Saya baru menyadari, sebenarnya dalam kehidupan kita sehari-hari kita pasti akan selalu berhubungan dengan matematika. Matematika tidak selalu tentang berhitung, bisa juga mengukur, dan bermain logika.
Teringat beberapa hari yang lalu saat saya bermain bersama anak setelah pulang dari kantor. Modal saya hanya dua buah boneka tangan: boneka gajah dan kucing (yang saya jadikan tokoh harimau).
"Ummi punya dua boneka nih. Ayo kita ceritaaa!"
Seperti biasa anak-anak antusias menyambutnya.
"Ayo ceritain mi! ceritain mi!"
"Halo saya harimau."
"Halo saya gajah."
"Gajah, gajah, yuk lomba lari sama aku!"
"Hayuk!"
"Gajah dan harimau lomba lari. Wuzz... tebak, siapa yang menang?" tanya ummi.
"Harimau!" sahut a Hamzah.
"Kenapa harimau yang menang?"
"Soal harimau larinya cepet."
"Kalau gajah?"
"Gajah badannya besar, jadi larinya lama."
"Iya benar... harimau bisa lari cepat soalnya badannya kecil. Kalau gajah badannya besar jadi susah larinya, jadi lambat.." jelas ummi.
"Nah sekarang gajah yang mengajak harimau lomba."
"Harimau, yuk lomba ambil buah sama aku!"
"Hayuuk!"
"Hup, hup, hup. Buahnya ada di pohon yang tinggi. Siapa yang berhasil mengambil buahnya duluan?" tanya ummi.
"Gajah!" sahut a Hamzah.
"Kenapa gajah yang menang?"
"Soalnya ada belalainya buat ngambil buah.."
"Iya benar... gajah punya belalai yang panjaang jadi bisa ngambil buah dari pohon yang tinggi."
"Kesimpulannya apa a?"
A Hamzah nyengir.
"Jadi semua binatang, tumbuhan, manusia..punya kelebihan masing-masing. Gajah punya belalai panjang. Harimau bisa lari cepat. A Hamzah juga pasti punya kelebihan. Aa pinter apa?"
"Um.."
"Aa pinter mewarnai gambar. Pinter ngomong.."
A hamzah nyengir lagi tertawa.
"Klo Afnan pinter apa?" tanya ummi pada a Afnan.
Afnan cuma senyum-senyum.
"Afnan pinter main."
Semuanya tertawa.
Kegiatan seperti ini saja, mungkin tidak sampai satu jam tapi sangat berkesan. Karena kami bisa bermain, bercerita, dan tertawa bersama. Tanpa sadar pun kami sedang belajar bermain logika dan akhlak. Suatu saat jika anak-anak merasa kurang percaya diri, saya bisa mengingatkannya dengan cerita ini.
Ya, sebenarnya dalam kegiatan sehari-hari kita bisa belajar bersama anak. Apapun kegiatannya. Jadikan itu momen untuk belajar. Maka yang dimaksud Home Education bukanlah sekolah di rumah, melainkan mendidik anak di rumah. Tidak harus full time di rumah. Setiap orang tua bisa mendidik anaknya di rumah saat ia bertemu anaknya. Maka komunikasi dan interaksi bersama anak di rumah itu sangat penting. Kuantitas waktu yang terbatas bisa dioptimalkan dengan kegiatan bersama anak yang efektif.
Saya baru menyadari, mungkin hanya sekitar 3 jam saja saya bisa bertemu anak dalam keadaan terjaga di hari kerja setiap harinya. Tapi saat saya bisa mengoptimalkan waktu bersama anak-anak dan menuliskannya. Saya merasa waktu saya tidak sia-sia. Saya bisa memantau dan melihat kembali perkembangan anak dari blog saya. Saya juga bisa mencari inspirasi dan kegiatan baru dengan mereview kegiatan sebelumnya.
Orang tua zaman dulu mungkin tidak mengenal istilah Home Education atau Home Schooling. Namun, banyak anak yang dahulu suka ke sawah, memandikan kerbau, mencuci piring, atau pun memandikan adik-adiknya menjadi anak yang cerdas dan sukses. Karena mereka belajar dari kehidupan. Orang tuanya mengajari mereka belajar menjalani hidup. Orang tuanya telah mendidik mereka di rumah, bahkan tanpa mereka sadari. Mereka telah mengajarkan nilai-nilai pendidikan dari rumah mereka. Sebelum ada istilah HE atau HS.
Tantangan level 6 ini menyadarkan saya untuk cerdas mengoptimalkan waktu yang terbatas bersama anak-anak saya. Untuk mengajari mereka nilai-nilai kehidupan dari rumah sendiri.
No comments:
Post a Comment