Monday, November 28, 2016

Ibu Profesional Peran Ganda


Peran Ganda

Terkadang saya masih bertanya-tanya, mana yang lebih prioritas, rumah atau kantor? Nurani saya tentu berteriak tegas : RUMAH! Sayangnya, realita kadang tidak bersinergi dengan nurani.

Ketika saya ke kantor saya patuhi semua aturan kantor. Mulai dari memakai pakaian, absen datang dan pulang, menyelesaikan deadline pekerjaan, sampai izin tidak masuk/cuti semuanya sesuai aturan kantor. Bagaimana dengan di rumah? Saya memakai pakaian, bangun dan mulai tidur, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, sampai istirahat, dan berlibur semuanya sesuka saya. Tidak ada aturan resmi. Saya bebas menentukan aturannya sesuai kesepakatan dengan suami dan tergantung dengan situasi dan kondisi. Rasanya santai dan nyaman.

Lalu, apakah dengan begitu berarti saya tidak profesional menjalani peran saya di ranah domestik?

Belajar Profesional

Saat ini saya sadar bahwa saya sedang menjalani dua peran sebagai ibu: Ibu Domestik dan Ibu Publik. Sebagai Ibu domestik saya menjalani peran saya sebagai istri dan ibu anak-anak saya. Sedangkan sebagai Ibu Publik saya menjalani peran saya sebagai PNS. Saya mencoba menyeimbangkan keduanya namun saya akui sebagai manusia biasa saya tidak bisa seadil Rasulullah. Saya berusaha menempatkan peran Ibu Domestik sebagai prioritas pertama, namun kadang ternyata saya lebih mengutamakan peran Ibu Publik. Nyatanya manusia sebenarnya tidak bisa benar-benar multitasking dengan sempurna. Pastilah ada yang lebih diutamakan sehingga yang lain dikorbankan. Semua tergantung situasi dan kondisi. Setidaknya itulah yang saya alami.

Semenjak mengikuti program martikulasi Ibu Profesional saya makin sadar, sepertinya saya memang kurang profesional menjalani kedua peran saya. Namun saya berusaha memperbaiki apa yang masih kurang profesional. Setidaknya ada dua hal yang harus saya perbaiki dalam waktu dekat, manajemen prioritas dan waktu.

Manajemen Prioritas
Dalam manajemen prioritas saya mencoba membuat kesepakatan dengan suami untuk menentukan prioritas untuk saya antara diri sendiri, anak, suami atau pekerjaan rumah tangga. Ternyata suami saya menjawab semua tergantung situasi dan kondisi. Jadi tidak ada urutan yang pasti antara keempatnya. Kalau diingat-ingat lagi memang kami berdua sama-sama tipe yang berusaha menyesuaikan diri sesuai situasi dan kondisi secara alamiah. Alhamdulillah saya dan suami sama-sama berperan di ranah publik jadi kebanyakan peran domestik kami dilakukan dengan kerja sama. Suatu saat saya bisa saja mengutamakan diri sendiri saat suami saya bisa membantu mengurus anak atau mengutamakan anak saat suami bisa mengurus rumah, dan sebagainya. Maka saya menempatkan keempat elemen ini sebagai satu prioritas, yakni ranah domestik.

Dengan demikian 3 urutan prioritas saya sebagai berikut:
1. Ranah Ibadah
    Berkaitan tentang semua ibadah baik yang wajib maupun sunnah yang telah melekat pada diri saya sebagai seorang muslim. Prioritas ditentukan sesuai aturan Islam yakni mendahulukan yang wajib terlebih dahulu daripada yang sunnah.

2. Ranah Domestik
    Berkaitan dengan peran saya sebagai istri, ibu, dan anak, yakni pekerjaan yang harus saya lakukan sebagai kebutuhan untuk diri sendiri, suami, anak, rumah tangga, dan keluarga (diluar keluarga inti). Prioritas ditentukan sesuai situasi dan kondisi yang sedang berlangsung.

3. Ranah Publik
   Berkaitan dengan peran saya sebagai PNS yakni pekerjaan yang harus saya lakukan sebagai amanah dari rakyat. Prioritas ditentukan sesuai deadline masing-masing pekerjaan.

Ketiga prioritas inilah yang harus saya utamakan saya lakukan dalam hidup ini karena ketiganya menempati status PALING PENTING dalam hidup saya.

Saya telah menemukan 3 hal yang PALING PENTING dalam hidup saya, lalu apakah ada 3 hal yang PALING TIDAK PENTING dalam hidup saya?

Saya sadari diantara ketiga prioritas di atas kadang ada kegiatan yang saya lakukan terlalu santai. Saya memang bukan tipe disiplin terhadap jadwal jadi tidak memiliki jadwal harian secara detail. Namun secara alami saya telah menempatkan range untuk tiap pekerjaan.

Pekerjaan yang PALING TIDAK PENTING dalam hidup saya:
1. Browsing internet terlalu lama dan merambah kemana-mana di luar tujuan awal
2. Mengobrol hal-hal yang tidak terlalu penting dengan waktu yang terlalu lama
3. Nonton TV/Film/membaca komik terlalu lama

Sebenarnya ketiga hal diatas adalah me time yang cukup membuat relax di antara pekerjaan yang susul menyusul setiap hari. Namun kadang saya kebablasan sehingga terlalu lama. Untuk menyiasatinya biasanya saya multitasking misalnya menonton TV/film/membaca komik saat memompa ASI.



Manajemen Waktu

Saya pernah mencoba membuat jadwal secara detail namun ternyata memang sulit memenuhi semuanya tepat waktu. Jadi biasanya saya memberi deadline untuk pekerjaan-pekerjaan yang mendesak. Sementara pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya hanya diberi range waktu yang flexibel dipenuhi sesuai range waktu itu. Deadline tiap range waktu sebenarnya fleksibel namun jika saya mempunyai sisa waktu saya bisa mengerjakan pekerjaan lain dengan lebih santai atau menambah pekerjaan lain di luar range waktu yang sedang berjalan.

22.00 - 04.00 Istirahat malam (diselingi dengan shalat malam di antara range waktu ini)
04.00 - 05.00 Ranah ibadah
05.00 - 06.45 Ranah domestik
06.45 - 08.00 Perjalanan ke kantor
08.00 - 17.30 Ranah publik
17.30 - 19.30 Perjalanan pulang kantor
19.30 - 22.00 Ranah domestik

Catatan : 
Di dalam range ranah domestik dan publik saya masih dapat mengerjakan ranah ibadah saya sesuai waktunya

Konsistensi

Saya telah menjalani peran ganda selama 6 tahunan, telah mengecap beberapa pengalaman dalam rangka mensinergikan kedua peran saya. Pada akhirnya yang paling nyaman memang metode range waktu di atas. Saya merasa tidak terbebani dengan jadwal yang terlalu detil dan bisa mendapat reward sisa waktu untuk melakukan pekerjaan lain di luar range atau untuk sekedar leyeh-leyeh.
Sekitar 3 minggu terakhir saya mencoba konsisten terhadap range waktu di atas. Rewardnya adalah saya dan suami tidak telat sama sekali ke kantor selama 2 minggu penuh. Namun minggu berikutnya kami telat 2 hari karena telah melanggar range perjalanan ke kantor. Itu lah konsekuensi sebuah pelanggaran. Saya berharap kami dapat konsisten memenuhi range waktu yang kami buat ini agar kedua peran kami bisa berjalan dengan harmonis.


Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 6 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2

No comments:

Post a Comment