Bismillahirrohmaanirrohiim...
Hai ulat kecil...bagaimana pelajaranmu minggu ini? Minggu ini kamu berkelana di kebun apel yang penuh apel ranum siap panen. Namun kamu harus fokus pada satu apel yang sangat kamu suka supaya bisa benar-benar menikmatinya. Setelah masuk ke kamar Manajemen Emosi kamu disajikan menu Innerchild. Wah, pas sekali dengan kebutuhanmu saat ini. Baiklah...kita sajikan potluck untuk teman-temanmu yaa
BERDAMAI DENGAN INNERCHILD
"Ma, Rio mau susu..." rengek rio pada mamanya yang sedang memandikan adiknya.
"Susu Rio abis...mama belum beli... " mama Rio mencoba menjelaskan agar Rio mengerti.
"Ada ma... yang kecil-kecil... Rio mau.. " Rio bersikeras meminta susunya. Mama pun bersikukuh tidak memberikan karena itu jatah bekal sekolah. Sementara saat di rumah, Rio biasa minum susu dari kemasan kotak satu liter.
"Gak ada Rio.. kalau ada coba ambil sendiri sana," ujar mama Rio berharap putranya menyerah.
Rupanya Rio tetap membuntuti mamanya sambil terus meminta susunya. Sayangnya tidak sekedar membuntuti, Rio juga mencuri-curi kesempatan untuk mencubit dan memukul adiknya selama adiknya sedang bersama mama. Awalnya mama menegur dengan lembut agar Rio tidak melakukannya, tapi Rio tidak mendengar dan terus mengganggu adiknya hingga adiknya menangis. Mamapun geram, ia balas perlakuan Rio tiap kali Rio mencubit/memukul adiknya dengan maksud agar Rio merasakan kesakitan yang dirasakan adiknya sehingga berhenti melakukannya.
"Riooo! Kenapa sih dari tadi gangguin adik terus? Mama udah bilang gak boleh nyubit atau mukul adikk!" Mama mulai naik pitam dan berteriak memarahi Rio.
"Rio pengen susu..."
"Kan sudah Mama bilang gak ada. Kalau masih gangguin adiknya jangan dekat-dekat adik!" seru mama Rio sambil menghalau Rio mendekati adiknya. "Kalau ga mau diem juga, mama kunci di kamar ya!" ancam mamanya karena Rio tak juga berhenti.
Mengenal Innerchild
Pernah mengalami kasus serupa di atas Bunda? Rasa-rasanya kesabaran Bunda sudah habis sampai harus melakukan segala cara agar anak nurut. Mulai dari level rendah berbicara baik-baik sampai level tinggi memukul/berteriak/mengancam. Sebenarnya bunda sudah tahu kalau memukul/berteriak/mengancam itu tidak baik untuk jiwa anak. Tapi entah kenapa tiap kali anak sulit sekali diatur Bunda selalu merasa terpaksa harus melakukannya. Dan penyesalan selalu datang di akhir karena kalau di awal namanya pendaftaran :D
Tidak hanya memukul/berteriak/mengancam ada beberapa perilaku negatif lain yang tanpa sadar keluar saat anak tantrum tak terkendali. Masa-masa itu ada yang menyebutnya mama monster, emak singa, dll Sebenarnya Bunda sadar, Bunda sedang tidak menjadi diri Bunda seutuhnya karena sedang dikuasai energi lain hingga menjadi seperti monster atau singa.
Adakah perilaku di bawah ini pernah Bunda lakukan?
1. Mata mendelik, mengeluarkan kata-kata tajam/buruk saat memarahi anak
2. Diam dan mengabaikan (ngambek) saat marah/kecewa pada anak/pasangan
3. Playing victim, berusaha mencari pembenaran seolah diri kita adalah korban.
Contoh: rumah seperti kapal pecah saat suami pulang, Bunda memarahi anak di depan suami seolah mengadukan ke suami bahwa anak tsb yang menyebabkan kekacauan ini. Meskipun mungkin memang benar namun ada adab menasehati yang dilanggar serta skenario yang dibuat agar Bunda tidak disalahkan suami.
4. Tidak mengakui kesalahan, selalu saja alasan karena anak dibawa-bawa.
Contoh: Bunda kesiangan lalu menyalahkan anak yang rewel semalaman padahal Bunda butuh bantuan suami tapi yang dimarahi hanya anak. Akhirnya suami marah karena kesiangan tidak bisa sarapan, anak terlambat ke sekolah, suami terlambat ke kantor. Bunda hanya memendam perasaan sebenarnya kesal karena suami tidak membantu hanya menyalahkan saja seolah semuanya hanya tanggung jawab Bunda. Akar dari masalah ini adalah kurangnya komunikasi Ayah dan Bunda bukan kesalahan anak semata.
6. Over protective pada anak. Contoh: Tidak memperbolehkan anak memilih pakaian sendiri, anak harus mengikuti apa yang disiapkan Bunda, anak tidak boleh main ke luar rumah, mengatur semua keperluan anak yang terlihat seperti melayani raja namun dibalik itu sesungguhnya tidak mau ribet sehingga semua harus berjalan sesuai aturan Bunda jika tidak anak akan mendapatkan hukuman.
7. Memberi hukuman di luar batas atau di atas level kesalahan anak. Contoh: anak menumpahkan air dihukum dengan menyiramnya dengan air hingga basah kuyup, anak tantrum tak terkendali dihukum dengan dikunci di kamar mandi, dll
8. Rajin baca buku/kulwap parenting tapi saat anak tantrum atau berbuat salah tetap bersumbu pendek, langsung marah dan menghukum anak
Apakah penyebab perilaku Bunda di atas?
Ada banyak faktor yang bisa menjadi penyebab, namun akhir-akhir ini kita mengenal satu istilah dalam ilmu psikologi yakni luka pengasuhan, hutang pengasuhan atau dikenal dengan innerchild (negatif).
Apa itu innerchild?
Innerchild adalah pengalaman pengasuhan di masa lalu yang terekam di alam bawah sadar sehingga membentuk pikiran, keyakinan, karakter, dan perilaku yang kita lakukan saat ini.
Innerchild positif akan menghasilkan perilaku positif seperti lembut, hangat, dekat dengan anak, pantang menyerah, ceria, mudah bergaul, percaya diri, dll
Innerchild negatif akan menghasilkan perilaku negatif seperti mudah emosi, suka berteriak, tidak mau mengakui kesalahan, keras kepala, playing victim, perasaan tidak berdaya, mudah menangis (cengeng), minder, dll
Apa penyebab saja pengalaman masa lalu yang bisa menyebabkan innerchild negatif?
Apa yang bisa menyebabkan innerchild negatif muncul saat ini?
Bagaimana ciri-ciri Bunda memiliki innerchild negatif?
Lanjut besok yaa
#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi4
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional


No comments:
Post a Comment