Saya akui sejak dulu kala saya memang tidak pandai berkomunikasi. Saya lebih suka komunikasi via tulisan karena bisa membuat saya bisa berpikir panjang dan memilih kata dengan baik. Berbeda dengan komunikasi lisan. Itu sebabnya saya lebih cenderung diam, tidak banyak berbicara, tidak terlalu suka ngobrol, kesulitan berbicara di depan umum, dan kesulitan untuk memulai pembicaraan lebih dulu. Itu sebabnya banyak orang bilang saya pendiam, penyendiri, dan kuper. Saya tidak banyak memiliki teman akrab, tapi sebenarnya kalau sudah cocok sama teman saya bisa banyak bicara dan mungkin kebablasan sampai hal privacy. Mungkin juga ini masalah kepercayaan. Saya baru bisa banyak dan santai bicara sama orang-orang yang satu frekuensi dan saya percaya.
Fyuh, kekurangan komunikasi lisan ini cukup mencemaskan saya saat akan menikah. Saya takut tidak bisa berkomunikasi dengan suami saya dan membuatnya tidak nyaman. Alhamdulillah suami saya cukup pandai memancing saya bicara. Sampai-sampai beliau bilang saat baru menikah dulu saya pendiam sekali. Tidak bicara kalau tidak dipancing. Duh.
Saat memasuki kelas bunda sayang "Komunikasi Produktif" saya sangat tertarik. Karena ini lah jawaban atas masalah saya selama ini. Setelah mempelajari dengan cermat materinya ternyata banyak sekali yang harus saya perbaiki.
1. Komunikasi dengan pasangan (dan orang dewasa secara umum)
Saya harus mengasah keterampilan saya dalam memilih kata-kata sehingga suami saya tidak salah tangkap. Bila berpotensi salah paham, segera konfirmasi agar informasi yang diterima suami saya sama dengan yang saya maksud (Clear and Clarify). Berhubung komunikasi lisan tidak memberi banyak waktu berpikir saya agak kesulitan memilih kata, solusinya saya mesti sabar dalam berbicara. Berpikir sebelum bicara. Diam sejenak menyusun kata-kata yang tepat.
Kesabaran dalam berbicara lisan juga sangat membantu untuk menyampaikan pembicaraan di waktu yang tepat (choose the right time). Seringkali begitu ketemu suami saya langsung pengen nyerocos ini-itu tanpa pikir panjang, tidak terlalu memikirkan kata-katanya, suasana hati pasangan, dan kondisi sekitar. Sekarang saya berusaha menyampaikan pendapat terutama kritikan saat suasana santai. Prinsipnya waktu-waktu kritis adalah saat menjelang berangkat ke kantor dan perjalanan pulang kantor. Suasana hati suami sedang tegang ngejar absen pagi dan capek saat pulang kantor. Terlarang untuk ditambahi perdebatan dan kritikan.
Level yang lebih sulit lagi adalah menggunakan gesture yang sesuai saat berkomunikasi dengan pasangan. Soalnya saya bukan dari keluarga yang santai dan hangat jadi perilaku saya cenderung kaku. Padahal dalam komunikasi ini yang paling berkesan bagi penerima informasi adalah bahasa tubuh (55%), intonasi suara (38%), baru terakhir pemilihan kata (7%). Padahal memilih kata saja sudah sulit buat saya tapi ternyata hanya berpengaruh 7%. Awal menikah dulu suami sempat kaget sama intonasi suara saya ala anak jakarta yang terkesan keras dan kasar pun terhadap orang tua. Sangat berbeda dengan budaya komunikasi di keluarganya ala sunda yang lembut dan santun. Saya diberi PR menurunkan intonasi suara dan sampai saat ini masih belajar minimal menyesuaikan saat bicara dengan suami dan keluarganya. Karakter didikan dari kecil memang tidak bisa instan diubah harus konsisten latihan...dan akhirnya saya sampai pada tantangan gesture yang juga bawaan karakter dari keluarga saya. Sungguh penuh perjuangan menjadi istri dan ibu yang lemah lembut karena bukan karakter yang diajarkan orang tua saya selama 22 tahun sebelum menikah.
Tantangan berikutnya adalah intensity of eye contact. Sifat cenderung cuek membuat saya terbiasa bicara sambil lalu, disambi ini itu apalagi setelah ada anak. Perhatian saya terpecah saat berbicara dengan suami, disambi ngurus anak, beberes rumah, menyusui bayi, dan paling menyebalkan adalah gadget. Kami sama-sama exist di sosial media sehingga saat berkumpul pulang kerja pasti ngobrol-ngobrolnya sambil mantengin gadget, apalagi kalau anak sudah tidur. Hiks. Sepertinya memang harus menyediakan waktu khusus berdua buat pacaran tanpa gadget deh...
Dari keempat kaidah komunikasi dengan pasangan tadi, efek atau respon dari pasangan adalah tanggung jawab saya. Karena saya yang memberi pesan dengan kata-kata, intonasi suara, waktu, dan bahasa tubuh yang saya pilih sehingga pengaruhnya terhadap pasangan adalah tanggung jawab saya. Ini yang harus saya ingat agar tidak baper jika respon suami ternyata tidak seperti yang saya harapkan. Kalau ada kesalahpahaman itu pasti kesalahan saya dalam pemilihan keempat faktor tadi. I'm responsible for my communication results.
2. Komunikasi dengan anak
Awal mempunyai anak pertama dulu saya berusaha mencapai impian menjadi ibu yang lemah lembut nan penyayang. Namun ternyata memang sulit mengubah karakter dari lahir. Kadang saya masih sulit mengendalikan emosi kepada anak, apalagi saat ada masalah lain. Saya sadar saya salah, tapi mood saya sedang buruk sehingga tidak bisa berlemah lembut menghadapi anak. Hampir sama dengan komunikasi dengan pasangan di kelas bunda sayang ini banyak evaluasi yang saya lakukan.
Pertama, saya mesti menggunakan satu kalimat kerja sederhana (Keep Information Short and Simple). Alhamdulillah yang ini memang sudah menjadi kebiasaan saya. Karena saya tipe yang tidak banyak bicara jadi jarang sekali bicara nyerocos gak berhenti tanpa titik koma. Biasanya saya bicara ke anak dengan satu kalimat kerja sederhana sehingga mereka langsung paham.
PR saya sama seperti komunikasi dengan pasangan yakni berusaha mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah. Dalam kondisi normal saya berusaha keras mempraktekkan ini, karena anak saya terbiasa bicara dengan intonasi tinggi dan teriak-teriak. Saya berusaha memberi teladan dan memintanya bicara baik-baik dan pelan-pelan. Sayangnya saya masih kehilangan kendali jika sedang ada masalah lain. Daripada bicara saya tidak terkontrol lebih baik saya diam.
Kebiasaan selanjutnya yang mesti saya ubah adalah menekankan hal negatif. Lagi-lagi ini karakter bawaan pengasuhan orang tua saya. Bukan tidak boleh menggunakan kata tidak melainkan menekankan kalimat positifnya lebih dulu. Yakni dengan mengatakan apa yang saya inginkan bukan yang saya tidak inginkan.
Saat menasehati juga banyak yang harus saya ubah. Biasanya saya akan mengorek semua kesalahannya di masa lalu agar ia menyadari kesalahannya. Padahal saya sendiri tidak suka ada orang yang mengungkit-ungkit kesalahan saya di masa lalu. Lebih baik jika saya mengungkit kebaikan dan prestasi anak di masa lalu untuk dipertahankan dan ditingkatkan di masa yang akan datang (fokus ke depan bukan masa lalu). Jika ingin memberikan analogi maka berikan refleksi saya di masa lalu saat seusianya sehingga ia tidak merasa dihakimi. Setelah itu saya juga harus fokus memberikan solusi bukan masalah yang menambah beban mentalnya.
Saat anak belajar sesuatu saya harus menyemangati dengan kata-kata positif bahwa ia insyaAllah BISA. Jika berhasil saya memberikan pujian dengan jelas, detil apa yang membuatnya berhasil bukan sekedar pujian kamu pintar atau hebat. Begitu juga saat menyampaikan kritikan.
Saya juga harus belajar memahami emosi anak, berempati pada perasaannya saat ia marah, sedih, ataupun senang. Hal ini akan memudahkan saya menelisik privasinya. Ia akan mudah bercerita jika saya mengobservasi dengan didahului empati. Sama seperti pada pasangan, saya harus berbicara di waktu yang tepat. Bukan memberondongnya dengan rasa ingin tahu saya saat pulang sekolah. Bagaimanapun juga anak adalah orang dewasa yang sedang tumbuh, ia memiliki otak dan perasaan seperti saya. Maka cara terbaik untuk memerintahnya adalah dengan menghargai pilihannya. Memberikan ia pilihan dengan segala konsekuensinya dan mengarahkannya untuk mengambil pilihan yang baik. Namun, ada kalanya saya membiarkan ia memilih sesuai keinginannya agar ia belajar konsekuensi atas pilihannya.
MasyaAllah ya Kelas Bunda Sayang "Komunikasi Produktif" ini begitu kaya ilmu yang harus saya pelajari dan praktekkan. Alhamdulillah.
Tulisan ini disertakan pada tugas Martikulasi IIP Kelas Bunda Sayang tuliskan aliran rasa.
