Wednesday, August 23, 2017

Portofolio Bintang Keluarga Day #3



Sudah lama sekali kami ingin mengikuti kajian forum usroh (forum keluarga) bulanan. Sayangnya selalu terkendala jadwal. Mumpung jadwalnya kosong kami berencana mengikutinya weekend lalu, apalagi ada ustadz Bendry salah satu ustadz favorit kami soal parenting dan keluarga.

Awalnya saya agak janggal sama judulnya. "Dia" siapa ya maksudnya? Apa maksudnya Allah? atau mertua? atau ART? dan saya pun agak menyesal setelah mendengar pembukaan kajiannya...

Ya, yang dimaksud "dia" di sini ternyata adalah istri yang lain. Dan ternyata forum usroh minggu ini khusus kajian tentang keluarga poligami. Berasa salah masuk kajian sama kaya salah masuk kondangan orang, hehe

Yasudahlah berhubung sudah di dalam masjid kami tetap mengikuti kajiannya hingga selesai. Kami ambil pelajaran-pelajaran yang dapat kami terapkan di keluarga kami. Alhamdulillah, suami saya pun masih kekeuh pada pendiriannya untuk monogami karena merasa tidak mampu poligami, barakallah abi...tentu saja kami tidak menolak syariat, namun kami tidak melakukannya karena itu bukan kewajiban hanya salah satu sunnah. "Masih banyak sunnah yang lain yang belum bisa kita lakukan," begitu kata suami. :)

Bagaimana dengan anak-anak? Karena ini bukan kajian anak-anak jadi mereka cukup mengikuti kami agar terbiasa dengan suasana kajian umum. Alhamdulillah anak-anak bisa dikondisikan dengan berbekal mainan. Sementara a Hamzah dan a Afnan main mobil-mobilan bareng saat Aisha masih tidur. Posisinya saat itu mereka berada di shaf laki-laki paling belakang bersama abi. Saya berada di belakang mereka yang dibatasi dengan papan kayu pembatas shaf laki-laki dan perempuan.

Saat khusyuk mendengarkan tiba-tiba a Hamzah datang memberikan saya selembar uang sepuluh ribu. "Kata abi beli susu buat Afnan mi," ujarnya.

Setelah a Hamzah kembali ke tempat abi, gantian a Afnan yang datang sambil merengek minta susu. Saya kebingungan. Soalnya sejak datang di tempat parkir tadi saya tidak melihat minimarket ataupun warung kelontong yang menjual susu. Banyak sekali tukang jajanan dan makanan tapi tidak ada susu. Paling banter teh, minuman instan, dan es kelapa. Afnan makin rewel. Saya pun terpaksa membawanya keluar area kajian.

Sampai di depan tangga turun (lokasi kajian berada di lantai dua), saya melihat ke bawah, tidak ada mini market. Saya janjikan a Afnan untuk membelinya selesai kajian. Tapi ia malah ngambek, mainan kotoran di lantai tepat di depan pintu masuk. Awalnya saya biarkan, tapi ternyata masih banyak peserta kajian yang datang sehingga mengganggu jalan. Akhirnya saya bopong ke dalam, dan ia malah menangis.

Baiklah, karena suaranya cukup menggangu saya membawa keluar pintu masuk masjid lainnya, ke arah tempat penitipan alas kaki. Saya ajak ia melihat langsung ke warung-warung di pinggir jalan, agar ia percaya perkataan saya kalau tidak ada yang menjual susu. Sebenarnya sekalian saya melihat-lihat lagi siapa tahu ada warung yang menjual susu atau mini market di ujung jalan yang belum saya lihat tadi.

Kami menyusuri jalan hingga ke ujung namun nihil, tidak ada yang menjual susu sama sekali. Saya ingin membujuknya membeli semangka tapi sayang semangkanya habis. Akhirnya saya tawarkan es podeng saja. Alhamdulillah ia mau.

Sampai di masjid saya mengajaknya makan sambil duduk di teras masjid antara tangga dan pintu masuk. A Hamzah ternyata tertarik dan ikut makan bareng. Beberapa jamaah datang dan melewati kami. Tiba-tiba ada sepasang anak laki-laki dan perempuan menghampiri kami.

"Lagi makan apa?" si anak laki-laki bertanya begitu saja. Padahal kami tidak kenal.

Mencoba mencairkan suasana, saya menjawab santai, "Makan es podeng," ujar saya lalu menengok melihat mereka. "Wah, kakak juga bawa es ya. Tuh, ayo makan lagi," lanjut saya sambil menyuapi a Afnan.

Tiba-tiba saja obrolan berlanjut.

"Kakak namanya siapa?"

"Azka. Ini adek saya Afifah."

"Ayo aa kenalan.." saya mencoba mendukung a Hamzah. Tapi ia diam saja sambil nyengir. Masih malu-malu bertemu orang baru. Apalagi Afnan, ikut memamerkan gigi depannya yang tinggal satu :D

"Kamu namanya siapa" tanya sang kakak yang berkacamata.

"Siapa a? ayo dijawab," ujar ummi. A Hamzah masih malu-malu sambil menggeleng. "Ini namanya Hamzah, adiknya Afnan," ujar ummi lagi menggantikan a Hamzah berkenalan.

"Ini adiknya kayanya seumuran sama Afnan ya? Umurnya berapa?"

"Saya 7 tahun. Kalau afifah 3,5 tahun."

Ternyata benar, adiknya seumuran Afnan. Tapi entah kenapa terlihat lebih dewasa dan memang badannya lebih besar. Mungkin keturunan dari orang tuanya.

Ohya, Azka ini tampak percaya diri sekali. Kelihatannya dia juga cerdas. Saya pun menanyakan sekolahnya.

Ternyata ia sekolah di SDIT Tahfidz dan hafalannya memasuki juz 28.

"Afifah udah hapal An-Naba. Dia paling lancar di antara temen-temennya," jelas Azka.

Wah, pantas saja. Mereka anak-anak penghapal Qur'an. Hapalan sang adik setara a Hamzah. Saya pun mencoba menyemangati a Hamzah.

"Ayo a Hamzah, Afifah masih kecil udah hapal An Naba. Ayo hapalan an Naba bareng Afifah," ujar saya.

A Hamzah dan Afifah sama-sama nyengir malu-malu.

"Hamzah pemalu ya? sama nih kaya Afifah juga pemalu. Kalau disuruh hapalan di depan orang gak mau," jelas Azka.

Tidak lama kemudian mereka berempat sudah asyik main bareng. Dari main mobil-mobilan sampai main balon air yang dibawa Azka dan Afifah. Mereka juga asyik bercerita bareng soal ini dan itu. Ah, anak-anak memang mudah akrab sekali ya. Saya harus belajar dari mereka untuk mudah akrab dengan orang lain.

Apa pelajaran hari ini? Anak-anak saya terutama a Hamzah memiliki potensi mudah bergaul dengan orang lain. Potensi ini menjadi bekal saya untuk mengarahkannya pada minat dan bakatnya nanti. Semoga anak-anak ummi dan abi senantiasa menjadi insan yang bermanfaat ya sayang... ^_^




#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

No comments:

Post a Comment