MENENTUKAN PRIORITAS
![]() |
| Kuadran prioritas |
Saat kita melakukan perencanaan keuangan, pastilah kita akan dihadapkan atas pilihan menentukan mana pengeluaran yang termasuk dalam 4 kuadran di gambar. Namun tentu saja kita tidak mungkin mengajari teori ini pada balita dan anak 6 tahun. Jadi saya hanya ingin memberikannya pelajaran atas apa yang telah dipilih mereka.
Setelah menunggui a Hamzah latihan Taekwondo pagi ini, saya berencana mengajaknya membeli makanan di sekitar tempat latihan. Ini sebagai hadiah surprise (bukan iming-iming agar ia semangat latihan) sekaligus kebutuhan karena ia harus menge-charge energinya setelah latihan. Sebenarnya saya sudah membawa bekal bubur kacang hijau dan cemilan. Tapi untuk jaga-jaga saya hanya berbekal uang sepuluh ribu rupiah saja saat menungguinya. Salah satunya jaga-jaga untuk membeli makanan yang sesuai seleranya.
"Mi, Hamzah mau jajan," pintanya seusai latihan sambil menarik lengan saya menuju kumpulan pedagang di sekitar tempat latihan.
"Jajan makanan aja ya a..." ujar saya sambil mengikutinya.
"Hamzah mau itu mi.." katanya menunjuk tukang minuman.
Setelah menunggui a Hamzah latihan Taekwondo pagi ini, saya berencana mengajaknya membeli makanan di sekitar tempat latihan. Ini sebagai hadiah surprise (bukan iming-iming agar ia semangat latihan) sekaligus kebutuhan karena ia harus menge-charge energinya setelah latihan. Sebenarnya saya sudah membawa bekal bubur kacang hijau dan cemilan. Tapi untuk jaga-jaga saya hanya berbekal uang sepuluh ribu rupiah saja saat menungguinya. Salah satunya jaga-jaga untuk membeli makanan yang sesuai seleranya.
"Mi, Hamzah mau jajan," pintanya seusai latihan sambil menarik lengan saya menuju kumpulan pedagang di sekitar tempat latihan.
"Jajan makanan aja ya a..." ujar saya sambil mengikutinya.
"Hamzah mau itu mi.." katanya menunjuk tukang minuman.
"Makanan aja ya a.." jawab sayasambil mengedarkan pandangan mencari tukang makanan yang lumayan mengenyangkan dan bersih. "Ini ada cilok a, ini aja a," tawar saya.
"Hamzah mau es mi.. " ujarnya di depan tukang es.
Siang ini memang matahari bersinar sangat terik. Saya sudah membekalinya air mineral, namun sepertinya belum memuaskan panas dahaganya.
"Yasudah tapi beli satu aja ya..berdua Afnan," jelas saya.
"Ga au.." Afnan protes mendengarnya. "Nan mau sendiri.."
"Harganya berapa bu?" tanya saya pada penjual es.
"Tiga ribu," jawabnya.
"Uangnya ga cukup nan, ummi cuma punya lima ribu. Beli satu aja berdua sama aa ya..." tawar saya pada Afnan.
Tampaknya Afnan mau bernegoisasi, tidak protes lagi. Sayang si ibu menyela, "Sini gapapa saya bikinin. Tapi pakai plastik aja ya," katanya sambil mengambil uang lima ribuan dari tangan saya.
Arrgh.. gagal deh berhemat.
Akhirnya anak-anak memegang esnya masing-masing. Dan kami melanjutkan perjalanan pulang.
"Mi, kita ga naik ojek?" tanya Hamzah tiba-tiba saat kami sampai di luar gerbang.
"Enggak a, kan uangnya udah aa pakai jajan. Jadi gak ada uang buat ngojek," jawab saya menjelaskan konsekuensi atas pilihannya. Anak-anak pun nurut ikut jalan kaki sampai rumah tanpa rewel kecapekan sama sekali. Jaraknya hanya sekitar 15 menit jalan kaki santai si.. tapi Afnan kadang rewel kalau jalan kaki kejauhan.
Dari peristiwa ini a Hamzah dan a Afnan belajar atas konsekuensi mereka memilih sesuatu yang kurang mendesak dan kurang penting. Sehingga mereka tidak dapat menikmati sesuatu yang lebih mendesak dan lebih penting. Tapi ya namanya anak-anak. Mereka hanya memilih apa yang menurut mereka enak saat itu bukan dalam jangka panjang. Latihan seperti ini perlu diulangi berkali-kali hingga mereka paham konsep prioritas dan berhasil menentukan pilihan dengan bijak.
"Hamzah mau es mi.. " ujarnya di depan tukang es.
Siang ini memang matahari bersinar sangat terik. Saya sudah membekalinya air mineral, namun sepertinya belum memuaskan panas dahaganya.
"Yasudah tapi beli satu aja ya..berdua Afnan," jelas saya.
"Ga au.." Afnan protes mendengarnya. "Nan mau sendiri.."
"Harganya berapa bu?" tanya saya pada penjual es.
"Tiga ribu," jawabnya.
"Uangnya ga cukup nan, ummi cuma punya lima ribu. Beli satu aja berdua sama aa ya..." tawar saya pada Afnan.
Tampaknya Afnan mau bernegoisasi, tidak protes lagi. Sayang si ibu menyela, "Sini gapapa saya bikinin. Tapi pakai plastik aja ya," katanya sambil mengambil uang lima ribuan dari tangan saya.
Arrgh.. gagal deh berhemat.
Akhirnya anak-anak memegang esnya masing-masing. Dan kami melanjutkan perjalanan pulang.
"Mi, kita ga naik ojek?" tanya Hamzah tiba-tiba saat kami sampai di luar gerbang.
"Enggak a, kan uangnya udah aa pakai jajan. Jadi gak ada uang buat ngojek," jawab saya menjelaskan konsekuensi atas pilihannya. Anak-anak pun nurut ikut jalan kaki sampai rumah tanpa rewel kecapekan sama sekali. Jaraknya hanya sekitar 15 menit jalan kaki santai si.. tapi Afnan kadang rewel kalau jalan kaki kejauhan.
Dari peristiwa ini a Hamzah dan a Afnan belajar atas konsekuensi mereka memilih sesuatu yang kurang mendesak dan kurang penting. Sehingga mereka tidak dapat menikmati sesuatu yang lebih mendesak dan lebih penting. Tapi ya namanya anak-anak. Mereka hanya memilih apa yang menurut mereka enak saat itu bukan dalam jangka panjang. Latihan seperti ini perlu diulangi berkali-kali hingga mereka paham konsep prioritas dan berhasil menentukan pilihan dengan bijak.
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

No comments:
Post a Comment