Thursday, November 2, 2017
Pre Portofolio Think Creative #1
PAYUNG AISHA
Tahukah Anda, pada dasarnya semua manusia memiliki potensi kreatif dalam dirinya sejak ia dalam kandungan? Potensi itu dititipkan Allah dalam bentuk akal yang hanya dimiliki manusia, tidak hewan, tidak tumbuhan. Maka hanya manusia yang bisa terus berkembang seiring dengan zaman dengan berbagai teknologi dan perubahan di sekitar kita yang kita rasakan saat ini, tidak hewan, tidak tumbuhan.
Namun sayangnya, tidak semua manusia mendayagunakan seluruh potensi kreativitasnya. Dan salah satu penyebabnya justru dari orang tuanya sendiri. Menyedihkan, bukan?
Coba ingat kembali,
Saat anak memasukkan air minumnya ke dalam mangkuk nasinya, apa yang Anda lakukan?
Saat anak mencoret-coret tembok, menggunting pakaiannya atau rambutnya sendiri, apa yang Anda lakukan?
Saat anak lama sekali memakai sepatu/kaos kakinya sendiri, apa yang Anda lakukan?
Jika jawaban Anda menghentikan usaha/kegiatan mereka dengan melarang/memarahi/malah membantunya maka tanpa sadar Anda telah mematikan potensi kreativitasnya.
Pada dasarnya Allah mengkaruniai manusia akal untuk melakukan proses kreatif dengan berpikir, mencari solusi, menyelesaikan masalah. Oleh karenanya Allah selalu memberikan tantangan dalam hidup ini, entah dalam bentuk nikmat ataupun ujian, kesenangan ataupun kesusahan. Karena Allah senang mengingatkan kita agar termasuk orang-orang yang berpikir seperti yang termaktub dalam banyak ayat di Al Qur'an.
Aisha telah mengajarkannya kembali pada saya...
Kami baru saja pulang kerja saat Aisha sedang berjalan-jalan di ruang keluarga. Begitu memasuki ruang keluarga saya melihat sebuah payung hijau yang motifnya lucu berukuran kecil.
"Payung siapa ini?" tanya saya.
"Payung Aisha mi," sahut a Hamzah. "Dibeliin Eyang."
Saya mencoba mengajari Aisha memakai payungnya, namun sepertinya ia masih keberatan sehingga belum bisa menegakkan di atas kepalanya. Dengan pikirannya sendiri Aisha yang baru 20 bulan ini tidak menyerah untuk membawa payungnya. Ia tetap memegang gagang payung tapi malah terlihat seperti menyeretnya, hehe
Masalah terjadi saat ia ingin keluar teras sambil membawa payungnya. Pintu teras terhalang motor abi yang terparkir di depannya. Hanya ada celah sedikit yang muat dilewati Aisha. Maka saat Aisha melewati sambil membawa payung, nyangkutlah payungnya :D
Apakah Aisha menyerah? Tidak. Motivasi ia mengejar kakungnya yang mau pulang lebih kuat. Tapi ia juga tidak mau melepaskan payungnya.
Saya berusaha menahan diri untuk membantu atau menginterupsinya. Saya hanya mengawasi, ingin tahu apa yang akan ia lakukan untuk melewati celah itu bersama payungnya.
Awalnya Aisha memaksakan diri menarik payungnya. Pada tahap ini ada kemungkinan ia akan jatuh. Orang tua yang tidak sabar pasti akan buru-buru menolong agar anaknya tidak terjatuh. Saya bukan termasuk yang demikian. Melihat kondisi sekitarnya aman, saya perhitungkan kalaupun jatuh ia tidak akan terluka. Maka saya membiarkannya agar ia bisa memecahkan masalahnya sendiri.
Setelah memaksakan menarik payungnya ternyata ia tidak berhasil dan sempat berhenti. Dengan wajah agak bingung ia berusaha kembali menariknya dan "plup" tanpa sengaja payungnya menutup sendiri. Haha. Ternyata Aisha beruntung. Payung itu bukan payung kualitas bagus sehingga penyangganya mudah turun. Karena tekadnya, Aisha berhasil melewati celah dengan caranya sendiri. Ia sudah berpikir kreatif menyelesaikan masalahnya.
Apa jadinya kalau saya menghentikan usahanya tadi? Tentu saja ia tidak jadi berpikir kreatif. Ia hanya akan berpikir bahwa tidak mungkin melewati celah tadi tanpa bantuan orang lain. Jika ia terus menerus berpikir demikian pada akhirnya ia akan menjadi pribadi yang tidak mandiri.
Alhamdulillah, saya belajar dari Aisha. Untuk menjadi orang tua yang lebih sabar, memberi kesempatan anak untuk berpikir kreatif. Jazakillah Aisha...
Luv Aisha
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment