Sunday, July 30, 2017

Portofolio Math Around Us Day #9

Sayang sekali Sabtu kemarin a Hamzah dan a Afnan berlibur ke rumah eyang. Abi sedang dinas ke Subang jadi ummi berduaan aja sama Aisha. Padahal rencananya ummi mau membuat cup cake bareng anak-anak tapi karena para kakak belum pulang sampai magrib karena hujan jadi lah hari itu tidak ada kegiatan matematika logis. Ummi hanya bermain memasukkan benda lagi bersama Aisha dan sesekali masak-masakan.

Lanjut hari ini, ahad, ada ummi dan abi yang libur bekerja. Sebelum agenda di luar rumah, ummi sempatkan simulasi lagi. Kali ini giliran a Hamzah.

"Aa, tolong belikan pampers untuk Aisha ya...ini uangnya," pinta ummi memberikan selembar uang lima ribu rupiah kepada a Hamzah. "Beli pampers size M 2 ya.. ukuran M," jelas ummi.

A Hamzah segera mengambil uangnya dan membuka pintu rumah.
"Beli pampersnya di mba Sari mi?" tanyanya dari celah pintu yang terbuka.


"Iya, klo gak ada di warung nia yaa.." ujar ummi.

A Hamzah nyengir lalu menutup pintu untuk menunaikan tugasnya.

Tidak lama kemudian a Hamzah sudah kembali membawa belanjaannya.

"Aa, coba kesini sebentar," panggil ummi. "Ini pampersnya ada berapa a?"

"Dua," jawabnya.

"Kalau pampers ini ummi kasih Aisha satu, a Hamzah satu jadi masing-masing dapat berapa?" tanya ummi seraya memberikan satu pampers ke a Hamzah dan satu pampers lagi disimpan untuk Aisha.

"Satu," jawabnya.

"Jadi kalau pampersnya ada dua terus dibagi dua buat aa sama Aisha jadi masing-masing dapat berapa?"

"Satu."

"Jadi dua dibagi dua berapa?"

"Dua eh satu mi."

"Iya..jadi dua dibagi dua sama dengan du..?"

"Wa! dua mi!"

"Iya benar.."

"Mi, aa mau jajan,,,"

Haha rupanya aa tertarik sama jajanan di warung saat beli pampers tadi. Berhubung anak-anak sudah makan jadi ummi membolehkan.

"Aa mau jajan apa?"

"Coklat mi."

"Ini ummi kasih yang dua ribu, nanti habis jajan ke sini lagi ya.." pesan ummi.

Tidak lama kemudian a Hamzah sudah kembali membawa jajanannya. Ternyata ia membawa dua kaplet berisi coklat bulat kecil-kecil dan bulat besar. Kesempatan untuk belajar pembagian lagi.

"Coklatnya dapat berapa a?"

"Dua."

"Tadi ummi kasih uang berapa a?"

"Dua ribu."

"Jadi harga satu coklatnya berapa? Dua ribu dibagi dua. Jadi masing-masing berapa harganya?"

A Hamzah terlihat berpikir.

"Satu.." gumamnya.

"Satu ri..?"

"Satu ribu!" serunya.

"Iya satu ribu sama dengan seribu," jelas ummi. "Jadi dua ribu dibagi dua jadi berapa?"

"Seribu," katanya sambil nyengir. Sepertinya ia senang permainan ini. Atau senang berhasil memecahkan masalah.

"Mi, nan mau mi..." seru a Afnan tiba-tiba mendekati ummi dan a Hamzah. Ummi jadi dapat ide untuk melibatkan a Afnan.

"Nah, sekarang kita kumpulkan coklatnya sesuai warna yang sama ya.." ajak ummi. Ummi segera ke dapur mengambil piring bersekat untuk wadah coklat.

Setelah mendapatkan piringnya kami membuka bungkus coklat tersebut dan menuangkannya ke dalam piring.

"Ayo sekarang dikelompokkan sesuai warna yang sama ya.. coba yang biru dulu," perintah ummi memandu permainan.

Tentu saja a Hamzah lebih dulu mengelompokkannya.

"Sekarang warna kuning, coba Afnan yang kumpulin ya..." ujar ummi memberi kesempatan a Afnan.

Ia masih belum hapal warna jadi mesti diingatkan kembali. Setelah mendapatkan warna kuning ummi memintanya mengumpulkan jadi satu di dalam salah satu sekat di piring. "Banyak mii!" lapornya. Jumlah coklat kuning memang lebih banyak dibandingkan biru. Setelah mengelompokkan warna saatnya kembali belajar pembagian. "A, coba hitung ada berapa coklat yang kuning?" tanya ummi. A Hamzah dengan cepat menghitungnya. "Empat!" "Berapa nan?" "Satu-tujuh-" a Afnan terlihat malas-malasan menghitung. Baiklah, ummi tidak akan memaksanya. Biarkan ia mengikuti permainan semampunya. "Cepetan mi, aa mau makan coklat.." rupanya a Hamzah mulai tidak sabar ingin memakan coklatnya. "Iya sebentar lagi, sekarang coklatnya kita bagi-bagi ya.. coba a Hamzah bagi buat aa sama Afnan. Satu-satu baginya. Aa satu afnan satu, begitu seterusnya..." ujar ummi menjelaskan. A Hamzah segera mempraktekkannya. "Jadi masing-masing dapat berapa a?" "Dua." "Jadi empat dibagi dua berapa?" "Dua." "Iya benar. Sekarang yang kuning. Ada berapa yang kuning?" "Enam." "Sekarang dibagi tiga, aa, Afnan, Aisha," perintah ummi. A Hamzah dan a Afnan segera mengambil bagiannya. Ummi membantu menyimpan punya Aisha. "Masing-masing dapat berapa a?" "Dua!" "Jadi enam dibagi berapa tadi?" ummi menunjuk a Hamzah, a Afnan, dan Aisha. "Tiga!" "Jadi enam dibagi tiga berapa?" "Dua!" "Iya benar.."

Alhamdulillah a Hamzah sudah mulai mengerti konsep pembagian. Tinggal perkalian.
 

Portofolio Math Around Us Day #8

Matematika bukan hanya tentang angka dan hitungan namun juga ada hubungannya pada kelogisan berpikir dan pemecahan masalah [Materi Kelas Bunda Sayang]

Konsep inilah yang  mengilhami ummi membuat kegiatan yang memancing anak memcahkan masalah. Malam ini ummi sedikit kecewa karena a Hamzah sudah tidur saat ummi dan abi datang. Ini pastilah karena lagi-lagi a Hamzah tidak tidur siang. Kemarin-kemarin a Hamzah masih bisa bertahan sampai jam 9 malam, tapi malam ini habis Isya sudah tidur mungkin karena terlalu lelah bermain.

Ummi pun request ke kakung yang mengasuhnya supaya a Hamzah dibiasakan tidur siang. Kakung mengaku kesulitan menyuruh a Hamzah tidur siang. Maka ummi memberikan tips dengan mengkondisikan anak tidak bisa keluar rumah saat waktunya tidur siang. Jam 12 siang habis shalat zuhur gerbang dan pintu depan dikunci, lampu dimatikan, jendela dibuka agar tetap terang, lalu AC dinyalakan. Kakung bilang sudah pernah seperti itu tapi tetap tidak tidur-tidur. Ummi pun menceritakan pengalaman serupa dengan membiarkan anak-anak di dalam rumah terus sepanjang hari selama tidak tidur siang. Biasanya lama kelamaan anak kecapekan bermain di dalam rumah dan akhirnya tidur juga. Semoga minggu depan a Hamzah bisa mulai tidur siang.

Karena a Hamzah sudah tidur ummi pun hanya bermain dengan a Afnan dan Aisha. Kali ini ummi ingin mempraktekkan simulasi konsep pemecahan masalah. Ummi perhatikan Aisha sedang senang memasukkan sesuatu. Ummi ambil beberapa pensil warna dan ambil wadah toples yang agak besar dan toples permen fox yang lebih kecil. Aisha dengan mudah memasukkan pensil warna ke toples yang agak besar. Ummi tingkatkan levelnya ke toples fox, Aisha juga mudah memasukkannya. Ummi mencari-cari wadah yang ada lubangnya, pengennya saringan magic com tapi dicari-cari gak ketemu. Akhirnya ummi mencari botol atau tempat minum. Dapat lah satu botol yang diameter lubangnya skitar 2 cm. Apakah Aisha berhasil? Yeiy! Aisha berhasil melewati level lubang diameter 2 cm.

Aisha terlihat menikmati, berkali-kali botol yang terisi pensil warna ummi keluarkan isinya lalu diisi lagi sama Aisha. A Afnan tidak mau kalah. Ini level Aisha tapi ia pengen ikutan. Jadi ummi biarkan saja sementara ummi membuatkan simulasi untuk a Afnan.

Untuk a Afnan levelnya harus lebih tinggi. Kali ini ummi menyiapkan celengan kotak, dengan lubang berupa garis lebarnya 2 mm dan panjangnya 2 cm. Kemudian ummi menyiapkan aneka bentuk benda dari kardus. Ada lingkaran, kotak, persegi panjang, segitiga, bunga, daun, mobil, dan perahu. Ukurannya pun beraneka ragam. Setelah selesai ummi persilakan a Afnan memasukkan benda-benda tadi ke dalam celengan kotak. Ternyata a Afnan dengan mudah memasukkannya. Sepertinya ummi mesti meningkatkan levelnya nih. Kapan-kapan kita simulasi lagi ya ayang-ayangku ^_^

Friday, July 28, 2017

Portofolio Math Around Us Day #7

Berbekal pengalaman kemarin ummi jadi berpikir. Sepertinya memang perlu sekali membuat kurikulum homeschooling agar tiap hari ada panduan pengajaran. Menjelang a Hamzah masuk SD, a Hamzah masih belum lancar betul calistung, terutama dalam menulis dan menghapal huruf. Kalau hitungan alhamdulillah sudah mulai lancar dan mengerti logika penambahan dan pengurangan. Untuk pembagian dan perkalianu ummi masih memikirkan metode apa yang paling mudah dimengerti anak. Sementara ummi baru mencoba mengenalkan pembagian, karena lebih mudah mengaplikasikannya dalam kegiatan harian.

Selama di kantor ummi memikirkan soal kegiatan untuk mengenalkan konsep pembagian. Paling mudah mungkin dengan konsep berbagi. Ummi merencanakan nanti malam ingin membuat sesuatu atau memberi makanan pada anak-anak dan mengenalkan konsep pembagian dengan kegiatan berbagi.

Sampai di rumah ummi mencari-cari sesuatu yang berjumlah banyak atau besar untuk properti konsep berbagi. Padahal di kantor sudah dipikirkan berbagi buku, spidol, dll tapi sampai rumah hilang semuanya dan ummi hanya kepikiran makanan. Rupanya kami kehabisan logistik camilan, hanya ada kue bagea, kue sagu oleh-oleh khas makassar yang dibawa abi dari kantor. Ummi coba rasanya enak. Ummi coba menarik anak-anak untuk memakannya supaya bisa eksekusi konsep berbagi dan pembagian.

"Aa...lihat nih ummi punya apa?" tanya ummi sambil membawa toples  berisi kue bagea. Aisha yang paling tidak sabar menyambutkan. Aisha memang suka sekali makan. Apalagi kalau lapar. Kalau badannya sehat, Aisha selalu "kepengen" apapun makanan yang dipegang ummi, abi, aa, eyang, kakung, orang-orang yang dekat dengannya.

A Hamzah dan a Afnan yang sedang bermain mobil-mobilan segera menghampiri.

"Ayo kita makan ini a!" ajak ummi.

"Gak mauu hamzah ga suka itu..." ujar Hamzah.

Haduh, misi gagal. Ummi jadi bingung mesti pakai apalagi. Yasudah the show must go on..

Anak-anak sedang asyik bermain mobil-mobilan termasuk Aisha. Padahal Aisha sudah dibelikan mini kitchen mainan. Ummi sudah membawanya ke spot mini kitchen tapi lagi-lagi Aisha kembali menghampiri kakak-kakaknya ikut bermain mobil-mobilan. Maka ummi mengikuti arus anak-anak dahulu.

"Coba lihat ini a, mobil ini mana yang kecil dan mana yang besar?" tanya ummi mengambil dua buah mobil-mobilan.

Anak-anak mulai tertarik dan menghampiri ummi.

"Ini lebih besar," jawab a Hamzah menunjukkan bis kota yang besar. "Yang ini kecil," lanjutnya menunjuk mobil kecil di sebelah bis.

Ummi mengambil satu mobil lagi. "Kalau ini mana yang paling besar sampai paling kecil"

"Ini besarr..bis besar," jawab hamzah. "Ini, ini, kecil," katanya menunjuk mobil yang lainnya.

Ummi mengambil satu mobil lagi. "Nah, sekarang coba urutin mobil dari yang kecil ke yang besar," perintah ummi.

A Hamzah mulai menyusun mobil-mobilnya. Ia sudah mengenal konsep besar-kecil dan urutannya. A Afnan dan Aisha memperhatikan. Tentu saja Aisha sambil tidak sabar untuk ikut "membantu", hehe

Setelah berhasil mengurutkan mobilnya, a Hamzah mulai bosan dan kembali bermain mobil-mobilan bersama a Afnan. Aisha pun sudah menguasai mobil-mobil yang dipakai presentasi tadi.

"A lihat nih. Mobilnya muat berapa ya di atas bis besar?" tanya ummi berusaha menarik perhatian. Ummi menaruh satu mobil kecil di atap bis besar.

Melihatnya a Hamzah langsung ikut menyusun mobil kecil di atas bis besar.
"Empat mi!" serunya selesai menyusunnya.

"Loh, ini masih ada yang kosong," tunjuk ummi pada ruang kosong di atas bis besar.

"Oiya," a Hamzah secepat kilat mengambil satu buah mobil dan menaruhnya di ruang yang kosong.
"Jadi lima mi," ujarnya.

"Iya benar.." sambut ummi. Sebenarnya ummi masih mau melanjutkan tapi anak-anak kembali bermain mobil-mobilan. Aisha pun sudah mulai rewel. Kalau ummi lanjut mengeloni Aisha bisa dipastikan ummi ketiduran dan tidak jadi belajar. Maka ummi mulai bernyanyi tapi nada dan liriknya karangan sendiri dadakan. Bukan tahu bulat aja yang bisa (digoreng) dadakan :D

Ummi sudah lupa nada dan liriknya, tapi intinya ummi mengingatkan sudah waktunya baca buku, ayo ambil bukunya. Dan ternyata a Afnan merespon. Ia langsung mengambil buku dari rak buku. Rupanya a Afnan menyimak nyanyian ummi.

A Afnan mengambil boardbook odong-odong dongeng seperti kemarin. Ummi membukanya dan sempat menyebutkan soal angin sepoi-sepoi. Mendengarnya a Hamzah langsung sibuk mencari-cari buku di rak.

"Aa nyari apa?" tanya ummi.

"Buku Hamzah kemana mi? yang tipis itu.."

"Buku yang mana?"

"Yang ada angin.."

Ummi bantu mencarikan, ternyata ada diantara buku-buku yang seukuran tingginya jadi a Hamzah tidak melihatnya. "Itu bukunya," tunjuk ummi.

A Hamzah langsung mengambilnya dan membuka-bukanya. Baru dibaca-dibaca sebentar ia langsung teringat sesuatu. "Buku yang satu lagi mana mi? Yang salju," tanyanya. Buku Angin dan Salju memang satu seri jadi bentuknya sama.

Ummi bantu mencarikan lagi tapi tidak ketemu.

"Ini aja mi!" a Hamzah malah mengambil buku Supercar. Sebenarnya Aisha sudah mulai rewel. Tapi a Hamzah merajuk terus meminta ummi membacakan bukunya. Jadilah ummi membacakan buku sambil riweh menyusui dan menenangkan Aisha, sambil sesekali menahan kantuk juga karena sudah jam setengah sepuluh.

Selesai membacakan bukunya, anak-anak mulai mengantuk. Para kakak mulai mengambil posisinya masing-masing di atas kasur, a Hamzah malah langsung pules. Ummi melipir ke kamar ngelonin Aisha.










Portofolio Math Around Us Day #6

Pulang kerja sebelum waktunya tidur ummi mengajak anak-anak bermain sambil belajar. Ummi memulainya dengan mengetes hapalan angka a Afnan.

"Afnan, coba hitung ada berapa harimau di baju afnan?" tanya ummi.
A Afnan langsung menunjuk-nunjuk gambar wajah harimau di bajunya. "Satu-dua-tiga-.."
"Empat!" a Hamzah menyelak.

"Aa...biarin Afnan hitung sendiri, biar belajar. Coba hitung lagi Afnan, pelan-pelan satu-satu hitungnya ya..." pandu ummi.

"Satu... dua... tiga... empat..." kata Afnan pelan namun tangannya masih belum fokus menunjuk gambarnya satu persatu.

"Jadi ada berapa harimaunya?"
Afnan sudah mulai bosan malah nyengir-nyengir menggeliat di kasur. Ummi perhatikan sambil menunggu jawabannya.

"Ummi aca ini," begitu bangun dari menggeliat Afnan malah menyerahkan buku ke ummi.
"Baca ini ummi.." a Hamzah ikut menyetorkan bukunya.

"Ummi akan baca buku kalau Afnan sudah menghitung harimaunya. Kalau belum menghitung ummi gak mau membacakan.." ummi mulai bernegoisasi.

"Ahh ummii..." a Afnan mulai merajuk. Akhirnya ia mulai menghitung sambil menunjuk gambar wajah harimau di bajunya. "Satu..dua..tiga..empat."

"Jadi berapa harimaunya?" tanya ummi lagi.
"Empat!" seru Afnan.

"Sebelum baca bukunya ummi tanya dulu ke a Hamzah. Buku ini bentuknya apa a?" tanya ummi sambil menunjukkan salah satu boardbook seri odong-odong dongeng Mizan.

"Persegi!" seru a Hamzah.
"Betull..ini bentuknya persegi. kotak," sambut ummi.

"Kalau itu persegi panjang!" seru a Hamzah menunjukkan buku yang sudah dibuka Afnan.
"Iya...kalau bukunya dibuka jadi dua persegi digabung, jadinya persegi panjang," jelas ummi.

"Nah coba cari benda-benda apa yang bentuknya persegi panjang?" tanya ummi.

A Hamzah mulai mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Gambar kodok!" serunya melihat poster kodok berbentuk persegi panjang.

"Betul. Apalagi?"

"Beruang!"

"Iya, kalau lemari bentuknya apa?"

"Persegi panjang!"

"Kalau ini?" tanya ummi mengarahkan telunjuk ke TV.

"Persegi panjang!"

"Kalau bantal?" tanya ummi menunjuk sebuah bantal besar.

"Persegi yang berbentuk gunung," jelas a Hamzah.

Haha benar juga bantal kan agak menonjol sisinya, logika a Hamzah sudah mulai aktif.

"Kalau kasur?"

"Persegi panjang!"

"Iya benar...sekarang ummi punya banyak buku nih," kata ummi sambil menumpuk beberapa buku.
"Ada berapa bukunya a?"

A Hamzah mulai menghitung. "Enam mi," katanya.

"Sekarang ummi kasih ke aa segini, sisa berapa?" tanya ummi memberikan dua buku ke a Hamzah.

A Hamzah menghitung lagi. "Empat," ujarnya.

"Ummi kasih lagi ke aa, sisa berapa?"

"Dua."

"Ummi kasih lagi ke aa, sisa berapa?"

"Kosong!"

"Iya, bukunya sudah habis..."

Sampai di sini ummi ingin mengajarkan konsep pembagian. Tapi nanti a Hamzah bingung karena pembagian tidak bisa berawal dari pengurangan. Ummi sengaja memberi 2 buku sampai bukunya habis. Tapi memberi itu berarti mengurangi. Tidak bisa menjadi dasar membagi. Jadi bingung mencari logika pembagian yang sederhana untuk anak-anak. Karena konsep pembagian itu selalu adil, sama rata. Pun jika pembagiannya pecahan. Kalau tidak sama rata berarti bukan pembagian tapi berbagi. Jadi bingung, kan.. hehe

"Yasudah, sekarang baca buku aja. Mau baca buku yang mana?" tanya ummi mengumpulkan kembali perhatian anak-anak.

Anak-anak mulai berebutan menyerahkan bukunya. Aisha mulai rewel kelihatan mengantuk. Tapi sepertinya tertarik juga dengan gambar warna-warni di boardbook.

Ummi mulai membacakan bukunya. Seri dongeng anjing dan kucing. Di setiap gambar ummi selalu menyelipkan pertanyaan hitungan. Ada berapa bolanya? Ada berapa kucingnya? Ada berapa pesawat kertasnya?

Ummi juga menanyakan aneka bentuk geometri. Bola berbentuk apa? Pesawat kertas berbentuk apa?

Karena minggu ini sedang fokus kecerdasan matematika logis, ummi jadi ingat untuk menanyakan pertanyaan hitungan, geometri, dll setiap ada kesempatan. Karena homeschooling itu ada di sekitar kita. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkan waktu untuk belajar bersama anak di "rumah".





Wednesday, July 26, 2017

Portofolio Math Around Us Day #5

Setelah beberapa hari belajar berhitung, saatnya belajar geometri. A Afnan si tidak pernah terlihat bosan jika disuruh menghitung tapi ummi ingin memperkaya pengetahuannya dengan bentuk bangun ruang. Yang paling sederhana dan paling menarik anak-anak dulu: lingkaran.

"Afnan lihat, ini bentuknya apa?" tanya ummi menunjukkan bagian bawah panci mainan.

A Afnan yang sedang asyik main masak-masakan bersama Aisha segera melihat panci itu.

"Umm.. apa ya..." aiih gaya mikirnya itu loh... ngegemesin.

"Ini bentuk lingkaran!" seru ummi memberitahunya. Mikirnya kelamaan, kelihatan kalau belum tahu, hehe

"Nah, apalagi yang bentuknya lingkaran?" tanya ummi lagi.

A Afnan mulai celingukan melihat benda-benda di sekitarnya.

"Itu dia!" seru ummi lagi menunjukkan lingkaran kompor mainan. Jari ummi lalu menyentuh pinggiran kompor berbentuk lingkaran itu untuk mempertegas bentuknya pada a Afnan.

"Mana lagi yang lingkaran?"

"Ini!" seru a Afnan semangat. A Afnan selalu berseru semangat tiap menjawab pertanyaan, meskipun jawabannya salah, hehe

Tapi kali ini ia benar, ia menunjukkan sebuah benda berbentuk lingkaran. Spagetti mainan yang disusun mirip gunung dengan alas lingkaran.

"Oh iya benar, ini bawahnya lingkaran. Ayo mana lagi yang lingkaran?"

Afnan celingukan lagi.

"Itu dia!" seru ummi menunjukkan jam di dinding. "Itu jamnya berbentuk lingkaran," lanjut ummi. "Kalau ini bentuknya apa?" tanya ummi menunjukkan miniatur potongan pizza mainan.

A Afnan malah nyengir.

"Ini segitiga," ujar ummi. Sebenarnya ummi ingin mengajari tentang pembagian dan pecahan tapi potongan pizzanya gak lengkap sehingga ummi urung.

"Itu apa?" giliran a Afnan yang bertanya. Jarinya menunjuk pada box mobil remote control lamborghini a Hamzah.

"Oh, itu kotak," jawab ummi. Sebenarnya pengen lanjut ke bentuk tiga dimensi tapi ummi mesti bersabar. Cukup lingkaran dan segitiga dulu. Kalau sudah paham dan hapal baru lanjut ke bentuk yang lainnya.

Rasa-rasanya ummi jadi guru TK sekarang :D

Tuesday, July 25, 2017

Portofolio Math Around Us Day #4

Mengingat PR ummi di hari sebelumnya, ummi kembali fokus melatih a Afnan berhitung. Kali ini ummi ingin mengajarkannya perbedaan besar dan kecil.

"A lihat nih, ada berapa ikan besar?" tanya ummi menunjuk wall sticker ikan di pintu dapur.
"Satu-ua-tiga-ma!" a Afnan langsung nyerocos sambil menunjung dengan asal. Apa saja ditunjuk termasuk gambar rumput laut.

Sepertinya a Afnan masih perlu belajar fokus. PR ummi lagii

Lalu ummi menunjukkan ikan mana yang besar dan memandu jarinya menghitung pelan-pelan.

"Ikan besar yang ini. Satu...dua... ada dua.. " ujar ummi. "Ada berapa ikan yang kecil a?"

Lagi-lagi a Afnan menyebut sambil teriak penuh semangat tapi salah :D

Ummi pun memandunya kembali.

"Ikan kecil ada satu..dua..tiga...empat.. ada berapa a?"

"Empat!"

Lalu ummi kembali memandu a Afnan berhitung dari satu sampai sepuluh. Masih belum hapal tapi sudah mulai ingat angka empat setelah angka tiga. Alhamdulillah :)




Sunday, July 23, 2017

Portofolio Math Around Us Day #3

Hari sudah sore, ummi baru ingat anak-anak belum latihan berhitung hari ini. Maklumlah ya.. jam 7 pagi kamis sudah di jalan menuju Kajian Ketahanan Keluarga di Masjid SALAM UI. Sampai rumah ba'da zuhur karena sekalian sholat di masjid dekat rumah. Istirahat, makan, beres-beres, tahu-tahu sudah azan Ashar. Sholat, mandi sore, beres-beres lagi tahu-tahu udah mau magrib.

Saat maghrib itu lah ummi baru melatih anak-anak berhitung. Kebetulan abi pulang membawa es cendol dalam gelas yang tutupnya bergambar upin-ipin. A Afnan menggeleng saat ditawari es cendol duren pesenan ummi. Ia tampak mencari-cari minuman yang lain dalam kantong plastik bawaan abi. Rupanya ia mencari minuman yang tutupnya bergambar upin dan ipin. Berbeda dengan tutup es cendol duren ummi yang tutupnya hanya bergambar salah satu karakter entah upin atau ipin. Haha namanya anak-anak ya... gambar aja dipermasalahkan.

Melihat gambar upin-ipin yang berbeda tadi tiba-tiba ummi dapat ide untuk melatih a Afnan berhitung.

"Afnan.. coba hitung nih, jumlah orangnya ada berapa?" tanya ummi menunjukkan tutup gelas minuman punya ummi dan punya a Afnan.
"Em...em..." Afnan gegayaan sok mikir.
"Coba hitung pelan-pelan, sa-tuu...." ujar ummi memancing a Afnan untuk memulai hitungannya.
"Satu..." seru a Afnan.
"Jadi ada berapa upin-ipinnya?" tanya ummi.
"Um..." lagi-lagi a Afnan sok mikir.
"Dua!" seru seseorang penuh semangat.

Ah rupanya a Hamzah sedang mencari perhatian. Sebentar ya a.. habis Afnan nanti aa dapat giliran berhitung juga...

Ummi lumayan menyesal, ternyata Afnan belum pandai berhitung 1 sampai 10 di usia menjelang 4 tahun ini. Ummi terlalu fokus sama a Hamzah. A Afnan masih belum bisa menyebutkan secara urut di atas angka 3. Warning untuk ummi supaya lebih sering melatihnya. Ummi juga mengetes pengetahuan warna a Afnan, ternyata belum hapal warna sama sekali, masih suka menyebutnya dengan menebak. Jika ditanya kembali warna yang sama seringkali salah. Terlihat sekali hanya menebak, belum hapal. PR ummi banyaakk >_<

Selesai dengan a Afnan, ummi lanjut ke a Hamzah. Ummi mengambil kartu penjumlahan.

"A, lihat ini. Gambar ini ditambah gambar ini jadi berapa?"
"17!" seru a Hamzah.
"Pelan-pelan a, dihitung dulu.."
A Hamzah mulai menghitung gambarnya satu persatu lalu menjumlahnya.

Yah, sepertinya ummi harus menaikkan levelnya karena a Hamzah sudah khatam bagian ini. ^_^





Portofolio Math Around Us Day #2

Sepulang membeli nasi uduk, a Hamzah minta dibuatkan burger. Sepertinya ia sedang malas makan nasi, menurut laporan kakungnya kemarin seharian hanya mau makan nasi satu kali saja. Padahal hari sebelumnya pun ia baru makan nasi sore hari.

Ummi ingin mencoba mengetes hitungan pecahan a Hamzah, mengingat usianya sudah 6 tahun, mungkin sudah saat stimulasi perhitungan yang lebih sulit lagi. Awalnya ummi meminta a Hamzah menghitung jumlah lapisan burger mulai dari rotinya.

"A, coba hitung berapa lapis burgernya," saran ummi sambil menaruh keju lembaran di atas roti burger.
"Satu..." kata a Hamzah memulai hitungannya.
"Ummi, mayonesnya lagi..." ucapnya tiba-tiba.
"Iya..nanti di lapisan paling atas ya... kan tadi udah di atas rotinya...sekarang kasih saos tomat dulu.." jawab ummi sambil menuangkan saos tomat ke atas keju lembaran.
"Ummi, nan auu.." seru Afnan yang berdiri di samping a Hamzah sama-sama memperhatikan proses membuat burger.
"Iya..nanti berdua a Hamzah ya... nanti ummi potong-potong burgernya.." jawab ummi sambil menaruh daging panggang di atas lembaran keju yang sudah diberi saos tomat.
"Nan, ga auu saos..." protes a Afnan tiba-tiba.
"Gakpapa..saos tomat kan manis ya a... " jawab ummi meminta persetujuan a Hamzah.
"Iya nan, enakkk...sluurrp.."
haha a Hamzah mulai lebay, dan ummi tersadar hitungan lapisan sudah terlupakan.

Baiklah, skip pemanasannya langsung saja mulai hitung pecahan.
"Ummi, nya enan, ana...?" a Afnan mulai tidak sabar.
"Sebentar ya.. nanti ummi potong burgernya, jadi bisa makan bareng aa..." sahut ummi sambil mengambil pisau untuk memotong burger yang sudah lengkap lapisannya di atas talenan.

"A Hamzah, lihat nih, ummi potong jadi berapa burgernya?" tanya ummi menarik perhatian a Hamzah.
"Jadi empat aja mi," pintanya.
Ummi mulai mengiris lingkaran paling luar sambil menekan rotinya agar isinya tidak berlarian.
Srek-srek-srek-srek
"Dua..." kata a Hamzah saat pisau berhasil memotong burger menjadi dua bagian.
"Tiga..." lanjutnya saat pisau baru berhasil memotong jadi dua bagian pada bagian yang pertama.
"Empat!" serunya saat pisau berhasil memotong jadi dua bagian pada bagian yang kedua.

MasyaAllah, alhamdulillah ternyata a Hamzah sudah mengerti konsep pembagian. Tanpa disuruh ia menghitungnya sendiri sesuai jumlah potongan burger yang sudah terbagi.

"Ini tadi burgernya cuma satu, terus ummi potong jadi berapa a?" tanya ummi mengetes lagi.
"Empaatt!" sahut a Hamzah.
"Nah, jadi kalau ummi ambil satu ini berarti satu dari empat ya.." kata ummi berusaha menjelaskan sesederhana mungkin konsep pecahan.

Semoga a Hamzah ingat. Supaya ia tidak asing saat harus mempelajarinya saat usianya sudah 7 tahun nanti. ^_^


Portofolio Math Around Us Day #1

Hari ini a Hamzah tidur duluan. Tinggal A Afnan dan Aisha yang masih bertahan. Belum jam 10 si.. tapi ummi sudah ngantuk. Pengen tidur cepat karena masih recovery pasca radang tenggorokan.

Bosan main dengan mainannya, Afnan mulai mengambil buku. Ia meminta ummi mengambil dan membacakan buku dengan cover wajah bebek. Buku ini adalah salah satu bagian dari Seri Dunia Binatang dimana bukunya hanya terdiri dari maksimal 5 halaman, tebal halaman bukunya sekitar 1 cm karena terbuat dari gabus (busa). Buku ini biasa disebut buku busa, cocok untuk toddler karena halamannya tebal, ringan, dan empuk, tidak akan melukai, robek, ataupun hancur terkena cairan.

A Afnan suka buku ini karena gambarnya realis, mirip dengan aslinya. Dan cerita dalam buku ini sangat amat sederhana nyaris tiap 2 halaman hanya memiliki satu kalimat deskriptif saja. Maka ummi lah yang akan membawa suasana dalam buku ini menjadi nyata. Ummi akan mengeong, membebek, mengembik, dan berekspresi menirukan tokoh binatang yang ada di dalam buku ini. Satu buku untuk satu binatang jadi ummi akan puas mengekspresikannya, hehe

Kebetulan dalam buku bebek ini ada gambar bebek-bebek yang sedang berbaris. Ummi ingat a Afnan belum hapal benar hitungan sampai 10 di usia 3,5 tahun ini. Maka ummi berusaha keras melibatkannya berhitung di setiap kesempatan.

"Afnan, coba hitung ada berapa bebeknya?" tanya ummi menunjuk gambar rombongan bebek.
A Afnan mulai menunjuk bebeknya satu persatu, "Satu, dua,... empat, ima..." seloroh a Afnan.
"Tiga dulu a, satu, dua, tiga..." sergah ummi.
A Afnan langsung mengulangi hitungannya sambil menunjuk bebeknya satu persatu dari awal lagi.
"Satu, dua, tiga, empat, ima, enam...sembilan, sepuluh!"
hihihi rupanya ia tidak sabar menghitungnya. Bebeknya lebih dari 10 tapi karena baru belajar hitungan  satu sampai sepuluh ia jadi kebingungan dan tidak sabar menyelesaikan hitungannya sampai yang terakhir (ia tahu) :D

Ayo kita ulangi lagi pelan-pelan ya a... ummi menyebutkan hitungannya sambil menunjuk bebeknya pelan-pelan.
"Sa-tuu... du-aa... ti-gaa.... "
"Empat-ima-apan-uluuh!" seru a Afnan.

Ah, sepertinya ia terlalu bersemangat. ^_^