Sunday, July 11, 2021

Feedback Bunsal #1

Bismillahirrohmaanirrohim...

Haloo semuanyaa...
Alhamdulillah tugas pertama Bunsal sudah terlewati. Kali ini kami mendapat tantangan untuk memberikan feedback kepada pasangan minggu ini. Saya termasuk seorang kritikus, akan mudah sekali memberikan kritik/penilaian terhadap orang lain. Namun, saya sendiri selalu degdegan menghadapi kritik/penilaian orang, hehe

Satu hal yang menarik di materi #2 ini meski tidak bersama Ibu Septi yang saat itu sedang sakit, penegasan bahwa di Kelas Bunda Salihah kami akan belajar dengan sistem "Problem Based Learning". Sesuai pengalaman saya yang hidupnya seperti roller coaster, permasalahan hidup yang saya hadapi itulah yang justru memberi banyak pelajaran dan hikmah, bahkan sedikit banyak membentuk kepribadian saya menjadi sosok yang tangguh. Saking saya begitu menghargai permasalahan yang sudah mampir dalam hidup saya, saya menguatirkan anak-anak saya yang hidupnya jauh lebih nyaman dari kondisi saya dulu saat seusia mereka. Di usia anak tertua saya, 10 tahun, saya bahkan sudah punya planning mau jadi orang tua seperti apa. Doa-doa saya sudah futuristik ingin mengangkat derajat orang tua saya. Saya jadi sadar bahwa masalah-masalah hidup yang menghampiri sejak kecil membuat saya punya mimpi besar. Hingga saya bisa membuat misi-misi hidup lebih dini, yang perlahan-lahan mengantarkan saya menemukan visi hidup saat saya dewasa. 

Materi kali ini memberi saya inspirasi untuk membuat program pendidikan anak dengan sistem problem based learning, agar anak terbiasa memecahkan masalah yang akan melatih mereka menggunakan seluruh akal dan panca inderanya. Harapannya agar anak-anak menjadi sosok yang tangguh dan cerdas menghadapi permasalahan hidup.

Oke, kita masuk ke feedback system.

Pasangan saya minggu ini adalah mba Aida dari Pekanbaru. Saya langsung menghubunginya tidak lama setelah launching data link pasangan. Sambil melakukan pekerjaan kantor yang saat itu masih bisa disambi, saya berkenalan dan membaca jurnal beliau. Sungguh menarik, karena finansial adalah salah satu tema yang menarik buat saya dan permasalahan yang beliau angkat mirip dengan pengalaman saya.

Saya menangkap bahwa mba Aida memiliki karakter yang mirip dengan saya, yakni berjiwa sosial dan empati tinggi. Bahkan masalah besar yang saya ambil kali berhubungan dengan empati saya terhadap sesama ibu-ibu bekerja. Mungkin sedikit perbedaannya adalah karena permasalahan ekonomi yang sudah menempa saya sejak kecil membuat saya lebih senang membantu orang dengan memberinya kail, apalagi setelah beberapa pengalaman hutang piutang yang berakhir kurang baik.

Membaca akar masalah dan berdiskusi lebih jauh dengan mba Aida, memberi saya gambaran bahwa mba Aida ingin memiliki penghasilan sendiri sebagai istri agar lebih mudah membantu orang yang membutuhkan uang/yang lainnya. Namun lebih cenderung menyedekahkannya agar tidak menjadi masalah utang piutang yang kompleks. Sungguh niat yang mulia, bukan?

Namun permasalahan uang ini memang seperti dua sisi mata pisau, dengan uang kita bisa membantu orang lain namun juga bisa melukainya. Maka saya memberikan saran agar mba Aida memiliki strategi agar bantuan ini menjadi kail bukan umpan yang akan melukai orang yang butuh bantuan itu.

Sesuai pengalaman saya, orang yang sekali berhutang biasanya akan ketagihan untuk berhutang kembali. Permasalahannya bukan kecanduan melainkan mindset. Ia menganggap dirinya miskin dan orang yang ia hutangi kaya. Ia melihat hidup orang lain enak, dan ia hanya meminjam sebagian hartanya. Lalu ia juga enggan berusaha keras memenuhi nafkah hidupnya karena merasa tidak mampu dan beragam alasan lainnya. Sehingga saat ditagih hutang ia cenderung kabur dengan playing victim bahwa orang yang ia hutangi tidak akan kesulitan jika tidak ia bayar. Begitu seterusnya hingga ia menemukan korban berikutnya dan rantai itu tidak pernah putus karena mindset-nya tidak berubah. Ini lah luka yang bisa kita buat jika meminjamkan/memberikan uang pada orang lain tanpa strategi. Secara tidak langsung kita mendukungnya untuk tidak berusaha lebih keras dengan memudahkannya mendapatkan uang. Dilema, bukan?

Alhamdulillah setelah diskusi ternyata mba Aida sudah punya planning, yakni mengoptimalkan potensinya untuk berbisnis. Ia akan mengajak teman untuk memasarkan bisnisnya sehingga turut membantu penghasilan teman tersebut. Persis seperti tujuan saya berbisnis dulu, ingin membuka lapangan pekerjaan. Namun justru saat kita telah memiliki penghasilan, berdatangan orang-orang yang ingin meminjam uang. Dan saat itu lah kita harus memiliki strategi untuk menghadapi mereka.

Saya sangat mendukung planning mba Aida yang luar biasa untuk mengoptimalkan potensi dan membuka lapangan pekerjaan. Semoga ikhtiarnya dimudahkan dan dilancarkan Allah dan mba Aida bisa lebih siap menghadapi orang-orang yang ingin berhutang atau meminta bantuan lainnya.




#umpanbalik1
#Identifikasimasalah
#ibupembaharu
#bundasalihah
#darirumahuntukdunia
#hexagoncity

No comments:

Post a Comment