Tuesday, February 13, 2018

PERNAHKAH ANDA TRAVELLING SENDIRIAN?




Selepas saya SMA akhirnya saya bisa menjadi merpati yang terbang bebas. Sebelumnya orang tua saya begitu melindungi saya sampai saya tidak pernah keluar kota (kecuali UI depok) selain karena acara sekolah. Entah bawaan dari mana rasanya saya ingin sekali masuk organisasi Pecinta Alam saat SMA namun tentu saja terhalang izin orang tua. Maka setelah lulus SMA saya mengajukan proposal untuk ngekos saat kuliah, selain karena memang jauh dan cukup memakan waktu perjalanan yang harusnya bisa buat istirahat juga agar saya bisa lebih "bebas".

Alhamdulillah orangtua cukup membekali saya dengan agama, meski mereka termasuk awam. Jadi sebebas-bebasnya saya pasti terbatas dengan aturan agama. Hanya saja saya senang bisa lebih mandiri mengatur keperluan hidup saya. Pun saat orangtua hanya bisa memberi uang bulanan semampu mereka, saya bisa berusaha untuk mencari uang sendiri. Inilah yang saya maksud "bebas", lebih mandiri dan tidak bergantung kepada orang tua.
.
Masih dengan semangat muda saya waktu itu saya pernah keluar kota sendirian demi mencari nafkah bulanan. Saya pergi dari kosan dekat STAN Jurtim-Bintaro ke Bekasi pulang kuliah dan ternyata kehabisan bis. Saya menunggu sampai tengah malah di terminal sampai akhirnya bapaknya anak yang akan saya bimbing belajar privatnya kuatir dan menyuruh saya naik taksi saja. Eh tapi saya sudah terlanjut ngangkot, sampai seluruh penumpang habis tinggal supir yang mengemudi dan saya di kursi penumpang belakang. Supir pun berseloroh, "Untungnya masih banyak orang baik di Bekasi kalau tidak mba mungkin udah dijahatin orang." Saya cuma bisa banyak-banyak berdoa saja soalnya diterminal sempat ditawarin bapak-bapak mampir minum dulu ke lapak-lapak pinggir jalan. Entah memang ramah atau modus tapi saya menolaknya dengan sopan demi keselamatan.
.
Kejadian bertualang sendirian ini rupanya tidak sampai di situ saja. Entah kesambet apa saat liburan kuliah di tingkat 1 kuliah dimana saya masih unyu-unyu selepas SMA, tiba-tiba pengen banget keliling jawa mengunjungi rumah teman-teman dekat sepengajian yang tentu saja pada mudik ke kampung halaman. Antara penasaran karena seumur-umur lahir dan tinggal di Jakarta cuma kenal Depok, Jurangmangu-Bintaro, Bogor, Bandung, dan Simo aja juga terinspirasi buku-buku backpacker. Ceritanya saya mau backpackeran gitu dan rumah teman-teman saya jadi tempat transitnya. Petualangan diraih, silaturahim pun dapat. Bahkan saya bisa berkunjung ke rumah Mbah di Simo yang gak tiap tahun bisa kami kunjungi terkait ekonomi :'(

Alhamdulillahnya entah mengapa juga Bapak yang selama ini begitu over protected sama anak gadisnya mau mengizinkan anaknya backpackeran. Mungkin setengah kasian juga kali ya anaknya seumur-umur cuma kenal Jadebobajusi aja sekaligus mau menguji (feeling saya) kemandirian anaknya. Bapak sendiri yang mengantar saya ke stasiun Gambir untuk naik Matarmaja, kereta termurah ke Surabaya waktu itu. Alhamdulillah saya berangkat bersama mba senior di pengajian yang kemudian berpisah di stasiun Pasar Turi. Saya bisa merasakan bagaimana kereta Jawa ekonomi yang super ramai dengan pengamen dan pedagang sampai dicolek-colek pengamen yang silih berganti datang. Hingga akhirnya saya harus memulai petualangan saya sendirian, di kota yang baru pertama kali saya injak tanpa kenal satu orang pun, hanya ada saya dan Allah juga alamat teman saya di Surabaya.

Ittenary saya antara lain Jakarta-Surabaya-Sidoarjo-Madiun-Kebumen-Simo-Jakarta. Sebenarnya pengen ke Batang juga tapi sayangnya ga sempat..

Dari semua lokasi itu sebelum berhasil menemukan alamat, tentu saja saya yang blasteran Jawa-Sunda pasif alias ga bisa berbicara bahasa itu cuma mengerti aja sedikit terkendala saat mencari kendaraan. Mungkin ini latihan kalau mau ke luar negeri dengan bahasa Inggris pasif ya.. jadi dikit-dikit pake bahasa tarzan :D Andalan saya waktu itu meski ga bisa ngomong Jawa saya harus terlihat yakin dan kuat, tidak lemah seperti orang kebingungan, ya sok pede gitu deh. Ini trik biar tidak mudah diganggu orang. Saya pikir orang yang terlihat lemah atau kebingungan akan menarik orang jahat untuk mengganggunya. Kalau misal tetap diganggu gimana? Entahlah, saya juga gak punya ilmu beladiri waktu itu jadi cuma bergantung sama Allah aja.

MasyaAllah entah kenapa saat itu saya begitu berani sendirian seperti itu, kalau bukan karena izin dan perlindungan Allah mungkin saya sudah celaka. Mungkin ini lah jiwa petualangan ya, ada sedikit modal nekat juga. Ikhtiar saya selain gesture "pemberani" juga handphone yang harus selalu aktif. Setidaknya kalau ada hal darurat saya bisa menelepon. Terutama untuk memastikan alamat teman-teman saya. Meski saat itu belum tren dan belum punya powerbank alhamdulillah batre handphone masih cukup hingga saya menemukan alamat teman saya.

Dari seluruh perjalanan antar kota ini saya merasa sesungguhnya orang Jawa baik-baik. Meskipun di layar kaca sering lihat berita kriminal tapi nyatanya saat saya bertualang sendirian seperti ini masih banyak orang yang menolong saya menunjukkan alamat dan kendaraan. Kadang saya juga diajak ngobrol yang hanya bisa saya jawab senyum atau nggih saja. Sayang sekali petualangan ini minim foto karena menghemat batre hape. Tapi memori yang saya tuliskan ini akan terus melekat dan menjadi cerita manis untuk anak-anak saya kelak. Tentang sebuah petualangan sendirian untuk menemukan diri kita yang sebenarnya.


Terima kasih buat Bapak dan Mama yang sudah mengizinkan, saudari-saudari host yang sudah memberi jamuan, orang-orang tak dikenal yang memberi pertolongan, dan tentu saja Allah yang memberi perlindungan :)

No comments:

Post a Comment