Madrasatul Ula
Bismillahirrohmaanirrohiim....
Haloo hexagonia...Setelah sekitar 3 bulan berhibernasi akhirnya si ummi mulai belajar lagii... meski sempet galau antara melanjutkan kelas terakhir Institut Ibu Profesional ini atau tidak, saya memutuskan untuk lanjut karena kesempatan yang Allah berikan. Bagaimana tidak bisa saya bilang kesempatan? Saya terlewat submit survey yang merupakan gerbang masuk kelas Bunda Salihah, hampir menyerah namun Allah menunjukkan jalan dengan adanya pendaftaran gelombang kedua. Saya tidak bisa menutup mata dan akhirnya mendaftarkan diri. Cerita lengkapnya di sini.
Lalu bagaimana kesan saya setelah mengikuti orientasi dan kuliah perdana? Terpana. Wow, kami memiliki kampus hijau, kampus virtual yang digambarkan dikelilingi banyak pohon dan ada danaunya. Hm.. mirip UI ga si? hehe
Kampus ini bernama Kampus Ibu Pembaharu dan taglinenya
Dari rumah untuk dunia
Yang lebih menakjubkan lagi saat mulai orientasi kampus ini sudah memiliki website kampus yang sudah lengkap isinya. Cek websitenya di sini. Sepertinya kelas ini lebih rapi daripada sebelumnya. Semua sudah ada draftnya sehingga kami para pembelajar ini tidak bertanya-tanya habis tahap ini selanjutnya apa. Semua sudah terjadwal hingga akhir kelas. Istilahnya kami sudah diberikan kurikulum/silabus dan kalender akademiknya. Lengkapnya silakan cek di sini.
Setelah mengetahui visi misi dilengkapi materi kuliah perdana, saya merasa bersyukur mendapatkan kesempatan mendaftar di gelombang kedua. Karena kurikulum kampus ini sangat menantang dan sesuai dengan visi saya, menjadi orang bermanfaat bagi banyak orang. Ya, seperti kita tahu hampir setiap hari kabar duka menghampiri kita di masa pandemi yang sepertinya sedang puncak-puncaknya gelombang kedua. Dari orang yang kelihatannya jauh, semakin lama yang terkena covid dan yang meninggal adalah orang yang kita kenal dekat. Betapa menjadi pengingat diri akan bekal saat dipanggil Allah nanti. Sudah cukupkah bekal saya? Salah satu amalan unggulan yang ingin terus saya perbanyak adalah amal jariyah, implementasinya dengan kebermanfaatan. Makanya saya senang membuat event-event bermanfaat terkait parenting dulu. Selain bermanfaat untuk saya juga untuk banyak ibu lainnya.
Melihat tagline dan visi misi ibu pembaharu ini seolah saya di-charge kembali. Tadinya saya mulai mengurangi inisiatif membuat event-event parenting itu tapi ada satu event yang saya janjikan di salah satu WAG namun sayang belum bisa saya realisasikan karena kesibukan terlebih setelah full WFH di masa pandemi ini. Saya seperti mendapat kesempatan kedua untuk menunaikan janji sekaligus membantu diri saya sendiri.
Inilah yang menginspirasi saya menuliskan tugas perdana yakni, identifikasi masalah.
Awalnya kami diminta brainstorming menuliskan beragam masalah yang saya miliki. Saya pikir hidup saya selama ini mirip roller coaster, banyak masalah yang membuat jantung kami naik turun. Namun karena ini terlalu pribadi jadi saya tidak tuliskan di sini. Hal yang menyenangkan adalah ketika saya bisa menuliskan semua masalah itu, saya merasa lebih lega dan pandangan saya lebih terbuka sehingga banyak harapan dan ide bermunculan.
Setelah brainstorming selanjutnya kami diminta memastikan, bagaimana kami tahu kalau itu benar-benar masalah buat kami? Seperti rasa tidak nyaman, kepikiran, atau dampak bagi diri sendiri dan sekitar kita.
Dari banyaknya masalah itu akhirnya saya memutuskan fokus pada satu masalah yang sangat mengganggu saya dan mengakibatkan dampak bagi diri sendiri dan sekitar, yakni pendidikan anak. Sebenarnya saya sangat concern terhadap pendidikan anak namun lagi-lagi saya kesulitan fokus karena terlalu banyaknya pekerjaan. Saya seorang ibu bekerja dengan 4 anak usia 10, 8, 5, dan 3 tahun. Saya bekerja full WFH di masa pandemi tanpa ART. Bisa dibayangkan bagaimana tekanan kewajiban yang harus saya tanggung. Saya sudah melonggarkan beberapa standar dan mendelegasikan beberapa tugas untuk mengurangi beban. Namun, tetap saja saya merasa exhausted. Terlihat dari betapa emosionalnya saya saat menghadapi anak-anak yang terlalu kreatif dan banyak akal. Rasanya ingin mengibarkan bendera putih namun saya merasa harus kuat menghadapi kenyataan. Karena surga itu mahal... saya harus kuat.
Namun, bukan berarti saya harus menanggung semuanya sendirian. Karena saya maunya masuk surga sekeluarga. Harusnya saya bisa menyinergikan suami dan anak-anak untuk menunaikan beragam amanah dan tantangan yang kami hadapi. Harusnya meski full WFH saya tetap sempat membacakan buku untuk anak dan fokus mendampingi belajar. Tapi bagaimana caranya? Itulah yang menjadi misi yang harus saya tuntaskan di kelas bunda salihah ini.
Saya yakin tidak hanya saya ibu bekerja yang merasakan kesulitan dalam pendidikan anak karena terbatasnya waktu kami, apalagi setelah lebih sering WFH di masa pandemi. Saya sempat berdiskusi di sebuah WAG ibu-ibu yang mengeluhkan hal itu dan kebingungan menyusun kurikulum untuk pendidikan anak di rumah. Saya rasa inilah kesempatan saya menunaikan janji membuat event yang pernah saya janjikan di WAG tersebut. Selain itu saya bisa membuat ekosistem untuk menyelesaikan misi ini.
It takes a village to raise a child
It takes an ecosystem to raise a changemaker
Bismillah... semoga Allah meridhoi niat baik ini.
It takes an ecosystem to raise a changemaker
Bismillah... semoga Allah meridhoi niat baik ini.
#ibupembaharu
#bundasalihah
#darirumahuntukdunia
#hexagoncity
#institutibuprofesional
#semestaberkaryauntukindonesia


No comments:
Post a Comment