BUTUH ATAU INGIN?
.
Saya kecewa karena ia melanggar janjinya untuk minta izin sebelum membeli mainan, tapi senang karena ia jujur menceritakannya pada saya. Saya pun pernah melakukan kesalahan, dan saya sadar ia hanyalah anak 6 tahun yang sambungan syaraf di otaknya belum sempurna sehingga perlu diingatkan kembali berkali-kali sampai suatu nasehat benar-benar tersimpan dalam memorinya. Dan tentu saja perlu pengulangan berkali-kali sampai suatu nasehat ia pahami hikmahnya.
.
Akhirnya sang 'nurturing parents' menang, saya menarik nafas dan berusaha mengatur kata-kata saya agar tetap netral tanpa emosi. Netral itu bukan datar ya. Saya berusaha memposisikan diri sebagai penengah, di antara posisi seorang ibu yang kecewa dengan seorang anak yang sedang belajar mendengarkan nasehat ibunya. Butuh latihan berkali-kali agar saya bisa mengeluarkan sang 'nurturing parents' meski dalam keadaan lelah saat pulang kerja.
.
"Aa kenapa beli mainan?" tanya saya lembut.
A Hamzah menunduk dengan wajah menyesal. Saya berusaha keras mencari kata-kata yang pas agar tidak membuatnya merasa tersudut.
"Aa inget gak, ummi bilang kalau mau beli mainan mesti gimana?"
"Bilang ummi sama abi.." jawabnya pelan.
"Kenapa aa gak bilang dulu ke ummi atau abi?"
"Soalnya aa mau beli mainan. Maap ummi.. " ujarnya tambah pelan.
"Hamzah, kalau minta maaf itu Hamzah dengerin ummi. Hamzah kan udah janji kalau beli mainan bilang ummi sama abi. Kalau aa melanggar janji itu..?"
"Masuk neraka!" sahutnya.
"Iya..kalau melanggar janji itu do-sa, kalau banyak dosanya bisa masuk neraka.."
"Nanti dibakar di neraka ya mi?"
"Iya..a Hamzah mau masuk neraka?"
"Gak mau mi!"
"Nah, makanya aa jangan melanggar janji lagi ya.."
"Iya mi, besok aa ga ulangin. Besok ga beli mainan," janjinya.
"Hamzah dulu kan juga bilangnya begitu. Tapi diulang lagi..."
A Hamzah nyengir.
"Kalau janji Aa inget disini ya.." ujar ummi sambil menunjuk kening. "Kalau gak ada ummi sama abi Hamzah tetep inget."
"Ada Allah di atas ya mi?"
"Iya..ada Allah yang liatin Hamzah."
A Hamzah nyengir.
"Hamzah, liat deh mainan aa masih banyak.. itu ada dua keranjang penuh. Kalau mainan Hamzah masih banyak itu artinya aa ga butuh mainan. Aa baru butuh mainan kalau mainan Hamzah udah sedikit. Karena banyak yang rusak atau hilang," jelas saya.
"Iya ummi mainan Hamzah masih banyak sampai ada yang di atas meja tv juga. Billa juga mainannya banyak ummi sampai penuh rumahnya. Abang juga punya mobil-mobilan yang besar.." sahut Hamzah panjang-lebar. Ia mulai banyak bicara seperti biasa.
"Iya a..kalau mainannya banyak itu berarti belum butuh mainan. Aa beli kalau sudah butuh aja. Kalau mainannya banyak yang rusak atau hilang," ulang saya.
"Beli mainannya kalau Hamzah ulang tahun ya mi?"
"Iya, kalau mainan hamzah sudah banyak yang rusak atau hilang ya..."
Saya pikir ini saat yang tepat untuk memberi 'insight' kepada seorang anak 6 tahun. Saat diskusi sudah mulai hangat, anak berani mengungkapkan pendapatnya.
"Kalau mau beli sesuatu aa juga bisa nabung dulu... aa mau beli apa katanya kemarin? Mobil apa yang bagus itu?"
A Hamzah nyengir. Ingat kata-katanya saat kami ke pameran GIIAS Agustus lalu.
"Pajero ya?"
"Iya, pajero!" sahutnya semangat.
"Nah, beli mobil itu kan mahal. Butuh uang banyak. Hamzah bisa nabung dulu..kalau ummi kasih uang jajan, jangan aa jajanin, aa tabung aja. Dimana nabungnya?"
"Di celengan!" seru a Hamzah.
"Dimana Nan?" tanya ummi tiba-tiba pada Afnan yang asyik menyimak diskusi kami.
"Engan!" serunya mengikuti jawaban Aa-nya.
***
Ketahuilah, mendidik anak itu sama dengan mendidik diri kita sendiri. Siapa sangka ternyata merekalah guru kita. Mereka yang melatih kita menjadi orangtua, melatih memunculkan ego pengasuh ('nurturing parents'), bahkan melatih kita untuk mengendalikan diri terhadap keinginan-keinginan kita. Dan di rumah lah tempat anak dan orang tua sama-sama belajar dalam madrasah kehidupan.
Salam hangat,
Fita Rahmat
Siswa "Madrasah Nugraha"
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

No comments:
Post a Comment