Monday, November 28, 2016

Ibu Profesional Peran Ganda


Peran Ganda

Terkadang saya masih bertanya-tanya, mana yang lebih prioritas, rumah atau kantor? Nurani saya tentu berteriak tegas : RUMAH! Sayangnya, realita kadang tidak bersinergi dengan nurani.

Ketika saya ke kantor saya patuhi semua aturan kantor. Mulai dari memakai pakaian, absen datang dan pulang, menyelesaikan deadline pekerjaan, sampai izin tidak masuk/cuti semuanya sesuai aturan kantor. Bagaimana dengan di rumah? Saya memakai pakaian, bangun dan mulai tidur, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, sampai istirahat, dan berlibur semuanya sesuka saya. Tidak ada aturan resmi. Saya bebas menentukan aturannya sesuai kesepakatan dengan suami dan tergantung dengan situasi dan kondisi. Rasanya santai dan nyaman.

Lalu, apakah dengan begitu berarti saya tidak profesional menjalani peran saya di ranah domestik?

Belajar Profesional

Saat ini saya sadar bahwa saya sedang menjalani dua peran sebagai ibu: Ibu Domestik dan Ibu Publik. Sebagai Ibu domestik saya menjalani peran saya sebagai istri dan ibu anak-anak saya. Sedangkan sebagai Ibu Publik saya menjalani peran saya sebagai PNS. Saya mencoba menyeimbangkan keduanya namun saya akui sebagai manusia biasa saya tidak bisa seadil Rasulullah. Saya berusaha menempatkan peran Ibu Domestik sebagai prioritas pertama, namun kadang ternyata saya lebih mengutamakan peran Ibu Publik. Nyatanya manusia sebenarnya tidak bisa benar-benar multitasking dengan sempurna. Pastilah ada yang lebih diutamakan sehingga yang lain dikorbankan. Semua tergantung situasi dan kondisi. Setidaknya itulah yang saya alami.

Semenjak mengikuti program martikulasi Ibu Profesional saya makin sadar, sepertinya saya memang kurang profesional menjalani kedua peran saya. Namun saya berusaha memperbaiki apa yang masih kurang profesional. Setidaknya ada dua hal yang harus saya perbaiki dalam waktu dekat, manajemen prioritas dan waktu.

Manajemen Prioritas
Dalam manajemen prioritas saya mencoba membuat kesepakatan dengan suami untuk menentukan prioritas untuk saya antara diri sendiri, anak, suami atau pekerjaan rumah tangga. Ternyata suami saya menjawab semua tergantung situasi dan kondisi. Jadi tidak ada urutan yang pasti antara keempatnya. Kalau diingat-ingat lagi memang kami berdua sama-sama tipe yang berusaha menyesuaikan diri sesuai situasi dan kondisi secara alamiah. Alhamdulillah saya dan suami sama-sama berperan di ranah publik jadi kebanyakan peran domestik kami dilakukan dengan kerja sama. Suatu saat saya bisa saja mengutamakan diri sendiri saat suami saya bisa membantu mengurus anak atau mengutamakan anak saat suami bisa mengurus rumah, dan sebagainya. Maka saya menempatkan keempat elemen ini sebagai satu prioritas, yakni ranah domestik.

Dengan demikian 3 urutan prioritas saya sebagai berikut:
1. Ranah Ibadah
    Berkaitan tentang semua ibadah baik yang wajib maupun sunnah yang telah melekat pada diri saya sebagai seorang muslim. Prioritas ditentukan sesuai aturan Islam yakni mendahulukan yang wajib terlebih dahulu daripada yang sunnah.

2. Ranah Domestik
    Berkaitan dengan peran saya sebagai istri, ibu, dan anak, yakni pekerjaan yang harus saya lakukan sebagai kebutuhan untuk diri sendiri, suami, anak, rumah tangga, dan keluarga (diluar keluarga inti). Prioritas ditentukan sesuai situasi dan kondisi yang sedang berlangsung.

3. Ranah Publik
   Berkaitan dengan peran saya sebagai PNS yakni pekerjaan yang harus saya lakukan sebagai amanah dari rakyat. Prioritas ditentukan sesuai deadline masing-masing pekerjaan.

Ketiga prioritas inilah yang harus saya utamakan saya lakukan dalam hidup ini karena ketiganya menempati status PALING PENTING dalam hidup saya.

Saya telah menemukan 3 hal yang PALING PENTING dalam hidup saya, lalu apakah ada 3 hal yang PALING TIDAK PENTING dalam hidup saya?

Saya sadari diantara ketiga prioritas di atas kadang ada kegiatan yang saya lakukan terlalu santai. Saya memang bukan tipe disiplin terhadap jadwal jadi tidak memiliki jadwal harian secara detail. Namun secara alami saya telah menempatkan range untuk tiap pekerjaan.

Pekerjaan yang PALING TIDAK PENTING dalam hidup saya:
1. Browsing internet terlalu lama dan merambah kemana-mana di luar tujuan awal
2. Mengobrol hal-hal yang tidak terlalu penting dengan waktu yang terlalu lama
3. Nonton TV/Film/membaca komik terlalu lama

Sebenarnya ketiga hal diatas adalah me time yang cukup membuat relax di antara pekerjaan yang susul menyusul setiap hari. Namun kadang saya kebablasan sehingga terlalu lama. Untuk menyiasatinya biasanya saya multitasking misalnya menonton TV/film/membaca komik saat memompa ASI.



Manajemen Waktu

Saya pernah mencoba membuat jadwal secara detail namun ternyata memang sulit memenuhi semuanya tepat waktu. Jadi biasanya saya memberi deadline untuk pekerjaan-pekerjaan yang mendesak. Sementara pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya hanya diberi range waktu yang flexibel dipenuhi sesuai range waktu itu. Deadline tiap range waktu sebenarnya fleksibel namun jika saya mempunyai sisa waktu saya bisa mengerjakan pekerjaan lain dengan lebih santai atau menambah pekerjaan lain di luar range waktu yang sedang berjalan.

22.00 - 04.00 Istirahat malam (diselingi dengan shalat malam di antara range waktu ini)
04.00 - 05.00 Ranah ibadah
05.00 - 06.45 Ranah domestik
06.45 - 08.00 Perjalanan ke kantor
08.00 - 17.30 Ranah publik
17.30 - 19.30 Perjalanan pulang kantor
19.30 - 22.00 Ranah domestik

Catatan : 
Di dalam range ranah domestik dan publik saya masih dapat mengerjakan ranah ibadah saya sesuai waktunya

Konsistensi

Saya telah menjalani peran ganda selama 6 tahunan, telah mengecap beberapa pengalaman dalam rangka mensinergikan kedua peran saya. Pada akhirnya yang paling nyaman memang metode range waktu di atas. Saya merasa tidak terbebani dengan jadwal yang terlalu detil dan bisa mendapat reward sisa waktu untuk melakukan pekerjaan lain di luar range atau untuk sekedar leyeh-leyeh.
Sekitar 3 minggu terakhir saya mencoba konsisten terhadap range waktu di atas. Rewardnya adalah saya dan suami tidak telat sama sekali ke kantor selama 2 minggu penuh. Namun minggu berikutnya kami telat 2 hari karena telah melanggar range perjalanan ke kantor. Itu lah konsekuensi sebuah pelanggaran. Saya berharap kami dapat konsisten memenuhi range waktu yang kami buat ini agar kedua peran kami bisa berjalan dengan harmonis.


Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 6 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2

Sunday, November 20, 2016

Caraku Belajar


Hidup adalah madrasah kehidupan. Setiap saat akan ada ujian yang akan meningkatkan level diri kita.

Tanpa sadar setiap fase dan kejadian dalam hidup kita akan membuat kita mengambil pelajaran. Namun mungkin cara kita belajar berbeda-beda.

Sampai titik ini cukup membuat saya berpikir, bagaimana ya cara saya mengambil pelajaran?

Secara teori ada 3  jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses informasi (perceptual modality).

Pengertian Gaya Belajar dan Macam-macam Gaya Belajar

 1.   VISUAL (Visual Learners)

Gaya Belajar Visual (Visual Learners) menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Ada beberapa karakteristik yang khas bagai orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini.Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya, keduamemiliki kepekaan yang kuat terhadap warna,ketiga memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik, keempat memilikikesulitan dalam berdialog secara langsung,kelima terlalu reaktif terhadap suara, keenamsulit mengikuti anjuran secara lisan, ketujuhseringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.
  1. Cenderung melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar
  2. Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi
  3. Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak
  4. Tak suka bicara didepan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.
  5. Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan
  6. Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan
  7. Dapat duduk tenang ditengah situasi yang rebut dan ramai tanpa terganggu
  8.  2.     AUDITORI (Auditory Learners )
Gaya belajar Auditori (Auditory Learners) mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitanmenulis ataupun membaca.
Ciri-ciri gaya belajar Auditori yaitu :
  1. Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang didiskusikan dalam kelompok/ kelas
  2. Pendengar ulung: anak mudah menguasai materi iklan/ lagu di televise/ radio
  3. Cenderung banyak omong
  4. Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
  5. Kurang cakap dalm mengerjakan tugas mengarang/ menulis
  6. Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
  7. Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru dilingkungan sekitarnya, seperti hadirnya  anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll
  8.  
 3.  KINESTETIK (Kinesthetic Learners)
Gaya belajar Kinestetik (Kinesthetic Learners) mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya  ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
Ciri-ciri gaya belajar Kinestetik yaitu :
  1. Menyentuh segala sesuatu yang dijumapinya, termasuk saat belajar
  2. Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak
  3. Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh: saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asyik menggambar
  4. Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar
  5. Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, symbol dan lambing
  6. Menyukai praktek/ percobaan
  7. Menyukai permainan dan aktivitas fisik
Diambil dari
belajarpsikologi.com/macam-macam-gaya-belajar

Membaca teori ini saya baru menyadari bahwa saya tipe pembelajar visual-kinestetik.

  1. Cenderung melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar √
  2. Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi— sebenarnya saya termasuk pendengar yang baik karena tidak pandai bicara jadi lebih senang mendengarkan. Namun memang apa yang saya dengar tidak mudah membuat saya mengingatnya. Saat berkenalan saya lebih mudah mengingat wajah orang daripada namanya.
  3. Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak —ini belum bisa saya defenisikan
  4. Tak suka bicara didepan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.√
  5. Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan— terjawab di no. 2. Namun, kadang saya bisa menghapal lagu jika didengarkan berulang-ulang. Tapi perlu panduan tertulis untuk menghapal teksnya dengan benar
  6. Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan — tepatnya lebih suka praktek seperti dalam lab biologi, fisika atau kimia
  7. Dapat duduk tenang ditengah situasi yang rebut dan ramai tanpa terganggu — yah, orang bilang saya apatis. Bisa cuek dengan keadaan sekitar dan sibuk dengan dunia saya sendiri. Seramai apapun saya bisa fokus dengan kegiatan saya sendiri
  8. Menyentuh segala sesuatu yang dijumapinya, termasuk saat belajar — ya, saya suka sekali praktik daripada teori
  9. Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak — saya tidak suka duduk lama di dalam kelas
  10. Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh: saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asyik menggambar — saya suka menyimak sambil menggambar
  11. Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar — salah satu bagian dari praktek
  12. Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, symbol dan lambing — sebenarnya saya cukup pandai membaca peta
  13. Menyukai praktek/ percobaan√
  14. Menyukai permainan dan aktivitas fisik √

Setelah mengetahui tipe gaya belajar saya, saya bisa membuat grand desain cara belajar saya.

1. Untuk pelajaran bahasa dan hapalan saya bisa menggunakan cara visual. Saya lebih mudah belajar bahasa inggris dari menonton film dengan subtitle english  dan mengubah semua aplikasi dengan bahasa inggris. Untuk hapalan Qur'an saya lebih bisa dengan membacanya daripada mendengarkan murrotalnya.

2. Untuk pelajaran bisnis, berkebun, memasak, dan seni saya lebih mudah paham dan menjadi ahli dengan cara mempraktekkannya.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengambil pelajaran dalam hidup ini. Setiap orang juga memiliki ujian yang berbeda dalam tiap pelajaran. Satu hal yang sama setiap orang perlu melakukan evaluasi tiap selesai ujian agar bisa lulus dan naik ke level berikutnya.



              Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 5 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2

Sunday, November 13, 2016

Final Destination


Untuk Apa Saya Dilahirkan?


Setiap hari dari bangun tidur sampai waktunya tidur kembali kita menjalani rutinitas yang hampir sama. Tanpa sadar semua kita jalani begitu saja karena sudah terbiasa sehingga tanpa rasa. Di sela-sela rutinitas itu kadang saya terdiam, tiba-tiba terbersit pertanyaan, bagaimana kah kehidupan di akherat itu? Lalu saya membayangkan jika saya meninggal saya tidak bisa seperti di dunia ini lagi, tidak bisa bertemu dengan suami dan anak-anak, juga orangtua dan teman-teman. Tidak bisa.... uhh..saya bergidik ngeri. Rasanya tidak sanggup membayangkannya. Nalar saya tidak mampu mencapainya. Menangkap bagaimana rasanya kehidupan setelah mati nanti.

Kesibukan dunia seringkali membuat kita terlupa menyadari untuk apa kita diciptakan? Untuk apa manusia diturunkan ke dunia? Untuk apa ada kehidupan dunia ini?


Membaca kembali firmanNya, kita harus sadar kembali tujuan adanya kita di dunia. Sebagai khalifah dan hamba Allah. Maka apapun yang kita lakukan di dunia ini hendaknya tidak keluar dari kedua tujuan itu.

Kemudian saya merenungkan kembali, untuk apa saya dilahirkan dari seorang wanita seperti ibu saya? Mengapa saya memiliki ayah seperti bapak saya? Mengapa kemudian saya menikah dengan suami saya? Mengapa saya diamanahi ketiga buah hati saya?

Tentulah semua ini bukan kebetulan semata. Ada hikmah dibaliknya. Ada tujuan Allah dibalik takdirNya. Dan tentu saja, ada 2 kewajiban yang harus selalu saya pegang dalam menjalani kehidupan bersama orang-orang yang saya cintai, menjadi khalifah dan menjadi hamba Allah. Maka apapun keputusan dalam hidup ini harus sesuai dengan dua kewajiban itu.


Setiap Peran Dalam Hidup Saya


Pada tulisan saya sebelumnya saya memutuskan untuk menjadi seorang ahli ekonomi syariah. Apakah peran ini dapat membantu saya menunaikan kedua kewajiban saya? Apakah peran ini tidak akan mengganggu peran-peran saya yang lain sebagai anak, istri, ibu, dan masyarakat?

Butuh perenungan mendalam untuk memahami semua ini. Alhamdulillah saya memutuskan untuk tetap menjadi seorang ahli ekonomi syariah. Saya memutuskan untuk tetap fokus mempelajari ilmu ini. Karena sesuai tulisan saya sebelumnya, setiap manusia sejatinya adalah pelaku ekonomi. Maka setiap manusia memerlukan panduan untuk melakukan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan syariah, aturan Islam. Saya ingin membantu tidak hanya orang-orang yang saya cintai namun juga lebih banyak orang lagi, umat islam pada khususnya dan seluruh manusia pada umumnya untuk menerapkan syariah islam dalam setiap kegiatan ekonominya di dunia ini. Cita-cita ini lah yang akan membantu saya menjadi khalifah di muka bumi ini dan tentu menjadi ladang ibadah saya sebagai hambaNya.

Saya yakin, Allah membuat saya sampai di kampus STAN saat rasanya tidak ada harapan untuk melanjutkan kuliah dan Allah membuat saya bekerja sebagai PNS bersamaan dengan peran saya sebagai seorang istri dan ibu pun ada tujuannya. Tugas saya menjadikan cita-cita menjadi ahli ekonomi syariah itu berjalan harmonis dengan cita-cita saya yang lain, menjadi anak, istri, dan ibu shalihah.

Pada tulisan sebelumnya saya telah menuliskan target-target dalam hidup saya dalam menjalani peran saya sebagai seorang istri, ibu, dan diri sendiri. Ternyata belum semua berhasil saya lakukan. InsyaAllah saya akan membuat semacam form mutabaah target agar lebih mudah mengevaluasi.

Dari semua perenungan ini saya merangkum peran hidup saya.
Visi hidup : Masuk surga bersama suami, anak2, orang-tua, dan orang-orang yang saya cintai
Misi hidup : Menjadi khalifah fil 'ard dan hamba Allah
Bidang : Ekonomi Syariah
Peran : Ahli ekonomi syariah


Membeli Surga


Surga itu mahal. Maka tidak sembarang orang bisa membelinya. Saya ingin membeli surga dengan peran saya sebagai ahli ekonomi syariah. Bagaimana caranya?

Jika saya serius ingin membeli surga dengan peran ahli ekonomi syariah, maka saya harus serius mencapai cita-cita hingga saya bisa menjadi ahli ekonomi syariah wanita terbaik di dunia. Saya harus mencapai goal itu. Pertama-tama saya harus membayangkan bagaimana jika saya menjadi ahli ekonomi syariah wanita terbaik di dunia. Saat goal itu terlihat jelas maka saya mulai menetapkan milestone, jalan menuju goal itu.

Apa saja yang harus saya pelajari saat saya ingin menjadi ahli ekonomi syariah bersama peran saya sebagai seorang istri dan ibu?

Bunda Sayang : Mengenalkan anak prinsip ilmu ekonomi syariah sejak dini. Misalnya mengenalkan hukum kepemilikan mana barang milik sendiri dan orang lain dan bagaimana cara memperlakukannya, bagaimana cara meminjam dan mengembalikan barang orang lain, dll

Bunda Cekatan : Mempelajari ilmu makroekonomi syariah yakni prinsip kebijakan pengelolaan keuangan syariah dan mempraktekkannya dalam mengelola keuangan keluarga.

Bunda Produktif : Mempelajari ilmu mikroekonomi, perbankan dan non perbankan syariah yakni seputar investasi, tabungan, jual-beli, perdagangan l, dll lalu menerapkan dalam bisnis jual beli online yang saya lakukan

Bunda Shaleha : Mempelajari ilmu ekonomi syariah, mempraktekkan, dan mengajarkannya kepada orang lain, misal dengan membuat tulisan dan disebarkan di media sosial/blog dan membuat pelatihan-pelatihan.

Lalu, bagaimana milestone saya dalam mencapai goal ahli ekonomi syariah terbaik di dunia?


KM 0 - KM 1 (2016) : Menguasai dasar ekonomi syariah dalam Kuliah Intensive Ekonomi UI d

KM 1 - KM 2 (2017) : Menguasai Pengantar pengantar dan teori makroekonomi dan mikroekonomi syariah dalam Kuliah Manajemen Perbankan Syariah Universitas Terbuka

KM 2 - KM 3 (2018) : Menguasai Akuntansi dan Perbankan Syariah dalam Kuliah Manajemen Perbankan Syariah Universitas Terbuka

KM 3 - KM 4 (2019) : Menguasai Kewirausahaan dan Bisnis Syariah dalam Kuliah Manajemen Perbankan Syariah Universitas Terbuka

KM 4 - KM 5 (2020) : Menyelesaikan Tesis dalam Kuliah Manajemen Perbankan Syariah Universitas Terbuka dan mengadakan pelatihan/seminar ekonomi syariah


Tujuan Akhir


Banyak sekali target-target yang telah saya susun baik untuk menjadi ahli ekonomi syariah terbaik di dunia maupun menjadi anak, istri, ibu, dan diri sholihah. Saya juga telah menyusun target-target itu pada tulisan saya sebelumnya. Namun saya harus selalu sadar bahwa di atas misi-misi hidup sata masih ada visi, goal akhir, yang harus saya capai : masuk surga bersama suami, anak2, orang-tua, dan orang-orang yang saya cintai.


Maka yang harus saya lakukan adalah berusaha mencapai semua misi dan target yang telah saya  susun. Mengatur waktu lebih cermat lagi agar saya bisa melakukan semuanya di sisa jatah umur saya. Inilah hal yang paling sulit, mengatur waktu dan prioritas. Sering sekali saya keteteran karena tidak kekurangan saya mengatur 2 hal itu. Sepertinya saya harus menerapkan prinsip #1hari1kebaikan dan #1hari1perbaikan. Agar setiap hari saya bisa memenuhi lembar mutabaah saya lebih baik lagi. Semoga semua ikhtiar saya bisa memudahkan saya mencapai tujuan akhir : Surga Allah.



Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 4 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2


Sunday, November 6, 2016

Cinta Tanpa Kata


Itulah Cintanya

Ia hadir atas pilihanku, keputusanku, dari hatiku tanpa intervensi sesiapa. Sebelum rasa itu ada entah kenapa aku begitu mempercayainya, begitu mengharapkannya. Tak pernah ada rasa ragu dan pikiran negatif dalam memikirkannya. Meski ia belum mengungkapkan apa kekurangannya, apa kesalahannya, apa yang tidak disukainya. Karena kuyakin semua orang punya kekurangan, kesalahan, dan ketidaksukaan. Namun kita baru benar-benar bisa memahaminya setelah hidup bersamanya. Maka kuputuskan diriku menerimanya dengan berbekal segenggam asa.

Hampir 7 tahun bersamanya, hampir kuketahui semua tentangnya. Kekurangan, kesalahan, dan ketidaksukaannya. Jarang ia menunjukkan rasanya dalam kata. Meski wanita suka dipuja dengan kata. Tapi apa makna kata tanpa laku bijaksana?

Maka aku cukup memahaminya tak membalas kata yang kuucap dengan kata yang sama. Aku memahaminya bukan berarti ia tak memiliki rasa yang sama. Karena ia selalu membalas dengan laku bijaksananya. Karena ia ingin membuktikan bahwa rasa tak cukup hanya dengan kata yang menyenangkan hati saja.

Tak perlu banyak kata. Aku tahu ia mencintaiku tanpa kata.


Generasi Kami Berdua

Hampir 7 tahun bersamanya, seorang putri dan dua pangeran telah menghiasi hidup kami berdua. Pangeran pertama yang begitu banyak energinya, pangeran kedua yang bersahaja, dan putri yang cantik sholihah.

Pangeran pertama banyak menghabiskan waktu bersama eyangnya. Jadilah ia seorang yang pandai bicara dan bersosialita. Namun ia tak bisa berdiam lama mengerjakan satu hal saja. Ia perlu pergi keluar melakukan banyak hal untuk menyalurkan energi dan imajinasinya.

Tak sedikit orang yang mengatakan pangeran pertama anak yang cerdas nan istimewa. Mungkin karena melihat dari pancaran mata dan energinya yang penuh semangat luar biasa. Maka kami mencoba menyalurkannya dengan kegiatan positif yang menghabiskan energinya.

Usia 5 tahun kami kenalkan taekwondo untuk menjaga dirinya dan adik-adiknya. Kami juga melatih fokusnya dengan membaca iqra dan menghapalkan juz amma. Membaca buku cerita dan mengerjakan buku aktivitas juga cukup bisa membuatnya duduk lama. Itulah pangeran pertama kami yang penuh semangat luar biasa.

Pangeran kedua cenderung berbeda dengan kakaknya. Ia terliha lebih diam bersahaja. Namun kami yakin potensinya luar biasa. Hanya saja ia belum mampu mengungkapkan dengan banyak kata.

Pangeran kedua juga senang membaca. Ia betah berlama-lama dengan buku yang menarik hatinya. Sama dengan pangeran pertama ia akan menyimak penuh minat tiap kali kubacakan buku untuknya. Kamipun mulai mengenalkan huruf hijaiyah meski ia belum jelas melafalkannya.

Pangeran kecil dibesarkan bersama pengasuh yang tidak seaktif eyangnya. Pun mungkin karena kami yang kurang menstimulasinya sehingga ia lambat berbicara. Ia baru memulai fase meniru kata menjelang 3 tahun usianya. Tapi kecerdasannya dalam menghapal sering membuat kami takjub kepadanya.

Kami rasa ia banyak merekam yang dilihat dan didengarnya meski belum bisa diwujudkan dalam banyak kata. Ia memahami yang kami ucapkan dan perintahkan serta bisa menjawab meski terbata. Jika kesulitan ia akan menggunakan gerakan dan ekspresi untuk menunjukkan kemauannya.

Membaca buku menjadi momen yang berharga untuk keluarga. Tidak hanya pangeran pertama dan kedua, putri jelita juga suka mendengarkannya. Meski usianya baru 8 bulan ia senang mendengarkan cerita. Sama dengan pangeran pertama ia senang menebar senyum manisnya. Mudah sekali tersenyum saat kita berbicara dengannya. Ia mengulum senyumnya hanya saat sakit saja.

Tak ingin mengulangi kesalahan seperti yang dialami pangeran kedua, kami ingin memberikan cukup stimulasi kepada putri jelita. Lebih banyak berbicara dan membacakan buku bersama kakak-kakaknya. Semoga kelak ia menjadi putri sholihah nan cerdas seperti nama yang kami sematkan kepadanya, Aisha, putri Rasulullah.


Mereka Madrasah Kehidupan

Hampir 7 tahun hidup bersamanya, hampir kuketahui semua tentangnya. Namun masih saja aku belum sempurna melayani dan menyenangkan hatinya. Pun terhadap buah hati kami berdua. Masih banyak yang perlu kupelajari dan kuperbaiki.

Karena sejatinya hidup itu adalah madrasah. Ada banyak materi yang perlu dipelajari dan akan ada ujian di setiap levelnya. Kadang kita perlu izin sejenak di tengah pelajaran. Tapi kita tidak bisa absen meski sakit menyerang. Kadang kita hanya perlu mengisi energi kembali di jam istirahat, namun kita juga perlu pergi jalan-jalan di waktu libur untuk mengembalikan semangat.

Kadang aku bertanya-tanya, pantaskah aku menjadi belahan jiwanya? Pantaskah aku menjadi ibu buah hati kami berdua?

Aku yang begitu banyak kekurangan dan kesalahan, pantaskah bersama dirinya dan anak-anaknya?

Ah, ternyata tidak ada kata pantas atau tidak pantas dalam madrasah kehidupan. Karena semua yang hidup di dunia otomatis telah menjadi siswanya.

Belahan jiwa dan buah hati adalah salah dua materi yang harus kupelajari dalam madrasah kehidupan. Materi-materi ini lah tempatku memaksimalkan potensi dan memperbaiki diri dengan berbagai PR dan ujian. Bukan sekedar materi tapi mereka juga amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka juga ladang pahalaku untuk membayar khilaf dan dosa yang kulakukan.


Tempat Kami Berada

Hampir 7 tahun bersamanya, telah 3 jenis tempat kami kecap bersama. Kos-kosan, kontrakan, dan rumah sementara. Berbagai jenis lingkungan dan tetangga juga telah kami rasa. Namun rasanya sulit sekali dekat dengan tetangga karena waktu kami sedikit untuk bersua. Apalagi untuk tetangga sekarang yang karakternya tidak kami suka.

Tetangga merupakan salah satu materi madrasah kehidupan. Maka ujiannya adalah bagaimana memperlakukan mereka dengan baik meski kami tidak mendapat perlakuan yang sama. Cukuplah kekurangan mereka menjadi pelajaran agar kami tidak mengikutinya. Karena kami juga tidak bisa mengubahnya cukuplah kami berbuat baik untuk menjaga diri, jiwa, dan harta kami saat berada di dekat mereka.

Namun, saat ini kami sedang ikhtiar agar bisa berhijrah ke lingkungan yang lebih terjaga. Karena kami kuatir karakter buruk tetangga menyerap ke alam bawah sadar kami dan anak-anak tercinta.

Cinta Tanpa Kata

Hampir 7 tahun bersamanya, aku tersadar tidak ada yang terjadi karena kebetulan semata. Sejak awal yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia telah digariskan olehNya. Lauhul mahfudz tempat takdir dituliskanNya. Namun Ia memberikan kesempatan pada manusia untuk memilih jalan hidupnya.

"Seandainya calon imamku ada di antara anak STAN semoga itu dia," kataku dalam hati sambil memperhatikan foto wajah salah seorang ikhwan di antara teman-temannya. Aku jarang bertemu dengannya selain berinteraksi di social media. Kegiatan kami pun berbeda bahkan bertolak belakang. Aku yang merupakan anggota pers kampus seringkali mengkritisi ketidakseimbangan dakwah organisasi islam tempatnya berada. Namun saat itu aku tidak tahu bahwa ia adalah orang yang paling benci dengan penulis artikel pengkritis dakwah di media mahasiswa.

Dan proposal itu datang, bertuliskan nama seorang ikhwan. Ternyata namanya telah lebih dulu kusebutkan dalam hati berbulan-bulan sebelumnya. Dialah, Yuga Nugraha.



Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 3 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2