materi menabung.

"Aa, kemarin mau beli mobil apa?" tanya saya.

"Pajero!" sahut a Hamzah.

"Iya..kemarin kan ummi sudah bilang. Pajero itu harganya mahal sekali. Jadi Hamzah mesti nabung. Kalau uangnya sudah banyak baru bisa beli.." jelas ummi mengulangi materi kemarin malam.

"Celengan Hamzah udah mau penuh mi. Uangnya udah banyakkk.."

"Masa sih? Coba lihat mana celengan a Hamzah?"

A Hamzah beranjak mengambil celengannya. "Ini udah mau penuh mi," ujarnya sambil memberikan celengan kaleng silinder jumbonya pada ummi. "Gambarnya McQueen mi," katanya lagi.

"Iya.. coba ummi lihat. Ini mah belum penuh, masih enteng," ujar ummi setelah menerima celengannya.

"Kalau penuh nanti berat, gak bisa dimasukin uang lagi. Kaya celengan Hamzah yang dulu uangnya banyaak..." jelas ummi.

"Tapi itu udah mau penuh mi," ujarnya bersikeras. 

Saya melihat ada sesuatu di lubang celengan. "Ini uangnya belum masuk a.." mungkin itu sebabnya ia berpikir celengannya penuh. Rupanya ada uang kertas yang tersangkut di lubang. Ia pikir seperti celengan ayamnya saat penuh dulu sampai uangnya tidak bisa masuk dan tersangkut di lubang.

"Sini Hamzah aja mi," katanya menyambar celengan dari tangan ummi saat ummi berusaha mendorong uang yang tersangkut. Ia berusaha mendorong uang itu dengan jarinya hingga berhasil masuk.

"Nah, aa kalau aa mau sesuatu caranya yang pertama dengan... ngapain a?" tanya ummi mengetes a Hamzah.

"Nabuung.." serunya.

"Iya.. yang kedua caranya adalah minta sama Allah. Berdoa. Gimana doanya a?"

"Hamzah bisa mi. Bismillah..hirrohmaan..nirrohiim... Ya Allah Hamzah mau pajero, mcQueen, terus.." ia tampak mengingat-ingat kembali keinginan-keinginannya.

"Bumble-bee," ujar ummi mengingatkan.

"Iya, bumble-bee," tukas a Hamzah. "Terus gimana mi?"

"Ya Allah tolong belikan aku..." bantu ummi.

"Beliin aku pajero, mcQueen, sama bumble-bee ya Allah.."

"Kabulkan..." bantu ummi lagi.

"Kabulkan doaku ya Allah. Amiiinn..." pungkas Hamzah.

"Jadi kalau Hamzah pengen sesuatu caranya gimana a?"

"Nabung..." jawabnya.

"Terus ngapain lagi?" 

"Berdoa!" tukasnya.

"Berdoa minta sama Allah...soalnya rezeki dari Allah a. Hamzah udah nabung tapi nanti tergantung Allah yang ngasih lewat ummi sama abi..." jelas ummi.

Dari materi menabung saja, saya jadi belajar kembali bersama anak-anak bahwa tidak selalu yang kita usahakan bisa berhasil. Semua tergantung Allah. Makanya tiap usaha harus diiringi dengan doa.

Mungkin kalau kami tidak dalam kondisi kesulitan kami akan melewatkan hikmah menabung ini. Kalau harta kami banyak, kami bisa langsung mendapatkan apa yang kami inginkan dan tidak dapat menikmati buah kesabaran. Menabung mengajarkan kesabaran juga keimanan bahwa rezeki itu dari Allah, rizq minallah... Menabung lalu berdoalah...



#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial


Friday, September 15, 2017

Badge Kelas Bunda Sayang

Kelas Bunda Sayang
Setelah beberapa postingan portofolio baru saya jelaskan ini, hehe

Jadiii selama ini sebenarnya saya sedang mengikuti kelas Bunda Sayang dari Grup Ibu-Ibu Profesional yang dirintis oleh Ibu Septi Peni Wulandari. Kelas Bunda Sayang terdiri dari 12 level selama satu tahun penuh. Satu level lamanya satu bulan. Tiap bulan peserta mendapatkan materi dan tantangan 10 hari menuliskan kegiatan sesuai materi tersebut.

Peserta yang berhasil minimal membuat postingan 10 hari berturut-turut dinyatakan lulus level tersebut. Jika berhasil lulus minimal 7 level peserta baru bisa lulus Kelas Bunda Sayang ini. Nah, tiap level mendapatkan satu buah badge kelulusan. Sebagai kenang-kenangan saya akan membuat gallery badge-nya disini.
Level 6 Math Around Us

Level 7 Bintang Keluarga
Badge ini ada beberapa jenis sesuai peringkat kelulusan. Namun saya tidak mengincar badge, hanya saya harus lulus agar saya bisa belajar di kelas selanjutnya. Setelah berbagai adaptasi, barulah saya bisa fokus menulis di level 7. Masih ada kesempatan untuk lulus kelas ini jika saya berhasil lulus sampai level 12. Mohon doanya yaa..

Bismillah...

Portofolio Cerdas Finansial Day #1

BUTUH ATAU INGIN?



"Mi, hamzah beli mainan," ujar Hamzah semalam. Ia lalu sibuk mencari mainannya lalu menunjukkan ke saya.
.
Saya kecewa karena ia melanggar janjinya untuk minta izin sebelum membeli mainan, tapi senang karena ia jujur menceritakannya pada saya. Saya pun pernah melakukan kesalahan, dan saya sadar ia hanyalah anak 6 tahun yang sambungan syaraf di otaknya belum sempurna sehingga perlu diingatkan kembali berkali-kali sampai suatu nasehat benar-benar tersimpan dalam memorinya. Dan tentu saja perlu pengulangan berkali-kali sampai suatu nasehat ia pahami hikmahnya.
.
Akhirnya sang 'nurturing parents' menang, saya menarik nafas dan berusaha mengatur kata-kata saya agar tetap netral tanpa emosi. Netral itu bukan datar ya. Saya berusaha memposisikan diri sebagai penengah, di antara posisi seorang ibu yang kecewa dengan seorang anak yang sedang belajar mendengarkan nasehat ibunya. Butuh latihan berkali-kali agar saya bisa mengeluarkan sang 'nurturing parents' meski dalam keadaan lelah saat pulang kerja.
.
"Aa kenapa beli mainan?" tanya saya lembut.

A Hamzah menunduk dengan wajah menyesal. Saya berusaha keras mencari kata-kata yang pas agar tidak membuatnya merasa tersudut.

"Aa inget gak, ummi bilang kalau mau beli mainan mesti gimana?"

"Bilang ummi sama abi.." jawabnya pelan.

"Kenapa aa gak bilang dulu ke ummi atau abi?"

"Soalnya aa mau beli mainan. Maap ummi.. " ujarnya tambah pelan.

"Hamzah, kalau minta maaf itu Hamzah dengerin ummi. Hamzah kan udah janji kalau beli mainan bilang ummi sama abi. Kalau aa melanggar janji itu..?"

"Masuk neraka!" sahutnya.

"Iya..kalau melanggar janji itu do-sa, kalau banyak dosanya bisa masuk neraka.."

"Nanti dibakar di neraka ya mi?"

"Iya..a Hamzah mau masuk neraka?"

"Gak mau mi!"

"Nah, makanya aa jangan melanggar janji lagi ya.."

"Iya mi, besok aa ga ulangin. Besok ga beli mainan," janjinya.

"Hamzah dulu kan juga bilangnya begitu. Tapi diulang lagi..."

A Hamzah nyengir.

"Kalau janji Aa inget disini ya.." ujar ummi sambil menunjuk kening. "Kalau gak ada ummi sama abi Hamzah tetep inget."

"Ada Allah di atas ya mi?"

"Iya..ada Allah yang liatin Hamzah."

A Hamzah nyengir.

"Hamzah, liat deh mainan aa masih banyak.. itu ada dua keranjang penuh. Kalau mainan Hamzah masih banyak itu artinya aa ga butuh mainan. Aa baru butuh mainan kalau mainan Hamzah udah sedikit. Karena banyak yang rusak atau hilang," jelas saya.

"Iya ummi mainan Hamzah masih banyak sampai ada yang di atas meja tv juga. Billa juga mainannya banyak ummi sampai penuh rumahnya. Abang juga punya mobil-mobilan yang besar.." sahut Hamzah panjang-lebar. Ia mulai banyak bicara seperti biasa.

"Iya a..kalau mainannya banyak itu berarti belum butuh mainan. Aa beli kalau sudah butuh aja. Kalau mainannya banyak yang rusak atau hilang," ulang saya.

"Beli mainannya kalau Hamzah ulang tahun ya mi?"

"Iya, kalau mainan hamzah sudah banyak yang rusak atau hilang ya..."

Saya pikir ini saat yang tepat untuk memberi 'insight' kepada seorang anak 6 tahun. Saat diskusi sudah mulai hangat, anak berani mengungkapkan pendapatnya.

"Kalau mau beli sesuatu aa juga bisa nabung dulu... aa mau beli apa katanya kemarin? Mobil apa yang bagus itu?"

A Hamzah nyengir. Ingat kata-katanya saat kami ke pameran GIIAS Agustus lalu.

"Pajero ya?"
"Iya, pajero!" sahutnya semangat.
"Nah, beli mobil itu kan mahal. Butuh uang banyak. Hamzah bisa nabung dulu..kalau ummi kasih uang jajan, jangan aa jajanin, aa tabung aja. Dimana nabungnya?"
"Di celengan!" seru a Hamzah.
"Dimana Nan?" tanya ummi tiba-tiba pada Afnan yang asyik menyimak diskusi kami.
"Engan!" serunya mengikuti jawaban Aa-nya.


***


Ketahuilah, mendidik anak itu sama dengan mendidik diri kita sendiri. Siapa sangka ternyata merekalah guru kita. Mereka yang melatih kita menjadi orangtua, melatih memunculkan ego pengasuh ('nurturing parents'), bahkan melatih kita untuk mengendalikan diri terhadap keinginan-keinginan kita. Dan di rumah lah tempat anak dan orang tua sama-sama belajar dalam madrasah kehidupan.



Salam hangat,

Fita Rahmat
Siswa "Madrasah Nugraha"



Friday, September 1, 2017

Portofolio Bintang Keluarga Day #10

Setelah a Hamzah, ummi ingin mencoba mengasah bakat seni a Afnan. Selama ini ia selalu ikut-ikutan jika a Hamzah mewarnai. Bagaimana kalau ummi beri peralatan khusus menggambar untuknya?

"Afnan, gambar yuukk.." ajak ummi sambil menuju rak buku mencari kertas/buku gambar. Bukunya belum ketemu jadi ummi memberinya krayon a Hamzah terlebih dulu.

"Waa...banyak banget mii.." serunya excited melihat crayon warna-warni. Aisha yang berada didekatnya lebih agresif membuka wadah crayon ingin mengeluarkan isinya.

"Mii...Aisha..." ujar Afnan mengadukan Aisha yang ia anggap mengganggunya.

"Gakpapa...bareng-bareng sama Aisha ya...kan isinya banyak...a Afnan mau warna apa?"

"Yang ini!" serunya.

"Ini warna apa nan?"

"Umm...umm...Afnan ga au..."

"Ini warna bii~ruu~" ujar ummi.

"Biruuu.." ulang Afnan.

Akhirnya ummi mendapatkan kertasnya. Kertasnya ummi bagi dua untuk a Afnan dan Aisha. Seperti biasa Aisha selalu ikut-ikutan meski sebenarnya lebih mirip mengacak-acak si...hehe

"Afnan mau gambar apa?"

"Umm..."

Ummi mengambil robot-robotan yang a Afnan mainkan sebelum menggambar.

"Coba Afnan gambar robot ya...ini robotnya," ujar ummi sambil meletakkan robot-robotan di depan kertas a Afnan.

Afnan langsung menggambar robotnya.
"Ini kepalanya...." ujarnya sambil mengambar kepala robot.

Ummi terkejut ternyata Afnan sudah bisa membuat lingkaran mesti tak sempurna. Tapi itu berarti di usia 3,5 tahun ia sudah mengenal konsep bentuk lingkaran dan tahu bahwa kepala itu berbentuk lingkaran. Lebih baik daripada a Hamzah dulu.

"Kakinya mana?" tanya ummi.

Afnan lalu menarik garis ke bawah. Ini membuktikan bahwa afnan paham konsep bentuk kaki dan letaknya di bawah.

"Tangannya mana?"

Afnan menarik garis kesamping kanan dan kiri. Membuktikan ia paham konsep bentuk tangan dan letaknya.

Setelah robotnya jadi ummi menyuruh Afnan memperlihatkan pada abi. Ia perlu diapresiasi agar percaya pada kemampuannya.

"Abii...anan gambar obot!" serunya sambil menunjukkan hasil gambarnya pada abi.

"Wah, baguuss.." puji abi.

Afnan terlihat senang sekali. Ia tambah bersemangat menggambar. Ia pun mengambil crayonnya lagi.

"Coba gambar robot yang ini nan," pinta ummi sambil meletakkan robot merah di depan kertasnya.

"Ini kepalanya..." ujarnya sambil menggambar kepala robot. Tapi ternyata ia hanya menggambar sebuah titik. Begitu juga saat ia menggambar tangan dan kaki.

Ada apa ini? Apa ia tiba-tiba lupa konsep bagian-bagian tubuh? Atau ia sudah bosan.

Entahlah. Akhirnya ummi memberikannya model lain untuk menggambar.

"Coba gambar mobil ini nan," pinta ummi lagi.

Kali ini ia kembali membuat lingkaran.

"Ini rodanya," ujarnya.

"Rodanya yang satu lagi mana?" tanya ummi.

Afnan pun menggambar rodanya satu lagi tapi menempel dengan roda pertama.

"Rodanya jangan dekat-dekat nan.." ummi mencoba mengarahkan.

"Pintunya mana?" tanya ummi. "Coba lihat mobil ini. Ini rodanya..ini pintunya...ini badannya..." terang ummi.

Tampaknya a Afnan masih kesulitan menggambarkan bagian-bagian mobil dengan benar.

"Nan...capek..." ujarnya tiba-tiba.

Sepertinya ia sudah mulai bosan.

"Afnan udah ngantuk?" tanya ummi.

"Mau cucu..." jawabnya, tanda ia sudah mau tidur.

Ummi bangkit hendak menyiapkan susu a Afnan.

"Sebelum tidur crayonnya diberesin ya..." ujar ummi mengingatkan.

Afnan segera membereskan peralatan gambarnya. Ia sudah siap di tempat tidurnya begitu ummi kembali membawa susu.

"Bismillahhirrohmaanirrohiimm..." ujar ummi memandu a Afnan saat memberikannya susu.

Malam ini ummi mengetahui hal penting. Yakni tentang a Afnan yang sudah paham bentuk dan konsep bagian tubuh di usia lebih dini daripada a Hamzah dulu. Meski itu belum bisa mengindikasikan minatnya terhadap seni. Tapi kemajuan ini menjadi alarm ummi untuk mengasah kemampuannya.




#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga