Tuesday, June 30, 2020

JURNAL KUPU-KUPU #6

Bismillahirrohmaaniirrohiim...


Buat yang tidak suka bikin diary seperti saya sungguh jurnal minggu ini cukup melelahkan. Namun saya mencoba menikmatinya dengan merekapnya di hari terakhir. Alhamdulillah saya masih mengingatkan masa-masa menyenangkan seminggu ini karena sungguh saya tidak menyangka progressnya sebaik ini. Sejak awal saya meniatkan proyek ini untuk keluarga namun tidak memikirkan detil bagaimana teknis mengajak keluarga untuk menyukai berkebun juga? Mungkin terinspirasi dari diskusi rumbel berkebun juga bahwa kita tidak bisa mengubah orang lain namun kita bisa mengubah diri kita. Maka jika ingin membuat orang lain berbuat kebaikan caranya dengan terlebih dahulu membuat diri kita baik. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai sekarang juga. Dan itulah yang saya lakukan.

Awalnya tanpa sengaja saya memesan stok bahan masakan dari aplikasi pasar online yang sedang promo. Tanpa meniatkan apapun selain karena harganya murah saya memilih beberapa sayuran yang diantaranya ada sayuran hidroponik. Padahal biasanya di supermarket sayuran itu berkali lipat dari harga di tukang sayur namun di aplikasi ini ternyata sedang promo jadi tidak beda jauh. Bahkan saya juga membeli telur, ikan, dan ayam potong di sana.


Sehari setelah order paket sayuran di antar kerumah, alhamdulillah sebelum zuhur sudah sampai. Saat memeriksa kelengkapan orderan dan melihat kangkung hidroponik yang bersih hingga ke akarnya tiba-tiba saya terbersit, "Kenapa tidak coba bikin akuaponik dari akar kangkung ini?" Segera setelah membereskan bahan masakan ke kulkas saya memotong-motong akar kangkung menyisakan batangnya sekitar 5 cm. Lalu saat memakai tray plastik tempat telur untuk wadah menanam nanti. Saya tidak menambahkan media tanam apapun karena memang serba mendadak jadi hanya melubangi wadah telur untuk menggantung batang kangkung pada tray. Instalasi sederhana ini langsung saya aplikasikan pada akuarium ikan di rumah.




Melihat instalasi ini saya penasaran apa benar kangkung yang ditebar di air begitu saja bisa tumbuh seperti yang saya lihat di empang saat saya kecil dulu? Memang seperti ini konsep sederhana aquaponik. Tanaman bisa tumbuh dari empang yang kaya nutrisi dari kotoran ikan. Mereka membentuk ekosistem yang saling menguntungkan. Ikan mengeluarkan kotoran yang diproses oleh bakteri di kolam menjadi nutrisi untuk tanaman, tanaman menyerap nutrisi dari air kolam ikan itu yang sekaligus menyaring kotoran ikan sehingga air yang sudah melewati tanaman akan kembali ke kolam dengan lebih bersih dan kaya oksigen. Itulah sebabnya tanaman yang dihasilkan sangat organik karena tidak perlu ditambahkan pupuk kimia sama sekali. Kecuali tanaman buah memerlukan tambahan pupuk kandang. Berbeda dengan sayuran dari sistem hidroponik yang menggunakan pupuk kimia sehingga tidak dapat dikatakan sayuran organik.

Setelah memasang instalasi akuaponik saya mulai mencontohkan anak-anak menyiram tanaman dengan menyalami dan mengelus tanaman itu. Anak-anak bersemangat mencoba juga. Keesokan harinya saya kembali mengajak anak-anak menyiram tanaman, kali ini dengan air bekas cucian beras. Hingga akhirnya hari ini saya senang sekali karena suami ikut mengingatkan anak-anak menyiram tanaman sebelum berangkat kerja. Alhamdulillah itu artinya semangat berkebun mulai tumbuh dalam keluarga saya. Semoga kami bisa terus melanjutkan proyek ini bersama. Allohumma aamiin...





#jurnalke6
#tahapkupukupu
#bundacekatan
#buncek1
#institutibuprofesional

Tuesday, June 23, 2020

JURNAL KUPU-KUPU #5

Bismillahirrohmaaniirrohiim...
.
Saat bu Septi menyebutkan false celebration saya bertanya-tanya, apa yang bisa saya rayakan, kegagalan apa yang bisa diselebrasikan? Tak ayal saat mentor menawarkan untuk false selebration personal atau bersama mentee nya yang lain saya mantap memilih bersama-sama saja. Sebenarnya saya sama sekali tidak mengenal atau tahu perencanaan mentee tsb. Satu-satunya info yang diberi mentor saat awal pertemuan dulu bahwa mentee tsb sudah membeli paralon. Apalah saya yang konsep aja baru ada di kepala.
.
Tak ingin membuang waktu, sebelum pembahasan false celebration saya memulai progress report saya bahwa target menuntaskan ebook minggu lalu belum selesai. Namun malam sebelumnya saya sudah me-list daftar pertanyaan yang saya dapat dari Rumbel berkebun dan ebook. Satu yang menarik adalah pertanyaan saya soal ratooning berulang yang akan meningkatkan kadar purin di tanaman berikutnya. Saya mendapatkan info itu dari mentor Rumbel berkebun yang bertahan konvensional dengan tanah. Ternyata mentor saya tidak mengetahui hal itu dan mendapat insight jika itu benar ia mungkin tidak akan ratooning.

Sementara itu progress report mentee satunya soal targetnya bulan Juni untuk menyelesaikan instalasi. Takjub melihat fotonya ternyata sudah hampir jadi tinggal pemasangan terpal dan paralon. Sepertinya beliau memang sudah mempersiapkan (minimal dananya) sebelum proses mentoring ini sehingga pas mulai mentoring bisa langsung learning by doing. Namun saya tidak berkecil hari karena insyaAllah kedepan saya akan mengalami masa itu.
.
Tibalah saatnya false celebration. Saya sampaikan kegundahan soal kegagalan karena saya merasa baru saja mulai, baru membuat perencanaan jadi belum bisa dikatakan gagal. Mentor saya pun mengamininya. Namun jika di luar tema mentoring kegagalan saya adalah soal manajemen waktu sehingga target menuntaskan ebook tidak tercapai. Sementara mentee satunya sedang mengalami fase exhausted meski yang membuat instalasi suaminya. Saya mungkin juga akan mengalami fase itu apalagi perjalanan saya masih panjang sesuai target yang saya buat pada tabel. Mudah-mudah2an kami semua bisa tetap semangat dan mencapai target masing-masing.

Untuk pandangan 360 saya mendapatkan tantangan dari suami yang mengatakan saya kebanyakan teori. Namun beliau juga yang mengatakan kalau saya tidak perlu terburu-buru sambil menabung untuk pembangunan instalasi kami yang sepertinya membutuhkan biaya lumayan. Saya sampaikan saja kalau target pembangunannya masih Desember nanti. Bismillah semoga Allah meridhoi.

#jurnalke5
#tahapkupukupu
#bundacekatan
#buncek1
#institutibuprofesional




Tuesday, June 16, 2020

JURNAL KUPU-KUPU #4


Bismillahirrohmaaniirrohiim...

Setelah mendengarkan dongeng Ibu Peni saya lagi-lagi bersyukur. Alhamdulillah dapat mentor yang perhatian, aktif, dan sevisi. Kalau saya belum sempat menyapa, beliau yang menyapa duluan. Begitu juga sebaliknya. Berasa punya kakak mentor. Pernah saya merasa tidak pede apakah keputusan saya memilih tema berkebun ini akan masuk dengan mindmap. Belum sempat menyampaikan uneg-uneg ini, beliau malah menguatkan duluan. Memotivasi kalau insyaAllah saya masih sesuai jalur. Padahal saya sempat loh menimbang kalau harus ganti mentor agar masuk tema utama mindmap. Alhamdulillah urung. Mungkin karena sevisi dan sefrekuensi ini kadang pikiran kami nyambung, sering yang kami ceritakan juga nyambung. Kalau sudah sehati, kenapa harus pindah ke lain hati?

Minggu ini sebenarnya saya punya target pribadi menyelesaikan ebook Trubus Akuaponik, namun ternyata terlalu banyak kegiatan sehingga belum selesai juga. 
Padahal rencananya saya kan menyapa mentor untuk mendiskusikan isi bukunya. Saat lagi hectic begitu pagi-pagi mentor sudah menyapa. Pas banget lagi buka ebook di hape jadi sekalian ngobrol. Seperti biasa beliau menanyakan progress saya. Jujur saja saya baru menggali info tempat menjual bibit, pupuk, peralatan berkebun, juga bibit ikan. Saya coba menanyakan di grup rumbel berkebun Jakarta yang saya ikuti, namun teman yang rumahnya dekat saya tidak menyimpan nama dan kontak toko langganannya karena biasanya beli offline. Jadi saya diminta menunggu infonya jika ia sudah berkunjung lagi ke toko itu. Untuk pupuk, saya dapat info bapak saya untuk beli di trubus cimanggis jika dalam jumlah besar, jika eceran di toko yang jual bibit tanaman saja. Namun sayangnya saya belum sempet beli offline. Peralatan berkebun saya baru pesan online berupa sekop pacul lipat untuk militer agar bisa dibawa hiking juga. Sedangkan bibit ikan sampai saat ini belum ketemu kontak atau info apa pun.

Saya juga menyampaikan PR dari suami untuk membuat desain kebun, taman, dan kolam yang akan kami bangun. Sebab kami sudah bertemu dengan Mandor tukang bangunan yang merenov rumah ibu saya dengan hasil yang memuaskan. Mandor itu saya beri lihat konsep yang saya inginkan dan beliau menyanggupi. InsyaAllah selesai merenov rumah ibu saya beliau akan berkunjung ke rumah kami untuk survey, mengukur-ukur, dan memperkirakan biayanya. Kami harap biayanya sesuai budget, bila lebih kami harus nabung dulu. Semoga akhir tahun ini proyek pembangunan dan perintisan sudah bisa kami kerjakan.


Yang lebih membahagiakan lagi, tampaknya suami sudah satu frekuensi sampai-sampai beliau nyari-nyari desain akuaponik untuk tanah warisan di kampungnya. Saya bisa melihat binar dari wajahnya, bukan -Jadi target saya minggu ini adalah menyelesaikan ebook, memilih metode akuaponik, membuat desain kebun, taman, dan kolam, merencanakan biaya, dan mencari kontak yang diperlukan. Wah masih banyak PR saya, semoga jurnal minggu depan sudah ada progress yang lebih baik. Tetap semangat!



E-book yang sedang saya baca


#jurnalke4
#tahapkupukupu
#bundacekatan
#buncek1
#institutibuprofesional

Tuesday, June 9, 2020

JURNAL KUPU-KUPU #3

Bismillahirrohmaaniirrohiim...

MasyaAllah... alhamdulillah...
dipertemukan dengan mentor yang sevisi itu rezeki jadi diskusinya nyambung. Bahkan mindmap kami mirip, family project juga mirip!
 
Akhirnya setelah status PSBB Jakarta menjadi PSBB Transisi 6 Juni kemarin, kami mengagendakan silaturahim ke orang tua saya setelah 3 bulan lamanya tidak bertemu padahal masih satu kecamatan. Kenapa kami segitunya #dirumahaja? Karena kelurahan kami sempet masuk zona merah, jalan utama menuju komplek kami ditutup portalnya sehingga harus muter dan melewati prosedur protokol kesehatan, bahkan ada patroli keliling memastikan tidak ada kerumunan. Anak-anak sampai lari masuk rumah saat main di halaman depan karena ada polisi yang patroli karena aturannya anak-anak yang berkeliaran akan dijaring ke GOR kelurahan. Jadilah weekend ini yang kami rencanakan diskusi tabel jurnal bersama mentor tidak bisa terlaksana karena kami harus pergi ke rumah orang tua. 


Alhamdulillah Senin kemarin kami bisa diskusi dan saya langsung membuka obrolan penuh semangat. Pasalnya saya baru menyelesaikan tabel perencanaan dan menemukan benang merah bahwa berkebun ini bisa menjadi Family Project yang akan merangkul semua mindmap saya, masyaAllah. Bukan cuma bisa menjadi sarana self healing dan latihan menej emosi saat mengelolanya tapi juga bisa melatih saya berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, mengatur waktu dan prioritas sampai pada mindmap selling business project. Dan ternyata manajemen emosi, komunikasi, dan waktu sama dengan mindmap mentor saya.


Banyak banget pengennya :D
Dalam proyek ini saya membuat timeline untuk 5 tahun ke depan yang terdiri dari tahap perintisan, uji bisnis, dan pengembangan. Detilnya saya tulis dalam tabel.



Apa yang sudah saya lakukan selama libur kemarin? Saya mengkomunikasikan blueprint rencana saya ini kepada suami di saat suami membicarakan soal memberi kail untuk keluarga yang membutuhkan bantuan ekonomi. Alhamdulillah Allah yang memberi momentum itu sehingga langsung saya sounding garis besar rencana saya. Berkebun akuaponik ini akan kami proyeksikan sebagai family business project yang sejak dahulu saya cita-citakan yakni membuka lapangan usaha untuk perbaikan ekonomi keluarga kami yang butuh bantuan.

Meskipun saya belum pernah samasekali memulai berkebun namun sebenarnya sejak kecil saya sangat familiar dengan berkebun sama familiarnya dengan memasak. Namun sayangnya berbeda dengan memasak yang langsung bisa saya praktekkan dengan lihai begitu saya ngekos saat kuliah karena sering latihan membantu mama memasak, berkebun tidak pernah saya latih sebelumnya. Jadi mungkin akan berbeda hasilnya. Meski demikian kemungkinan terburuk itu tidak menyurutkan semangat saya untuk mulai dari 0. Berbekal usaha dan doa semoga Allah meridhoi niat baik kami.

Alhamdulillah sounding ke suami membuahkan hasil. Suami tampaknya meridhoi dilihat dari semangatnya mencari desain kebun aquaponik yang artistik impian kami. Iya, suami mensyaratkan desain kebun akuaponik nanti tidak pakai paralon karena kurang cantik apalagi posisi lahan nanti menghadap ruang tamu.  Saya menambahkan konsep vertikal garden untuk menutupi tembok pagar yang panjang dan kosong. Jadi lah kami berburu desain-desain taman, kolam, dan kebun akuaponik/hidroponik yang artistik. Setelah saya diskusikan syarat ini ke mentor, ia pun memberi beberapa referensi desain yang ciamik.




Konsep dasar vertikal hidroponik garden
Untuk paralon bisa diganti talang air berwarna hitam agar lebih artistik seperti gambar di bawah ini:
Sumber : Ebook Trubus Potential Business
Kemudian konsep kolamnya kecil memanjang seperti ini:

Imut-imut ya
Coba bayangkan kolam kecil di atas temboknya nanti dipasang talang air berwarna hitam. Lumayan tergambar kan? Keliatannya sederhana, menurut mentor saya juga begitu, kita tidak perlu memberi nutrisi pada tanaman karena akan terjadi simbiosis mutualisme antara ikan dan tanaman. Tanaman mendapat nutrisi dari air kolam, sedangkan ikan mendapatkan nutrisi dari akar tanaman. Jadi kita hanya perlu memberi makan ikannya saja dengan pelet.

Namun saat mentor memberi referensi kebun gantung seperti di bawah ini saya dan suami juga tertarik. Sayangnya kemungkinan tidak bisa diterapkan di lahan kami yang tidak terlalu luas.

Kesannya artistik, rapi, dan cantik
Lalu saya juga menambahkan referensi kolam impian saya yang entah bisa diterapkan atau tidak, hehe

Cantik banget kan...kesannya alami gitu.
Lihat di belakangnya ada vertikal hidroponik garden

Akhir dari semuanya, mudah-mudahan Allah meridhoi kami belajar dan menabung dana untuk membangun kebun akuaponik impian kami.

#jurnalke3
#tahapkupukupu
#bundacekatan
#buncek1
#institutibuprofesional