Thursday, July 4, 2013

Mending Naik Taksi Ajah...


A hamzah suka sekali melihat gambar kereta api. Seperti biasa sebelum bisa menyebut sebuah kata ia akan menyebutkan bunyinya. "Tut-tut.." katanya tiap kali melihat gambar kereta api. "Tut-tut...gejes-gejes.." kata ummi mengajarinya bunyi kereta api.

Saat usianya sekitar 1 tahun kami menghadiahinya naik kereta api beneran. Commuter Line. Kami naik biasa naik dari Stasiun Tanjung Barat. Alhamdulillah beberapa kali menaikinya saat weekend cukup lowong sehingga kami rasa aman untuk mengajak a Hamzah naik CL saat weekend.

"Tut-tut tut-tut! Mi, tut-tut!" jerit a Hamzah begitu melihat wujud asli kereta api kesukaannya. Seperti biasa, selalu antusias sambil menunjuk-nunjuk ke arah kendaraan yang disukainya seperti saat melihat mobil atau bis.

Puas menunjuk-nunjuk kereta api di peron, akhirnya giliran kami menaiki keretanya. Tentu saja a Hamzah masih antusias dan tidak mau diam. Sampai pada saat gerbong lumayan penuh, a Hamzah yang mudah bosan duduk diam di dalam kereta berontak minta turun untuk jalan-jalan. Lumayan seru lah mengendalikan anak dalam kondisi seperti itu. Akhirnya saat gerbong mulai lengang kami biarkan ia berjalan-jalan sambil mengikutinya dari belakang. Para penumpang yang lain memperhatikan dan sebagian ibu-ibu dan anak-anak kecil menyapanya. Mungkin karena gemas lihat a Hamzah yang tidak mau diam.

Hari itu kami kembali menaiki CL. Sudah lama tidak mengajak a Hamzah naik CL. Mumpung kami ada keperluan membeli manekin di Tanah Abang, jadilah kami berangkat naik CL dari Stasiun Tanjung Barat. Akh, rupanya kami sudah ketinggalan banyak perubahan di area CL. Agak kaget waktu menerima tiket CL serupa kartu ATM. Dulu kami masih pakai tiket kertas kecil. Kami pesan 2 tiket seharga Rp8.000/tiket. Setelah menyerahkan uang 20ribu ternyata kasir hanya menyodorkan kembalian 2 lembar dua ribu rupiah. Saya berdiri agak lama di depan loket, sambil kebingungan menunggu tiket. Saya tidak mendengar instruksi apapun dari kasir kecuali kata-katanya saat menyerahkan kembalian. Suami yang memperhatikan saya menunjukkan e-ticket yang keluar dari kotak kecil di samping saya. Bergegas saya mengambilnya dan menunggu kembali di depan loket. Agak lama menunggu, kasir tidak memberi instruksi apapun. Langsung saja saya pergi sambil berkata pelan ke suami, "Tiketnya cuma satu buat berdua ya?"

Sampailah kami pada gerbang pemeriksaan tiket. Saat itu ada dua petugas, satu berpakaian ABRI, lainnya berseragam dengan helm putih khas petugas pemeriksaan. Sang ABRI menanyakan tiket kami, sementara petugas helm putih berjaga di pintu sebelah. Saya yang memegang tiket menyodorkan 1 buah e-ticket.
"Kok cuma satu?" tanya sang ABRI.
"Gak tau pak, tadi beli dua cuma dikasih satu tiketnya.."
"Oh yasudah, masukkan kesini," katanya mengarahkan ke lubang e-ticket di gerbang pemeriksaan. Setelah kartu saya masukkan pintu pun terbuka, disuruhnya saya segera masuk.
"Yang satu lewat sini aja," katanya menyuruh abi lewat pintu sebelah yang dijaga petugas helm putih.



Sebenarnya saya merasa agak aneh saat itu. Seperti memaksakan lewat jalur tidak resmi. Padahal kalau 1 e-ticket bisa buat berdua harusnya abi bisa masuk lewat pintu masuk e-ticket. Terburu-buru kami menuju peron karena ternyata CL tujuan tanah abang sudah datang. Yah, karena terburu-buru itu kami melupakan keganjilan saat pemeriksaan tiket tadi.

Sampai di Tanah Abang kami sholat Ashar terlebih dahulu, baru mencari toko manekin. Dulu saat ke Pasar Tasik melewati stasiun tanah abang kami melihat toko manekin di tangga keluar. Jadi kami memutuskan cek harga dulu kesana. Disinilah awal surprise itu terjadi.

Saat mau keluar stasiun, kembali tiket kami diperiksa. Saya menunjukkan 1 e-ticket kami. Petugas tanpa ba-bi-bu dan tanpa ekspresi langsung menggiring kami ke suatu tempat. Saya dan abi kebingungan tapi mengikuti saja. Rupanya kami di bawa ke kantor. Disana kami diinterogasi kenapa hanya punya 1 tiket. Kami jelaskan dengan jujur kejadian di stasiun Tanjung Barat mulai saat membeli tiket sampai naik kereta.
"Tidak mungkin kami bisa naik kereta kalo petugas tidak mengizinkan di stasiun Tanjung Barat. Kami membeli 2 tiket dan hanya dikasih satu. Kami kira memang bisa untuk berdua. Awalnya petugas memang menanyakan, tapi setelah kami jelaskan kejadian di kasir petugas memperbolehkan kami masuk."
"Apa punya bukti nota pembelian 2 tiket?"
"Kami hanya dikasih kembalian dan 1 tiket, tidak dikasih apa-apa lagi."
"Kami tidak mungkin menyusup karena membawa anak.."
"Bukannya kami tidak percaya, tapi sekarang banyak penyusup. Ada yang bisa masuk tanpa tiket atau cuma beli satu tiket. Kalau Bapak punya bukti nota meski tiket cuma 1 kami persilakan Bapak pergi."

Yah, mau argumen apapun sampai sumpah pocong pun kami tidak punya bukti. Apalagi di ruang sempit nan panas itu a Hamzah mulai rewel. Tidak suka dengan situasi dan udara di sana, nangis ribut minta keluar.

Saya membaca peraturan yang tertempel di dinding. Rupanya tidak membeli tiket terkena denda RP50.000. Saya laporkan ke abi. Mungkin abi juga menyadari debat kusir ini tidak akan berujung dan kasian sama a Hamzah yang tidak betah, akhirnya abi mengalah dan menyuruh saya membayarkan dendanya. Ternyata petugas menyuruh kami membeli tiket suplisi sehara RP50.000 sebagai denda. Tiket suplisi ini bisa digunakan untuk 1 kali naik kereta saat pulang nanti. Kami tidak terlalu paham apakah memang seperti itu aturannya karena di aturan yang tertempel di dinding tidak menyebutkan soal tiket suplisi. Tapi kami menurut saja agar urusan cepat selesai dan kami bisa cepat keluar dari sana. Baru kali ini naik CL Tanjung Barat-Tanah Abang seharga Rp16.000+Rp50.000!


Sambil menandatangani tiket suplisi, petugas berkelakar, "Nanti tunjukkan aja tiket ini ke petugas stasiun Tanjung Barat kalau mau minta ganti rugi.."
"Kalau ditunjukkan uangnya bisa kembali gitu?" tanya saya
"Kami kurang tau, coba aja.."

Masih mangkel dengan peristiwa tadi kami langsung menuju toko manekin dengan mood gak enak. Sampai-sampai saya pun malas memasuki Pasar Tanah Abang dan langsung menuju toko manekin yang pernah kami lihat ada di tangga keluar stasiun. Lagipula kami tidak punya info apapun tentang toko manekin di dalam Pasar Tanah Abang. Daripada buang-buang waktu dan tenaga, keburu magrib kami tidak jadi ke Pasar.

Tanya-tanya harga ternyata langsung dapat harga murah. Manekin pria bahan daur ulang Rp35.000. Sayangnya manekin kepala wanita dan manekin anak torso (dari kepala hingga pinggang) tidak ada yang bahan daur ulang. Harganya cukup mahal, kepala wanita Rp20.000, torso anak Rp55.000. Karena sudah sore dan harganya kami rasa tidak terlalu mahal kami memutuskan membeli di sana saja.

Selesai belanja abi kembali menanyakan apakah ingin ke Tanah Abang. Ah, mood sedang tidak enak jadi malas jalan-jalan. Pengen langsung pulang aja. Jadilah jalan-jalan kami kali ini cuma dari stasiun ke stasiun. Dengan tiket CL seharga Rp65.000 berdua. Tau gitu mending tadi naik taksi aja...



***

Oh iya, bagaimana soal ganti rugi. Saya sendiri lupa tampang petugas yang memeriksa kami saat berangkat di stasiun tanjung barat tadi. Setelah tanya petugas yang ada akhirnya kami dipertemukan dengan petugas helm putih yang tadi berjaga sekitar ashar saat kami beli tiket. Ia tidak mengakui mempersilakan kami masuk,  memang bukan dia, tapi sang ABRI. Dan sekarang ABRInya sudah tidak jaga. Petugas yang jaga jam itu menyuruh saya konfirmasi ke kasir setelah kami ceritakan panjang lebar persoalan tiket ini. Ia juga membantu menjelaskan ke kasir. Mbak petugas kasir terlihat pias takut akan kesalahannya. Ia menanyakan apa ingin diganti saja. Ia juga berdalih saat itu sudah memberi instruksi pada saya untuk mengambil tiket satu-satu karena keluarnya satu-satu agak lama. Padahal saat mengambil tiket pertama saya sudah berdiri lumayan lama didepan loket karena kebingungan tiketnya cuma satu tanpa ada penjelasan apa pun dari kasir. Ia juga berdalih saat itu sedang ramai, jadi terburu-buru. Setelah saya memang ada tiket nyangkut di kotak tempat keluar e-ticket dan diambil orang di belakang saya. Ah, di sinilah kesalahan kami. Tidak konfirmasi tiket yang cuma satu. Terburu-buru mengejar kereta yang sudah datang.

Kemudian saya teringat soal bukti nota. Kalau kami dikasih bukti nota tentu kami tidak mengalami kesulitan meski cuma punya 1 tiket. Kami tanyakan perihal itu dan melihat kedalam ruang loket. Kasir mengakui tidak memberi kan bukti nota. Dan saya lihat sendiri semua bukti nota masih dalam satu kertas panjang tidak dipotong-potong yang keluar dari mesin kasir. Itu artinya tidak satupun pembeli e-ticket diberi bukti nota. Dan itu kesalahan kasir.

Petugas yang membantu kami menjelaskan memang kejadian seperti ini seringkali terjadi. Terburu-buru sehingga hanya mengambil satu tiket. Makanya pembeli harus teliti. Kami akui kami kurang informasi, terburu-buru, dan tidak konfirmasi. Karena dulu tinggal menerima tiket kertas dan selesai, tidak ada masalah. Sekarang kalau beli e-ticket harus teliti mengambil sesuai jumlah tiket yang kita beli, karena 1 tiket hanya berlaku untuk 1 orang. Dan penting jangan lupa untuk menagih nota bila tidak diberi. Dimanapun tidak hanya saat membeli tiket CL.

Setelah perjalanan panjang tadi kami mendapatkan bukti nota, meminta ganti rugi tapi rupanya kasir hanya bisa memberi ganti rugi tiket seharga Rp8.000. Ah untuk apa diberi tiket lagi toh kami tidak ingin naik CL lagi. Akhirnya berbekal bukti nota kami berencana menunjukkannya pada petugas di Stasiun Tanah Abang untuk meminta kembali uang kami. Tapi tidak hari itu karena sudah terlampau lelah fisik dan hati.

Esoknya setelah kajian di Istiqlal, abi menyempatkan diri ke Stasiun Tanah Abang. Bagaimana hasilnya?
Uang kami tidak kembali.


Ini dia tentang aturan di CL.
belum sempet nyari tentang suplisi seharga 50.000 tapi nemu ini

gambar by google

No comments:

Post a Comment