Kita tidah tahu umur kita dan orang tua kita. Jika saat kita atau orang tua kita meninggal, masih ada luka di hati orang tua kita, bukankah kita akan sangat menyesal?
Itulah yang menjadi kunci untuk anak-anak yang memiliki orang tua yang mungkin, kadang, atau seringkali tidak sependapat dengan kita karena egonya. Orang tua, pada dasarnya, tidak mau terlihat kecil, kurang, atau lemah di depan anaknya. Terlebih dalam hal pengalaman hidup. Mereka sudah lebih lama hidup dan lebih berpengalaman mengarungi hidup daripada kita. Sudah sewajarnya mereka punya bekal pelajaran-pelajaran dari pengalaman hidupnya yang menjadi alasan/pegangan mereka dalam menasehati kita, anak-anaknya. Tidak pantas rasanya kita men-cap pelajaran hidup mereka salah/mereka salah mengambil hikmah karena bagaimanapun mereka lebih berpengalaman dari kita dan mereka ingin dihargai.
Ada saat dimana perdebatan sangat baik untuk dihindari. Terlebih untuk hal-hal cabang yang masih bisa diluruskan sedikit demi sedikit bilamana memang orang tua kita salah mengambil hikmah dari pelajaran hidupnya. Mengalah. Tutup mulut rapat-rapat dan dengarkan saja. Itu akan membuat orang tua merasa lebih dihargai daripada kita capek-capek memberi segudang alasan meskipun dengan dalil yang benar yang malah akan meninggalkan luka di hati orang tua karena pendapat mereka "disalahkan".
Diam, sangat baik di saat yang tepat. Mengalah untuk saat itu sambil sedikit-sedikit meluruskan dengan teladan, itu lebih baik daripada akhirnya menjadi debat kusir berkepanjangan. Boleh jadi dalam debat itu kita berhasil puas mengemukakan semua isi hati dan pendapat kita. Padahal di saat-saat panas tersebut hati orang tua sangat sensitif. Kepuasan kita sangat mungkin malah menoreh luka.
Ya, di masa hidup manusia, usia 20-40 tahun akan terlihat kebijaksanaannya, selanjutnya akan terlihat egoismenya seperti saat di bawah 20 tahun. Kembali ke masa-masa labil. Karena itu lah saat kita dalam masa bijak ingatlah dimana masa orang tua kita. Ingatlah saat kita di masa yang sama saat kecil dulu dan bagaimana perlakuan orang tua kita yang menghadapi perilaku kita saat itu. Mengalah lah, itu lebih baik dan lebih menjadi ladang pahala. Akan sangat puas rasanya jika saat kita atau orang tua kita dipanggil Allah nanti, tidak ada luka dalam hati orang tua kita dan tentu hati kita. Karena orang yang mengalah sudah belajar untuk ikhlas, meski sakit pada awalnya, namun ia tidak mendendam dan berusaha mengubahnya menjadi semangat positif. Semangat mengubah caranya menyampaikan pendapat agar lebih nyaman diterima orang tua sehingga hatinya senang, hati orang tua pun senang.
Ingatlah selalu saat kita berhadapan dengan orang tua kita, ladang pahala kita, mengalah = ladang pahala.
Friday, August 2, 2013
19
Entah kenapa saya suka sama angka ini. 1 dan 9, 19 - 1 tgl lahir saya. 9 - 1 = 8, 11 - 8 tgl lahir suami saya. Kebalikan angka 9 yaitu 6, 6 - 6 - 11 tanggal lahir anak pertama saya. Berapakah tanggal lahir adiknya? hehe
Omong-omong soal 19 hari ini adalah minggu ke-19 dedek dalam kandungan ummi. Tidak terasa dedek semakin menunjukkan eksistensinya, menendang-nendang tiap hari. Dan semakin membuat perut ummi bulat, terlihat kalau sedang hamil. Sebelumnya sepertinya tidak banyak yang menyadarinya -_-
Ummi kangen sama dedek, pengen liat USGnya. Apa daya minggu lalu ga jadi daftar, ga sempat daftar untuk minggu ini juga karena takut bu dokternya sudah cuti.. Jadi bulan ke- 4 ummi, abi, dan a hamzah belum nengok dedek. Penasaran sama perkembangan dedek, karena timbangan ummi ga naik malah turun, tapi perut makin buncit, tangan ummi makin kurus. Lah.. keserap semua sama dedek nih :D ummi si gapa, asal dedek tumbuh sehat, kuat, sempurna, jasadiyah fikriyah ruhiyahnya, allohumma aaminn.. insyaallah dedek sehat ya nak, buktinya semakin senang menendang ummi :D
Hari ini juga untuk pertama kalinya a Hamzah dititipkan di TPA kantor. Pertama karena kami ingin lanjut i'tikaf di hari terakhir ngantor, jadi dari kantor langsung ke masjid BI. Lumayanlah, setidaknya saya bisa 1 hari i'tikaf di masjid. Kedua, mumpung ada TPA gratis. Program dari Kementerian buat seluruh pegawai jadi mesti dioptimalkan. Ketiga, ingin melatih a hamzah lebih mandiri lagi di tempat yang sama sekali tidak ada orang yang ia kenal/dekat sebelumnya. Iri juga sama anak temen yang hanya 2.5 bulan lebih tua dari a Hamzah sudah hapal Al Fatihah dan doa untuk orang tua karena lumayan lama ikut TPA Islami yang mengajari hapalan.
A hamzah sedang masa golden agen, umur segini sedang senang meng-copy-paste. Suka menirukan kata-kata orang yang ia dengar, mudah menghapal nada lagu/potongan-potongan murratal yang ia dengar, dan bisa menghapal beberapa lagu anak-anak yang sering kami nyanyikan untuknya sejak kecil. Mendengar cerita teman FB yang tetangganya punya anak 2 tahun sudah bisa baca iqra, 3 tahun baca Al Quran dan sudah hapal beberapa surat karena tiap mau tidur ibunya selalu murajaah hapalannya sebagai pengantar tidur, dan menyetel murrotal pengiring anak saat bermain, jadi terinspirasi semoga bisa melakukannya untuk dedek kelak. Coba sejak dulu a Hamzah seperti itu, mungkin yang sekarang sudah dihapalnya bukan lagu anak-anak tapi surat-surat pendek juz 30. Betapa menyesalnya saya. Insyaallah kami akan segera mulai mengubah iklim hapalan a Hamzah salah satu caranya dengan memasukkannya ke TPA/PAUD islami. Semoga kami mendapatkan tempat pendidikan yang tepat untuk a Hamzah mengingat kami tidak mungkin melakukannya sendiri karena keterbatasan waktu. Eyangnya pun lebih suka mengajari lagu anak-anak, doa harian, angka, dan huruf hijaiyah daripada hapalan surat-surat.
Banyak cara untuk mendidik anak yang efektif meskipun dalam keterbatasan waktu seperti kami, pasangan pekerja kantoran. Salah satunya dengan memfasilitasi media dan lingkungan yang baik untuk target pendidikannya. Pendidikan kami sendiri meski dilakukan dengan waktu terbatas mesti berbobot dan efektif, berkualitas. Seperti nasihat ustdzah di kajian siang ini, kita tetap bisa sangat berarti bagi anak-anak kita jika kita bisa menjaga kualitas pertemuan kita dengan anak-anak kita. Kita harus bisa lebih dari pengasuh anak kita. Ciuman, pelukan, belaian kita harus lebih istimewa dan terasa berarti daripada pengasuh anak kita. Pun perhatian kita pada hal-hal kecil untuk anak kita seperti membersihkan telinganya, membelai rambutnya.. Demikian juga jika kita ingin hubungan yang harmonis dengan pasangan hidup kita, kita harus memberikan perhatian istimewa meski pada hal-hal kecil yang ia sendiri bisa melakukannya. Justru pada perhatian itu mengandung ikatan cinta kasih yang kuat yang mengokohkan cinta antara kita dengan suami dan anak-anak kita.
Huwaa.. rasanya aku lebih jauh dari itu. Tapi bismillah.. semoga bisa sedikit-demi sedikit mempraktekkannya.
Hari pertama di TPA a Hamzah langsung nyaman dengan tempatnya, tapi begitu mau ditinggal pergi langsung bilang, "Gak mauu.." sambil megangin tangan umminya. "Ummi mau kerja.." "Ikut! Ayuk, ayuk!" katanya sambil menarik-narik ummi menunjuk ke tempat pintu keluar. Sampai di pintu keluar a Hamzah ditahan pengasuhnya dan mulai nangis kejer. Ia berontak mau ikut keluar sampai-sampai pengasuhnya kesulitan menggendongnya. Tidak tega rasanya meninggalkannya tanpa persetujuan, senyum, dan dadahnya seperti biasa saat ditinggal dengan eyangnya. Rasanya jadi pengen nangis. Tangisannya terlalu menyayat tidak seperti biasanya saat ia menangis jika sedang sakit ditinggal kerja. Tangisan ini seperti ia mau bilang, "Ummi, a Hamzah jangan ditinggal sendiri. Di sini gak ada yang a Hamzah kenal.." T_T
Kok rasanya jadi seperti hari pertama saat meninggalkan a Hamzah ke kantor setelah cuti melahirkan berakhir ya?
Curhat sama temen-temen ternyata memang hari-hari pertama di TPA anaknya dan anak-anak lain juga nangis ketiga ditinggal. Bisa sampai beberapa hari. Ada yang sepanjang hari nangis, ada yang tiap beberapa saat nangis. Alhamdulillah a Hamzah hanya saat momen berpisah sama Ummi selanjutnya anteng. Baik-baik ya nak sholih, kan aa udah gede mesti jadi teladan adeknya, mesti mandiri.. :)
Omong-omong soal 19 hari ini adalah minggu ke-19 dedek dalam kandungan ummi. Tidak terasa dedek semakin menunjukkan eksistensinya, menendang-nendang tiap hari. Dan semakin membuat perut ummi bulat, terlihat kalau sedang hamil. Sebelumnya sepertinya tidak banyak yang menyadarinya -_-
Ummi kangen sama dedek, pengen liat USGnya. Apa daya minggu lalu ga jadi daftar, ga sempat daftar untuk minggu ini juga karena takut bu dokternya sudah cuti.. Jadi bulan ke- 4 ummi, abi, dan a hamzah belum nengok dedek. Penasaran sama perkembangan dedek, karena timbangan ummi ga naik malah turun, tapi perut makin buncit, tangan ummi makin kurus. Lah.. keserap semua sama dedek nih :D ummi si gapa, asal dedek tumbuh sehat, kuat, sempurna, jasadiyah fikriyah ruhiyahnya, allohumma aaminn.. insyaallah dedek sehat ya nak, buktinya semakin senang menendang ummi :D
Hari ini juga untuk pertama kalinya a Hamzah dititipkan di TPA kantor. Pertama karena kami ingin lanjut i'tikaf di hari terakhir ngantor, jadi dari kantor langsung ke masjid BI. Lumayanlah, setidaknya saya bisa 1 hari i'tikaf di masjid. Kedua, mumpung ada TPA gratis. Program dari Kementerian buat seluruh pegawai jadi mesti dioptimalkan. Ketiga, ingin melatih a hamzah lebih mandiri lagi di tempat yang sama sekali tidak ada orang yang ia kenal/dekat sebelumnya. Iri juga sama anak temen yang hanya 2.5 bulan lebih tua dari a Hamzah sudah hapal Al Fatihah dan doa untuk orang tua karena lumayan lama ikut TPA Islami yang mengajari hapalan.
A hamzah sedang masa golden agen, umur segini sedang senang meng-copy-paste. Suka menirukan kata-kata orang yang ia dengar, mudah menghapal nada lagu/potongan-potongan murratal yang ia dengar, dan bisa menghapal beberapa lagu anak-anak yang sering kami nyanyikan untuknya sejak kecil. Mendengar cerita teman FB yang tetangganya punya anak 2 tahun sudah bisa baca iqra, 3 tahun baca Al Quran dan sudah hapal beberapa surat karena tiap mau tidur ibunya selalu murajaah hapalannya sebagai pengantar tidur, dan menyetel murrotal pengiring anak saat bermain, jadi terinspirasi semoga bisa melakukannya untuk dedek kelak. Coba sejak dulu a Hamzah seperti itu, mungkin yang sekarang sudah dihapalnya bukan lagu anak-anak tapi surat-surat pendek juz 30. Betapa menyesalnya saya. Insyaallah kami akan segera mulai mengubah iklim hapalan a Hamzah salah satu caranya dengan memasukkannya ke TPA/PAUD islami. Semoga kami mendapatkan tempat pendidikan yang tepat untuk a Hamzah mengingat kami tidak mungkin melakukannya sendiri karena keterbatasan waktu. Eyangnya pun lebih suka mengajari lagu anak-anak, doa harian, angka, dan huruf hijaiyah daripada hapalan surat-surat.
Banyak cara untuk mendidik anak yang efektif meskipun dalam keterbatasan waktu seperti kami, pasangan pekerja kantoran. Salah satunya dengan memfasilitasi media dan lingkungan yang baik untuk target pendidikannya. Pendidikan kami sendiri meski dilakukan dengan waktu terbatas mesti berbobot dan efektif, berkualitas. Seperti nasihat ustdzah di kajian siang ini, kita tetap bisa sangat berarti bagi anak-anak kita jika kita bisa menjaga kualitas pertemuan kita dengan anak-anak kita. Kita harus bisa lebih dari pengasuh anak kita. Ciuman, pelukan, belaian kita harus lebih istimewa dan terasa berarti daripada pengasuh anak kita. Pun perhatian kita pada hal-hal kecil untuk anak kita seperti membersihkan telinganya, membelai rambutnya.. Demikian juga jika kita ingin hubungan yang harmonis dengan pasangan hidup kita, kita harus memberikan perhatian istimewa meski pada hal-hal kecil yang ia sendiri bisa melakukannya. Justru pada perhatian itu mengandung ikatan cinta kasih yang kuat yang mengokohkan cinta antara kita dengan suami dan anak-anak kita.
Huwaa.. rasanya aku lebih jauh dari itu. Tapi bismillah.. semoga bisa sedikit-demi sedikit mempraktekkannya.
Hari pertama di TPA a Hamzah langsung nyaman dengan tempatnya, tapi begitu mau ditinggal pergi langsung bilang, "Gak mauu.." sambil megangin tangan umminya. "Ummi mau kerja.." "Ikut! Ayuk, ayuk!" katanya sambil menarik-narik ummi menunjuk ke tempat pintu keluar. Sampai di pintu keluar a Hamzah ditahan pengasuhnya dan mulai nangis kejer. Ia berontak mau ikut keluar sampai-sampai pengasuhnya kesulitan menggendongnya. Tidak tega rasanya meninggalkannya tanpa persetujuan, senyum, dan dadahnya seperti biasa saat ditinggal dengan eyangnya. Rasanya jadi pengen nangis. Tangisannya terlalu menyayat tidak seperti biasanya saat ia menangis jika sedang sakit ditinggal kerja. Tangisan ini seperti ia mau bilang, "Ummi, a Hamzah jangan ditinggal sendiri. Di sini gak ada yang a Hamzah kenal.." T_T
Kok rasanya jadi seperti hari pertama saat meninggalkan a Hamzah ke kantor setelah cuti melahirkan berakhir ya?
Curhat sama temen-temen ternyata memang hari-hari pertama di TPA anaknya dan anak-anak lain juga nangis ketiga ditinggal. Bisa sampai beberapa hari. Ada yang sepanjang hari nangis, ada yang tiap beberapa saat nangis. Alhamdulillah a Hamzah hanya saat momen berpisah sama Ummi selanjutnya anteng. Baik-baik ya nak sholih, kan aa udah gede mesti jadi teladan adeknya, mesti mandiri.. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)

