![]() |
Jika cukup luang, cobalah duduk di pinggir jendela saat hujan dan dengarkan rintiknya dengan seksama. Apa yang kau rasakan?
Kalau aku, awalnya aku biasa saja, masih terbawa suasana hati saat itu. Kalau aku sedang perlu keluar dan saat itu hujan deras, mendengarkannya bikin aku kesal. Kalau aku sedang lelah, mendengarkannya bikin ngantuk. Tapi setelah beberapa menit mendengarkan dengan seksama, setelah suasana hati tak lagi mendominasi, khusuk kudengarkan kesejukkan dalam rintik hujan. Baik itu hujan sutra, hujan sedang-sedang saja ataupun hujan deras.
Coba dengarkan suaranya, dan suara-suara yang mengiringinya. Mungkin ada bunyi tong-tong saat rintiknya mengenai kaleng sampah di luar sana. Atau sekedar bunyi brusshh rintikan derasnya yang langsung menghujam bumi. Kalau kita mendengarkan dengan khusyuk suara hujan, kita akan memasuki dimensi lain di alam bawah sadar kita.
Kali ini, aku mendengar hujan deras. Saking derasnya hanya terdengar brussshh yang keras saja, sampai melenyapkan suara-suara di bawahnya, termasuk suaraku yang sedang bersantai di dalam rumah. Untung ini hari libur. Aku sudah kenyang, tidak ada kerjaan, dan yang aku pikirkan aku ingin tidur. Tapi ternyata Mama begitu cerdas menarik perhatian kami. Wangi pisang goreng itu... ah, anggap saja kami belum makan. Lagipula hujan-hujan kan bikin cepat lapar :D
"Justru hujan yang gak deras itu bikin sakit," kata Mama tegas saat aku menolak memakai payung ketika hendak pergi keluar rumah di saat hujan sutra menari di luar sana. Hujan sutra, istilah yang kubuat untuk hujan yang begitu halus sampai-sampai mungkin kalau kutengadahkan tangan untuk menampungnya aku tidak akan mendapatkan apa-apa. Bikin gemas. Pinginnya gak pakai payung, tapi begitulah kata Mamaku. Dan aku pun menurut saja.
Arrghh.. seharian ini jadi bingung mau keluar rumah. Sedari tadi hujan-berhenti-hujan-berhenti. Hujannya nanggung, sedikit-sedikit, sebentar-sebentar, berhenti trus hujan lagi. Tidur aja ah.
Dan suatu saat, saat suara itu lama tidak terdengar, tiba-tiba aku merindukannya. Musim panas ini begitu menyiksa. Sudah malam pun udara tetap terasa panas. Biang keringat pun merajalela. Kalau begini pas Ramadhan, Subhanallah banget dah. Ah, jadi ingat kalau bulan Ramadhan Mama pasti membuatkan kami es buah untuk buka puasa. Setiap hari, sebulan penuh. Dan juga gorengan. Tapi kami tak pernah bosan. Dan Alhamdulillah tidak pilek juga.
Aku senyum-seyum sendiri. Ah! sudah jam berapa ini? Aku harus melingkar jam 2.
Tergopoh-gopoh aku membawa payung kotak-kotak berwarna coklat kesukaanku. Bukan karena corak atau warnanya aku menyukainya. Karena Mama membelikanku payung dengan bahan besi yang kuat dan rangka yang kokoh. Payung seperti ini sekarang sulit ditemukan. Sekarang banyak payung dengan corak dan warna yang memikat hati, tapi sayang bahan dan rangkanya cepat rusak.
Hujan, mengingatkanku pada Mama.
suatu masa saat kau tak bisa apa-apa,
ia hadir membantumu melakukan apa-apa
suatu masa saat semangat mudamu bergejolak,
ia hadir mengajakmu melangkah bersama di jalan yang benar
suatu masa saat kau mengambil perannya dalam sebuah keluarga,
ia hadir menemanimu yang sedang belajar menjadi lebih baik darinya
sadarkah kau, Ibu selalu siaga untukmu
hatiku jadi gerimis
gambar dari sini

No comments:
Post a Comment