![]() |
| Sumber: Youtube DJBC |
Beberapa kali saya membaca berita atau curhatan orang-orang yang
mengeluh mahalnya biaya yang harus dibayar saat mereka membeli barang
impor. Belum lagi prosesnya yang lama hingga berbulan-bulan. Bahkan
hanya untuk impor buku.
Saya kurang paham detil prosesnya,
tapi saya percayakan pada yang ahli saja, para pegawai bea cukai. Saya
pribadi belum pernah mengimpor atau membeli barang impor sendiri. Saya
pernah membeli barang impor yang diimpor oleh supplier seperti pakaian
dan kurma. Saat itu supplier memberi estimasi waktu barang datang tapi
realisasinya meleset sampai lebih dari satu bulan dengan alasan proses
cargo.
![]() |
| Konsekuensi 2 |
Saya baru mengalami sendiri saat kami membeli buku impor untuk perpustakaan di kantor. Pantas saja harga buku impor itu sampai jutaan. Vendor pun mengeluhkan biaya dan lamanya proses impor buku tersebut.
![]() |
| Konsekuensi 3 |
Saat menonton video ini saya tersadar. Saya pernah membaca berita soal kenaikan cukai rokok yakni bertujuan untuk menaikkan harga jual rokok yang diharapkan akan mengurangi konsumsi rokok. Tentu saja saya setuju dengan niat baik ini meski mungkin mimpi berkurangnya konsumen rokok itu butuh waktu lama, setidaknya usaha ini didukung pemerintah.
![]() | |
| Konsekuensi 4 |
![]() |
| Konsekuensi 5 |
Nah, sebenarnya apa tujuan mahalnya biaya untuk mengimpor barang ini? Apakah sekedar "sumbangan" untuk negara?
Tidak sesederhana itu kawan. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan yang berwenang mengurus masalah fiskal telah membuat perencanaan keuangan yang efeknya sampai ke semua lini kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia. Kebijakan fiskal ini sederhananya mengurus pendapatan dan pengeluaran negara. Tentu saja tiap rupiah pendapatan dan pengeluaran negara memiliki beragam konsekuensi.
![]() |
| Konsekuensi 6 |
Mungkin buat kita yang senang barang impor entah karena kualitas, langkanya produk serupa di dalam negeri atau sekedar gaya hidup akan merasa kebijakan ini menyebalkan. Namun ternyata jauh di luar sana, banyak orang yang bersyukur dengan kebijakan ini sebab produsen dalam negeri akan berusaha membuat produk setara kualitas impor, produsen luar negeri akan membuat cabang/pabriknya di Indonesia, dan produsen baru tertantang untuk membuat produk beragam seperti yang ada di luar negeri dengan ciri khas masing-masing.
Dengan demikian, lapangan kerja di Indonesia akan bertambah. Uang jual-beli lebih banyak berputar di dalam negeri. Konsumen di dalam negeri akan mudah mendapatkan sparepart atau produk dengan kualitas impor di dalam negeri dengan biaya lebih murah. Dan tentu saja perekonomian di Indonesia akan tumbuh.
Saya bersyukur diberi kesempatan Allah untuk berada dekat dengan pembuat kebijakan fiskal sehingga saya tahu bagaimana gambaran pendapatan dan pengeluaran uang negara. Sehingga saya tidak mudah mengeluh dan mengecam kebijakan fiskal Pemerintah. Bukan karena saja bekerja dan digaji Pemerintah. Tapi karena saya sadar, setiap kebijakan fiskal pasti ada perhitungannya dan pasti bertujuan untuk menjaga stabilitas keuangan negara.
Dan tentu saja setiap kebijakan pemerintah selalu didasari cita-cita negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur demi mewujudkan tujuan nasional: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Salam hangat,
Fita Rahmat
PNS Kementerian Keuangan RI, Sekretariat Jenderal









No comments:
Post a Comment