Monday, March 30, 2020

PUASA MINGGU 1 JURNAL KEPOMPONG

Bismillahirrohmaanirrohiim

Puasa minggu pertama sesuai mindmap yakni puasa marah. Saya menerapkan standar sebagai berikut:

Tidak marah dan tidak main fisik sama sekali
Marah dan main fisik max 2 kali dalam sehari


Marah dan main fisik max 5 kali dalam sehari

Marah dan main fisik lebih dari 5 kali dalam sehari

Berpedoman dari ustadz Aad seorang psikolog sekaligus pakar parenting, sebenarnya marah itu tidak boleh, yang tidak boleh adalah marah-marah. Marah adalah ungkapan rasa tidak suka/kecewa terhadap sesuatu yang tidak baik, sedangkan marah-marah adalah luapan emosi yang seringkali tidak efektif/sesuai dengan tujuannya. Jika tujuan kita ingin memperbaiki suatu kesalahan maka boleh marah dengan pas, pas niatnya, pas caranya, pas waktu dan tempatnya, pas situasi dan kondisinya. Jika kita marah dengan tidak pas maka kemungkinan besar saat itu kita sedang marah-marah.

Namun dalam kategori di atas saya tidak menuliskan "marah-marah" karena itu bukan bahasa baku, saya tetap menuliskannya dengan "marah" saja. Karegori marah dalam konteks marah-marah versi saya adalah saat saya merasa marah dengan suara tinggi, pandangan tajam, nafas cepat, dan kata-kata menusuk. Karena itu adalah luapan emosi marah-marah. Sedangkan kategori main fisik versi saya adalah mencubit, mendorong, memukul, menyentil, menjewer, menampar/menempeleng, mengancam, mengunci di kamar, dan sejenisnya.

Sayangnya minggu pertama ini adalah adaptasi kehectican dunia baru mengurus home learning satu anak TK yang mogok sekolah di rumah dan satu anak kelas 2 SD yang tugasnya cukup  banyak. Ditambah kedua anak itu mengaji online tiap senin sampai rabu, dimana anak TK mengaji pukul 11.00 padahal sekolahnya baru selesai pada jam itu, bahkan bisa molor kalau ngambeknya parah. Sedangkan anak SD mengajinya pukul 16.30 juga saat ia baru saja selesai mengerjakan tugas sekolahnya.

Selain itu saya sedang menjalani work from home dimana harus menyiapkan konten postingan sosial media kantor juga standby untuk rapat by video conference satu persatu. Awalnya masih lancar karena dibantu suami namun setelah suami sempat kekantor dan sibuk dengan tugas WFHnya juga saya lumayan keteteran sehingga tidak bisa membuat jurnal puasa harian. Maka demi kesehatan jiwa raga saya memutuskan untuk posting pekanan dengan update harian pada satu postingan blog saya.

Sayangnya saat saya mau mengerjakan jurnal mingguan, anak ke-4 masih rewel-rewelnya sakit batuk pilek sementara saya juga sakit yang sama. Hingga tiap malam jatuh tepar dan puncaknya hari terakhir deadline jurnal mingguan saya tidak bisa posting karena kehabisan internet. Maka hari ini saya rekap jurnal minggu 1 Puasa dengan hasil sebagai berikut:



Subhanallah... Jurnal puasa minggu ini kebakaran. Ibaratnya sekolah saya harus remedial di minggu kedua. Tapi alhamdulillah saya memperoleh banyak hikmah:

🔺Sepertinya saya perlu terapi peluk, senyum, dan atur napas tiap kali mulai emosional
🔺Saya harus meng-sounding anak-anak untuk membantu saya puasa marah
🔺Saya harus mencoba strategi baru dalam membujuk anak yang tantrum misal dengan metode bintang
🔺Anak-anak suka berlomba agar pengerjaan tugas cepat selesai
🔺Anak-anak perlu tantangan dan hadiah yang menarik agar mudah diajak kerja sama
🔺Perlu membuat jadwal agar teratur
🔺Suami tidak menargetkan semua tugas anak selesai jadi tidak perlu menerapkan standar selesai

Semoga minggu kedua bisa lebih baik dari minggu pertama. Semangats!

No comments:

Post a Comment