Ya tiba-tiba aja dapat ST Rapat Dalam Kantor yang membuat saya baru boleh keluar kantor pukul 20.30. Sampai rumah tentu saja hampir jam setengah sebelas malam! Cuma sempet masak nasi dan merendam ikannya dengan air jeruk nipis dan garam. Pengennya si buru-buru tidur takut bangun kesiangan. Akhirnya setelah nguplek di dapur sebentar baru bisa tidur jam 12 kurang dikit.. -_-
Dan a Hamzah seperti biasa bangun beberapa kali sepanjang malam untuk minta susu. Alhamdulillah semalam tidak sesering malam sebelumnya saat badannya sumeng. Semalam hanya 1-2 kali bangun tapi yang terakhir sudah jam 3 dan saya masih ngantuk!
Sebenarnya sudah takut bakal kesiangan tapi ngantuk pisan saudara-saudara, demi kemashlahatan ummat alias ibu dan janinnya maka saya lanjutkan sesuai rencana untuk bangun sesuai alarm BB jam 3.30.
Yah... entah kepulesan atau memang alarmnya gak bunyi atau BBnya ketindihan bantal, tiba-tiba saya tersentak bangun saat jam menunjukkan 4.30. Jam kami memang kecepetan tapi imsak terjadi saat jam kami menunjukkan pukul 4.45. 15 menit lagi!
Apa yang bisa dimakan dalam 15 menit. Tentu saja langsung kepikiran mie instan. Ah, tapi itu hanya cocok untuk abi yang tahan hanya sahur mie. Kalau ummi apalagi dengan dedek di perut yang mabok kalo ummi makan lebih dari 1/3 porsi indomie gak mungkin kuaaatt... Inget telur. Akhirnya setelah menyeduh pop mie buat abi saya pun menceplok 2 butir telur buat abi dan sedikit nasi. Sedikit aja karena sepertinya abi tidak akan makan nasi kalau sudah makan mie. Bagaimana dengan ummi dan dedek?
Teluuurr.. jujur dari dulu meski hamilpun ummi gak terlalu suka telur. Baru bisa makan telur kalau sudah di dadar, fu yung hai atau orak-arik. Telur balado pun hanya bisa makan putihnya saja. Pokoknya kalau bentuknya masih telur rebus pasti yang dimakan putihnya aja karena memang gak suka yang kuning. Kalau terpaksa ada di telur di soto yang saya beli di kantor, karena tidak ada korban (baca : abi) yang bisa didonorkan makanan yang gak disukai ummi, terpaksa kuning telurnya tetap dimakan. Gak mau rugi bayar mahal terus dibuang :D
Jadi dalam 5 menit yang tersisa untuk masak tadi ummi bikin orak-arik telur tambah garam, kecap, dan saos, masukkan nasi hangat. Uhm... lumayanlah untuk energi selama shaum hari ini. Apalagi selama masak tadi saya sempet nyemil pisang cavendish 1 biji. Berhubung masih sisa 3 menit setelah makan saya mengupas 1 buah mangga setelah meminum vitamin bumil. Si abi masih menghabiskan susu full creamnya, selanjutnya kami nikmati potongan mangga di detik-detik terakhir. Mangganya memang mahal sekarang bisa 6 ribu perak sebutir. Tapi demi vitamin di dalamnya, demi buah favorit abi, dan ternyata demi saya dan dedek yang jadi suka mangga karena lebih mudah dicerna dalam kondisi mual sekalipun, kami tetap membelinya meski di luar musimnya. Hidup mangga! :D
Alhamdulillah 15 menit yang berharga sebelum adzan subuh. Jadi inget kata-kata abi kemarin, "Akhir-akhir ini kita sahurnya di menit-menit terakhir mulu ya (baca : kesiangan), tapi jadi berkahnya sahur di akhir waktu."
Umminya mesem-mesem :D :D
***
Tentang hadits berkahnya mengakhirkan sahur
Disunnahkan mengakhirkan makan sahur sesaat sebelum fajar shadiq, Berdasarkan hadits yang marfu’ dari Abu Dzar Rasulullah bersabda,
“Senantiasa ummatku dalam keadaan baik apabila mempercepat buka puasa dan mengakhirkan sahur.” (HR. Ahmad, sanadnya dha'if)
Dan dari Anas bin Malik dari Zaid bin Tsabit, ia berkata,َ
“Kami makan sahur bersama Rasulullah Saw kemudian beliau shalat.” Aku (Anas bin Malik) bertanya, “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?”
Zaid menjawab. “Kira-kira seperti lamanya membaca 50 ayat Al Qur’an.”
(HR. Bukhari dan Muslim, sanadnya shahih).
Zaid menjawab. “Kira-kira seperti lamanya membaca 50 ayat Al Qur’an.”
(HR. Bukhari dan Muslim, sanadnya shahih).
Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Yaitu seperti lamanya orang yang membaca (50 ayat) secara pertengahan, bukan ayat yang panjang dan bukan pula yang pendek, bukan membaca dengan cepat dan bukan pula dengan lambat.” (Lihat Fathul Baari, 4:164)

No comments:
Post a Comment