Thursday, August 31, 2017

Portfolio Bintang Keluarga Day #9

Saat menulis ini saya dalam perjalanan mudik, hampir 9 jam perjalanan tapi belum sampai juga. Padahal cuma ke Tasik. Aisha sudah muntah di tengah perjalanan dan barusan a Afnan juga muntah :'(

Oke, saatnya menulis laporan. Setelah Aisha, saya ingin mengamati minat a Hamzah dan a Afnan terhadap seni. Berhubung dalam diri umminya mengalir darah seni, senang menggambar, dan beberapa kali juara lomba mewarnai saat kecil jadi ummi ingin mengetahui apa bakat itu menurun ke anak-anak.

"Aa, mewarnai yuuk.." ajak ummi saat a Hamzah masih asik main mobil-mobilan bersama Afnan.

Tapi a Hamzah malah menyodorkan sebuah buku. "Mi, bacain..."

Sejak ummi sampai rumah ia memang sudah ngintilin minta dibacakan buku. Tapi karena Aisha rewel ummi bilang nanti setelah Aisha bobo. Maka ia menunggu sambil main mobil-mobilan bersama a Afnan. Namun, rupanya ia masih ingat keinginannya meski ummi mengalihkan dengan tawaran yang lain.

"Mi, bacain..." katanya lagi.

"Tapi habis ini mewarnai ya..." bujuk ummi.

Ia mengangguk. Ummi pun mulai membacakan buku seri kalimat thoyyibah : I can say InsyaAllah.

Seperti biasa ummi membacakan buku seperti mendongeng. Jadi a Afnan dan Aisha juga tertarik menyimak. Selesai satu buku ummi mengajak a hamzah mewarnai.

"Bacain yang ini juga mi..." ujar a Hamzah sambil berlari ke rak buku, mengambil sebuah buku, dan menyerahkannya ke ummi.

Hmm..tampaknya ummi mesti menyerah merayunya mewarnai. Ummi ingat cerita teh Kiki Barkiah saat salah satu anaknya diminta belajar sesuai jadwal home schooling-nya namun malah menginginkan kegiatan yang lain. Di sini teh Kiki memberi inspirasi bahwa tugas orang tua adalah memfasilitasi minat anak untuk belajar. Itulah prinsip home education. Memfasilitasi bakat dan minat anak dan mengarahkannya kepada kebaikan.

Kapan saat terbaik anak-anak untuk belajar dan mengasah bakat dan minatnya? Yakni saat anak itu enjoy melakukannya. Saat anak sedang enjoy terhadap sesuatu, fasilitasi ia, jadikan itu kegiatan untuk mengasah bakat dan minatnya. Saat ia enjoy dalam belajar maka ilmu lebih mudah masuk dan dipahami anak. Maka orangtua sejatinya tidak boleh memaksakan anak belajar sesuatu jika ia tidak menginginkan atau menikmatinya.

Nanti jika usianya sudah 7 tahun dan waktunya mengenal pembebanan/tanggung jawab. Maka orang tua bisa mengajarkan soal tanggung jawab terhadap jadwal/tugas/PRnya. Namun tetap mengusahakan membuat suasana yang nyaman dan kondusif agar anak enjoy menjalani kewajibannya.

Saat ini a Hamzah masih berusia 6 tahun 2 bulan. Jadi ummi tidak ingin memaksakannya mewarnai. Apalagi itu bukan kewajibannya.

Ummi pun menurutinya membacakan buku kedua. Selesai buku kedua, ia kembali mengambil buku. Ummi terus membacakannya hingga buku kelima barulah ia berhenti karena mengantuk.

Ya, malam ini ummi mengulang pelajaran yang telah lalu bahwa a Hamzah sedang enjoy membaca buku. Ia sangat berminat pada buku. Lainkali mungkin ummi akan coba menawarinya menggambar lagi. Karena sejak ada pelajaran mewarnai di sekolahnya, a Hamzah terlihat senang mewarnai. Sampai ummi harus membelikan banyak buku mewarnai.

Namun, sepertinya minat anak seusia a Hamzah masih berubah-ubah. Tampaknya saat ini ia sedang bosan mewarnai. Mari kita coba lagi lain kali :)


Tasikmalaya,

Malam Idul Adha



#BintangKeluarga


Wednesday, August 30, 2017

Portofolio Bintang Keluarga Day #8

Sebenarnya ummi ingin mengajak a Hamzah dan a Afnan berkegiatan tapi mereka sedang asyik main. Apalagi ada anak gadis yang setia ngintilin ummi sejak ummi sampai rumah. Jadilah ummi memusatkan perhatian pada si gadis kecil yang masih rewel karena batuknya semakin parah.

"Rewel terus nih, susah tidur," lapor kakung begitu ummi sampai rumah. Aisha yang sedang digendong kakung langsung menyodorkan lengannya ke arah ummi minta digendong. Batuknya memang makin parah sampai ia kesulitan bersuara. Tampaknya dahak mulai menyumbat pernapasannya.

"Kata dokter suruh ke IGD kalau napasnya sesak nanti malam," tambah eyang putri. Tadi siang Aisha memang sudah dibawa ke puskesmas, tapi dokter berpesan untuk segera IGD karena batuknya sudah berat dan dahaknya sulit keluar.

"Udah minum obat?" tanya saya.

"Udah, tinggal tidur aja," jawab kakung.

Sebenarnya untuk batuk yang disebabkan oleh virus ummi masih berpegangan kata-kata dokter Apin. Indikasi batuk yang darurat adalah anak sesak napas sampai berbunyi, dadanya cekung saking kesulitan bernapas. Keluar tidaknya dahak bukan indikasi darurat. Pada dasarnya anak kecil memang belum bisa mengeluarkan dahak dari mulutnya. Dahak juga tidak harus keluar lewat mulut melainkan bisa melalui feses. Makanya anak yang sedang batuk biasanya ada lendir dalam fesesnya. Kalau tidak percaya silakan diperhatikan feses anaknya :D

Nah, si gadis yang sedang rewel ini butuh sesuatu untuk menghiburnya. Karena dikasih buku atau diajak bermain bersama kakaknya tidak bertahan lama. Ia kembali mengekori ummi. Padahal ummi masih harus membersihkan diri, menyiapkan makan malam abi, dan tentu saja ikut makan malam. Alhamdulilahnya ummi sudah sholat isya. Jadi tinggal bertahan untuk tidak tidur sebelum makan malam. Kebiasaan yang sulit disembuhkan karena kecapekan tiap ngelonin Aisha pasti ikut tidur, hehe

Ummi ingat waktu perjalanan ke Prau Aisha tertarik dengan botol dan tutup dotnya. Ia bahkan sudah bisa memasang tutup dot ke botolnya dengan memutar ulirnya. Juga bisa membongkarnya kembali. Tampaknya ini petunjuk untuk mengasah bakat Aisha (17m). Jadi ibu memang harus sensitif terhadap kebutuhan anaknya. Kalau tidak perhatian sekali ibu akan melewatkan golden moment anak-anaknya. Alhamdulillah Allah masih mengizinkan ummi yang hanya punya waktu sekitar 3-4 jam bertemu anak-anak dalam keadaan terjaga setiap hari kerja untuk bisa mengangkap golden moment anak.

Lagi serius nengok juga pas difoto pakai hape :D

Di hadapan Aisha kini sudah ada 2 jenis botol. Botol minum dan tutupnya yang berwarna kuning milik a Hamzah juga botol kaca bekas ASIP dan tutupnya berwarna putih. Ummi memberikan botol kuning dahulu kepada Aisha karena diameter leher botol lebih besar daripada botol kaca. Aisha langsung menyambutnya. Ia serius sekali mencoba memasang tutup botol ke botolnya. Tentu saja tutupnya terlepas-lepas terus karena untuk mengencangkannya perlu diulir. Ummi pun mencontohkan Aisha untuk memutar tutup botolnya sesuai ulirnya. Aisha masih memperhatikan dengan seksama. Ia juga terus mencoba memasang tutup botol sambil memutar-mutarnya. MasyaAllah dalam percobaan kedua ia sudah berhasil memasang tutup botol hingga kencang.

Setelah Aisha cukup puas bermain bongkar pasang dengan botol kuning dan tutupnya, saatnya menaikkan level tantangan kepadanya. Ummi menyodorkan botol kaca dan tutupnya kepada Aisha. Perhatian Aisha langsung teralihkan ke botol kaca. Ia sama sekali tidak ragu untuk menjamahnya. Sepertinya pada usia ini anak memang mudah teralihkan fokusnya. Maka sebenarnya kalau anak ngambek ingin sesuatu, orangtua tinggal mengalihkan fokusnya saja.
semangat Aishaa

Ummi terus mendampingi Aisha pada tantangan kedua ini. Aisha terlihat serius sekali mencoba memasang tutup pada botolnya. Aisha memang tipe yang suka memperhatikan detil sesuatu dengan serius. Ia memperhatikan dan mengorek-ngorek lantai yang berlubang keramiknya, hiasanya di jilbab ummi, motif di baju aa, noda di lantai, dan hal-hal kecil lainnya. Mungkin kelak ummi harus mengasah bakat ini.

Aisha gadis kecil yang mudah senyum dan tertawa seperti a Hamzah ini ternyata menyimpan sisi serius. Kalau sudah memperhatikan sesuatu ia akan terlihat sangat serius sampai lupa akan rewelnya, lupa akan keingannya sendiri. Aisha gadis sumeh ini sedang senang bermain bongkar pasang barang, sampai-sampai mobil-mobilan aa yang bisa dibongkar pasang ia coba pasang juga. Aisha..Aiai...Aica..icha.. apapun panggilannya ia hampir pasti menengok kalau dipanggil sesuai nama aslinya, Aisha.

Luv Aisha
  



#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Tuesday, August 29, 2017

Portofolio Bintang Keluarga Day #7





Tebak itu foto siapa?

Bukaan..itu bukan Aisha. Manis banget ya...imut-imut kaya babygirl. Tapi itu a Hamzah :D

Siapa sangka baby sumeh yang gampang banget senyum ini memang punya potensi dari kesumehannya. Iya, a Hamzah mudah banget bergaul dengan orang lain. The extrovert one. Hanya awalnya saja ia malu-malu memperkenalkan diri atau bicara. Tapi kalau sudah terlempar satu percakapan seterusnya bisa ngobrol seperti sudah kenal lama.

"Mas, anaknya gampang banget akrab ya sama orang," kata om porter, pemilik basecamp tempat kami rehat sebelum dan setelah ekspedisi Prau.

"Iya mas," jawab abi senyum-senyum.

Iya, itu memang kelebihan a Hamzah dan sepertinya itu potensi baik yang bisa jadi kekuatannya kalau kami asah.

Waktu kecil kami sampai was-was meninggalkan a Hamzah sendirian. Pasalnya ia imut banget. Semua orang yang melihatnya biasanya langsung tertarik, setidaknya menyapa. Kalau diajak pergi atau digendong pasti ia tidak menolak, berontak, lari atau teriak. Bisa dengan mudah dibawa penculik :'(

Tapi kemarin ternyata kami lalai. Entah kenapa kami percaya sama porternya. Jadi waktu a Hamzah memilih untuk bareng porter nanjak duluan, saya iyakan saja. Saat mau menulis blog ini saya baru sadar kenapa kemarin percaya begitu saja sama orang tidak terlalu dikenal. Alhamdulillahnya a Hamzah baik-baik saja. Yah, porternya juga akan mudah dilacak si kalau sampai menculik a Hamzah. Kenyataannya porter kenalan abi itu memang baik dan jujur. Jadi saya memang tidak perlu terlalu kuatir. Hanya jangan sampai mengulangi kesalahan sama menyerahkan anak pada orang tidak terlalu dikenal tanpa mengetahui nama orang itu. Iya, saya lupa menanyakan nama porternya. Alhamdulillah ternyata a Hamzah dan porter itu menunggu di warung tidak jauh dari Pos 1. Selanjutnya a Hamzah melanjutkan perjalanan bersama kami.

Itu kejadian saat naik gunung. Saat naik gunung, sampai di pos 1 kami naik ojek sama seperti saat menuju pos 1. Hanya saya dan anak-anak yang naik ojek demi menghemat tenaga dan stamina anak-anak untuk nanjak pos 1 sampai camp ground dekat puncak. Saat turun gunung itu a Hamzah juga memilih bareng om porter. Lgi-lagi saya iyakan tanpa curiga sama sekali. Dan memang a Hamzah sampai dengan selamat ke basecamp lebih dulu daripada saya yang naik ojek di belakangnya.

Sifat extrovert a Hamzah ada kalanya menjadi kelemahan tapi bisa juga menjadi kekuatan.

Sepanjang turun gunung Prau, kami berpapasan dengan para pendaki yang turun gunung juga. Biasanya kalau melewati sesama pendaki kami akan saling menyapa atau permisi. Nah, a Hamzah yang extrovert ini tiba-tiba saja nyeletuk, "Dadah om semuaa!!" serunya saat para pendaki laki-laki melewatinya. Spontan saja mereka menengok sambil terkekeh. Beberapa ada yang menjawabnya, "Dadah adeekk ketemu di bawah yaa.." Kami yang dengar antara malu sama lucu. "Aa sok kenal banget si," kata abi.

Tapi gara-gara a Hamzah ini, suasana pendakian jadi menyenangkan. Ia akan berceloteh apa saja sepanjang jalan. Mengomentari dan bertanya ini-itu. Mungkin itu sebabnya ia bisa kuat naik-turun gunung Prau tanpa digendong sama sekali padahal medannya lebih terjal daripada Papandayan. Ia membawa dirinya dalam suasana menyenangkan. Dengan cara yang ia sukai, yakni mengocek, hehe

Terima kasih a Hamzah telah memberi kami pelajaran. Bahwasanya apa-apa yang kita kerjakan akan terasa mudah jika kita enjoy mengerjakannya.^_^


#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Monday, August 28, 2017

Portofolio Bintang Keluarga Day #6

Pemandangan dari gunung Prau Januari 2017


Di Januari, Ia menghadiahi foto ini
Siapa pula yang tak langsung merindui
Semoga kelak bisa ke tempat ini

Esok insyaAllah, ia ke sana lagi
Kali ini tak foto sendiri
Sebab akan bersama Full team inti


Alam telah memberikan kita banyak keindahan
Alam telah memberikan kita banyak kekayaan
Alam telah memberikan kita banyak pelajaran

Cintai Alam, Cintai Allah

Next Expedition,
Prau Mountain
25-27 Agustus 2017
InsyaAllah

Mohon doanya untuk keselamatan kami semua
  
What do you feel?
I feel nervous, but also excited!


***

"Hamzah, mau ikut naik gunung gak?" tanya ummi pada a Hamzah.


"Mau, mauu!!" seru hamzah penuh semangat, sorot matanya tampak berbinar-binar.

Sejak tahun lalu abi mengajak a Hamzah naik gunung. Waktu itu umurnya baru 5 tahun. Pertama kali naik gunung bersama abi dan teman-temannya. Karena baru pertama ia masih banyak digendong. Tidak apa, namanya juga ta'aruf :D

Pada acara naik gunung kedua kalinya, abi tidak hanya mengajak a Hamzah tapi juga a Afnan. Tak sangka, a Hamzah tidak kapok jalan kaki naik gunung. Entah karena mengikuti kakak dan abinya atau karena tertarik melihat foto-fotonya, a Afnan juga mau diajak naik gunung. Namun gunung kedua ini gunung karang jadi anak-anak tidak ikut sampai atas.


Dari pengalaman naik gunung bersama abi, anak-anak selalu excited tiap kali diajak kemping atau naik gunung. Abi sudah berhasil membangun image positif tentang naik gunung kepada kedua jagoannya. Mungkin naik gunung bukan olahraga yang disunnahkan, namun salah satu usaha kami untuk membentuk generasi kuat yang disukai Allah dan Rasulullah.

Jadilah Jumat, 25 Agustus 2017 kami memulai ekspedisi Prau. Abi menjemput anak-anak pada jam istirahat, lalu kami berangkat dari kantor lama abi dekat gambir bersama teman-teman abi.

Ini adalah ekspedisi kedua full team, abi, ummi, a Hamzah, a Afnan, dan Aisha. Tapi ini adalah ekspedisi pertama full team bersama grup. Sebelumnya kami hanya berangkat berlima, kali ini bersama teman-teman abi dengan menyewa bis mini (istilah a Hamzah untuk jenis mobil elf).


Dengan medan dan suhu yang lebih berat juga jarak yang lebih jauh daripada Papandayan, berangkat dengan menyewa kendaraan sangat membantu menghemat tenaga, terutama untuk abi. Kalau ummi masih merasa belum fit benar karena sudah 3 hari aisha selalu rewel saat tidur malam karena terserang batuk.

Semangat a Hamzah tidak hanya diawal. Dengan medan yang lebih berat ia mampu terus berjalan sampai puncak (camp ground) Prau. Tanpa digendong sama sekali. Ummi sudah berpesan pada abi agar tidak terlalu memaksa a Hamzah sampai ke Puncak, apalagi ummi merasa medannya lebih berat daripada Papandayan tapi abi bilang a Hamzah sendiri semangat, meski banyak istirahat. Jadilah kami sampai camp ground dua kali lipat waktu normal.

"Abi mah, katanya deket-deket tapi gak sampe-sampe," kata abi menirukan keluhan a Hamzah saat cerita sama ummi.

Ummi sudah sampai duluan di camp ground karena Aisha tidak mau ummi berhenti istirahat lama-lama dalam perjalanan. Kalau ummi berhenti Aisha nangis lagi. Masih lumayan rewel karena batuknya. Apalagi semalam pas tidur dalam kendaraan ia juga rewel kurang lelap tidurnya. Jadi sepanjang ummi gendong, terus saja bangun-nangis-tidur sampai camp ground.

Cerita lengkapnya akan ada di blog khusus petualangan kami. Intinya adalah ketiga anak kami alhamdulillah senang naik gunung seperti abi-umminya. Meskipun kami merasa berat saat membayangkannya. Tapi karena Allahlah ternyata kami bisa menjalaninya.

Dan tentu saja, selalu ada hadiah spesial di atas gunung. Sebuah maha karya yang tidak ternilai harganya. Pemandangan alam ciptaan Allah yang luar biasa indahnya. MasyaAllah...




#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Friday, August 25, 2017

Portofolio Bintang Keluarga Day #5

How do you feel now? 
I feel nervous, but also excited!

Saat menuliskan ini kami akan memulai ekspedisi Prau. Full team. Untuk pertama kalinya naik gunung dan benar-benar bermalam di atas (puncak) gunung. Kondisi tim kami tidak sepenuhnya fit, terutama saya dan anak-anak jadi saya deg-degan sekali. Semoga kami senantiasa dilindungi Allah dalam perjalanan ini. Aamiinn..

Perasaan dalam quotes diatas ada hubungannya dengan tulisan kali ini. Saya sedang dalam ekspedisi menemukan minat anak, sesuatu yang ketika dilakukan membuat mata mereka berbinar-binar sampai tidak bisa beranjak ataupun peduli pada lingkungan sekitar. Kegiatan apa itu? Saya menemukannya saat mereka membaca buku. Contohnya di gambar ini.

Afnan baca buku dari rak buku baruu ^_^
Iyaa anak-anak suka sekali membaca. A Afnan sedang baca buku apa ya..? Ia biasanya random baca bukunya. Kalau a Hamzah sekarang lagi seneng buku seri dari Confidence in Science. Buku tentang Dinosaurus sedang sering dibaca akhir-akhir ini. Tiba-tiba membaca tema efek pemanasan global dan ekosistem. Science setingkat anak SD. Sebenarnya CIS ini memang cocok untuk anak SD si.. tapi karena a Hamzah sudah kenal sejak 5 tahun jadi sudah tertarik sama science. Apalagi kalau ada praktek science. Agenda selanjutnya kita praktek lagi ya a...

Hari ini cukup sekian dulu. Kami mau siap-siap ekspedisi Prau. Nanti kami bawa oleh-oleh cerita dan foto-foto ya.. pembahasan lengkap di blog khusus. Tapi kami akan cerita sedikit soal minat anak-anak dalam ekspedisi ini.

Sampai jumpa minggu depan, insyaAllah.

Salam bunda sayang,

^_^



#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Thursday, August 24, 2017

Portofolio Bintang Keluarga Day #4

Sebulan yang lalu, ummi sudah memesan sebuah rak buku untuk buku anak-anak. Pasalnya 2 rak buku sudah terlalu padat. Padahal abi sudah membuang sebagian buku-buku yang sudah tidak layak. Tapi masih saja tidak muat. Jadi masih ada buku-buku yang ditumpuk biar raknya muat.

Fyi, untuk memperpanjang usia buku, kita tidak boleh menyimpannya dengan cara ditumpuk loh.. Karena beban dari buku diatasnya akan membuat tinta dari tiap halaman saling menempel, tulisannya  bisa tidak terbaca lagi karena saling menempelkan tinta, dan lembaran-lembaran bukunya juga cepat rusak karena menahan beban dan kurang sirkulasi udara. Yang benar menyimpan buku dengan cara berdiri seperti gambar di bawah.

Penataan buku berdiri. Gambar dari google
Demi pemeliharaan buku-buku Home Library kami jadi ummi langsung membelikan rak buku saat ada rezeki. Buku-buku dan rak buku adalah investasi, insyaAllah. Suatu saat kami akan membuat perpustakaan umum di kampung kami, insyaAllah ^_^

Nah, terlihat banget kan passion kami terhadap buku. Bagaimana dengan anak-anak kami?

Rak buku sudah sampai saat ummi dan abi masih di kantor. Sampai rumah ternyata masih terbungkus rapi. Oia rak buku ini produksi Furniture Anak Pintar, bisa pesan di ummi sebagai resellernya loh :D Alhamdulillah kualitasnya memuaskan. Dengan harga sesuai pricelist bahannya multiplex+MDF jadi cukup kuat menampung buku-buku kami yang banyak dan berat.

Setelah ummi menyimpan tas kantor, ummi mengajak anak-anak membuka paket rak bukunya. A Hamzah langsung ribut mencari gunting. A Afnan berusaha merobek bungkus dengan tangannya. Padahal bungkusnya dua lapis, bubble dan kardus. Bagaimana dengan Aisha? Ummi sudah membujuknya untuk menunggu agak jauh dari area unboxing tapi ia terus mendekatinya sambil ikut-ikutan merobek bungkusnya. Kaya bisa aja...hehe

Tentu saja ummi berusaha mengamankannya takut rak bukunya jatuh karena diserbu banyak orang atau Aisha terkena gunting a Hamzah. Yah namanya anak-anak susah kalau sudah excited. Aisha pun tetap ikutan unboxing dalam pengawasan kami. Unboxing juga dibantu kakung agar lebih cepat. Sekitar 15 menit kemudian sudah terlihat semua isinya. Rak multi B!

Taraa... Rak Multi B Full White by Furnitur Anak Pintar

Baru raknya saja sudah excited sekali. Bagaimana dengan bukunya?

Alhamdulillah anak-anak excited banget sama buku. Ummi minta tolong merapikan buku-buku ke rak buku baru hasilnya malah begini..

Buku-bukunya belum selesai loading loh a.. udah dibaca aja :D


Buku-buku mengalihkan duniaku...hehe

Mereka terus membaca buku-buku yang coba mereka rapikan tapi ternyata menarik untuk dibaca. Kurang fokus ceritanya, pekerjaan jadi tambah lama. Tidak apa lah ya...yang penting waktunya tidur nanti semua sudah rapi. Jadi ummi membiarkan anak-anak loading buku sambil baca. Pengen ketawa tiap inget kejadian ini :D

Unboxing session today has proved that our kids are really love books!

Thankyou kids, you're warming our heart <3




#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Wednesday, August 23, 2017

Portofolio Bintang Keluarga Day #3



Sudah lama sekali kami ingin mengikuti kajian forum usroh (forum keluarga) bulanan. Sayangnya selalu terkendala jadwal. Mumpung jadwalnya kosong kami berencana mengikutinya weekend lalu, apalagi ada ustadz Bendry salah satu ustadz favorit kami soal parenting dan keluarga.

Awalnya saya agak janggal sama judulnya. "Dia" siapa ya maksudnya? Apa maksudnya Allah? atau mertua? atau ART? dan saya pun agak menyesal setelah mendengar pembukaan kajiannya...

Ya, yang dimaksud "dia" di sini ternyata adalah istri yang lain. Dan ternyata forum usroh minggu ini khusus kajian tentang keluarga poligami. Berasa salah masuk kajian sama kaya salah masuk kondangan orang, hehe

Yasudahlah berhubung sudah di dalam masjid kami tetap mengikuti kajiannya hingga selesai. Kami ambil pelajaran-pelajaran yang dapat kami terapkan di keluarga kami. Alhamdulillah, suami saya pun masih kekeuh pada pendiriannya untuk monogami karena merasa tidak mampu poligami, barakallah abi...tentu saja kami tidak menolak syariat, namun kami tidak melakukannya karena itu bukan kewajiban hanya salah satu sunnah. "Masih banyak sunnah yang lain yang belum bisa kita lakukan," begitu kata suami. :)

Bagaimana dengan anak-anak? Karena ini bukan kajian anak-anak jadi mereka cukup mengikuti kami agar terbiasa dengan suasana kajian umum. Alhamdulillah anak-anak bisa dikondisikan dengan berbekal mainan. Sementara a Hamzah dan a Afnan main mobil-mobilan bareng saat Aisha masih tidur. Posisinya saat itu mereka berada di shaf laki-laki paling belakang bersama abi. Saya berada di belakang mereka yang dibatasi dengan papan kayu pembatas shaf laki-laki dan perempuan.

Saat khusyuk mendengarkan tiba-tiba a Hamzah datang memberikan saya selembar uang sepuluh ribu. "Kata abi beli susu buat Afnan mi," ujarnya.

Setelah a Hamzah kembali ke tempat abi, gantian a Afnan yang datang sambil merengek minta susu. Saya kebingungan. Soalnya sejak datang di tempat parkir tadi saya tidak melihat minimarket ataupun warung kelontong yang menjual susu. Banyak sekali tukang jajanan dan makanan tapi tidak ada susu. Paling banter teh, minuman instan, dan es kelapa. Afnan makin rewel. Saya pun terpaksa membawanya keluar area kajian.

Sampai di depan tangga turun (lokasi kajian berada di lantai dua), saya melihat ke bawah, tidak ada mini market. Saya janjikan a Afnan untuk membelinya selesai kajian. Tapi ia malah ngambek, mainan kotoran di lantai tepat di depan pintu masuk. Awalnya saya biarkan, tapi ternyata masih banyak peserta kajian yang datang sehingga mengganggu jalan. Akhirnya saya bopong ke dalam, dan ia malah menangis.

Baiklah, karena suaranya cukup menggangu saya membawa keluar pintu masuk masjid lainnya, ke arah tempat penitipan alas kaki. Saya ajak ia melihat langsung ke warung-warung di pinggir jalan, agar ia percaya perkataan saya kalau tidak ada yang menjual susu. Sebenarnya sekalian saya melihat-lihat lagi siapa tahu ada warung yang menjual susu atau mini market di ujung jalan yang belum saya lihat tadi.

Kami menyusuri jalan hingga ke ujung namun nihil, tidak ada yang menjual susu sama sekali. Saya ingin membujuknya membeli semangka tapi sayang semangkanya habis. Akhirnya saya tawarkan es podeng saja. Alhamdulillah ia mau.

Sampai di masjid saya mengajaknya makan sambil duduk di teras masjid antara tangga dan pintu masuk. A Hamzah ternyata tertarik dan ikut makan bareng. Beberapa jamaah datang dan melewati kami. Tiba-tiba ada sepasang anak laki-laki dan perempuan menghampiri kami.

"Lagi makan apa?" si anak laki-laki bertanya begitu saja. Padahal kami tidak kenal.

Mencoba mencairkan suasana, saya menjawab santai, "Makan es podeng," ujar saya lalu menengok melihat mereka. "Wah, kakak juga bawa es ya. Tuh, ayo makan lagi," lanjut saya sambil menyuapi a Afnan.

Tiba-tiba saja obrolan berlanjut.

"Kakak namanya siapa?"

"Azka. Ini adek saya Afifah."

"Ayo aa kenalan.." saya mencoba mendukung a Hamzah. Tapi ia diam saja sambil nyengir. Masih malu-malu bertemu orang baru. Apalagi Afnan, ikut memamerkan gigi depannya yang tinggal satu :D

"Kamu namanya siapa" tanya sang kakak yang berkacamata.

"Siapa a? ayo dijawab," ujar ummi. A Hamzah masih malu-malu sambil menggeleng. "Ini namanya Hamzah, adiknya Afnan," ujar ummi lagi menggantikan a Hamzah berkenalan.

"Ini adiknya kayanya seumuran sama Afnan ya? Umurnya berapa?"

"Saya 7 tahun. Kalau afifah 3,5 tahun."

Ternyata benar, adiknya seumuran Afnan. Tapi entah kenapa terlihat lebih dewasa dan memang badannya lebih besar. Mungkin keturunan dari orang tuanya.

Ohya, Azka ini tampak percaya diri sekali. Kelihatannya dia juga cerdas. Saya pun menanyakan sekolahnya.

Ternyata ia sekolah di SDIT Tahfidz dan hafalannya memasuki juz 28.

"Afifah udah hapal An-Naba. Dia paling lancar di antara temen-temennya," jelas Azka.

Wah, pantas saja. Mereka anak-anak penghapal Qur'an. Hapalan sang adik setara a Hamzah. Saya pun mencoba menyemangati a Hamzah.

"Ayo a Hamzah, Afifah masih kecil udah hapal An Naba. Ayo hapalan an Naba bareng Afifah," ujar saya.

A Hamzah dan Afifah sama-sama nyengir malu-malu.

"Hamzah pemalu ya? sama nih kaya Afifah juga pemalu. Kalau disuruh hapalan di depan orang gak mau," jelas Azka.

Tidak lama kemudian mereka berempat sudah asyik main bareng. Dari main mobil-mobilan sampai main balon air yang dibawa Azka dan Afifah. Mereka juga asyik bercerita bareng soal ini dan itu. Ah, anak-anak memang mudah akrab sekali ya. Saya harus belajar dari mereka untuk mudah akrab dengan orang lain.

Apa pelajaran hari ini? Anak-anak saya terutama a Hamzah memiliki potensi mudah bergaul dengan orang lain. Potensi ini menjadi bekal saya untuk mengarahkannya pada minat dan bakatnya nanti. Semoga anak-anak ummi dan abi senantiasa menjadi insan yang bermanfaat ya sayang... ^_^




#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Tuesday, August 22, 2017

Portofolio Bintang Keluarga Day #2

Adiknya ummi minggu lalu memberi tiket gratis masuk pameran GAIKINDO INDONESIA INTERNATIONAL AUTO SHOW 2017. Tentu saja kami menyambutnya dengan suka cita. Pengalaman dari tahun ke tahun anak-anak sangat excited ikut pameran mobil. Meski ada pemandangan yang tidak menyenangkan dari SPGnya tapi selalu ada permainan anak-anak gratis yang menyenangkan di sana. Anak laki-laki tentu saja senang sekali dengan kendaraan kan?

Awalnya kami berencana berangkat pagi-pagi sekali maksimal jam 9 pagi. Tapi apa daya, abi dan ummi tepar karena tidak terlalu nyenyak tidurnya sejak Aisha rewel tiap tidur malam. Sudah siap semuanya eh dikasih ujian ban mobil bocor. Jadilah abi memanggil montir dulu untuk ganti ban. Akhirnya tidak jadi ganti karena ban cadangan pun kempes. Sementara hanya ditambal saja.

Ujian di awal perjalanan tidak menyurutkan semangat kami ke pameran mobil. Kami tidak berekspektasi macam-macam soal permainan anak yang ada di sana. Juga tidak sempat melihat detil informasi acara yang diadakan di sana. Kejutan saja. Biar tidak over expected, meminimalisir kecewa, hehe

Perjalanan awalnya lancar, mulai macet setelah keluar toll BSD. Saat cek gmap harusnya keluar di pintu toll sebelumnya yang lebih lancar. Qaddarallah..

Sampai di Boulevard BSD kami melihat parkiran ICE di sebelah kanan. Dari parkiran itu bisa melanjutkan perjalanan menggunakan shuttle bus. Tapi dari tahun-tahun sebelumnya kami masih bisa parkir di parkiran yang lebih dekat dari gedung ICE BSD City, meski belum pernah dapat parkiran di basementnya. Minimal tidak jauh dari sana jadi hanya perlu membawa barang yang urgent saja di dalam tas.

Alhamdulillah kami dapat parkiran di samping gedung ICE BSD, meski posisinya di komplek ujung tapi masih terjangkau kalau sewaktu-waktu perlu balik ke mobil. Sebelum masuk gedung, kami memastikan perut kenyang karena restoran di sana pastilah mahal. Kami makan siang dari bekal ayam goreng yang kami beli di pinggir jalan dekat rumah. Setelah itu menyiapkan barang-barang urgent yang perlu dibawa, seperti kids carrier, botol susu dan susu UHT kotak kecil, pampers, mukena, air mineral, cemilan, tisu, serta cadangan pakaian untuk anak. Sementara sisa makan siang kami tinggalkan di mobil, yang ternyata menjadi penyesalan :'(

Keluar dari parkiran kami sampai pada loket pembelian tiket masuk. Berhubung kami sudah mendapatkan 2 tiket gratis maka kami tinggal membeli kekurangannya. Suami meminta saya menanyakan kepada petugas usia berapa anak mulai wajib membeli tiket. Ternyata mulai usia 5 tahun, jadi hanya a Hamzah yang perlu membeli tiket.

Antrian tidak terlalu panjang, sekitar 5 menit saja saya sudah kembali membawa satu buah tiket yang dapat dibeli dengan cash, debit, ataupun kredit Bank Mandiri. Sepertinya Bank Mandiri menjadi salah satu sponsor karena banyak iklannya di sekitar area luar dan booth-nya di dalam gedung.

Dalam tiket yang saya dapatkan dibagi menjadi 3 bagian: tiket masuk, voucher roti gratis, dan undian grandprize. Potongan tiket masuk disobek petugas saat kami melewati pintu masuk, sedangkan tiket gratis dari kantor adik ummi di-scan di meja petugas setelah pintu masuk.

Setelah melewati pintu masuk, anak-anak langsung excited begitu melihat mobil-mobil yang dipamerkan di sepanjang lorong di depan Hall. Abi memberi komando agar kami menyusuri dari Hall 1 sebelum berhenti. Jadilah a Hamzah dan a Afnan harus bersabar sampai ke Hall 1.

Memasuki Hall 1 anak-anak kembali berbinar-binar melihat kendaraan yang ada di dalamnya. Ada bis, truk, dan kendaraan besar lainnya. Kami disambut oleh badut robot mobil. Tahun lalu kami sudah melihatnya, namun a Hamzah dan a Afnan tidak berani mendekatinya. Dari pengalaman tahun lalu kami pun lanjut menuju blok pameran bis yang menarik. Bis tingkat ini lantai atasnya terbuka sebagian tanpa atap. Banyak sekali yang penasaran sampai harus antri memasuki bis ini. Di sini kami belajar bersabar dalam antrian. Alhamdulillah anak-anak mau bersabar meski anak-anak di belakang kami ada yang menyelak maju ke depan kami. Untung saja petugasnya adil sehingga tidak membiarkan ada yang menyelak antrian.

Selama menunggu, a Afnan mulai rewel. Rupanya ia ingin melihat badut robot mobil.

"Afnan, mau foto sama robot mobil?" tanya abi. A Afnan mengangguk. "Nanti ya habis naik bis.." ujar abi. Alhamdulillah a Afnan mau bersabar.

Sepertinya rasa penasaran melebihi rasa takutnya. Robot itu memang unit karena bisa menjadi mobil jika petugasnya merangkak.

Akhirnya giliran kami memasuki bis.

"Hati-hati ya pak takut kena atasnya," ujar petugas memperingati abi yang menggendong kids carrier. Takutnya Aisha kepentok langit-langit bis yang rendah. Abi pun agak menunduk saat melewati langit-langit menuju lantai dua bis.

Sampai di lantai 2, a Hamzah dan a Afnan langsung berlari langsung ke bagian depan bis. Mereka langsung menuju jendela samping untuk melihat ke luar. Ummi tak lupa mendokumentasikannya. Seru sekali melihat pemandangan seluruh hall dari atas. Apalagi bis tingkat ini tanpa atap jadi lebih leluasa mengedarkan pandangan.

Turun dari bis, a Hamzah mengajak ke bis yang lain. Tapi a Afnan menarik-narik ingin melihat robot mobil. Akhirnya kami kembali ke arah pintu masuk hall tempat robot mobil tadi berada. Sayang robotnya sudah tidak ada lagi. Sepertinya sedang istirahat..

Jadi kami membujuk a Afnan untuk melihat kendaraan yang lain. Berbagai bis dan truk kami naiki. Sampailah kami di area permainan excavator gratis. Apa itu excavator? Dari buku Superlengkap Truk-truk Raksasa, anak-anak sudah belajar tentang nama kendaraan berat excavator.

recommended book, bisa pesan di kami
Sebelumnya eyang (sejak zaman saya kecil) selalu membahasakan dengan nama "truk garuk-garuk". Wajar karena eyang memang tidak tahu nama sebenarnya. Tapi setelah mengetahui dari buku ini, a Hamzah pun selalu menyebutnya excavator.
excavator penggaruk

Dalam wahana permainan excavator, anak-anak dapat mensimulasikan mobil dengan remote yang disediakan. Tentu saja hanya excavator mainan. Excavator ini diletakkan di dalam box sekitar 2x3 meter yang berisi serpihan bubuk kayu sebagai tanah/pasirnya sehingga anak-anak bisa merasakan sensasi mengendalikan tangan excavator untuk menggaruk tanah.

A Hamzah dan a Afnan bergantian bermain ini. Abis membantunya dari belakang. Selesai bermain kami mendapatkan souvenir biskuit, lumayan untuk cemilan perjalanan kami. Saat akan melanjutkan perjalanna a Hamzah bilang mau main lagi. Rupanya ia masih ingin mainan serbuk kayunya yang tanpa antri dengan truk-truk mainan biasa yang disediakan di dalam box. Tapi abi membujuk untuk lanjut melihat kendaraan yang lain agar kami bisa selesai memutari semua hall sebelum malam.

Arena permainan gratis yang kami ikuti selanjutnya adalah arena memukul palu gada untuk orang dewasa dan wall climbing untuk anak-anak. Biasanya abi ga mau ikut games-games di tempat umum tapi kali ini abi mau, setelah dibujuk setengah memaksa sama ummi, hehe. Alhamdulillah abi sampai pada point 84. Sebelumnya paling tinggi poin 96. Lumayan kuat untuk seorang abi. Selesai bermain kami mendapat souvenir tas kain dari brand kendaraan penyedia permainan.

Setelah berfoto dengan beberapa kendaraan, tidak sengaja kami menemukan area wall climbing anak. Abi berusaha membujuk a Hamzah mengikuti kegiatan ini karena sebelumnya saat di pameran outdoor a Hamzah enggan ikut wall climbing. Mungkin karena melihat banyak anak yang sepantaran bahkan lebih kecil darinya ikut wall climbing, akhirnya ia bersedia. Kami pun sibuk menyemangatinya.

Akhirnya tiba giliran a Hamzah. Ia terlihat semangat memanjat batu-batu yang ada di dinding. Cepat sekali. Tiba-tiba sudah ditengah saja. Sampai tengah ia berhenti. Tampak kebingungan mencari pijakan. Petugas dan abi teriak-teriak memberi arahan. Ummi juga menyemangati sambil mendokumentasikannya. Sepertinya a Hamzah kurang dengar jadi ummi segera maju tepat di bawah a Hamzah dan meneriakkan arahan untuknya. Alhamdulillah a Hamzah bisa fokus kembali dan tidak menyerah. Ia berusaha menggapai batu-batu dengan kaki dan tangannya sampai mendekati lampu finish.

"Pencet lampunya! Pencet lampunya!" kata petugas mengarahkan a Hamzah. Kami tidak engeh kalau harus memencet lampu akhirnya ikut menyemangit a Hamzah.

Hup! lampu hijau menyala. A Hamzah berhasil!

Alhamdulillah..barakallah a Hamzah..

Sampai di bawah a Hamzah terlihat sumringah. Apalagi petugas memberikannya sticker bintang khusus untuk berhasil sampai memencet lampu finish.

"Aa nanti mau kasih liat eyang," katanya sambil nyengir lebar. Ia tampak bangga menyadari bahwa dirinya bisa melewati tantangan itu.

Mungkin ada saatnya anak tidak ingin melakukan sesuatu. Orang tua tidak perlu memaksa. Karena mungkin saja saat itu anak sedang berpikir, untuk mempersiapkan diri dan mentalnya. Saat anak sudah bersedia melakukan sesuatu itu, maka waktunya orang tua memberi support. Setiap anak pasti bisa. Karena setiap anak adalah bintang.

Sebenarnya masih banyak yang ingin kami ceritakan tapi akan terlalu panjang. Di sini kami dapat menyimpulkan kalau anak-anak kami memiliki keunggulannya sendiri. Kadang mereka unggul dalam psikomotorik, kadang afektif, kadang kognitif. Tergantung kegiatan, situasi, dan kondisinya. Mereka menyesuaikannya sendiri. Saat mereka menampakkan rasa excited-nya terhadap sesuatu yang positif, itulah saatnya orang tua mendukung, mengarahkan, dan menyemangatinya.

Semangat anak-anak ummi dan abi!


#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga






Monday, August 21, 2017

Portofolio Bintang Keluarga Day #1

Masih pada tahap pengamatan potensi anak. Kali ini ummi ingin mengetahui sejauh mana kecerdasan emosi anak (EQ) dan SQ. Berhubung pulang kerja ummi tidak bisa lama-lama bermain bersama anak-anak, jadi hanya sebentar berkegiatan.

A Hamzah dan a Afnan sedang sibuk main lego dan mobil-mobilan. Sementara itu, Aisha sudah mulai rewel karena mengantuk. Aisha sejak 16 Agustus malam rewel saat tidur sepanjang malam, badannya agak hangat, dan BABnya mencret. Sepertinya gejala masuk angin atau tumbuh gigi. Padahal giginya sudah banyak tapi belum semuanya keluar sempurna. Banyak yang baru nongol ujungnya aja..

"A Hamzah..tolong injek-injek abi doong..!" seru abi dari dalam kamar.

Injek-injek disini buat mijet punggung yang pegal ya, hehe

Kesempatan buat ummi mengetes potensi afektifnya.

"Aa..mau dapat pahala ga? Ayo siapa yang mau dapat pahalaa?" seru ummi memberi penawaran menarik.

"Aa mauu!" sahut a Hamzah semangat.

"Kalau mau..ayo injek-injek abiii.." ujar ummi.

"Aa mau injek-injek abi nanti sayang terus dapat pahala.." katanya sambil beranjak menuju abi dan memulai proyeknya.

"Iya nanti dapat pahala banyak, kalo dapat pahala masuk kemana?"

"Syurgaa.." serunya.

"Iya betul. Nanti kalau banyak pahalanya bisa masuk syurga," pungkas ummi.

A Afnan masih asyik dengan mainannya, tidak peduli sama sekali.

"Afnan, mau dapat pahala ga?" pancing ummi.

"Au..tapi nan masih ini.." jawab a Afnan masih sibuk sama mainannya.

"Kalau mau dapat pahala ayo bantu injek-injek abi.." dorong ummi menyemangati.

Afnan mulai membereskan mainannya lalu beranjak ke kamar.

"Afnan ayo sini gantian, aa udah injekin abi sampai 200 kali," sambut a Hamzah yang sudah selesai menghitung. Padahal hitungnya masih belang-betong tidak sempurna 200, hehe

A Hamzah turun dari kasur dan kembali bermain. Posisinya kini digantikan a Afnan.

"Afnan injekin abi ya.." ujar abi menyambutnya.

Afnan mulai menghitung. "Satu-uwa-tiga-empat-ma-tujuh..." ucapnya masih kurang jelas dan lompat-lompat hitungannya.

Baru beberapa hitungan Afnan sudah turun dari kasur. Sudah lelah rupanya. Atau tidak sabar nyusul a Hamzah main? :D

Alhamdulillah dari kegiatan hari ini ummi sudah dapat menyimpulkan, anak-anak sudah mengenal bagaimana berbakti kepada orangtua juga mengenal tentang pahala kebaikan. Ilmu kebaikan ini memang kami perkenalkan bersamaan dengan ilmu tauhid. Saat anak-anak belajar tentang Tuhan dan Rasul mereka, kami juga mengenalkan tentang surga dan neraka yang merupakan konsekuensi dari amalan baik dan buruk. Jadi akan lebih mudah mengajak anak berbuat baik jika mereka sudah kenal dan tahu tujuan akhir mereka insyaAllah. Wallahu'alam :)


#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Saturday, August 19, 2017

Portofolio Bintang Keluarga Day #Pemanasan

Everyone is special. Setiap orang itu spesial. Tidak ada yang benar-benar identik. Tidak ada sidik jari yang sama.

Everykids is special. Setiap anak itu istimewa. Tidak ada yang benar-benar sama.  Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing.

So everyhuman is excellent, though nobody's perfect
. Setiap manusia itu hebat meski tidak ada yang sempurna.

Menyadari hal ini saya sadar telah melewati fase yang gelap di mana saya merasa minder atas kekurangan saya. Saya tidak pernah suka dipuji karena merasa pastilah ada yang lebih baik dari saya. Dan juga merasa pujian itu tidak pantas untuk saya yang masih punya banyak kekurangan dibandingkan kelebihan. Pikiran yang sempit sekali bukan?

Saya pernah melewati fase dimana saya begitu terpuruk dalam kekurangan saya. Sehingga saya tidak pernah berani berteman dengan kalangan atas, yang saya anggap lebih banyak kelebihannya dari saya. Saya bergelimang ketakutan saya sendiri, takut ditertawakan, takut diejek, takut dijauhi jika teman-teman tahu kekurangan saya. Akibat rendah diri ini saya tidak berani memulai pertemanan dan tidak pandai bergaul. Saya tidak ingin itu terjadi lagi pada anak-anak saya. Karena sekarang saya sadar, masih ada kelebihan dalam diri saya meski sedikit, namun perlu diasah agar kelebihan itu berdaya guna, bisa dipakai agar bermanfaat untuk banyak orang.

Dari Materi Bunda Sayang ini saya mendapatkan teori bahwa kemampuan anak dibagi dalam tiga bagian besar:
1. Aspek Kemampuan Afektif
Kemampuan yang berkaitan dengan nilai dan sikap
pada aspek ini dapat terlihat antara lain pada kedisiplinan atau sikap hormat terhadap guru. Aspek afektif ini berkaitan erat dengan kecerdasan emosi (EQ) anak.

2. Aspek kemampuan psikomotorik
Aspek kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan gerak fisik yang mempengaruhi sikap mental. Aspek ini menunjukan kemampuan atau keterampilan ( skill) anak setelah menerima sebuah pengetahuan.

3. Aspek kemampuan kognitif
Aspek kemampuan yang berkaitan dengan kegiatan berpikir. Aspek ini sangat berkaitan dengan intelegensia (IQ) atau kemampuan berpikir anak. Sejak dahulu,aspek kognitif selalu menjadi perhatian utama dalam sistem pendidikan formal. Ini dapat dilihat dari metode penilaian pada sekolah- sekolah di negeri kita dewasa ini yang sangat mengedepankan kesempurnaan aspek kognitif.


Jika anak memiliki salah satu saja dari 3 aspek di atas maka sudah cukup anak bisa dikatakan excellent.

Maka tugas orangtua adalah mencari tahu dimana keunggulan anak lalu menguatkan dan mengembangkannya.


PR ummi dalam tantangan ini adalah menemukan kelebihan a Hamzah, apa yang membuatnya berbinar-binar dalam mengerjakannya. Mumpung hari ini 17 Agustus, ummi mencoba explore potensi anak-anak dengan lomba yang mereka ikuti.


Pertama, a Afnan mengikuti lomba makan puding. Tahun lalu ia tidak mau makan sama sekali. Bagaimana dengan tahun ini?

"Afnan, mau ikut lomba makan puding gak?" tanya ummi pada a Afnan. Tahun lalu ia ikut lomba karena dipanggil namanya dan ummi agak memaksanya, jadi mungkin ia belum siap. Tahun ini ummi menyerahkan keputusan padanya.

"Mau.." jawab afnan pelan. Ia masih kelihatan malu-malu berbicara di tengah keramaian.

Ummi pastikan sekali lagi. "Afnan mau ikut lomba makan puding beneran?"

a Afnan mengangguk. "Mau..."

Oke. Jadi ummi mengajaknya memasuki arena perlombaan.

"Nanti pudingnya dimakan sendiri ya..sampai habis," ujar ummi mengarahkan.

1...2....3! lomba dimulai.

A Afnan memulai suapan pertamanya.Ia mengunyahnya pelan sekali sambil memperhatikan keramaian orang-orang disekitarnya yang berseru-seru menyemangati para peserta lomba.

"Ayo, cepetan ngunyahnya. Terus makan lagi..." kata ummi memandu.

Rupanya pendamping boleh bantu menyuapi. Jadi ummi mulai menyuapinya. Selesai dua suapan, a Afnan belum membuka mulutnya. Rupanya ia sudah tidak berminat. Jadi ummi menggiringnya keluar dari arena perlombaan.

Dari sini ummi menyimpulkan, Afnan tidak berbinar-binar mengikuti lomba di tengah keramaian. Ia belum bisa menunjukkan potensi dirinya di hadapan banyak orang. Namun, Afnan unggul dalam aspek psikomotorik karena bisa menyuap pudingnya sendiri.



Bagaimana dengan a Hamzah?

"Mi, hamzah mau ikut lomba," katanya menawarkan diri.

"Aa mau ikut lomba bendera?" tanya ummi memastikan.

"He-eh," katanya sambil mengangguk mantap.



Oke. Saat anak menunjukkan inisiatif positifnya maka ummi wajib mendukung dan mengapresiasinya.

Saat namanya dipanggil, ummi mengajak a Hamzah bersiap pada lintasan yang sudah ditentukan.


"Nanti benderanya masukin satu-satu ke dalam botol ya. Ambil satu masukin ke botol terus balik lagi. Masukin sampai habis ya.." ujar ummi mengarahkan.


Sebelum lomba dimulai panitia memberi arahan persis seperti arahan ummi.

Siap? satu...dua...tiga!

A Hamzah berlari cepat-cepat memegang satu bendera. Sampai diujung ia memasukkannya ke dalam botol lalu berbalik. Ummi menyemangatinya untuk segera lari ketitik awal untuk mengambil bendera.

A Hamzah baru lari setelah melihat teman-temannya sudah berbalik berlari mengambil bendera. Wajahnya terlihat tegang dan berusaha lari secepat-cepatnya. Sampai di tumpukan bendera ia mengambil satu bendera, lalu berbalik dan melihat teman-temannya. Ummi menyemangati untuk segera lari memasukkan benderanya ke botol.

A Hamzah baru lari berusaha mengejar teman-temannya setelah melihat mereka sudah berlari di depannya. Setelah memasukkan bendera ke dalam botol a Hamzah berbalik dan berdiri mematung. Ia kebingungan mendengar arahan panitia dan penonton yang menyemangati peserta untuk memasukkan benderanya sampai habis dan berlari cepat-cepat. Ia tampak bengong dan bingung. Ummi berseru menyuruhnya segera kembali mengambil bendera.

A Hamzah bergerak dengan ragu. Akhirnya ia berhenti di tengah arena kebingungan antara melihat teman-temannya yang masih bolak-balik memasukkan bendera dan seruan di sekitarnya. Ia mengira waktunya sudah habis jadi ia berhenti. Sampai akhirnya waktu benar-benar habis ia berjalan pelan menghampiri ummi di titik awal. Ia terlihat kebingungan. Entah apa yang terjadi. Sepertinya ia tertekan atas seru-seruan di sekitarnya. Ia tidak bisa fokus pada misinya memasukkan bendera ke dalam botol sampai selesai.

Sampai di sini ummi dapat melihat a Hamzah unggul pada kemampuan psikomotorik. Namun kemampuan kognitifnya terganggu saat ia kesulitan mengatur kemampuan afektifnya.
  
Kalau dipikir-pikir a Afnan juga demikian. Ia tidak bisa fokus saat di tengah keramaian. Berarti PR ummi adalah melatih kemampuan kognitif saat digunakan bersamaan dengan kemampuan afektif.

Setelah pulang kerumah ummi menceritakan kejadian tadi kepada abi. Ummi takut a Hamzah belum siap ikut lomba di sekolahnya hari Senin nanti.

"Ya sudah, kita bikin perlombaan di rumah," ujar abi.

Benar juga. Sepertinya anak-anak ummi perlu latihan lomba di rumah agar siap mental saat berada dalam arena perlombaan sebenarnya.

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Friday, August 11, 2017

Aliran Rasa Math Around Us

Saya baru menyadari, sebenarnya dalam kehidupan kita sehari-hari kita pasti akan selalu berhubungan dengan matematika. Matematika tidak selalu tentang berhitung, bisa juga mengukur, dan bermain logika.

Teringat beberapa hari yang lalu saat saya bermain bersama anak setelah pulang dari kantor. Modal saya hanya dua buah boneka tangan: boneka gajah dan kucing (yang saya jadikan tokoh harimau).

"Ummi punya dua boneka nih. Ayo kita ceritaaa!"

Seperti biasa anak-anak antusias menyambutnya.

"Ayo ceritain mi! ceritain mi!"

"Halo saya harimau."
"Halo saya gajah."
"Gajah, gajah, yuk lomba lari sama aku!"
"Hayuk!"

"Gajah dan harimau lomba lari. Wuzz... tebak, siapa yang menang?" tanya ummi.

"Harimau!" sahut a Hamzah.

"Kenapa harimau yang menang?"

"Soal harimau larinya cepet."

"Kalau gajah?"

"Gajah badannya besar, jadi larinya lama."

"Iya benar... harimau bisa lari cepat soalnya badannya kecil. Kalau gajah badannya besar jadi susah larinya, jadi lambat.." jelas ummi.

"Nah sekarang gajah yang mengajak harimau lomba."

"Harimau, yuk lomba ambil buah sama aku!"
"Hayuuk!"

"Hup, hup, hup. Buahnya ada di pohon yang tinggi. Siapa yang berhasil mengambil buahnya duluan?" tanya ummi.

"Gajah!" sahut a Hamzah.

"Kenapa gajah yang menang?"

"Soalnya ada belalainya buat ngambil buah.."

"Iya benar... gajah punya belalai yang panjaang jadi bisa ngambil buah dari pohon yang tinggi."
"Kesimpulannya apa a?"

A Hamzah nyengir.

"Jadi semua binatang, tumbuhan, manusia..punya kelebihan masing-masing. Gajah punya belalai panjang. Harimau bisa lari cepat. A Hamzah juga pasti punya kelebihan. Aa pinter apa?"

"Um.."

"Aa pinter mewarnai gambar. Pinter ngomong.."

A hamzah nyengir lagi tertawa.

"Klo Afnan pinter apa?" tanya ummi pada a Afnan.

Afnan cuma senyum-senyum.

"Afnan pinter main."

Semuanya tertawa.

Kegiatan seperti ini saja, mungkin tidak sampai satu jam tapi sangat berkesan. Karena kami bisa bermain, bercerita, dan tertawa bersama. Tanpa sadar pun kami sedang belajar bermain logika dan akhlak. Suatu saat jika anak-anak merasa kurang percaya diri, saya bisa mengingatkannya dengan cerita ini.

Ya, sebenarnya dalam kegiatan sehari-hari kita bisa belajar bersama anak. Apapun kegiatannya. Jadikan itu momen untuk belajar. Maka yang dimaksud Home Education bukanlah sekolah di rumah, melainkan mendidik anak di rumah. Tidak harus full time di rumah. Setiap orang tua bisa mendidik anaknya di rumah saat ia bertemu anaknya. Maka komunikasi dan interaksi bersama anak di rumah itu sangat penting. Kuantitas waktu yang terbatas bisa dioptimalkan dengan kegiatan bersama anak yang efektif.

Saya baru menyadari, mungkin hanya sekitar 3 jam saja saya bisa bertemu anak dalam keadaan terjaga di hari kerja setiap harinya. Tapi saat saya bisa mengoptimalkan waktu bersama anak-anak dan menuliskannya. Saya merasa waktu saya tidak sia-sia. Saya bisa memantau dan melihat kembali perkembangan anak dari blog saya. Saya juga bisa mencari inspirasi dan kegiatan baru dengan mereview kegiatan sebelumnya.

Orang tua zaman dulu mungkin tidak mengenal istilah Home Education atau Home Schooling. Namun, banyak anak yang dahulu suka ke sawah, memandikan kerbau, mencuci piring, atau pun memandikan adik-adiknya menjadi anak yang cerdas dan sukses. Karena mereka belajar dari kehidupan. Orang tuanya mengajari mereka belajar menjalani hidup. Orang tuanya telah mendidik mereka di rumah, bahkan tanpa mereka sadari. Mereka telah mengajarkan nilai-nilai pendidikan dari rumah mereka. Sebelum ada istilah HE atau HS.

Tantangan level 6 ini menyadarkan saya untuk cerdas mengoptimalkan waktu yang terbatas bersama anak-anak saya. Untuk mengajari mereka nilai-nilai kehidupan dari rumah sendiri.

Thursday, August 3, 2017

Portofolio Math Around Us Day #12

Alhamdulillah...a Hamzah sudah sembuh. Kakung cerita kata dokter a Hamzah terkena masalah pencernaan, makannya tidak boleh telat, badannya terlalu kurus. Ummi langsung memandang a Hamzah. Memang kurus si..tapi pas ummi anak-anak dan sampai sekarang juga begitu. Kali ini ummi masih berpegangan sama pendapat dr. Apin bahwa kurus tidaknya anak tidak bisa hanya dilihat dari berat badannya tetapi juga genetikanya. Kalau orangtuanya kurus seperti abi-ummi karakter badan anak-anaknya ya mengikuti. Hanya saja ummi masih punya PR untuk menjaga asupan zat besi anak-anak karena a Afnan pernah mengalami defesiensi zat besi saat ummi menjelang HPL Aisha. Sampai Aisha lahir pun masih perawatan dengan meminum cairan merah seperti darah untuk asupan zat besinya. Kapan-kapan ummi akan cerita lebih lengkap soal defesiensi zat besi ya...

Melihat a Hamzah sudah lebih segar, ummi menawarinya makan lagi.

"Aa tadi udah makan mi.."

"Beneran? jam berapa?"

"Gak tau..tadi pas ummi masih kerja.."

"Itu makan siang kali..."

"Enggak tadi udah malam sebelum ummi pulang.."

Ummi masih ragu jadi ummi tetap menyiapkan makan malamnya.

"Mi, susu..." pinta a Afnan merayu.

"Nanti ya kalau mau tidur.." jawab ummi. "Makan yuk! Ummi punya ikan nih..siapa yang mau makan ikan?"

"Nan mauu!" seru a Afnan.

Ummi segera ke dapur menyiapkan makan malam nasi dan ikan goreng. Ummi menyuapi anak-anak bergantian.

"Pakai ini mii!" seru a Afnan sambil membawa-bawa botol kecap dari meja dapur. Ummi segera menuangkan kecap ke atas nasi dan ikan sebelum menyuapkannya ke a Afnan.

Selesai makan, ummi ingat tadi a Hamzah masih belum bisa memperkirakan jam. Ia belum terbiasa membaca jam untuk melihat waktu. Jadi ummi perlu mengingatkannya lagi cara membaca jam.

"Sekarang jam berapa a?"

"Sepuluh!" serunya.

"Jarum pendeknya di angka berapa?"

"Sepuluh!"

"Jarum panjangnya di angka berapa?"

"Enam!"

"Jadi jam berapa?"

"Jam sepuluh!"

Ummi tersenyum. "Coba lihat lagi jarum pendeknya di angka berapa? belum ke angka sepuluh kan? jarum pendeknya ada di antara angka sembilan dan sepuluh. Kalau sebelum ke angka sepuluh berarti jam sepuluh kurang. Setelah angka sepuluh berarti jam sepuluh lewat. Sekarang berarti jam sepuluh kurang," jelas ummi.

"Kurang berapa? jarum panjangnya di angka berapa?"

"Udah mau angka tujuh mi," jawab a Hamzah.

"Iya, berarti ini jam setengah sepuluh."

Ummi jadi bingung bagaimana biar ia paham jam setengah sepuluh. Sebenarnya ummi sudah jelaskan waktu baca buku Senang Bermain Jam. Tapi sepertinya ia belum hapal. Karena sudah malam ummi memutuskan bermain yang lain saja. Mungkin besok belajar lagi sambil membaca bukunya.

"Beli...beli..siap mau beli?" seru a Afnan berkeliling membawa mainan. Rupanya a Afnan sedang main jual-jualan. Jadi inget waktu kecil ummi juga senang main itu.

"Aisha beli a!" ujar ummi. "Harganya berapa?"

"Umm.."

"Dua ribu! eh dua puluh ribu aja," sahut a Hamzah.

"Jadi harganya berapa a?" tanya ummi pada a Afnan.

"Dua uwuh ibu," jawabnya.

"Ini ummi kasih yang lima puluh ribu. Jadi kembalinya berapa?"

A Afnan kebingungan.

"Berapa a?" tanya ummi menatap a Hamzah. "Coba dihitung jarinya lima dikurang dua berapa?"

"Tiga mi!" seru a Hamzah setelah melipat dua dari lima jari tangannya.

"Uang ummi lima puluh ribu dikurangi harganya dua puluh ribu jadi kembali berapa?"

"Tiga!"

"Tiga puluh ri...?"

"Tiga puluh ribu," jawab a Hamzah.

"Kembali tiga puluh ribu nan..." ujar ummi pada a Afnan. A Afnan segera mengangsurkan kembalian imajinernya. Haha kami memang sedang bermain pura-pura. Jadi uangnya hanya imajiner :D

Seru kan bermain sambil belajar matematika.. tidak terasa waktu yang hanya sedikit sekitar 30 menit saja anak-anak bisa bermain bersama ummi sambil belajar membaca jam, konsep pengurangan, dan konsep jual-beli.

Sesungguhnya waktu yang ada memang sedikit. Tapi waktu yang sedikit akan lebih efektif jika dimanfaatkan dengan optimal. Alhamdulillah.. ^_^










Wednesday, August 2, 2017

Portofolio Math Around Us Day #11

Ini adalah hari-hari bonus selama ummi masih rajin nulis. Semalam ummi dan anak-anak tidak banyak berkegiatan. A Hamzah lagi sakit, kata gurunya di sekolah sempat muntah. Badannya memang masih demam. Ia juga mengeluh pusing. Sepertinya masuk angin.

Kata kakung seharian susah masuk makanan dan minuman. Bekal burgernya pun utuh. Jadi ummi menawari lagi untuk disuapin makan burger. Burger sudah ummi hangatkan ummi coba menyuapinya sedikit-sedikit.

"Gak enak dagingnya mi..." katanya sambil mengunyah potongan burger.

"Yasudah roti sama kejunya aja ya..." bujuk ummi. Setelah suapan kedua a Hamzah sudah gak mau makan lagi. Jadi ummi memberinya minum saja. Minimal mesti banyak minum agar tidak dehidrasi.

Selesai minum a Hamzah tiduran lagi. Kenapa ya tiap anak sakit tiba-tiba langsung keliatan kurus banget..mungkin karena keliatan lemes, mata cekung, jadi tambah ngenes.

A Hamzah sudah tertidur, ummi baru meninggalkannya untuk menyiapkan makan malam buat abi. Sementara abi makan malam dan ummi menghabiskan burger a Hamzah, a Afnan dan Aisha sudah minta susu. Untungnya mereka tidak tertidur jadi masih bisa main sebentar.

"A Afnan ayo kita main blok!" ajak ummi setelah anak-anak selesai minum susu.

Saat ummi menyuapi a Hamzah tadi a Afnan sedang asyik main blok. Ia sempat membuat sesuatu, jadi ummi mengajaknya main blok lagi. Tentu saja Aisha tidak mau ketinggalan. Apalagi bloknya warna-warni. Sangat menarik baginya.

"Nah, sekarang coba kumpulin warna-warna yang sama a," pandu ummi setelah mencampur blok yang berwarna-warni dan berbeda-beda panjangnya. "Coba kumpulkan warna hijau!"

A Afnan terlihat mencari-cari. Entah kenapa ia tidak bisa melihat blok yang warnanya hijau padahal ada di dekatnya. Sepertinya ia belum menghapal warna yang dia cari. Jadi ummi memberikan sebuah blok hijau ke tangannya. Ummi pandu tangannya disandingkan ke berbagai blok yang ada di depannya.

"Ini sama gak?" tanya ummi saat blok ditangannya sampai di blok warna kuning.

"Enggak."

"Ini sama gak?" tanya ummi saat blok ditangannya sampai di blok warna pink.

"Enggak."

"Ini sama gak?" tanya ummi saat blok ditangannya sampai di blok warna hijau.

"Ama! ama!" serunya senang. Ia langsung mengambilnya. Ummi pisahkan blok hijau ke samping badannya untuk dikumpulkan bersama blok hijau lainnya.

Begitu terus ummi pandu a Afnan mengumpulkan blok sesuai warnanya. Kadang ia masih salah memilih warna yang sama jadi ummi sandingkan bloknya supaya ia bisa benar-benar membedakannya.


Kegiatan ini sangat sederhana, tapi anak-anak jadi belajar untuk mengenal warna dan mengklasifikasikan benda sesuai persamaannya. Motorik dan logika. Asyik sekali bermain matematika :)






Tuesday, August 1, 2017

Portofolio Math Around Us Day #10

Horee alhamdulillah kita sampai pada hari ke-10! Ummi senang sekali karena dari 6 tantangan baru berhasil selesai 1 tantangan saja yang bisa posting sampai hari ke-10. Semoga tantangan berikutnya ummi bisa lulus juga ya...

Untuk merayakannya ummi akan memberikan kegiatan spesial untuk anak-anak yaitu menimbang. Iyaa..anak-anak sebenarnya sudah lama sekali kepo sama timbangan makanan punya eyang yang ada di rumah. Sebenarnya kegiatan ini ingin dilakukan saat praktek membuat cupcake sabtu lalu tapi batal karena anak-anak kerumah eyang.

Sebagai pemanasan sebelum membuat cupcake ummi akan mengajarkan cara menimbang dan membaca timbangan. Tapii...rupanya anak-anak masih asyik main bola dan kuda-kudaan bersama abi. Jadi ummi tunggu sembari makan malam dahulu.

Sekitar 15 menit kemudian abi mulai lelah dan lapar, jadi permainan dihentikan. Anak-anak malah kembali mengeluarkan buku yang sebelum bermain sudah mereka baca-baca sendiri. Yasudah ummi ikuti keinginan mereka dulu sembari tetap menyelipkan pelajaran.

Kali ini kami membaca buku truk-truk raksasa, mesin-mesin raksana, dan kereta-kereta raksasa. Buku hardcover ini sangat unik karena ada halaman lipat sehingga bisa memuat gambar kendaraan raksasa. Ada 4 halaman buku full bergambar kendaraan-kendaraan raksasa. Gambarnya cukup detil sehingga anak-anak bisa melihat bagian-bagian kendaraan dengan jelas.

Kami sampai pada halaman bergambar sebuah kereta raksasa.

"A afnan ini warna apa?" tanya ummi ingin mengetes kembali hapalan warna a Afnan.

"Ijo!" serunya.

"Salah...ini biru..." ralat ummi.

"Mi lihat nih!" seru a Afnan sambil menunjukkan jarinya ke sebuah gambar. Rupanya gambar seekor burung yang terbang di sekitar kereta. "Satu-dua-tiga..." ucapnya tanpa disuruh.

Kesempatan a Afnan untuk mengulang hapalan angka 1 sampai 10.

"Burungnya ada berapa a?" tanya ummi.
A Afnan mulai menghitung lagi.

"Satu-dua-tiga..." jarinya menunjuk lebih cepat daripada angka yang ia ucapkan, hehe

Ummipun membimbingnya menghitung pelan-pelan sambil memegang jarinya supaya menunjuknya juga pelan-pelan.

"Satu...dua...tiga...empat...lima..."

A Afnan masih belum lancar benar jadi mesti sering diulang soal angka ini.

Saat membahas gambar truk-truk raksasa, ada truk pengangkut mobil yang sedang mengangkut mobil warna-warni. Ini kesempatan lagi untuk belajar warna. Tiap ada gambar warna-warni ummi selalu menanyakan dan mengulang-ulangnya supaya a Afnan hapal. Dari hasil belajar malam ini sepertinya a Afnan baru hafal warna hijau dan kuning. Lainnya menebak-nebak saja :D

Setelah membaca buku, Aisha mulai rewel karena mengantuk. Ummi berusaha membujuknya dengan memberikan susu. Setelah Aisha tenang, ummi mulai agenda berikutnya.

"Siapa yang mau belajar menimbang?" tanya ummi berseru.

"Saya!" seru a Hamzah dan a Afnan.

Ummi langsung mengambil timbangan tepung dan membawanya ke lantai tempat kami belajar. Tentu saja anak-anak rebutan untuk memegang dan bereksperimen. Belum apa-apa sudah ada buku di mangkuk timbangan :D

"Sebentar...ummi jelasi dulu ya... lihat nih a. kalau nimbang jarumnya harus di angka nol," jelas ummi sambil memiringkan timbangan supaya terlihat jarum pengukur. Baru saja ummi membereskan mangkuk ke atas timbangan, anak-anak sudah meletakkan beberapa buku. Ummi mengeluarkan dari mangkuk dan meletakkannya satu-satu.

"Buku ini beratnya berapa a?" tanya ummi setelah meletakkan satu buah buku odong-odong dongeng di dalam mangkuk timbangan.

A Hamzah terlihat bingung karena bilangan yang tertera terdiri dari tiga angka. Ummi bantu mengejanya.

"Dua...lima...kosong.." pandu ummi. "Bacanya dua ratus lima puluh."

"Dua ratus lima puluh," ulang a Hamzah.

Ummi kemudian menjelaskan kalau semakin ke kanan jarumnya berarti semakin berat.

"Coba kita tambahkan satu buku a," ujar ummi sambil menaruh satu buku diatas buku pertama. "Jadi berapa beratnya?"

"Enam ratus lima puluh. Kalau lebih dari angka lima ratus berarti kira-kira 650." Berhubung a Hamzah belum waktunya masuk ke level membaca timbangan sampai detil jadi ummi hanya membahas sampai sini saja.

"Coba kita tambahkan lagi." Anak-anak langsung berebutan nyari barang-barang yang lainnya. Ada buku, tempat pensil, toples, dll.

"Nah, semakin kekanan semakin berat ya a.." jelas ummi. A Hamzah mengangguk sambil nyengir. Semoga dia mengerti.

"Klo yang angkanya besar ini berapa a?" tanya ummi menunjuk angka satu besar yang warna hitamnya lebih tebal daripada bilangan yang terdiri dari tiga angka.

"Satu," jawabnya.

"Iya ini satu kilogram, kalau yang angka besar ini 1 kilogram, 2 kilogram," jelas ummi.

Sekarang saatnya mengetes kemampuan mengidentifikasi berat-ringan dan besar-kecil. Ummi lalu mengambil boardbook odong-odong dongeng dengan buku truk-truk raksasa.

"Lebih berat yang mana bukunya a?"
"Lebih besar yang mana bukunya?"

Sejauh ini a Hamzah sudah bisa membedakan berat-ringan dan besar-kecil dengan benar. Berarti saatnya menaikkan level.

Semangat belajar ya anak-anak ummi! ^_^