PENGENDALIAN DIRI
Saya bukan termasuk shopaholic. Alhamdulillah Allah yang mendidik saya demikian. Karena kondisi keluarga saya tidak memungkinan untuk belanja di luar kebutuhan sehari-hari yang benar-benar penting saja.
Bahkan untuk urusan jajan, entah kenapa saya tidak terlalu berminat. Saat TK saya selalu membawa bekal ke sekolah. Saat SD saya lebih senang menyimpan uang jajan saya. Saya baru jajan kalau saya benar-benar lapar jadi pasti jajannya makanan. Kalaupun saya ingin jajan di luar kebutuhan primer, otak saya berpikir untuk mengumpulkan uangnya. Saya sadar kemampuan orang tua saya sehingga tidak pernah meminta membelikannya. Jadi kalau saya berhasil mengikut tren anak-anak saat itu seperti memiliki mainan figur dari kertas (bepean), binder dengan kertas lucu-lucu, pensil dengan hapusan lucu-lucu, dan yang lainnya, itu hasil kerja keras saya mengumpulkan uang jajan. Jadi ya saya rela kelaparan demi mengumpulkan uang untuk membeli barang-barang tertier itu.
Kebiasaan ini berlanjut sampai saya dewasa. Orangtua saya tahu saya termasuk pintar mengelola uang. Saat kuliah di STAN saya nyaris hanya dibiayai untuk uang kos saya saja. Logistik seperti beras, buah, sayur, bumbu masak, mie, detergen, dan kebutuhan pokok lainnya kadang saya bawa dari rumah orang tua jika pulang saat weekend. Otomatis saya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan lainnya dengan menjadi pengajar privat. Saya pun sempat membeli sepeda dengan 70% dari uang tabungan saya hasil mengajar demi menghemat ongkos dan tenaga keliling kampus dan mengajar kemana-mana. Mengajar ber-km-km pun saya tempuh dengan sepeda.
Perjuangan dalam mendapatkan uang ini membuat saya sangat berhati-hati mengeluarkan uang. Hingga saya dewasa, saya cenderung jarang sekali membeli sesuatu di luar kebutuhan pokok dan barang yang benar-benar penting. Pun soal pakaian. Kalau belum lusuh saya akan memakainya terus. Sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian tersadar rasanya saya sudah memakai pakaian itu sejak jaman kuliah atau awal menikah. Sampai ditegur ibu mertua kalau saya pakai pakaian yang kurang "sesuai". Maksudnya sudah lusuh/kurang bagus. Bukan bermaksud zuhud tapi Allah membuat saya zuhud secara alami. Bukan pula pelit karena kadang saya akan membahagiakan diri sendiri dengan cara yang lain.
Saya sudah akrab dengan efisiensi dan penghematan. Bahkan menjadi pedagang adalah trik saya untuk tetap mempertahankan karakter saya ini. Kalau saya suka suatu barang, hanya sekedar suka bukan butuh, lebih baik saya jual saja. Biarlah orang lain yang membelinya. Ada kesenangan tersendiri saat orang lain membeli barang yang kita senangi. Tentu saja selain kesenangan karena mendapat pemasukan tambahan, hehe
Dari pengalaman hidup saya, saya pikir kunci dari karakter saya ini adalah pengendalian diri. Pengendalian diri dalam mengeluarkan uang. Satu kebiasaan saya entah sejak kapan tiap kali hendak berbelanja kemanapun saya akan membuat shopping list apa saja yang hendak saya beli. Kadang list itu hanya dipikiran, kadan benar-benar dicatat di kertas atau HP. Saat memasuki tempat belanja saya pun langsung menuju rak atau counter tempat barang-barang yang ingin saya beli tersebut. Apabila ada pilihan untuk barang yang sama, saya akan memilih yang termurah atau yang harganya lebih mahal namun kualitasnya lebih baik. Barang-barang tertentu saya beli sesuai kecocokan dengan diri saya misalnya skincare/kosmetik dan kebutuhan pribadi lainnya. Seringkali suami saya ngomel terutama jika ia sudah lelah atau hari sudah malam saat saya berbelanja lama sekali. Itu karena kebiasaan saya memilih-milih dan membanding-bandingkan. "Neng cari yang murah," begitu alasan saya.
Namun, kami membutuhkan extra effort untuk menanamkan pengendalian diri ini pada anak-anak kami karena mereka alhamdulillah tidak hidup dalam kesulitan yang sama seperti kami dulu. Seringkali ujian itu datang saat kami berbelanja bersama anak-anak. A Hamzah yang cenderung hiperaktif akan banyak sekali meminta ini dan itu, menunjukkan ini dan itu. Setelah kami perkenalkan dengan menabung ia mulai belajar mengendalikan keinginan-keinginannya.
"Ummi...sini mi..liatin..." rayu a Hamzah sambil menarik baju saya ke arah yang ia maksud.
Saya yang sedang fokus memilih-milih susu UHT merasa malas mengikuti kemauannya. "Tunggu a..ummi lagi lihat ini..." ujar saya.
Setelah selesai memilih susu UHT, a Hamzah menarik saya lagi. "Sini mii..Hamzah mau spiderman.." rengeknya.
Saya mencari-cari yang ia maksud. Rupanya susu botolan dengan cover spiderman.
"Yang lain aja a..susu ini mahal. Ini juga cuma satu nanti Afnan mau gimana?" lobi saya.
"Tapi Hamzah mau spiderman.." rengeknya.
"Hamzah boleh beli ini tapi Hamzah besok gak dapat uang jajan ya.." saya mencoba bernegosiasi.
"Iya gapapa Hamzah besok gak jajan," jawabnya mantap.
"Beneran? Besok kalau ada Kakung Hamzah minta jajannya ke Kakung.."
"Enggak.."
"Janji ya?"
"Janji."
Akhirnya saya membiarkan Hamzah membawa susu spiderman-nya sesuai kesepakatan kami.
"Hamzah kalau beli itu nanti gak bisa nabung loh," tiba-tiba abi berkomentar.
A Hamzah kelihatan bingung.
"Iya nanti Hamzah gak bisa nabung buat beli mainan," tambah ummi.
Hamzah tampak memikirkan kembali keputusannya.
"Iya...Hamzah gak jadi beli aja deh.." ujar Hamzah sambil mengembalikan susu ke raknya kembali. Ia tampak ikhlas melepaskan keinginannya, bahkan setelah a Afnan malah membeli susu yang ia inginkan.
"Afnan katanya gak mau nabung a, biarin aja ya Afnan nanti ga bisa nabung," ujar ummi memberi tahu konsekuensi Afnan kepada Hamzah agar Hamzah memahami mengapa Afnan diperbolehkan membeli susu yang ia inginkan.
Hamzah mengangguk. Tampaknya ia sudah mantap dan rela akan keputusannya.
Namun tidak sampai di situ. Melewati rak demi rak ada saja yang ia minta.
"Hamzah mau pizza..." katanya yang saya dengar terakhir kali di depan meja counter pizza saat saya beranjak ke counter buah-buahan.
Saya sudah menemukan buah yang saya cari dan hendak memanggil abi yang mendorong trolley untuk mengikuti saya.
"...Hamzah jangan apa-apa mau. Hamzah harus belajar mengendalikan diri..." ujar abi saat saya mendekatinya. Entah bagaimana awal pembicaraan mereka, saat itu abi sedang menasehati Hamzah.
Sepertinya a Hamzah mendapat banyak pelajaran hari ini terutama soal pengendalian diri. Hal yang mungkin akan cukup berat baginya karena kondisi lingkungan dan kesulitan hidupnya tidak sama seperti kami dulu. Apalagi ada eyang dan kakungnya yang selalu mengabulkan keinginan-keinginannya. Tentu saja ini menjadi perjuangan kami juga. Karena kami orang tuanya. Kami yang bertanggung jawab mendidiknya bagaimanapun kondisinya.
Semoga Allah memampukan kami mendidik anak-anak kami menjadi generasi Qurani. Amiin..
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

No comments:
Post a Comment