Tuesday, October 6, 2020

Jurnal Hexagonia #2

 


Minggu kedua ini Hexagonia riuh dengan kampanye calon walikota Hexagon City. Luar biasa antusias Timses dan semangat para kandidat menyerukan visi misi mereka. Tentu saja saya ingin ikut serta dengan memilih kandidat yang menurut saya visi misinya sesuai dengan kebutuhan Hexagonia. Sebenarnya visi misi para cawalkot ini mirip-mirip tapi masing-masing punya fokus berbeda. Maka agar tidak lupa saya merangkum titik berat visi misi masing-masing calon berikut.

1. Elva Citra Sari : Sinergi dan kolaborasi

2. Setiorini : Karya/produk sesuai passion

3. Endang Prasdianti : Tampil/mengambil peran

4. Ernie Arie Susanti : Keberagaman/kebersamaan

5. R. Ngt. Siwi Aryani : Green/Sustainable living

6. Nani Nurhasanah : Berkembang


Salah satu kekhasan masa Pemilu adalah acara debat calon. Dalam acara ini tidak hanya sekedar sosialisasi visi misi, tetapi juga ajang adu argumen. Biasanya pertanyaan bersifat rahasia sehingga dapat menguji para calon dengan jawaban spontan. Kecepatan, kejernihan, ketepatan, dan kebijaksanaan berpikir dapat terlihat dalam ajang ini. Juga bagaimana kemampuan komunikasi publik jelas terlihat. Sayangnya pada acara debat pemilu hexagon city yang bertajuk "Argumen" ini terlihat jelas bahwa para calon sudah menyiapkan catatan jawaban. Itu artinya kita tidak lagi bisa melihat spontanitas cara berpikir mereka. Jadi saya pribadi tidak mengerti apa sebenarnya tujuan acara ini selain hanya sosialisasi jawaban. Karena bagi saya tidak bisa dikatakan adu debat jika tidak spontan. Saran saya untuk batch berikutnya acara ini dikuatkan lagi maknanya.

Kedua, memang ini kotanya para perempuan dengan segala dinamika ala perempuan termasuk multitasking. Namun dalam acara debat seperti ini rasanya tidak profesional jika mengikuti acara sebagai narasumber sambil menyusui anak dalam kondisi anak rewel karena suaranya sangat mengganggu (sebenarnya bisa diatasi dengan mute namun agak tricky karena harus siap unmute jika waktunya bicara). Dari sana dapat terlihat bagaimana manajemen keluarga dan bagaimana multitasking calon tersebut. Hingga saya menyimpulkan, sebaiknya seorang walikota ini adalah orang yang sudah selesai dengan diri dan keluarganya. Tidak mengemban amanah di tempat lain/minimal tidak menjadi pejabat utamanya/ketua di tempat lain, tidak memiliki anak dibawah 10 tahun, dan memiliki konsep diri yang bagus. Sebenarnya saya sudah dalam tahap 80% memilih calon dengan kriteria tersebut namun saat membuka laman pemilihan dan membaca visi misi kembali ternyata tergoda dengan calon yang memiliki passion sama dengan saya.

Anyway, saya sangat mengapreasiasi ke-6 calon walikota karena mereka sudah berani mencalonkan diri bagaimanapun kondisi mereka. MasyaAllah... barakallahufiikunna.

Saya harap, meski hanya satu yang terpilih sebagai walikota, lima orang lainnya tetap ikut dalam struktur pemerintahan sehingga visi misi mereka bisa bersinergi, saling melengkapi, dan menguatkan. Demi Hexagon City yang produkktif, kreatif, dan solutif. Aamiin

#HexagonCity

#Hexagonia

#KuliahBundaProduktif

#InstitutIbuProfesional

No comments:

Post a Comment