Friday, February 2, 2018

SETIAP KITA ADALAH PEMIMPIN


"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawabannya..." [HR. Bukhori]
.
Coba bayangkan, seorang introvert yang tidak pernah berbicara di depan umum, tidak pandai berkata-kata atau berkomunikasi secara langsung, sulit mengungkapkan perasaannya, tidak mudah dekat/percaya dengan orang lain, lebih sering terlihat sendirian, tiba-tiba harus memimpin 55 orang dalam sebuah kegiatan tingkat kota Jakarta. Bagaimana perasaannya?
.
"Apakah saya bisa?"
"Apakah mungkin?"
.
Takut, ragu, shock, apapun perasaan dan pikiran itu alhamdulillah tidak mampir saat itu. Entah saya yang terlalu polos atau terlalu berpikiran sempit yang pertama terlintas adalah "bagaimana contoh event yang pernah diadakan sebelumnya?".
.
Tadinya saya hanya anggota biasa dalam komunitas, silent reader, tidak akrab dengan teman-teman grup karena niat saya masuk komunitas ini untuk belajar di Institutnya, Institut Ibu Profesional. Jadi saya yang introvert tidak ingin bersusah payah mengeluarkan effort untuk berteman.
.
Iya, begitu susahnya seorang introvert menjalin hubungan dengan orang lain sehingga itu merupakan effort yang sangat besar baginya. Maka dalam kondisi seperti itu saya membuat prioritas, saya memilih untuk lebih concern pada kuliah Institut Ibu Profesional (IIP) daripada berkomunitas dalam Ibu Profesional (IP) Jakarta. Hal yang membuat saya menyesal atas pilihan yang begitu egois itu. Kenyataannya kita tidak bisa benar-benar tidak berhubungan dengan orang lain, meskipun hanya dalam WA grup.
.
AMANAH ITU
.
Saya merasakan akibat keputusan yang salah itu saat saya diberi amanah menjadi Ketua Panitia dalam acara milad IP Jakarta. Mengapa tiba-tiba anggota biasa seperti saya diamanahkan sebagai ketua? tidak lain dan tidak bukan karena saat ada Open Recruitment Penanggung Jawab (PJ) event IP Jakarta saya mengajukan diri. Meskipun saya submit pendaftaran sangat terlambat ternyata saya tetap diterima.
.
Alhamdulillahnya saya tidak sendiri, sudah ada senior yang berpengalaman yang juga diterima menjadi PJ event. Ia, sudah 4-5 kali mendapat amanah menjadi ketua panitia kegiatan IP Jakarta. Tentu saja saya sangat bergantung untuk belajar padanya.
.
Mengapa seorang introvert ini tiba-tiba mendaftarkan diri jadi PJ event, padahal itu sudah pasti akan membutuhkan effort besar untuk membina hubungan dengan orang lain?
.
Tidak lain dan tidak bukan karena saya ingin sekali membuat acara kemah keluarga murah meriah bersama teman-teman IP Jakarta. Annual family camp yang diadakan IP Jakarta menurut saya terlalu mahal dan kurang membumi. Padahal IP memiliki mantra dasar untuk family: banyak main bareng, ngobrol bareng dan beraktivitas bareng. Mantra ini kami rasakan saat camping bareng sekeluarga. Dimana kami mau tidak mau tidak memegang gadget karena seringkali tidak ada sinyal, juga minim listrik untuk charger, dan tentu saja no TV. Ditambah kami harus berkumpul hanya dalam tenda berukuran 3x3 di suatu alam terbuka yang hanya ada rerumputan, pohon-pohon, sungai/air terjun, dan langit biru. Betapa kondisi saat camping keluarga ini sangat mendukung mantra dasar IP.
.
Saya ingin tidak hanya saya, tapi banyak keluarga IP Jakarta merasakan pengalaman serupa. Sejenak melupakan hirukpikuk ibu kota beserta kemacetan dan polusinya. Sekejap menikmati alam bebas bersama orang-orang tercinta. Betapa ini akan mempererat ikatan sebuah keluarga jika sering diadakan. Mungkin tidak harus selalu camping, travelling murah meriah kemana saja, backpakeran dengan dana terbatas, bahkan cuma piknik di taman pun kalau sering dilakukan sekeluarga insyaAllah akan mengurangi jumlah anak-anak yang kesepian dan kurang perhatian di dunia. Dan tentu saja ini bisa menjadi salah satu faktor kualitas generasi mendatang.
.
CHANGE is stands for CHAlleNGE
.
Mimpi saya ternyata harus melewati berbagai tantangan dulu. Karena memang belum ada family camp murmer di IP Jakarta saya harus mengikuti kegiatan yang sudah ada. Dengan catatan si silent reader ini sama sekali tidak pernah mengikuti kegiatan offline IP Jakarta sebelumnya, tidak ada gambaran samasekali.
.
Konsekuensi mendaftar menjadi PJ event ya harus mengkoordinir acara yang sudah ada, salah satunya annual event. Qaddarallah senior PJ event sedang padat agendanya di bulan Desember sehingga tidak bisa menjadi Ketua Panitia. Padahal saya berharap mengikut event sebagai anggota dulu untuk mempelajari bagaimana bentuk acara dan koordinasi dalam kepanitiaan. Namun Allah memberi rencana yang lebih indah untuk saya.
.
Seorang introvert ini harus berubah, CHANGE. Harus berpindah dari zona nyamannnya sebagai introvert. Harus belajar mengorganisir acara dan memanajemen orang langsung. Caranya adalah dengan menjadi ketua panitia. Dan ketika saya memutuskan untuk berubah maka pastilah banyak tantangan yang mengikutinya. Tantangan pertama adalah konsekuensi akibat keputusan saya tidak sungguh-sungguh berteman dengan anggota WAG dan tidak pernah mengikuti kegiatan offline IP Jakarta sama sekali.
.
Ya, saya sama sekali tidak punya gambaran kegiatan dan saya tidak mengenal banyak orang untuk saya ajak menjadi panitia. Dua hal ini lah yang langsung terlintas di pikiran saya setelah saya resmi mendapat amanah sebagai ketua panitia acara milad IP Jakarta. Tiba-tiba saya harus melesat bagaimana dengan waktu yang kurang dari sebulan ini saya bisa mengkoordinir sebuah acara untuk satu kota. Mungkin saya harus bersyukur dengan pikiran pendek saya sehingga tidak sempat kepikiran seluas apa Jakarta itu sehingga tidak muncul rasa takut atau ragu. Bahkan saya tidak kepikiran sesulit apa nantinya, saya hanya memikirkan dua jawaban: bagaimana contoh event IP Jakarta dan bagaimana saya bisa mencari orang untuk menjadi panitia.
.
Saya mulai belajar dari LPJ kegiatan sebelumnya. Saya pun diingatkan untuk segera OR kepanitiaan mengingat waktu yang kurang dari sebulan. Learning by doing sangat saya rasakan di sini. Dan tiba-tiba saya merasa orang paling tidak tahu tentang IP Jakarta meski sudah setahun lebih ada dalam komunitasnya.
.
Seperti saat naik gunung, tantangan ada sepanjang perjalanan. Rasanya ingin berhenti dan menyerah saja. Karena ternyata tidak mudah mengkoordinir sebuah acara besar di tengah-tengah kerjaan kantor akhir tahun, berbarengan dengan tugas kuliah IIP, dan tentu saja tanggung jawab saya sebagai istri dan ibu. Berkali-kali ingin bilang, "I Quit" tapi tercekat saat bertemu teman-teman panitia dalam rapat offline.
.
Mereka adalah teman-teman yang dengan kesadaran dirinya mendaftarkan diri menjadi panitia. Tentu saja mereka sudah paham konsekuensinya, menambah effort di luar kewajiban rumah tangga dan kantor. Dan para panitia itu beberapa rapat dengan membawa bayi dan balita, membuat saya malu jika mengatakan "I Quit".
.
THE LEADER
.
Terakhir menjadi panitia saat saya kuliah 9-10 tahun yang lalu. Terakhir mendapat amanah sebagai ketua saat SMA 14 tahun yang lalu. Berbekal pengalaman itu saya belajar bahwa seorang pemimpin tidak bisa membuat keputusan sesuai keinginannya sendiri. Karena konsekuensi keputusan itu akan berpengaruh terhadap banyak orang. Betapa membuat keputusan itu sangat berat pertanggungjawabannya. Itulah mengapa umar menangin saat diangkat menjadi khalifah. Karena bisa jadi setiap keputusan menentukan pahala dan dosanya, apakah ia akan masuk surga atau neraka. Saya pun tidak habis pikir, mengapa banyak orang begitu mengejar posisi menjadi yang teratas, presiden, gubernur, direktur bahkan ketua RT. Padahal amanah itu begitu berat di mata saya.
.
Suara saya yang kecil dan gerak-gerik khas orang Jawa Sunda yang tidak setegas orang Sumatera cukup menyiratkan bahwa saya tidak bisa berlaku setegas senior saya. Karakter kami sangat berkebalikan. Saya introvert dan beliau ekstrovert. Saat beliau berbicara dengan suara keras dan lantang semua orang langsung mendengar. Berbeda dengan saya yang harus agak teriak saat memimpin rapat. Saya mulai merasakan banyak tantangan akibat karakter introvert ini. Mau tidak mau saya harus lebih ekstrovert. Saya harus lebih perhatian, berbaur dengan banyak orang, sering berbicara, banyak mendengar, dan yang paling sulit adalah membuat keputusan yang baik untuk semuanya. Bahkan saat menentukan tanggal rapat offline pun begitu sistemik karena saya harus bisa mengakomodir semua divisi agar banyak yang bisa datang. Mau tidak mau merelakan agenda pribadi keluarga saya menyesuaikan dengan agenda rapat.
.
Alhamdulillahnya suami saya sudah mendukung sejak meridhoi saya mendaftarkan diri menjadi PJ event. Namun sayangnya di saat-saat tersibuk dalam kepanitiaan beliau harus diklat asrama 2 minggu sehingga tidak bisa banyak membantu dan saya harus menitipkan anak3 kepada eyangnya.
.
Banyak keajaiban yang kami rasakan dalam kepanitiaan ini. Mulai dari tiba-tiba mendapat kabar Bu Septi dan Pak Dodik akan menghadiri acara padahal sebelumnya agenda beliau padat hingga April-Mei. Hingga di saat-saat kritis saat kami menghitung kebutuhan anggaran melebihi kemungkinan pemasukan yang akan kami terima. Namun ternyata perhitungan kami salah. Allah mendatangkan banyak rezeki dari arah yang tidak kami sangka. Mulai dari ibu peri yang menjadi donatur baik dana cash maupun hadiah doorprize, pendaftar sponshorship yang membludak hingga peserta acara yang nyaris memenuhi target, 296 dari kuota 300.
.
MasyaAllah...meski sepanjang perjalanan saya berkali-kali ingin menyerah dalam hati dan memohon kekuatanNya tapi Allah mengirimkan banyak bantuanNya. Kita cukup berikhtiar sebagai hambaNya dengan sebaik-baik ikhtiar, lalu biarkan "tangan" Allah bekerja. Dan lihatlah, hasil ikhtiar kita pastilah yang terbaik untuk kita.
.
Terima kasih banyak untuk teman-teman panitia yang sudah mengajari saya banyak hal untuk menjadi pemimpin, yang memberikan kebersamaan meski saya belum bisa terlalu akrab, dan memberi saya pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik ke depan.
.
Karena kepemimpinan tidak melihat karakter kita melainkan usaha kita untuk menjadi pemimpin.
.
Barakallahu fiikum..
.

No comments:

Post a Comment