Sunday, July 30, 2017

Portofolio Math Around Us Day #9

Sayang sekali Sabtu kemarin a Hamzah dan a Afnan berlibur ke rumah eyang. Abi sedang dinas ke Subang jadi ummi berduaan aja sama Aisha. Padahal rencananya ummi mau membuat cup cake bareng anak-anak tapi karena para kakak belum pulang sampai magrib karena hujan jadi lah hari itu tidak ada kegiatan matematika logis. Ummi hanya bermain memasukkan benda lagi bersama Aisha dan sesekali masak-masakan.

Lanjut hari ini, ahad, ada ummi dan abi yang libur bekerja. Sebelum agenda di luar rumah, ummi sempatkan simulasi lagi. Kali ini giliran a Hamzah.

"Aa, tolong belikan pampers untuk Aisha ya...ini uangnya," pinta ummi memberikan selembar uang lima ribu rupiah kepada a Hamzah. "Beli pampers size M 2 ya.. ukuran M," jelas ummi.

A Hamzah segera mengambil uangnya dan membuka pintu rumah.
"Beli pampersnya di mba Sari mi?" tanyanya dari celah pintu yang terbuka.


"Iya, klo gak ada di warung nia yaa.." ujar ummi.

A Hamzah nyengir lalu menutup pintu untuk menunaikan tugasnya.

Tidak lama kemudian a Hamzah sudah kembali membawa belanjaannya.

"Aa, coba kesini sebentar," panggil ummi. "Ini pampersnya ada berapa a?"

"Dua," jawabnya.

"Kalau pampers ini ummi kasih Aisha satu, a Hamzah satu jadi masing-masing dapat berapa?" tanya ummi seraya memberikan satu pampers ke a Hamzah dan satu pampers lagi disimpan untuk Aisha.

"Satu," jawabnya.

"Jadi kalau pampersnya ada dua terus dibagi dua buat aa sama Aisha jadi masing-masing dapat berapa?"

"Satu."

"Jadi dua dibagi dua berapa?"

"Dua eh satu mi."

"Iya..jadi dua dibagi dua sama dengan du..?"

"Wa! dua mi!"

"Iya benar.."

"Mi, aa mau jajan,,,"

Haha rupanya aa tertarik sama jajanan di warung saat beli pampers tadi. Berhubung anak-anak sudah makan jadi ummi membolehkan.

"Aa mau jajan apa?"

"Coklat mi."

"Ini ummi kasih yang dua ribu, nanti habis jajan ke sini lagi ya.." pesan ummi.

Tidak lama kemudian a Hamzah sudah kembali membawa jajanannya. Ternyata ia membawa dua kaplet berisi coklat bulat kecil-kecil dan bulat besar. Kesempatan untuk belajar pembagian lagi.

"Coklatnya dapat berapa a?"

"Dua."

"Tadi ummi kasih uang berapa a?"

"Dua ribu."

"Jadi harga satu coklatnya berapa? Dua ribu dibagi dua. Jadi masing-masing berapa harganya?"

A Hamzah terlihat berpikir.

"Satu.." gumamnya.

"Satu ri..?"

"Satu ribu!" serunya.

"Iya satu ribu sama dengan seribu," jelas ummi. "Jadi dua ribu dibagi dua jadi berapa?"

"Seribu," katanya sambil nyengir. Sepertinya ia senang permainan ini. Atau senang berhasil memecahkan masalah.

"Mi, nan mau mi..." seru a Afnan tiba-tiba mendekati ummi dan a Hamzah. Ummi jadi dapat ide untuk melibatkan a Afnan.

"Nah, sekarang kita kumpulkan coklatnya sesuai warna yang sama ya.." ajak ummi. Ummi segera ke dapur mengambil piring bersekat untuk wadah coklat.

Setelah mendapatkan piringnya kami membuka bungkus coklat tersebut dan menuangkannya ke dalam piring.

"Ayo sekarang dikelompokkan sesuai warna yang sama ya.. coba yang biru dulu," perintah ummi memandu permainan.

Tentu saja a Hamzah lebih dulu mengelompokkannya.

"Sekarang warna kuning, coba Afnan yang kumpulin ya..." ujar ummi memberi kesempatan a Afnan.

Ia masih belum hapal warna jadi mesti diingatkan kembali. Setelah mendapatkan warna kuning ummi memintanya mengumpulkan jadi satu di dalam salah satu sekat di piring. "Banyak mii!" lapornya. Jumlah coklat kuning memang lebih banyak dibandingkan biru. Setelah mengelompokkan warna saatnya kembali belajar pembagian. "A, coba hitung ada berapa coklat yang kuning?" tanya ummi. A Hamzah dengan cepat menghitungnya. "Empat!" "Berapa nan?" "Satu-tujuh-" a Afnan terlihat malas-malasan menghitung. Baiklah, ummi tidak akan memaksanya. Biarkan ia mengikuti permainan semampunya. "Cepetan mi, aa mau makan coklat.." rupanya a Hamzah mulai tidak sabar ingin memakan coklatnya. "Iya sebentar lagi, sekarang coklatnya kita bagi-bagi ya.. coba a Hamzah bagi buat aa sama Afnan. Satu-satu baginya. Aa satu afnan satu, begitu seterusnya..." ujar ummi menjelaskan. A Hamzah segera mempraktekkannya. "Jadi masing-masing dapat berapa a?" "Dua." "Jadi empat dibagi dua berapa?" "Dua." "Iya benar. Sekarang yang kuning. Ada berapa yang kuning?" "Enam." "Sekarang dibagi tiga, aa, Afnan, Aisha," perintah ummi. A Hamzah dan a Afnan segera mengambil bagiannya. Ummi membantu menyimpan punya Aisha. "Masing-masing dapat berapa a?" "Dua!" "Jadi enam dibagi berapa tadi?" ummi menunjuk a Hamzah, a Afnan, dan Aisha. "Tiga!" "Jadi enam dibagi tiga berapa?" "Dua!" "Iya benar.."

Alhamdulillah a Hamzah sudah mulai mengerti konsep pembagian. Tinggal perkalian.
 

No comments:

Post a Comment