Monday, November 6, 2017

Pre Portofolio Think Creative #2


KOTOR-KOTORAN ITU BAIK

Seandainya semua orang tua tidak membatasi kreativitas anak, mungkin tidak akan ada orang dewasa yang dianggap tidak kreatif atau tidak solutif. Karena anak-anak yang terbiasa mengekspresikan semua imajinasinya dengan aman dan nyaman mampu berpikir lebih baik daripada yang dibatasi ekspresi kreativitasnya. Karena kreativitas sangat berhubungan dengan kecerdasan.

Saya masih belajar menjadi orang tua yang mendukung kreativitas anak. Meski kadang kondisi saya membuat saya tidak sabaran tapi setelah anak sulung saya berusia 6 tahun saya sudah jauh lebih sabar daripada saat ia baru lahir. Apalagi sekarang sudah ada tiga anak. Jadi daya toleransi saya semakin meningkat dan sifat perfeksionis saya semakin menurun.

Seperti kemarin pagi saat kami sedang sibuk bersiap-siap berangkat ke kantor. Sesuai pembagian tugas, abi bertugas menyetrika pakaian sementara saya menyiapkan 3 bekal: bekal saya, suami, dan a Hamzah. Tentu saja saya juga membangunkan a Hamzah, mengingatkan ia sholat jika tidak ikut sholat Subuh bersama abi, menyiapkan sarapannya, dan mengingatkannya mandi jika sudah selesai sarapan. Namanya, wanita saat melakukan semua itu saya juga bersiaga terhadap 2 anak lainnya, a Afnan dan Aisha kalau mereka sudah bangun dan meminta sesuatu.

Pagi itu Aisha sepertinya kelaparan. Begitu bangun ia tidak mau meminum susunya tetapi malah merengek menunjuk mangkuk sereal sarapan a Hamzah. Nampaknya ia tertarik. Saya mencoba menyuapkannya dan ia terlihat lahap.

"A, Aisha tolong disuapin ya.. ummi nyiapin bekal dulu.." kata saya pada a Hamzah.

A Hamzah mengangguk. Nyatanya belum 5 menit Aisha sudah menghampiri saya ke dapur. Rupanya ia tidak puas karena aa-nya entah tidak menyuapi atau tidak tanggap saat ia minta disuapi.

"Aisha kasih sendiri aja neng," saran abi yang sedang menyetrika di kamar tidur.

Saya pun menyiapkan sereal untuk Aisha, sedikit saja, kuah susunya pun sedikit supaya tidak diobok-obok.

"Kasih alas kain aja neng," saran abi lagi.

Saya pun segera mencari kain alas ompol untuk alas Aisha makan.

Dengan keterbatasan waktu dan tenaga kami, mau tidak mau kami harus mengajari anak mandiri. Aisha, 20 bulan lapar tapi tidak ada yang bisa menyuapi. Maka kami harus tega membiarkannya makan sendiri. Ia sudah bisa namun belum lancar benar. Jadi ada kemungkinan berantakan dan diacak-acak. Tidak mengapa. Berantakan dan kotor bisa dibereskan. Tapi kesempatan untuk belajar mandiri dan kreatif mencari solusi sendiri tidak bisa terulang lagi kalau kita tidak memberikan kesempatan itu sejak dini.

Saya menghamparkan kain alas ompol di lantai, lalu mendudukkan Aisha di atasnya dan memberikan mangkuk sereal beserta sendok kecil di depannya. Saya mencontohkannya cara menyuapkan sereal kemulutnya lalu langsung meninggalkannya ke dapur untuk menyelesaikan to-do-list saya yang lainnya.

Tak lama setelah saya selesai dengan urusan dapur saya melewati ruang tempat Aisha sarapan untuk mencari tas a Hamzah. Ternyata sereal Aisha sudah habis. Dan tentu saja kain alas ompolnya sudah basah oleh susu kuah sereal. Dan sendoknya entah terbang kemana. Dan Aisha masih lapar, hehe.. Tapi karena sudah kami rencanakan maka saya tidak ada emosi sama sekali. Dan saya pun menjadikan ini sebagai tips untuk mengelola emosi.

Ternyata membiarkan anak kreatif justru membuat orang tua bisa mengendalikan emosi loh. Apalagi kalau sudah kita rencanakan karena kita sudah siap menerima konsekuensi kreativitas anak. Jadi, Ayahbunda jangan ragu membiarkan anak berkreasi yaa ^_^

No comments:

Post a Comment