Saturday, August 19, 2017

Portofolio Bintang Keluarga Day #Pemanasan

Everyone is special. Setiap orang itu spesial. Tidak ada yang benar-benar identik. Tidak ada sidik jari yang sama.

Everykids is special. Setiap anak itu istimewa. Tidak ada yang benar-benar sama.  Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing.

So everyhuman is excellent, though nobody's perfect
. Setiap manusia itu hebat meski tidak ada yang sempurna.

Menyadari hal ini saya sadar telah melewati fase yang gelap di mana saya merasa minder atas kekurangan saya. Saya tidak pernah suka dipuji karena merasa pastilah ada yang lebih baik dari saya. Dan juga merasa pujian itu tidak pantas untuk saya yang masih punya banyak kekurangan dibandingkan kelebihan. Pikiran yang sempit sekali bukan?

Saya pernah melewati fase dimana saya begitu terpuruk dalam kekurangan saya. Sehingga saya tidak pernah berani berteman dengan kalangan atas, yang saya anggap lebih banyak kelebihannya dari saya. Saya bergelimang ketakutan saya sendiri, takut ditertawakan, takut diejek, takut dijauhi jika teman-teman tahu kekurangan saya. Akibat rendah diri ini saya tidak berani memulai pertemanan dan tidak pandai bergaul. Saya tidak ingin itu terjadi lagi pada anak-anak saya. Karena sekarang saya sadar, masih ada kelebihan dalam diri saya meski sedikit, namun perlu diasah agar kelebihan itu berdaya guna, bisa dipakai agar bermanfaat untuk banyak orang.

Dari Materi Bunda Sayang ini saya mendapatkan teori bahwa kemampuan anak dibagi dalam tiga bagian besar:
1. Aspek Kemampuan Afektif
Kemampuan yang berkaitan dengan nilai dan sikap
pada aspek ini dapat terlihat antara lain pada kedisiplinan atau sikap hormat terhadap guru. Aspek afektif ini berkaitan erat dengan kecerdasan emosi (EQ) anak.

2. Aspek kemampuan psikomotorik
Aspek kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan gerak fisik yang mempengaruhi sikap mental. Aspek ini menunjukan kemampuan atau keterampilan ( skill) anak setelah menerima sebuah pengetahuan.

3. Aspek kemampuan kognitif
Aspek kemampuan yang berkaitan dengan kegiatan berpikir. Aspek ini sangat berkaitan dengan intelegensia (IQ) atau kemampuan berpikir anak. Sejak dahulu,aspek kognitif selalu menjadi perhatian utama dalam sistem pendidikan formal. Ini dapat dilihat dari metode penilaian pada sekolah- sekolah di negeri kita dewasa ini yang sangat mengedepankan kesempurnaan aspek kognitif.


Jika anak memiliki salah satu saja dari 3 aspek di atas maka sudah cukup anak bisa dikatakan excellent.

Maka tugas orangtua adalah mencari tahu dimana keunggulan anak lalu menguatkan dan mengembangkannya.


PR ummi dalam tantangan ini adalah menemukan kelebihan a Hamzah, apa yang membuatnya berbinar-binar dalam mengerjakannya. Mumpung hari ini 17 Agustus, ummi mencoba explore potensi anak-anak dengan lomba yang mereka ikuti.


Pertama, a Afnan mengikuti lomba makan puding. Tahun lalu ia tidak mau makan sama sekali. Bagaimana dengan tahun ini?

"Afnan, mau ikut lomba makan puding gak?" tanya ummi pada a Afnan. Tahun lalu ia ikut lomba karena dipanggil namanya dan ummi agak memaksanya, jadi mungkin ia belum siap. Tahun ini ummi menyerahkan keputusan padanya.

"Mau.." jawab afnan pelan. Ia masih kelihatan malu-malu berbicara di tengah keramaian.

Ummi pastikan sekali lagi. "Afnan mau ikut lomba makan puding beneran?"

a Afnan mengangguk. "Mau..."

Oke. Jadi ummi mengajaknya memasuki arena perlombaan.

"Nanti pudingnya dimakan sendiri ya..sampai habis," ujar ummi mengarahkan.

1...2....3! lomba dimulai.

A Afnan memulai suapan pertamanya.Ia mengunyahnya pelan sekali sambil memperhatikan keramaian orang-orang disekitarnya yang berseru-seru menyemangati para peserta lomba.

"Ayo, cepetan ngunyahnya. Terus makan lagi..." kata ummi memandu.

Rupanya pendamping boleh bantu menyuapi. Jadi ummi mulai menyuapinya. Selesai dua suapan, a Afnan belum membuka mulutnya. Rupanya ia sudah tidak berminat. Jadi ummi menggiringnya keluar dari arena perlombaan.

Dari sini ummi menyimpulkan, Afnan tidak berbinar-binar mengikuti lomba di tengah keramaian. Ia belum bisa menunjukkan potensi dirinya di hadapan banyak orang. Namun, Afnan unggul dalam aspek psikomotorik karena bisa menyuap pudingnya sendiri.



Bagaimana dengan a Hamzah?

"Mi, hamzah mau ikut lomba," katanya menawarkan diri.

"Aa mau ikut lomba bendera?" tanya ummi memastikan.

"He-eh," katanya sambil mengangguk mantap.



Oke. Saat anak menunjukkan inisiatif positifnya maka ummi wajib mendukung dan mengapresiasinya.

Saat namanya dipanggil, ummi mengajak a Hamzah bersiap pada lintasan yang sudah ditentukan.


"Nanti benderanya masukin satu-satu ke dalam botol ya. Ambil satu masukin ke botol terus balik lagi. Masukin sampai habis ya.." ujar ummi mengarahkan.


Sebelum lomba dimulai panitia memberi arahan persis seperti arahan ummi.

Siap? satu...dua...tiga!

A Hamzah berlari cepat-cepat memegang satu bendera. Sampai diujung ia memasukkannya ke dalam botol lalu berbalik. Ummi menyemangatinya untuk segera lari ketitik awal untuk mengambil bendera.

A Hamzah baru lari setelah melihat teman-temannya sudah berbalik berlari mengambil bendera. Wajahnya terlihat tegang dan berusaha lari secepat-cepatnya. Sampai di tumpukan bendera ia mengambil satu bendera, lalu berbalik dan melihat teman-temannya. Ummi menyemangati untuk segera lari memasukkan benderanya ke botol.

A Hamzah baru lari berusaha mengejar teman-temannya setelah melihat mereka sudah berlari di depannya. Setelah memasukkan bendera ke dalam botol a Hamzah berbalik dan berdiri mematung. Ia kebingungan mendengar arahan panitia dan penonton yang menyemangati peserta untuk memasukkan benderanya sampai habis dan berlari cepat-cepat. Ia tampak bengong dan bingung. Ummi berseru menyuruhnya segera kembali mengambil bendera.

A Hamzah bergerak dengan ragu. Akhirnya ia berhenti di tengah arena kebingungan antara melihat teman-temannya yang masih bolak-balik memasukkan bendera dan seruan di sekitarnya. Ia mengira waktunya sudah habis jadi ia berhenti. Sampai akhirnya waktu benar-benar habis ia berjalan pelan menghampiri ummi di titik awal. Ia terlihat kebingungan. Entah apa yang terjadi. Sepertinya ia tertekan atas seru-seruan di sekitarnya. Ia tidak bisa fokus pada misinya memasukkan bendera ke dalam botol sampai selesai.

Sampai di sini ummi dapat melihat a Hamzah unggul pada kemampuan psikomotorik. Namun kemampuan kognitifnya terganggu saat ia kesulitan mengatur kemampuan afektifnya.
  
Kalau dipikir-pikir a Afnan juga demikian. Ia tidak bisa fokus saat di tengah keramaian. Berarti PR ummi adalah melatih kemampuan kognitif saat digunakan bersamaan dengan kemampuan afektif.

Setelah pulang kerumah ummi menceritakan kejadian tadi kepada abi. Ummi takut a Hamzah belum siap ikut lomba di sekolahnya hari Senin nanti.

"Ya sudah, kita bikin perlombaan di rumah," ujar abi.

Benar juga. Sepertinya anak-anak ummi perlu latihan lomba di rumah agar siap mental saat berada dalam arena perlombaan sebenarnya.

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

No comments:

Post a Comment