Sunday, November 6, 2016

Cinta Tanpa Kata


Itulah Cintanya

Ia hadir atas pilihanku, keputusanku, dari hatiku tanpa intervensi sesiapa. Sebelum rasa itu ada entah kenapa aku begitu mempercayainya, begitu mengharapkannya. Tak pernah ada rasa ragu dan pikiran negatif dalam memikirkannya. Meski ia belum mengungkapkan apa kekurangannya, apa kesalahannya, apa yang tidak disukainya. Karena kuyakin semua orang punya kekurangan, kesalahan, dan ketidaksukaan. Namun kita baru benar-benar bisa memahaminya setelah hidup bersamanya. Maka kuputuskan diriku menerimanya dengan berbekal segenggam asa.

Hampir 7 tahun bersamanya, hampir kuketahui semua tentangnya. Kekurangan, kesalahan, dan ketidaksukaannya. Jarang ia menunjukkan rasanya dalam kata. Meski wanita suka dipuja dengan kata. Tapi apa makna kata tanpa laku bijaksana?

Maka aku cukup memahaminya tak membalas kata yang kuucap dengan kata yang sama. Aku memahaminya bukan berarti ia tak memiliki rasa yang sama. Karena ia selalu membalas dengan laku bijaksananya. Karena ia ingin membuktikan bahwa rasa tak cukup hanya dengan kata yang menyenangkan hati saja.

Tak perlu banyak kata. Aku tahu ia mencintaiku tanpa kata.


Generasi Kami Berdua

Hampir 7 tahun bersamanya, seorang putri dan dua pangeran telah menghiasi hidup kami berdua. Pangeran pertama yang begitu banyak energinya, pangeran kedua yang bersahaja, dan putri yang cantik sholihah.

Pangeran pertama banyak menghabiskan waktu bersama eyangnya. Jadilah ia seorang yang pandai bicara dan bersosialita. Namun ia tak bisa berdiam lama mengerjakan satu hal saja. Ia perlu pergi keluar melakukan banyak hal untuk menyalurkan energi dan imajinasinya.

Tak sedikit orang yang mengatakan pangeran pertama anak yang cerdas nan istimewa. Mungkin karena melihat dari pancaran mata dan energinya yang penuh semangat luar biasa. Maka kami mencoba menyalurkannya dengan kegiatan positif yang menghabiskan energinya.

Usia 5 tahun kami kenalkan taekwondo untuk menjaga dirinya dan adik-adiknya. Kami juga melatih fokusnya dengan membaca iqra dan menghapalkan juz amma. Membaca buku cerita dan mengerjakan buku aktivitas juga cukup bisa membuatnya duduk lama. Itulah pangeran pertama kami yang penuh semangat luar biasa.

Pangeran kedua cenderung berbeda dengan kakaknya. Ia terliha lebih diam bersahaja. Namun kami yakin potensinya luar biasa. Hanya saja ia belum mampu mengungkapkan dengan banyak kata.

Pangeran kedua juga senang membaca. Ia betah berlama-lama dengan buku yang menarik hatinya. Sama dengan pangeran pertama ia akan menyimak penuh minat tiap kali kubacakan buku untuknya. Kamipun mulai mengenalkan huruf hijaiyah meski ia belum jelas melafalkannya.

Pangeran kecil dibesarkan bersama pengasuh yang tidak seaktif eyangnya. Pun mungkin karena kami yang kurang menstimulasinya sehingga ia lambat berbicara. Ia baru memulai fase meniru kata menjelang 3 tahun usianya. Tapi kecerdasannya dalam menghapal sering membuat kami takjub kepadanya.

Kami rasa ia banyak merekam yang dilihat dan didengarnya meski belum bisa diwujudkan dalam banyak kata. Ia memahami yang kami ucapkan dan perintahkan serta bisa menjawab meski terbata. Jika kesulitan ia akan menggunakan gerakan dan ekspresi untuk menunjukkan kemauannya.

Membaca buku menjadi momen yang berharga untuk keluarga. Tidak hanya pangeran pertama dan kedua, putri jelita juga suka mendengarkannya. Meski usianya baru 8 bulan ia senang mendengarkan cerita. Sama dengan pangeran pertama ia senang menebar senyum manisnya. Mudah sekali tersenyum saat kita berbicara dengannya. Ia mengulum senyumnya hanya saat sakit saja.

Tak ingin mengulangi kesalahan seperti yang dialami pangeran kedua, kami ingin memberikan cukup stimulasi kepada putri jelita. Lebih banyak berbicara dan membacakan buku bersama kakak-kakaknya. Semoga kelak ia menjadi putri sholihah nan cerdas seperti nama yang kami sematkan kepadanya, Aisha, putri Rasulullah.


Mereka Madrasah Kehidupan

Hampir 7 tahun hidup bersamanya, hampir kuketahui semua tentangnya. Namun masih saja aku belum sempurna melayani dan menyenangkan hatinya. Pun terhadap buah hati kami berdua. Masih banyak yang perlu kupelajari dan kuperbaiki.

Karena sejatinya hidup itu adalah madrasah. Ada banyak materi yang perlu dipelajari dan akan ada ujian di setiap levelnya. Kadang kita perlu izin sejenak di tengah pelajaran. Tapi kita tidak bisa absen meski sakit menyerang. Kadang kita hanya perlu mengisi energi kembali di jam istirahat, namun kita juga perlu pergi jalan-jalan di waktu libur untuk mengembalikan semangat.

Kadang aku bertanya-tanya, pantaskah aku menjadi belahan jiwanya? Pantaskah aku menjadi ibu buah hati kami berdua?

Aku yang begitu banyak kekurangan dan kesalahan, pantaskah bersama dirinya dan anak-anaknya?

Ah, ternyata tidak ada kata pantas atau tidak pantas dalam madrasah kehidupan. Karena semua yang hidup di dunia otomatis telah menjadi siswanya.

Belahan jiwa dan buah hati adalah salah dua materi yang harus kupelajari dalam madrasah kehidupan. Materi-materi ini lah tempatku memaksimalkan potensi dan memperbaiki diri dengan berbagai PR dan ujian. Bukan sekedar materi tapi mereka juga amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka juga ladang pahalaku untuk membayar khilaf dan dosa yang kulakukan.


Tempat Kami Berada

Hampir 7 tahun bersamanya, telah 3 jenis tempat kami kecap bersama. Kos-kosan, kontrakan, dan rumah sementara. Berbagai jenis lingkungan dan tetangga juga telah kami rasa. Namun rasanya sulit sekali dekat dengan tetangga karena waktu kami sedikit untuk bersua. Apalagi untuk tetangga sekarang yang karakternya tidak kami suka.

Tetangga merupakan salah satu materi madrasah kehidupan. Maka ujiannya adalah bagaimana memperlakukan mereka dengan baik meski kami tidak mendapat perlakuan yang sama. Cukuplah kekurangan mereka menjadi pelajaran agar kami tidak mengikutinya. Karena kami juga tidak bisa mengubahnya cukuplah kami berbuat baik untuk menjaga diri, jiwa, dan harta kami saat berada di dekat mereka.

Namun, saat ini kami sedang ikhtiar agar bisa berhijrah ke lingkungan yang lebih terjaga. Karena kami kuatir karakter buruk tetangga menyerap ke alam bawah sadar kami dan anak-anak tercinta.

Cinta Tanpa Kata

Hampir 7 tahun bersamanya, aku tersadar tidak ada yang terjadi karena kebetulan semata. Sejak awal yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia telah digariskan olehNya. Lauhul mahfudz tempat takdir dituliskanNya. Namun Ia memberikan kesempatan pada manusia untuk memilih jalan hidupnya.

"Seandainya calon imamku ada di antara anak STAN semoga itu dia," kataku dalam hati sambil memperhatikan foto wajah salah seorang ikhwan di antara teman-temannya. Aku jarang bertemu dengannya selain berinteraksi di social media. Kegiatan kami pun berbeda bahkan bertolak belakang. Aku yang merupakan anggota pers kampus seringkali mengkritisi ketidakseimbangan dakwah organisasi islam tempatnya berada. Namun saat itu aku tidak tahu bahwa ia adalah orang yang paling benci dengan penulis artikel pengkritis dakwah di media mahasiswa.

Dan proposal itu datang, bertuliskan nama seorang ikhwan. Ternyata namanya telah lebih dulu kusebutkan dalam hati berbulan-bulan sebelumnya. Dialah, Yuga Nugraha.



Tulisan ini disertakan dalam Nice Home Work 3 program Martikulasi Ibu-ibu Profesional Jakarta Batch #2

No comments:

Post a Comment