Thursday, August 3, 2017

Portofolio Math Around Us Day #12

Alhamdulillah...a Hamzah sudah sembuh. Kakung cerita kata dokter a Hamzah terkena masalah pencernaan, makannya tidak boleh telat, badannya terlalu kurus. Ummi langsung memandang a Hamzah. Memang kurus si..tapi pas ummi anak-anak dan sampai sekarang juga begitu. Kali ini ummi masih berpegangan sama pendapat dr. Apin bahwa kurus tidaknya anak tidak bisa hanya dilihat dari berat badannya tetapi juga genetikanya. Kalau orangtuanya kurus seperti abi-ummi karakter badan anak-anaknya ya mengikuti. Hanya saja ummi masih punya PR untuk menjaga asupan zat besi anak-anak karena a Afnan pernah mengalami defesiensi zat besi saat ummi menjelang HPL Aisha. Sampai Aisha lahir pun masih perawatan dengan meminum cairan merah seperti darah untuk asupan zat besinya. Kapan-kapan ummi akan cerita lebih lengkap soal defesiensi zat besi ya...

Melihat a Hamzah sudah lebih segar, ummi menawarinya makan lagi.

"Aa tadi udah makan mi.."

"Beneran? jam berapa?"

"Gak tau..tadi pas ummi masih kerja.."

"Itu makan siang kali..."

"Enggak tadi udah malam sebelum ummi pulang.."

Ummi masih ragu jadi ummi tetap menyiapkan makan malamnya.

"Mi, susu..." pinta a Afnan merayu.

"Nanti ya kalau mau tidur.." jawab ummi. "Makan yuk! Ummi punya ikan nih..siapa yang mau makan ikan?"

"Nan mauu!" seru a Afnan.

Ummi segera ke dapur menyiapkan makan malam nasi dan ikan goreng. Ummi menyuapi anak-anak bergantian.

"Pakai ini mii!" seru a Afnan sambil membawa-bawa botol kecap dari meja dapur. Ummi segera menuangkan kecap ke atas nasi dan ikan sebelum menyuapkannya ke a Afnan.

Selesai makan, ummi ingat tadi a Hamzah masih belum bisa memperkirakan jam. Ia belum terbiasa membaca jam untuk melihat waktu. Jadi ummi perlu mengingatkannya lagi cara membaca jam.

"Sekarang jam berapa a?"

"Sepuluh!" serunya.

"Jarum pendeknya di angka berapa?"

"Sepuluh!"

"Jarum panjangnya di angka berapa?"

"Enam!"

"Jadi jam berapa?"

"Jam sepuluh!"

Ummi tersenyum. "Coba lihat lagi jarum pendeknya di angka berapa? belum ke angka sepuluh kan? jarum pendeknya ada di antara angka sembilan dan sepuluh. Kalau sebelum ke angka sepuluh berarti jam sepuluh kurang. Setelah angka sepuluh berarti jam sepuluh lewat. Sekarang berarti jam sepuluh kurang," jelas ummi.

"Kurang berapa? jarum panjangnya di angka berapa?"

"Udah mau angka tujuh mi," jawab a Hamzah.

"Iya, berarti ini jam setengah sepuluh."

Ummi jadi bingung bagaimana biar ia paham jam setengah sepuluh. Sebenarnya ummi sudah jelaskan waktu baca buku Senang Bermain Jam. Tapi sepertinya ia belum hapal. Karena sudah malam ummi memutuskan bermain yang lain saja. Mungkin besok belajar lagi sambil membaca bukunya.

"Beli...beli..siap mau beli?" seru a Afnan berkeliling membawa mainan. Rupanya a Afnan sedang main jual-jualan. Jadi inget waktu kecil ummi juga senang main itu.

"Aisha beli a!" ujar ummi. "Harganya berapa?"

"Umm.."

"Dua ribu! eh dua puluh ribu aja," sahut a Hamzah.

"Jadi harganya berapa a?" tanya ummi pada a Afnan.

"Dua uwuh ibu," jawabnya.

"Ini ummi kasih yang lima puluh ribu. Jadi kembalinya berapa?"

A Afnan kebingungan.

"Berapa a?" tanya ummi menatap a Hamzah. "Coba dihitung jarinya lima dikurang dua berapa?"

"Tiga mi!" seru a Hamzah setelah melipat dua dari lima jari tangannya.

"Uang ummi lima puluh ribu dikurangi harganya dua puluh ribu jadi kembali berapa?"

"Tiga!"

"Tiga puluh ri...?"

"Tiga puluh ribu," jawab a Hamzah.

"Kembali tiga puluh ribu nan..." ujar ummi pada a Afnan. A Afnan segera mengangsurkan kembalian imajinernya. Haha kami memang sedang bermain pura-pura. Jadi uangnya hanya imajiner :D

Seru kan bermain sambil belajar matematika.. tidak terasa waktu yang hanya sedikit sekitar 30 menit saja anak-anak bisa bermain bersama ummi sambil belajar membaca jam, konsep pengurangan, dan konsep jual-beli.

Sesungguhnya waktu yang ada memang sedikit. Tapi waktu yang sedikit akan lebih efektif jika dimanfaatkan dengan optimal. Alhamdulillah.. ^_^










No comments:

Post a Comment