The Right Man in The Right Place
Saat ini saya bekerja di Humas suatu instansi, pekerjaan yang saya dapatkan dari hasil magang saya dengan latar belakang organisasi pers kampus. Satu tahun pertama saya sangat menikmati pekerjaan saya yang sangat akrab saya lakukan saat di kampus dulu, mulai dari mencari informasi, mewawancara sumber informasi, menganalisis informasi, menyusun informasi ke dalam tulisan hingga mengedit tulisan sampai siap publish ke sebuah media. Namun, pekerjaan ini hanya bertahan satu tahun karena saya dipindahkan ke bagian lain yang membutuhkan administrator. Sebenarnya saya kurang menikmati pekerjaan ini karena saya tidak bisa mengembangkan bakat dan minat saya, namun saya hanyalah seorang pelaksana, tidak berani mengajukan diri kembali ke pekerjaan lama saya karena dua alasan, instansi membutuhkan administrator dan instansi tidak membutuhkan saya di bagian media. Mutasi saya ke bagian lain adalah bukti instansi kurang puas terhadap kinerja saya atau ada orang lain yang lebih baik untuk mengerjakan pekerjaan saya. Dalam keterpurukan itu akhirnya saya menjalani pekerjaan saya terus selama 5 tahun hingga akhirnya saya benar-benar sudah muak dengan pekerjaan saya.
Sebenarnya pekerjaan saya termasuk ringan dan fleksibel. Untuk seorang ibu bekerja yang seringkali harus mengutamakan anak dibanding pekerjaan kantor hal ini memang memudahkan saya. Mungkin itu salah satu sebab saya masih mau mempertahankan diri dalam pekerjaan ini. Namun ternyata kesabaran saya sudah sampai pada puncaknya. Terus menerus merasa saya bukan apa-apa, tidak bisa menjadi apa-apa, sangat menyayat batin saya. Apalagi saya tidak berhasil berbaur dengan teman-teman kerja baru yang sifatnya banyak membuat saya kurang nyaman. Sudah cukup rasanya hanya dihargai sekecil itu oleh instansi ditambah perasaan sendirian di lingkungan kerja selama 5 tahun ini. Akhirnya sebelum cuti melahirkan anak ketiga saya menyampaikan keinginan saya untuk dimutasi ke bagian Perpustakaan. Tempat idaman kedua di instansi setelah bagian media.
Sebelum cuti melahirkan saya habis saya beberapa kali menghubungi teman kantor saya menanyakan perihal kemungkinan saya untuk dimutasi. Alhamdulillah impian saya menjadi kenyataan. Permintaan saya mutasi ke bagian Perpustakaan dikabulkan. Biasanya saya merasa takut berada di tempat yang baru, tidak suka menghadapi suasana lingkungan dan teman baru namun kali ini berbeda. Saya sangat excited menuju ke tempat yang baru, tempat impian saya.
Alhamdulillah, benar saja. Semua seperti yang telah saya bayangkan sebelumnya. Saya merasa lebih berenergi di tempat yang baru yang sesuai passion saya. Apalagi teman-teman baru saya sefrekuensi dengan saya sehingga memudahkan saya untuk berbaur dengan mereka. Saya juga lebih bersemangat untuk memberikan ide-ide baru, membantu pekerjaan teman yang lain, mengeluarkan segenap kemampuan terbaik saya untuk pekerjaan baru saya. Meskipun tidak mendapat reward apapun dari instansi saya merasa lebih berguna bekerja di bagian ini. Sebegitu dahsyatnya efek perasaan merasa berguna membuat saya sadar mengapa Rasulullah mewasiatkan kaumnya agar menjadi manusia yang paling banyak manfaatnya.
Perasaan berguna ini membuat saya terus mengembangkan diri untuk menjadi orang berguna di bidang lainnya. Saya mulai rajin menulis, membaca, sharing berbagai hal yang bisa diambil manfaatnya untuk orang lain, dan pelan-pelan mulai memperbaiki kekurangan-kekurangan saya. Saya benar-benar bersyukur pada Allah akan kesempatan menikmati diri menjadi the right man in the right place. Dan saya juga sadar ternyata menempatkan seseorang di tempat yang tepat memang sangat berpengaruh terhadap kinerja orang tersebut.
Menemukan Bakat dan Minat Saya
Sejak kecil jika ditanya hobi maka saya akan menjawab membaca, menulis, menggambar. Seiring berjalannya waktu ternyata saya makin sulit menyediakan waktu untuk membaca. Sedikitnya ide yang masuk ke kepala saya membuat saya tidak percaya diri membuat tulisan. Akhirnya dua hobi saya berangsur-angsur hilang hingga rasanya tidak pantas menyebut mereka sebagai hobi saya. Satu-satunya hobi yang masih bisa saya lakukan sekarang adalah menggamar, khususnya menggambar desain busana yang akan saya produksi dalam brand fashion muslim saya. Namun hobi ini pun harus berhenti sejenak karena saya tidak punya cukup waktu dan rekan untuk mengurus produksi. Ditambah fokus saya yang bercabang ke bidang lain yang cukup menarik hati saya sejak beberapa tahun terakhir, ekonomi syariah.
Saya merasa Indonesia sedang berada dalam kondisi darurat ilmu ekonomi syariah dan saya merasa terpanggil untuk mempelajari dan menyebarkannya. Saya sangat menyayangkan pandangan sesama muslim di Indonesia yang kurang baik terhadap instansi syariah seperti perbankan syariah. Saya juga ingin mengetahui lebih dalam sebenarnya apa yang sedang terjadi di Indonesia sehingga muncul stigma negatif terhadap instansi syariah. Sampai saya mempunyai visi ingin menjadikan Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia sebagai negara pelaku ekonomi syariah terbaik di dunia. Mulai dari kehidupan sehari-hari di sektor perdagangan riil hingga instansi syariah skala nasional. Sebuah mimpi yang tinggi sekali namun entah kenapa saya yakin Indonesia bisa mencapainya.
Melihat pengalaman hidup saya, saya jadi bertanya-tanya sebenarnya apa bakat dan minat saya. Saya cukup penasaran dengan tes dari temubakat.com. Menurut hasil tes saya adalah orang yang berani menghadapi orang secara empat mata,keras
kepala, berani mengambil alih tanggung jawab, senang mengkomunikasikan
sesuatu yang sederhana menjadi menarik, banyak ideanya baik yang belum
pernah ada maupun dari pikiran lateralnya, analitis dan senang
berkomunikasi, senang mengkomunikasi ideanya, suka mengumpulkan
berbagai informasi atau teratur, suka melayani orang lain dan
mendahulukan orang lain, senang menggabung-gabung kan beberapa teori
atau temuan menjadi suatu temuan baru.
Saya sempat merasa tidak dapat mempergunakan ilmu saya dengan baik karena pekerjaan saya saat ini tidak mendayagunakan ilmu yang telah saya dapatkan saat kuliah. Saya kuliah di sekolah keuangan pun bisa dibilang karena terpaksa untuk menyenangkan dan meringankan beban orangtua. Kuliah dan ilmu di kampus itu sama sekali bukan passion saya. Ditambah pekerjaan saya justru banyak mempergunakan ilmu yang saya dapatkan dari organisasi pers kampus. Lalu mengapa saya harus mengalami ini semua?
Hingga di titik ini akhirnya saya sadar. Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya. Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.
Dengan berkuliah di sekolah keuangan gratis saya bisa meringankan beban keuangan orang tua saya. Dengan kuliah di jurusan Kebendaharaan Negara saya mungkin lebih besar kesempatan saya untuk lolos dari drop out kampus yang sangat stright ini. Allah tahu saya butuh jurusan yang memudahkan saya untuk lulus. Di kampus saya mengetahui ternyata saya tidak berbakat di mata kuliah akuntansi, tidak terbayangkan jika saya masuk jurusan akuntansi/perpajakan. Jurusan perbendaharaan termasuk jurusan yang hanya sedikit mempelajari akuntansi. Kebanyakan mata kuliah juga termasuk ringan dan mudah dipelajari tidak seperti jurusan pajak yang kaya dengan teori dan UU perpajakan. Jurusan Kebendaharaan Negara ini lah yang saya butuhkan untuk lulus, yang sesuai dengan kemampuan otak saya.
Kuliah yang relatif ringan ini lah yang membuat saya sempat serius berkecimpung di organisasi pers kampus. Saya punya cukup banyak waktu untuk berorganisasi sesuai passion saya. Di sinilah sesungguhnya tempat yang Allah pilihkan untuk saya menuntut ilmu sesuai passion, ilmu kepenulisan dan jurnalistik. Organisasi pers kampus cukup mengasah kemampuan saya di bidang komunikasi. Meskipun saya kurang pandai berkomunikasi verbal, namun kemampuan komunikasi non verbal saya semakin meningkat. Saya mulai bisa membuat tulisan yang layak dibaca orang banyak dan tulisan-tulisan yang bisa menggerakkan hati orang lain. Tulisan seorang wartawan.
Di dalam sebuah organisasi kecil ini saya jadi lebih percaya diri untuk menjadi pemimpin junior saya, mengungkapkan ide-ide baru untuk organisasi, menjadi orang berpengaruh di organisasi.
Dan semua itu mengantarkan saya kepada jodoh pekerjaan saya di bidang humas suatu instansi pemerintah.
Allah Memberi Yang Kita Butuhkan
Luar biasa sekali ternyata Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Perjalanan hidup saya meramu semua itu. Saya semakin sadar minat dan bakat saya dibidang kepenulisan, jurnalistik, ekonomi, dan bisnis.
Allah juga yang mempertemukan saya dengan suami yang sama-sama berminat di bidang ilmu ekonomi syariah. Padahal sebelumnya ia sangat menyukai akuntansi.
Di sini saya dapat menyadari kekuatan dan kelemahan saya:
Saya menyukai ilmu ekonomi syariah dan saya bisa mempelajarinya
Seya menyukai menulis dan bisa menulis hal-hal yang saya ketahui tentang parenting, pendidikan dan kesehatan anak, ekonomi syariah, VBAC, rumah tangga, dan kemuslimahan
Saya menyukai membaca dan bisa membaca sedikit demi sedikit tema-tema seperti yang bisa saya tulis di atas
Kuadran 2 : Aktivitas yang anda SUKA tetapi anda TIDAK BISA
Saya suka mengeluarkan ide atau pemikiran tapi tidak bisa menyampaikannya secara lisan
Saya suka mendesain dan memproduksi fashion muslim sesuai selera saya tapi tidak bisa mengorganisirnya sendirian
Saya suka mendidik anak-anak saya tapi tidak bisa melakukannya di jam kerja kantor saya
Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda BISA
Saya tidak suka melakukan pekerjaan administrasi seperti persuratan tapi bisa melakukannya
Saya tidak terlalu suka melakukan pekerjaan rumah tangga tapi saya bisa melakukannya
Saya tidak bisa melakukan pekerjaan dengan jam kerja yang terlalu ketat tapi bisa menyelesaikannya di waktu deadline
Kuadran 4: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA
Saya tidak bisa dan tidak suka melakukan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian seperti bagian akuntansi atau bendahara
Saya tidak suka membangun bisnis saya sendirian dan tidak bisa melakukannya tanpa dukungan suami
It's Me
Tanpa saya sadari perjalanan hidup saya telah mengantarkan saya kepada apa yang saya butuhkan. Untuk menemukan itu rupanya Allah memberikan saya jalan yang berliku agar saya bisa menemukan kekuatan dan kelemahan saya. Agar saya menyadari siapa diri saya. Agar saya mensyukuri diri dan hidup saya.
Dan nikmat Allah yang manakah yang bisa saya dustakan?



No comments:
Post a Comment