MENABUNG RECEHAN
Ada banyak cara atau trik menabung. Salah satunya menabung recehan. Siapa yang sangka recehan kalau dikumpulkan terus menerus dalam jangka waktu lama nilainya akan lumayan?
Awalnya ini karena kejijikan saya terhadap recehan. Bukannya sombong tapi saya mengidap rasa jijik terhadap benda logam, terutama uang koin dan perhiasan. Jadi bersyukurlah suami saya tidak perlu repot-repot memberikan saya perhiasan karena tidak akan saya pakai. Saking jijiknya sama merasa geli dan enggak menyentuhnya. Agar tidak mengenai kulit saya langsung biasanya saya akan menyentuh menggunakan kain/kertas.
Ibu saya tahu rasa jijiknya saya itu sehingga jarang memberikan saya uang logam. Bila pun terpaksa ia akan membungkusnya dengan plastik atau kertas. Saya tidak tahu rasa jijik berlebihan ini apakah termasuk phobia atau bukan. Tapi saya sadar alasan saya jijik adalah karena saya tidak suka baunya dan merasa mereka sangat kotor. Bayangkan, saya pernah memegang uang logam yang sudah tidak jelas warnanya karena tertutup kotoran dan hampir semua uang logam selalu kotor karena dipegang entah berapa ratus manusia. Saya juga pernah mendapati itu pada perhiasan entah bros atau sejenisnya yang terbuat dari logam ditaruh asal di suatu wadah yang sudah kotor dan berdebu. Perhiasan itu sampai dilapisi entah lumut atau apa yang berwarna hijau. Membayangkannya saja saya sudah jijik sekali. Apalagi saat mencium baunya yang melekat ditangan saya setelah saya menyentuhnya. Saya tidak ingin menyentuhnya lagi!
Sejak saat itulah saya phobia logam. Maka tiap saya melihat uang koin tercecer saya minta orang lain yang mengambilnya. Bahkan kalau bentuknya sudah sangat kotor dengan sebal saya akan membuangnya ke tempat sampah. Maafkan saya benar-benar bukannya saya sombong atau sok kaya.
Demi menyelamatkan uang-uang logam yang tercecer di rumah saya pun berinisiatif meminta a Hamzah untuk memasukkan ke celengan. Sebenarnya uang logam ini juga sangat diperlukan untuk bekal membayar polisi cepek kalau abi membawa mobil si... tapi kami hanya bepergian menggunakan mobil pribadi saat weekend itu jadi sebelum digunakan saya rasa lebih baik dimasukkan ke celengan.
Entah kenapa hari ini saya melihat banyak uang logam berserakan. Melihatnya saja saya jijik. Saya langsung meminta a Hamzah menabungnya.
"A, tolong masukin ke celengan a," pinta saya menunjuk uang logam di atas meja di dapur.
"Aa mau nabung lagi ga? ini ada lagi tabungin ya a..ambil aja di kantong tas ummi nih," ujar saya sambil memperlihatkan kantong tas saya yang berisi 2 koin lima ratusan.
"A, ini ada koin lagi, takut dimakan Aisha. Masukin celengan ya a," seru saya kaget melihat ada koin di pinggiran kusen jendela saat sedang main bersama Aisha di sana.
Saya jadi teringat celengan pertama kami hasil tabungan beberapa bulan tahun ini. Celengannya jadi berat karena banyak uang logam di sana. Dan saat dihitung bersama uang kertasnya hasilnya lumayan. Jadi jangan remehkan menabung recehan karena sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.
"A, tolong masukin ke celengan a," pinta saya menunjuk uang logam di atas meja di dapur.
"Aa mau nabung lagi ga? ini ada lagi tabungin ya a..ambil aja di kantong tas ummi nih," ujar saya sambil memperlihatkan kantong tas saya yang berisi 2 koin lima ratusan.
"A, ini ada koin lagi, takut dimakan Aisha. Masukin celengan ya a," seru saya kaget melihat ada koin di pinggiran kusen jendela saat sedang main bersama Aisha di sana.
Saya jadi teringat celengan pertama kami hasil tabungan beberapa bulan tahun ini. Celengannya jadi berat karena banyak uang logam di sana. Dan saat dihitung bersama uang kertasnya hasilnya lumayan. Jadi jangan remehkan menabung recehan karena sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

No comments:
Post a Comment