Monday, November 13, 2017

Portofolio Think Creative Day #5







ANAK KREATIF, BERPIKIRAN LUAS

Saya yakin anak yang kreatif tidak mudah menyerah saat masalah datang. Pun ketika ia tidak memiliki pengetahuan atasnya, pikirannya akan terus berjalan mencari cara untuk keluar dari masalah itu. Bagaimana pikiran dan ide-ide mereka bisa terbuka, tentu saja harus dilatih sejak dini. Anak yang terbiasa dibatasi imajinasinya sejak dini cenderung akan tumbuh menjadi anak yang berpikiran sempit, kuper, serba takut, bingung dalam mengambil keputusan. Saya mengalaminya sendiri.

Di satu sisi pengasuhan orang tua membuat saya berpikiran sempit karena semua serba diatur termasuk dalam memilih baju yang akan dipakai. Semua serba disiapkan, saya tinggal menjalaninya saja. Pikiran saya pun jadi terbiasa enak dan nyaman, serba mudah, tidak perlu berpikir sendiri, tinggal jalani sesuai aturan, hidup pun lancar. Sesimple itu. Tentu saja bahkan sejak kecil saya menyadari kesalahan pengasuhan orang tua saya ini. Tapi sayangnya saya tidak tahu cara memperbaikinya toh saya cuma anak kecil, anak SD mana yang masukannya didengar orang tua? apalagi orang tua sendiri yang sudah makan asam garam dan "menguasai" anaknya. Orang tua akan selalu merasa benar, tidak mau dianggap salah. Itulah paradigma yang terbentuk di lingkungan saya saat itu.

Saat itu saya hanya bisa bersumpah, saya tidak ingin menjadi orang tua seperti orang tua saya. Yang serba mengatur saya. Namun di sisi lain mereka juga mendukung saya mengembangkan hobi saya menggambar. Sayangnya saya baru menyadari sekarang, justru prestasi saya Juara 1 mewarnai gambar menjerumuskan saya menjadi pribadi yang berpikiran sempit. Mengapa demikian?

Karena sejak kecil saya diajari untuk mewarnai tidak boleh melewati garis.


Imajinasi saya hanya seluas bidang yang ada di dalam garis. Saya tidak boleh melewatinya, bila melewatinya maka karya saya dianggap kurang bagus. Saya baru bisa jadi juara 1 saat bisa mewarnai tanpa melewati garis, bidang yang diwarnai tidak ada putih-putih (bagian yang tidak diwarnai) sedikitpun, dan ada teknik gradasi yang membuat juri menganggap karya saya bagus.

Dan begitulah, setiap saya lomba saya mempunya misi melakukan itu semua. Mungkin saya tidak terlalu mengerti apa kenikmatan menjadi juara 1 selain saya yakin orangtua saya mengharapkan saya juara 1 dan mereka pasti senang karenanya. Maka motivasi saya adalah mewarnai dengan bagus sesuai aturan tadi dan menjadi juara.

Benarlah, saat saya mendapat juara 1 orang tua saya sangat senang. Mereka bahkan memajang piala-piala saya di ruang tamu. Mereka akan menceritakan prestasi-prestasi saya ke teman-temannya yang berkunjung ke rumah/bertemu di jalan. Meski saya sedikitpun tidak bangga. Entahlah, mungkin karena saya menang bukan hasil imajinasi/aktualitas diri saya, tapi karena saya mengikuti aturan. Itu saja. Saya memang senang seni tapi imajinasi saya tidak benar-benar tersalurkan saat lomba.

Dan masih banyak hal yang saya alami selama pengasuhan saya baik oleh orang tua maupun guru yang membuat pikiran saya ter-blok oleh batasan-batasan hingga akhirnya saya menjadi pribadi yang nurut sama aturan, mencari aman, yang penting semuanya lancar. Sampai-sampai calon (suami) saya dulu berpikiran bahwa saya orang yang polos, pikiran saya terlalu sempit. Dalam beberapa hal saya tidak bisa langsung berpikir jauh ke depan, dan saya mudah percaya apa yang dikatakan orang.

Sebenarnya saya menyadari kekurangan saya ini, hingga akhirnya saat SMA saya berdoa supaya bisa mandiri saat kuliah nanti. Alhamdulillah Allah mengabulkan. Allah mengizinkan saya masuk STAN dan karena jaraknya dari rumah lumayan jauh kalau PP ke rumah saya di Jakarta Timur saya pun mengajukan proposan untuk mengekos kepada orang tua saya. Alhamdulillah orang tua setuju. Mungkin karena pengalaman saat saya PP berdesakan dan pulang kemalaman akhirnya kasian juga.

Saat itulah saya mulai belajar "mewarnai di luar garis". Saya mulai belajar mandiri, mengatasi masalah saya sendiri saat tidak ada orang tua di dekat saya yang bisa membantu saya. Saya pun banyak mencari kegiatan yang membuat saya pikiran saya semakin terbuka luas. Saya tidak mau lagi jadi katak dalam tempurung. Meski karakter saya yang sudah terbentuk sejak kecil ini masih sulit dihilangkan, setidaknya saya sudah lebih baik daripada sebelumnya. Sayapun terus mengunjungi banyak saluran ilmu dan komunitas untuk memperluas wawasan.

Maka saat saya mendapat laporan a Hamzah menggambar di kulkas. Saya hanya tersenyum. Saya berjanji tidak akan memarahinya karena itu adalah bentuk aktualitas imajinasinya. Itu adalah emotional freedom seorang anak kecil.

Hanya saja karena pakai spidol permanen saya mesti mencari cara menghapusnya. Sebelum saya berhasil menemukan cara menghapusnya, saya melaporkan kepada suami dan respon suami saya cukup mengejutkan, "Biarkan saja, buat kenang-kenangan."

Persis, saya pernah mendengar kalimat yang sama dari Bapak saya saat saya menggambar di dinding rumah. Orang tua saya memang kurang sempurna dalam mengasuh anak. Mungkin karena mereka hanya mengadaptasi pengasuhan yang didapat dari orang yang mengasuhnya atau saran dari teman-temanya. Tidak seperti saat ini dimana ilmu parenting sangat mudah diakses di internet ataupuan kulwap. Namun orang tua saya juga sudah berusaha memberi kesempatan saya mengaktualisasikan diri dan menghargai karya saya. Setiap orang tua memang akan terus belajar parenting, dan tidak ada pengasuhan yang sempurna. Maka saya memaafkan orang tua saya dengan memperbaiki kesalahan pengasuhan yang saya terima agar tidak diturunkan ke anak-anak kami.

Terima kasih mama dan bapak, pengasuhan kalian membuat saya belajar pengasuhan yang lebih baik untuk anak-anak kami. Semoga Allah membalasnya dengan memberatkan timbangan amal mama dan bapak. Allohumma aamiin :)





No comments:

Post a Comment