BELAJAR CREATIVE DARI ANAK
Siapa bilang kita, para orang tua, harus mengajari anak kita menjadi anak yang kreatif? Bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya?
***
"Mi, Hamzah bisa bikin bunga dari kertas diajarin Bu Guru," lapor a Hamzah saat saya beristirahat sepulang dari kantor sambil menemani anak-anak main. Sampai anak-anak tidur agenda saya memang istirahat, makan malam, dan menemani anak membaca buku, bercerita, mengerjakan PR, atau main bersama.
A Hamzah bergegas mencari kertas origami warna-warna dan sibuk mengerjakan sesuatu dengan kertas itu. A Afnan ikut-ikutan kakaknya mengambil kertas dan mengerjakan sesuatu dengan kertas itu.
Tidak lama kemudian a Hamzah menghampiri saya sambil menunjukkan hasil karyanya.
"Ini mi, Hamzah bisa bikin bunga," katanya sambil menunjukkan kertas origami merah yang sudah dilipat-lipat seperti kertas dan bagian tengahnya ditekuk hingga saling bertemu. Sebenarnya saya tidak takjub karena itu sering saya buat untuk hiasan bungkus kado. Default sekali hiasan paling mudah dan cepat ya seperti itu jadi seperti pita kipas dilipit-lipit.
Yang membuat saya takjub justru kemampuan a Hamzah membuat pita lipit itu sendiri dengan rapi. Soalnya saya belum pernah mengajari, tiba-tiba saja dia sudah bisa.
"Aa pinter..tadi siapa yang ngajarin a?" tanya saya.
"Eyang," jawabnya.
"Loh tadi katanya Bu Guru.."
"Hehe..eyang sama Bu Guru..."
Entahlah siapa yang mengajari sebenarnya, yang jelas saya tertinggal. Biasanya kalau ada temannya ulang tahun saya yang membungkus kadonya jadi belum sempat mengajarinya membuat hiasan lipit-lipit itu.
"Tengahnya dikasih lem aja a..biar aa ga usah pegangin terus kaya gitu.." saran saya.
"Enggak ah, gini aja. Nih nanti aa bikin satu lagi jadi kupu-kupu," jawabnya sambil berlalu.
Saya tidak memikirkan kata-katanya, tetapi fokus makan malam (sebenarnya nyemilin jatah makan malam suami si :D) sambil menunggu a Hamzah datang.
Tidak lama kemudian a Hamzah kembali membawa hasil karya yang sama dengan warna kertas kuning.
"Mi, lihat mi. Ini kalo digabungin jadi kupu-kupu!" serunya dengan senyum lebar. Ia tampak bahagia sekali berhasil membuat karya sendiri.
Saya terus memperhatikannya menggabungkan dua pita lipit itu sehingga tercipta paduan warna merah dan kuning untuk sayap kupu-kupu.
"Tapi Hamzah belum bisa bikin kepalanya mi," katanya.
"Iya gapapa...aa hebat bisa bikin kupu-kupu. Coba ditempel di kertas biar kelihatan itu kupu-kupu.." saran saya.
Namun, a Hamzah tidak menempelnya. Ia malah sibuk memainkannya.
"Hamzah pengen bikin lagi mi!" serunya. Tampaknya ia makin semangat dan percaya diri membuat kerajinan tangan.
"Tapi sekarang udah malam a.. waktunya tidur. Besok lagi ya.. sekarang diberesin dulu.." ujar saya.
Awalnya a Hamzah mau langsung tidur, setelah diingatkan soal tanggung jawab ia pun merapikan kertas origaminya yang berserakan.
Alhamdulillah saya bersyukur ternyata a Hamzah bisa membuat kerajinan tangan dengan rapi. Itu artinya ia mempunyai keterampilan tangan dan imajinasi yang bagus. Bahkan saya sendiri tidak kepikiran menjadikan pita lipit itu kupu-kupu dan menggabungkan warna yang berbeda. Ini karena settingan default sejak saya kecil kalau hiasan itu biasanya hanya dipakai untuk hiasan bungkus kado jadi imajinasi saya tidak berkembang.
Ya, terkadang justru orang dewasa yang harus belajar dari anak-anak soal kreativitas. Karena fitrahnya imajinasi anak masih luas tak terbatas sedangkan orang dewasa tersekat oleh pengalaman hidup dan aturan-aturan di sekitarnya. Meski demikian tentu saja orang tua mesti mendampingi dan mengawasi imajinasi anak agar tetap sesuai dalam koridor syariat.
***
"Mi, Hamzah bisa bikin bunga dari kertas diajarin Bu Guru," lapor a Hamzah saat saya beristirahat sepulang dari kantor sambil menemani anak-anak main. Sampai anak-anak tidur agenda saya memang istirahat, makan malam, dan menemani anak membaca buku, bercerita, mengerjakan PR, atau main bersama.
A Hamzah bergegas mencari kertas origami warna-warna dan sibuk mengerjakan sesuatu dengan kertas itu. A Afnan ikut-ikutan kakaknya mengambil kertas dan mengerjakan sesuatu dengan kertas itu.
Tidak lama kemudian a Hamzah menghampiri saya sambil menunjukkan hasil karyanya.
"Ini mi, Hamzah bisa bikin bunga," katanya sambil menunjukkan kertas origami merah yang sudah dilipat-lipat seperti kertas dan bagian tengahnya ditekuk hingga saling bertemu. Sebenarnya saya tidak takjub karena itu sering saya buat untuk hiasan bungkus kado. Default sekali hiasan paling mudah dan cepat ya seperti itu jadi seperti pita kipas dilipit-lipit.
![]() |
| hiasan default bungkus kado |
Yang membuat saya takjub justru kemampuan a Hamzah membuat pita lipit itu sendiri dengan rapi. Soalnya saya belum pernah mengajari, tiba-tiba saja dia sudah bisa.
"Aa pinter..tadi siapa yang ngajarin a?" tanya saya.
"Eyang," jawabnya.
"Loh tadi katanya Bu Guru.."
"Hehe..eyang sama Bu Guru..."
Entahlah siapa yang mengajari sebenarnya, yang jelas saya tertinggal. Biasanya kalau ada temannya ulang tahun saya yang membungkus kadonya jadi belum sempat mengajarinya membuat hiasan lipit-lipit itu.
"Tengahnya dikasih lem aja a..biar aa ga usah pegangin terus kaya gitu.." saran saya.
"Enggak ah, gini aja. Nih nanti aa bikin satu lagi jadi kupu-kupu," jawabnya sambil berlalu.
Saya tidak memikirkan kata-katanya, tetapi fokus makan malam (sebenarnya nyemilin jatah makan malam suami si :D) sambil menunggu a Hamzah datang.
Tidak lama kemudian a Hamzah kembali membawa hasil karya yang sama dengan warna kertas kuning.
"Mi, lihat mi. Ini kalo digabungin jadi kupu-kupu!" serunya dengan senyum lebar. Ia tampak bahagia sekali berhasil membuat karya sendiri.
Saya terus memperhatikannya menggabungkan dua pita lipit itu sehingga tercipta paduan warna merah dan kuning untuk sayap kupu-kupu.
"Tapi Hamzah belum bisa bikin kepalanya mi," katanya.
"Iya gapapa...aa hebat bisa bikin kupu-kupu. Coba ditempel di kertas biar kelihatan itu kupu-kupu.." saran saya.
Namun, a Hamzah tidak menempelnya. Ia malah sibuk memainkannya.
"Hamzah pengen bikin lagi mi!" serunya. Tampaknya ia makin semangat dan percaya diri membuat kerajinan tangan.
"Tapi sekarang udah malam a.. waktunya tidur. Besok lagi ya.. sekarang diberesin dulu.." ujar saya.
Awalnya a Hamzah mau langsung tidur, setelah diingatkan soal tanggung jawab ia pun merapikan kertas origaminya yang berserakan.
Alhamdulillah saya bersyukur ternyata a Hamzah bisa membuat kerajinan tangan dengan rapi. Itu artinya ia mempunyai keterampilan tangan dan imajinasi yang bagus. Bahkan saya sendiri tidak kepikiran menjadikan pita lipit itu kupu-kupu dan menggabungkan warna yang berbeda. Ini karena settingan default sejak saya kecil kalau hiasan itu biasanya hanya dipakai untuk hiasan bungkus kado jadi imajinasi saya tidak berkembang.
Ya, terkadang justru orang dewasa yang harus belajar dari anak-anak soal kreativitas. Karena fitrahnya imajinasi anak masih luas tak terbatas sedangkan orang dewasa tersekat oleh pengalaman hidup dan aturan-aturan di sekitarnya. Meski demikian tentu saja orang tua mesti mendampingi dan mengawasi imajinasi anak agar tetap sesuai dalam koridor syariat.

No comments:
Post a Comment