Understanding Your Problem
Bismillahirrohmaanirrohiim
MasyaAllah tabarakallah... setelah 2 jurnal saya lalui tanpa tim, akhirnya Allah mempertemukan saya dengan tim impian. Sebenarnya sejak setor jurnal pertama saya sudah coba baca jurnal teman-teman yang memiliki konsentrasi di bidang yang sama, yakni pendidikan anak. Saya sudah menemukan 3 orang kandidat hingga saya save jurnalnya. Namun hingga jurnal kedua saya menerbitkan open recruiment hingga jemput bola saya belum menemukan anggota tim yang cocok dan mau. Sebenarnya sempat ada 1 orang yang bersedia namun profilnya tidak sesuai dengan problem statement saya yakni merancang kurikulum pendidikan rumah untuk working mom. Calon peserta ini seorang Ibu Rumah Tangga. Saya terpaksa menolaknya karena masih ingin mendalami masalaha pendidikan rumah ini hanya dari sudut pandang working mom agar satu frekuensi. Anehnya teman-teman working mom yang dulu sempat tertarik dengan event merancang kurikulum tidak ada satu pun yang menyambut, hingga saya menyimpulkan sepertinya memang posisi mereka sebagai pengguna.
Setelah menyetor jurnal kedua saya pun mengevaluasi apa kekurangan saya hingga saya sadar mungkin harus membuka pikiran saya, tidak berpikiran sempit hanya untuk working mom. Akhirnya saya kembali menelusuri jurnal kedua teman-teman dengan bidang sama hingga cukup banyak yang saya baca dengan teliti dan masyaAllah Allah menuntun saya menemukan jurnal dr. Maya. Takjub karena jurnalnya saat itu begitu mirip dengan pemikiran saya. Tentang ibu sebagai madrasatul ula. Tentang Ibu yang memiliki masalah manajemen waktu dan emosi. Tentang working mom yang tetap ingin mendidik anaknya di rumah. Sampai penasaran kenapa di jurnal satu yang rasanya sudah saya baca semua jurnal bidang pendidikan anak/pendidikan rumah saya tidak menemukan jurnal dr. Maya. Setelah membaca jurnal pertamanya ternyata beliau belum menyebutkan permasalahan tadi. Mungkin inilah yang namanya petunjuk dari Allah, Allah yang menggerakkan hati dan membukakan jalan hingga saya bertemu dengan beliau.
Tanpa berlama-lama saya segera menghubungi dr. Maya meski saya cek timnya sudah cukup lengkap dan masyaAllah beliau sangat ramah dan terbuka menerima kehadiran saya. Masih terharu rasanya akhirnya saya bertemu dengan teman-teman yang memiliki masalah sama, tujuan sama, dan semangat sama. Meski kami berbeda profil, ada yang ibu rumah tangga dan working mom namun saya merasakan sudah satu frekuensi dengan mereka. Hingga saat ini masih terasa MasyaAllah saya begitu nyambung dengan teman-teman di tim ini terutama yang sesama mahasiswi Bunda Shalihah. Tim kami terdiri dari 6 orang sekarang, 4 orang Bunsal dan 2 orang anggota IP. Sayangnya mungkin karena basic yang berbeda, 2 orang IP ini saya merasakan kurang aktif dalam grup. Padahal saya yang orang baru, benar-benar baru kenal bisa cepat akrab dengan 3 mahasiswi Bunsal lainnya. Masih menjadi tantangan kami bagaimana membuat 2 orang anggota non Bunsal ini lebih aktif dalam proyek kami.
Karena saya anak bawang, saya berusaha mengenal lebih dekat teman-teman dalam tim ini. Saya yang proaktif menanyakan profil mereka, karena saya benar-benar ingin mengenal teman-teman baru saya, apalagi kami akan berjuang bersama mengerjakan sebuah proyek. Sayangnya saya belum berhasil pedekate dengan mereka. Namun saya tidak menyerah, saya tetap berusaha berkontribusi yang terbaik untuk tim, menyumbangkan pikiran, ide, dan waktu saya untuk mempersiapkan proyek ini.
Pertemuan Pertama
Alhamdulillah akhirnya kami bertemu secara daring pertama kalinya. MasyaAllah mereka ramah dan memberi kesempatan saya bicara dalam diskusi. Saya yang introvert pun jadi lebih percaya diri untuk mengeluarkan ide-ide saya. Dalam tugas ketiga ini kami diminta menyelami lebih dalam masalah kami, dimulai dari brainstorming masalah masing-masing hingga mengerucut dalam satu problem statement tim. Akhirnya kami sepakat mengangkat problem statement tim: Merancang Sistem Pendidikan Rumah.
Setelah berdiskusi menggunakan panduan 5W+1 H kami menemukan pertanyaan-pertanyaan berikut:
WHAT
Apa itu
sistem pendidikan rumah?
Apa
tujuan pendidikan rumah?
Apa
yang kita butuhkan dari sistem pendidikan di rumah?
WHEN
Kapan
perlu merancang sistem Pendidikan Rumah?
Kapan
kita menggunakan sistem pendidikan rumah?
Kapan
perlu mengevaluasi sistem pendidikan rumah yang telah berlangsung?
WHO
Siapa
yang Menyusun?
Siapa yang menjalankan?
Siapa
yang mengevaluasi?
Siapa
saja yang akan kita edukasi pendidikan rumah?
WHERE
Dimana
kita dapat mengaplikasikan?
Di
platform mana kita akan menjalankan program ini?
Dimana
kita akan mendapatkan sumber informasi?
HOW
Bagaimana
menjalankan pendidikan rumah?
Bagaimana
indikator keberhasilan dalam pendidikan rumah?
Bagaimana
menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam pendidikan rumah?
WHY
Mengapa
sistem pendidikan di rumah penting?
Mengapa
pendidikan formal tidak bisa menggantikan pendidikan rumah?
Mengapa
orang tua harus terlibat dalam pendidikan anak?
Mengapa
perlu merancang sistem pendidikan anak di rumah?
Mengapa
harus mengevaluasi?
Mengapa
orang tua memiliki banyak masalah dalam pendidikan anak di rumah?
Dari
problem statement ini,
leader kami mba Maya mengusulkan beberapa nama tim hingga kami sepakat nama tim kami:
SEARCH (Sistem Edukasi Anak di Rumah Cerdas dan Happy).

Misi kami terangkum dalam
THEME EDU yang terbagi menjadi beberapa tahapan:
4 Tahapan Basic
T emu/tentukan Visi Misi Keluarga
H armonisasi Komunikasi Suami Istri
E mosi yang positif
M anajemen Waktu yang terkendali
1 Tahap Intermediet
E laborasi Menyusun Planning Kegiatan Anak
3 Tahapan Advance
E valuasi
D ukungan untuk Orang Tua
U nit Support Sistem
Pertemuan Kedua
Sesuai petunjuk jurnal ketiga, kami diminta mencari jawaban dari semua pertanyaan di atas dari berbagai sumber dan referensi sebanyak-banyaknya. Mulai dari para ahli/praktisi,
passion, artikel terupdate atau situs web yang sesuai dengan bidang kami yang mungkin bisa mengantarkan jawaban. Saya pun mencoba mengenalkan latar belakang saya dulu yang pernah mengorganisir grup "
Home Education" yang memberikan kulwap gratis untuk para orang tua dan narsumnya juga gratis sebagai amal jariyah mereka. Dengan kondisi saat ini, saya mengajukan teh Kiki Barkiah sebagai praktisi
home education yang akan mendampingi kami
brainstorming. Alhamdulillah beliau bersedia berdiskusi di sela-sela jadwalnya yang padat mengisi webinar. Selain itu saya mencoba mencari film-film bertema pendidikan atau film dokumenter namun belum menemukan yang bertema pendidikan rumah. Karena saya memiliki cukup banyak buku
parenting maka saya membuka kembali buku
Fitrah Based Education, Enlightening Parenting, Prophetic Parenting hingga buku dakwah seperti Buku
Metode
Dakwah Yusuf Al-Qaradhawi dan Buku Kekuatan Sang Murabbi Prof. Dr. Taufik Yusuf Al-Wa’iy. Karena bagi saya ada kemiripan misi pendakwah/murobbi ini dengan orang tua sebagai seorang pendidik. Saya juga mencoba mencari artikel/blog yang membahas pendidikan rumah hingga meramu jawaban berdasarkan semua referensi tadi.
Kami bersepakat untuk zoom kembali membahas jawaban dari pertanyaan-pertanyaan, merancang apa saja yang akan kami tanyakan kepada teh Kiki, dan persiapan mengikuti Questival Kemerdekaan Ibu Pembaharu, event pertama Kampus Ibu Pembaharu. Qadarullah minggu itu tugas kantor saya cukup padat ditambah persiapan acara puncak Festival Hijriah Muslimah Kemenkeu yang diselenggarakan hari Sabtu, 14 Agustus pukul 12.30 WIB. Karena agenda saya, teman-teman mau menggeser jadwal zoom kami menjadi hari Ahad, 15 Agustus agar saya sempat mencari jawaban di sisa hari Sabtu. So sweet sekali mendapatkan kesempatan ini, saya pun berusaha mengoptimalkan waktu yang tersisa, membaca berbagai referensi untuk merancang jawaban versi saya. Jawaban ini nanti akan kami diskusikan dan ramu bersama dalam pertemuan kedua.
Alhamdulillah saya berhasil mengumpulkan jawaban pertanyaan di atas dalam 6 halaman A4 beserta catatan referensinya. Karena belum ada yang mengajukan catatannya, saya mencoba memperesentasikan catatan saya ini dan mengeluarkan semua pemikiran saya. Alhamdulillah banyak yang merasa sejalan hanya ada beberapa masukan dan koreksi kecil. Dengan catatan detilnya akan disesuai dengan kondisi masing-masing keluarga.
Dari sekian banyak pertanyaan dan jawaban ini, membuat kami sadar ternyata memang ada banyak yang harus dipikirkan, bagaimana memulainya, mau dibawa kemana proyek ini, dan bagaimana aplikasinya kelak. Kami bersepakat untuk mengajukan makalah problem statement ini ke teh Kiki untuk meminta masukan. Alhamdulillah teh Kiki memberikan banyak insight pada kami bahkan mencetuskan agar kami membuat aplikasi parenting yang bisa membantu para orang tua dalam pendidikan rumah. Mimpi yang sangat tinggi sekali. Mirip dengan mimpi yang masih saya simpan. Namun, mimpi besar ini harus diawali langkah-langkah kecil, jadi kami coba merumuskan bagaimana langkah awal kami.
Sebagai langkah awal kami akan mengikuti tahapan sesuai THEME EDU. Langkah berikutnya kami akan mulai meluruskan mindset para orang tua tentang pendidikan rumah melalui sosial media Instagram. Kami memutuskan membuat IG khusus tim Search agar fokus berisi informasi tentang pendidikan rumah. Setelah itu mungkin kami akan mengadakan seminar/workshop atau panduan/worksheet untuk merancang sistem pendidikan rumah. Dan semoga saja kelak kami akan mencapai mimpi besar membuat aplikasi pendidikan rumah.
Ditengah persiapan langkah awal proyek kami, kami mengikuti Questival Kemerdekaan yang tugas-tugasnya membuat kami makin kompak. Saya pun merasa bersyukur karena bisa makin dekat dengan teman-teman tim dan bisa merasakan serunya mengerjakan proyek sesuai passion. Bagaiman keseruan Quetival Kemerdekaan? Nantikan jurnal berikutnya yaa
#materi3
#selamimasalah
#ibupembaharu
#bundasalihah
#darirumahuntukdunia
#hexagoncity
#institutibuprofesional
#semestaberkaryauntukindonesia